
Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Arnold, Dylan pergi ke danau biru tempat Jessica melakukan pemotretan. Tak lupa ia juga membawa kalung berlian model terbaru keluaran Tiffany, sebuah perusahaan yang cukup terkenal dengan desain perhiasan yang selalu bertahtakan berlian terbaik.
Setelah menepikan mobilnya, Dylan bergegas turun. Ia melihat ponsel untuk mengecek posisi pemotretan Jessica yang dikirimkan Arnold, danau buatan itu cukup besar, akan memakan waktu lama jika Dylan mencari sendiri.
"Hai, dah sampai aja kamu!" Arnold melambaikan tangan pada Dylan.
"Aku nggak pengen bikin Jessy menunggu," tukas Dylan, pria ini bahkan membatalkan pertemuannya dengan salah satu klien sore ini demi bisa bertemu Jessy.
Arnold menggeleng sambil tertawa lepas, merasa lucu dengan kelakuan Dylan yang sebegitu bucinnya.
"Ayo ikut aku." Arnold melangkah mendahului Dylan.
Setelah beberapa saat berjalan, mereka pun sampai di tempat pemotretan. Jessica, wanita cantik itu kaos berkerah dan rok super mini, rambutnya terikat tinggi. Wanita itu berpose dengan raket tenis di tangannya, terlihat sangat cantik.
Dylan hanya bisa menatap kagum pada kekasihnya itu, Dylan memang tak salah pilih. Jessica begitu cantik dan multitalenta, gadis itu juga baik dan ramah pada semua orang. Dylan belum menemukan kekurangan apapun pada Jessica selama mereka pacaran, dia terlalu sempurna.
Itu yang membuat dia berpikir keras, apa sebenarnya yang membuat Mamanya tidak menyukai Jessica dan lebih memilih wanita matre dari kampung itu.
"Ok, hari ini sudah cukup!"
"Terima kasih semua," ucap Jessica dengan sedikit menunduk.
Dylan langsung berjalan cepat mendekat kearah Jessica, dia sudah sangat tidak sabar merengkuh tubuh molek kekasihnya itu.
"Honey," panggil Dylan.
Jessica terlihat malas dan tidak menanggapi Dylan. Wanita itu berjalan melewati Dylan begitu saja, Dylan tak tinggal diam. Dia menarik tangan Jessica agar berhenti.
"Lepasin," ucap Jessica dengan meronta manja.
"Honey please, aku nggak bisa lama-lama kamu diemin.kayak gini. Kita perlu bicara," bujuk Dylan.
Jessica menghela nafas panjang.
"Ok, kita bicara. Tapi nggak di sini, aku mau ganti baju dulu."
"Baiklah, aku akan menunggumu." Dylan melepaskan tangannya dari lengan Jessica dengan sedikit tidak rela.
Setelah menunggu setengah jam, akhirnya Jessica keluar dari ruang ganti. Ia segera menghampiri Dylan yang sedang menunggunya di bangku taman.
__ADS_1
"Lama ya," ucap Jessica saat sudah berada dihadapan Dylan.
Dylan menelan salivanya, penampilan Jessy benar-benar menggoda jiwa kejantanannya. Celana gemes pendek dipadu dengan atasan berbahan tipis yang memperlihatkan warna pengaman yang menyala didalamnya.
"Ayo, aku lapar nih. Sekalian kita bicara."
"Oh-oh ...oke," sahut Dylan gelagapan.
Dylan segera berdiri. Dengan manjanya Jessica bergelayut di lengan kekar Dylan, menempelkan dua bongkahan kenyal yang tertutup pengaman.
Jantung Dylan memompa cepat, darahnya berdesir hebat. Normal, laki-laki mana yang tidak merasa deg-degan saat seorang wanita menempel seperti itu.
Jessica baru melepaskan pegangan saat masuk kedalam mobil, Dylan bernafas lega. Setidaknya dia bisa menjaga jarak sedikit dengan Jessy, munafik jika Dylan bilang tidak menikmati sentuhan itu. Namun, Dylan bukan penganut *** bebas dan juga dia sudah bersumpah pada mendiang Papanya untuk tidak melakukan hal itu sebelum menikah.
"Kita kemana Honey?" tanya Dylan, saat sudah berada dalam mobil.
"Kita ke hotel dekat sini aja gimana?" tanya Jessica menggoda.
Dylan mendelik tajam, menatap Jessy dengan tatapan tidak suka.
"Kamu kenapa sih, selalu seperti itu saat aku ngomong hotel. Kita tuh bisa makan di hotel kan, aku juga pengen istirahat," kilah Jessy. Ia melipat kedua tangannya dengan wajah cemberut.
