Mbak Jum Wo Ai Ni

Mbak Jum Wo Ai Ni
Bab 2


__ADS_3

Hari semakin siang, Matthew dan Michi memutuskan untuk pulang ke rumah. Tentu saja Matthew menggerutu sepanjang jalan karena ulah Kakak perempuannya, yang suka usil.


"Mami ...!" Teriak Michi, sambil berlari masuk.


Juminten yang baru saja dari dapur, terkejut. Wedang jahe hangat yang baru saja ia buat hampir saja tumpah. Karena ulah Michi, yang memeluknya.


"Astaga, Michi. Pelan-pelan Nak, hampir saja wedang jahe buat Papi kamu tumpah."


"Papi," gumam Michi lirih, tapi masih terdengar oleh sang Mami.


"Iya Papi kamu lagi masuk angin tuh, makanya tadi dia Wa kamu nggak bisa jemput."


Michi melepaskan pelukannya, ia mundur dan menatap sang Mami dengan tatapan heran.


"Papi Jemput kok Michi kok, Mi. Cuma tingkah Papi aneh deh, masa nggak ngakuin Michi anaknya," ujar Michi sambil mengekor pada Juminten yang melangkah hendak ke kamar.


"Jemput Gimana, wong Papi kamu aja nggak kuat nyetir kok, dia di antar pulang sama Raka," sahut Juminten sambil terus berjalan.


"Matthew sama Max mana? Kalian pulang bareng kan?'


"Matthew lagi parkir di garasi, kalau kak Max, tadi nggak bareng. Dia lagi ngurusin masalah olimpiade matematika, Mi."


Juminten manggut-manggut, mendengar jawaban Michi.


"Lha tadi yang di sekolah siapa Mi? Sumpah itu Papi, masa aku nggak kenal sama Papi sendiri," kekeh Michi.


Juminten menghentakkan nafas, ia berhenti kemudian menoleh pada Sang putri.


"Sayang, Michi. Anak Mami yang paling imut, lebih baik sekarang aku mandi ganti baju abis itu makan siang, Mami udah masak sambel kemangi sama ikan mas bakar kesukaan kamu, ok. Mami mau ngasih wedang ini ke Papi dulu," ujar Juminten dengan halus, ia tak ingin berdebat dengan Michi lagi.


"Iya deh Mi." Dengan langkah gontai gadis berseragam itu melangkah ke kamarnya.


Ia masih bingung dengan apa yang terjadi.


'Jika Papi Dylan sakit sampai nggak bisa nyetir, terus yang aku gandeng tadi siapa?' gumam Michi dalam hati.


Matthew yang melihat sang Kakak sedang berjalan gontai dengan kepala menunduk itu menyeringai, ia berjalan mengendap-endap berniat untuk mengagetkan Michi. Saat sudah sangat dekat perlahan, Matthew mengangkat tangan sampai melebihi kepala sambil memasang wajah seram, selayaknya singa yang siap menerkam mangsa.

__ADS_1


"Huu-."


"Mat, kira-kira sapa ya yang gue temuin di sekolah?" Michi membalikkan badannya, dengan wajah datar melihat wajah Matthew.


Pria tampan berambut sedikit pirang dengan panjang hampir mencapai bahu itu, mencebikkan bibirnya.


"Menegetehek, setan kali," jawab Matthew, sambil menurunkan tangannya yang gagal mengagetkan Michi.


"Masa setan, bisa gue pegang kok. Nyata gitu, malahan orang itu ngebentak gue. Bilang dia bukan Papi," ujar Michi, sambil berpikir keras.


"Lha itu, dia udah ngaku kalau bukan Papi. Lo aja yang ngeyel, halu Lo. Kebanyakan baca novel," tukas Matthew sambil berjalan ke arah meja makan.


"Tapi Mat-"


"Kagak ada tapi, fix titik dia bukan Papi. Gue laper mau makan, nih si kemangi sudah melambai-lambai minta masuk lambung gue." Matthew menunjuk cobek yang tertutup tudung saji.


"Kan kita dan makan? Perut Lo segede apa sih? Abis makan mie, es degan gue juga Lo embat, nambah pula. Masih laper?" Cerca Michi sambil menatap adiknya heran.


Matthew menarik satu kursi, kemudian mendudukkan dirinya di sana.