Tak butuh waktu lama bagi pasangan itu untuk menemukan hotel yang bagus di area ini. Setelah memberhentikan mobilnya di halaman Hotel, Dylan segera turun dan membukakan pintu untuk Jessy.
Dylan melemparkan kunci mobilnya pada petugas hotel, dan ditangkap dengan baik oleh laki-laki itu.
"Aku mau makan di kamar aja sekalian istirahat."
Dylan mengerutkan keningnya, tapi sudahlah mungkin Jessica benar-benar lelah karena seharian berkerja. Dylan memutuskan untuk memesan sebuah kamar, dan memesan makan malam untuk mereka.
"Honey, aku mau bicara sama kamu," ucap Dylan serius saat mereka sudah ada di dalam kamar hotel.
Jessica menghempaskan bokongnya di sofa, dia melepaskan sepatu hak tinggi secara kasar.
"Hemp ... mau ngomong apa? soal Mama kamu? Soal perjodohan kamu?" cerca Jessica dengan nada kesal.
Dylan mendudukkan dirinya di sebelah Jessy, tangannya menggenggam erat tangan lentik Jessica yang terlihat cantik dengan nail art yang menghiasi kukunya.
"Iya, sebelumnya aku mau minta maaf sama kamu soal malam itu, aku pengen ngejar kamu. Tapi Mama melarangku," jawab Dylan sendu.
__ADS_1
Jessica memutar matanya jengah, tentu saja wanita itu melarangnya untuk mengejar Jessica. Dia bahkan sudah memiliki calon istri untuk Dylan.
"Jadi setelah aku pergi apa yang terjadi?" Jessica menurunkan nada bicaranya.
"Mama pingsan, karena aku terus menolak perjodohan itu. Tapi akhirnya aku tidak punya pilihan lain, aku terpaksa menerimanya."
Mata Jessica melebar, dengan memelotot wanita itu menatap Dylan dengan penuh amarah.
"Kau menerimanya, lalu bagaimana denganku, Dy? Bagaimana dengan kita?" Jessica menarik tangannya dari genggaman Dylan.
Wanita itu menutupi wajah dengan kedua tangannya, tubuhnya bergetar. Tangis Jessica tumpah seketika.
"Honey, aku terpaksa melakukan ini. Mama mengancam akan memutuskan hubungan keluarga denganku, jika aku tidak menurutinya." Dylan merengkuh tubuh Jessica dalam dekapannya.
"Aku hanya akan melamarnya, dan berusaha mengulur waktu agar tidak menikahi wanita itu," imbuhnya.
"Pembohong, bagaimana kalau Mamamu memaksamu untuk menikahinya sekarang, dan mengancammu lagi!" teriak Jessica histeris.
Dylan terdiam, dia belum memikirkan kemungkinan itu.
"Aku takut, kamu akan berpaling dariku, dan jatuh cinta pada pilihan Mamamu," ucap Jessica sendu.
"Bull s**t! itu tidak akan pernah terjadi Honey, aku hanya akan mencintaimu.
Jessica menatap Dylan dalam, kedua mata bening mereka beradu.
"Kiss me Dy." Dylan mengangguk, dia menyatukan bibir mereka.
Jessy menyambut bibir Dylan dengan penuh gairah, ia menyesap dan mel*mat bibir Dylan dengan agresif. Jemari nakalnya membuka dua kancing Dylan dan menyusup ke dalam, mengusap lembut dada bidang sang kekasih.
Penyatuan bibir mereka semakin panas, Jessica semakin mendesakkan tubuhnya. Menggesek dua bongkahan kenyal miliknya ke tubuh Dylan. Hari ini dia harus mendapatkan pria ini, tanpa sadar Dylan mengikuti permainan Jessica, dia sudah terbuai oleh hasrat.
Jessica menuntun tangan Dylan menyentuh buah dadanya, darah Dylan semakin berdesir saat merasakan lembutnya benda itu, kantung semakin terpacu untuk menginginkan lebih.
Jessica duduk diatas pangkuan Dylan, bergerak-gerak dia atas pisang ambon yang sudah terasa keras.
Namun tiba-tiba....
"Permisi, makan malam sudah siap. Apa saya boleh masuk?" tanya seorang pelayan dibalik pintu.
__ADS_1
Dylan tersingkap, ia menarik kembali tangannya dari tubuh Jessica. Dia juga melepaskan tautan bibir mereka, hampir saja ia melakukan kesalahan.