"Ingat semboyan Indonesia, nggak makan nasi nggak kenyang!" Seru Matthew sambil menggambil nasi.


Kamar utama.


"Papi, bangun sebentar. Nih, Mami bawain wedang jahe. Biar perutnya enakkan," ujar Juminten sambil meletakkan wedang jahe buatannya di meja.


Pria bermata sipit itu, membuka mata. Tubuhnya terasa lemas karena terlalu banyak muntah, ia juga heran kenapa bisa sakit seperti ini.


Padahal kemarin-kemarin dia sehat dan merasa tidak makan apapun yang aneh-aneh. Dengan sekuat tenaga ia berusaha bangkit, Juminten pun dengan sigap membantu sang suami untuk duduk.


"Kanda kenapa sih? Kok tiba-tiba sakit begini? Padahal tadi pagi masih seger banget waktu berangkat kerja?"


Dylan menggeleng pelan, kepalanya terasa berdenyut. Perut Dylan perih dan mual, wajah tampan pria paruh baya itu terlihat pucat seperti sayur kematangan.


"Enggak tahu Ai, terakhir aku seperti ini waktu kamu hamil," ujarnya sambil menyeruput wedang jahe yang sang istri suapkan.


Juminten terdiam, dia memang belum menstruasi bulan ini. Namun, Juminten tidak khawatir karena dia meminum pil KB.

__ADS_1


"Kamu kenapa Ai? Kok tiba-tiba diem gitu?"


Wajah bingung Juminten membuat Dylan cemas, ia sampai menepuk pelan pipi sang istri.


"Ak- aku belum menstruasi bulan ini," jawab Juminten dengan tatapan kosong.


"Maksudnya Ai?" Tanya Dylan dengan alis yang bertaut.


"Bulan ini aku telat Kanda, gimana kalau aku hamil? Tapi aku nggak pernah telat minum pil KB, tapi aku nggak mentruasi," tutur Juminten sambil mengigit bibir bawahnya cemas.


Lain dengan sang istri yang cemas dan gelisah. Dylan malah terlihat sumringah, dua sudut bibir pucat laki-laki sipit itu terangkat. Ia tersenyum dengan begitu lebar.


"Ayo, kita periksa ke dokter sekarang Ai." Dylan menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya, bergegas turun dari ranjang rasa lemas seakan sirna begitu saja.


"Tunggu-tunggu, aku tes di rumah dulu saja. Nanti kalau positif baru kita ke rumah sakit," ujar Juminten, menahan tangan sang suami yang menariknya.


"Kita ke dokter saja, Ai. Biar jelas," kekeh Dylan.


"Emang kamu kuat nyetir?" Pertanyaan sang istri berhasil menghentikan langkah Dylan.


Juminten tersenyum. Ia kemudian menarik lembut lengan Dylan, sampai suaminya itu kembali duduk bersamanya di tepi ranjang.


"Kanda masih lemeskan, istirahat dulu. Nanti sore kita baru ke dokter, Ok. Budi juga lagi libur kan," bujuk Juminten sambil mengusap kepala sang suami yang bersandar di pundaknya.


Supir mereka memang mengambil cuti untuk menemani sang istri yang baru saja melahirkan. Pak Parman dan Wati sudah pensiun dari pekerjaan mereka, semenjak Mayleen meninggal dunia banyak yang berubah di rumah besar itu.


"Temenin Ai," rengek Dylan manja, seperti anak kecil.


"Iya, bobok dulu ya." Dylan mengangguk patuh.


Ia merebahkan tubuh setelah menghabiskan wedang jahe buatan Juminten. Sang istri menepuk-nepuk pelan punggung Dylan, sambil sesekali mengusap rambutnya dengan sayang. Persis seperti menidurkan anak umur dua tahun.


Pikiran Juminten melalang buana, ia sudah tak lagi muda. Kehamilan di usianya yang sekarang bisa sangat beresiko, ia juga takut anak-anaknya malu jika punya adik bayi. Mereka sudah sangat besar sekarang.


"Bagaimana ini, semoga saja ini hanya dugaanku," lirih Juminten.


Sikap manja dan apa yang di alami Dylan saat ini, persis seperti saat dia mengalami morning sick saat Juminten hamil triplek.

__ADS_1


Maaf kemarin nggak up. Hari ini bakal double up 😄😄


__ADS_2