Mbak Jum Wo Ai Ni

Mbak Jum Wo Ai Ni
Bab 39


__ADS_3

Udara sejuk pegunungan pohon-pohon cengkeh, kopi juga Pinus memanjakan mata Arumi. Max mengajak ia ke sebuah desa yang sedang mengadakan acara kenduri durian, desa itu sangat terkenal dengan rasa durian yang khas yang hanya tumbuh di sana. Setiap tahunnya akan ada acara tumpeng duren.


Acara ini bisa di hadiri banyak orang dari berbagai kota. Setelah memarkirkan mobilnya, Max turun dan membukakan pintu untuk Arumi. Keduanya berjalan bergandengan.


"Rame banget ya Kak?"


"Hu'um mungkin karena weekend juga jadi banyak yang datang, apalagi acara ini cuma setahun sekali. Pasti banyak yang penasaran dateng, acara ini juga baru di adakan lagi setelah dua tahun berhenti karena Corona kemarin," ujar Max panjang lebar.


Arumi manggut-manggut mendengar penjelasan sang kekasih. Max semakin mengeratkan genggaman, beberapa pemuda tampak sesekali mencuri pandang pada Arumi, meski gadis itu tidak menyadarinya.


Setelah beberapa saat berjalan di jalan yang cukup menanjak, mereka pun sampai di lapangan tempat acara kenduri durian akan dilakukan. Tumpeng durian super raksasa ada di tengah-tengah lapangan, durian yang sudah sedikit di pakas bagian durinya itu di susun menyerupai gunung. Itu adalah menu utama, dimana durian itu akan dibagikan secara gratis. Sebelum tumpek besar di bagikan, biasanya akan ada tumpeng buah-buahan lain yang akan dibagikan, tumpeng itu berasal dari tiap dusun yang ada di desa tersebut.


"Katanya sih, durennya bakal di bagikan jam 10 nanti. Sekarang masih jam 8.30 masih lama, " celetuk Max sambil melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


Arumi mengangguk, ia tampak takjub melihat tumpukan raja buah yang bertumpu tinggi. Aroma wangi khas si raja buah, menyeruak, memabukkan tiap pori-pori hidung para penggemarnya, termasuk Arumi.


Keduanya berjalan mendekat ke tempat di mana tempat tumpukan durian itu berada. Sekarang mereka masih bisa melihat dengan dekat, sebentar lagi saat kenduri di mulai tak ada kesempatan bagi mereka untuk mendekat. Lapangan ini akan dipenuhi, semua pencinta durian. Lapangan ini akan berubah menjadi lautan manusia yang sangat berbahaya, tak sedikit orang yang terluka karena berebut raja buah itu gratis. Meskipun mampu , tetapi pasti ada kepuasan tersendiri jika mendapatkan durian dari acara ini.


"Kesana yuk Kak!" Seru Arumi seraya menuju ke arah stan berbagai panganan tradisional yang di jual.


Max mengangguk, ia menurut saat Arumi dengan semangat menariknya. Pacar cantiknya itu terlihat sangat antusias membeli berbagai jajanan yang ada di sana, seulas senyum lebar.


Tanpa sangat menggemaskan bagi Max, senyum Arumi yang begitu lepas, membuat Max ikut bahagia. Itulah senyuman yang ingin Max lihat selama ingin Max lihat.


Mereka pun membeli beberapa macam jajanan dan pernak-pernik lucu.


"Gimana seneng nggak?" Tanya Max sambil menepuk pelan kening Arumi yang berkeringat.


"Aku seneng banget Kak, terima kasih ya Kak," jawab Arumi dengan senyuman manis dan mata yang berbinar.


Mereka melanjutkan perjalanan, alih-alih mengikuti rebutan durian. Max mengajak Arumi mengunjungi sebuah cafe yang letaknya tak jauh dari lapangan tempat acara kenduri durian di laksanakan.


Mereka berjalan kaki, karena panitia acara tidak memperbolehkan mobil ke area acara agar tidak menggangu jalanan acara.


Semangkuk kolak ketan durian menjadi pesanan mereka, hangat dan manis. Duduk di antara saung bambu yang berjajar, menghadap langsung ke hamparan bukit-bukit yang di tanami pohon kopi.

__ADS_1


"Sayang, sini." Max menepuk tempat kosong di sisinya.


Arumi mengangguk, setelah meletakkan mangkok yang baru saja ia tandas kan isinya. Arumi duduk disamping Max, pria sipit itu menggenggam erat tangan Arumi, mengecup lembut punggung tangan Arumi. Gadis itu tersenyum sambil tersipu malu.


"Aduh, sesak banget."


"Kakak kenapa?" Arumi bertanya dengan panik, apalagi melihat wajah Max yang terlihat meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya.


"Paru-paruku penuh dengan cintamu."


"Kak Max!" Arumi gemas memukul dada Max yang sedang tertawa.


"Ish ... Jangan seperti itu Kak, aku takut liat kakak kayak tadi," ujar Arumi dengan nada bergetar.


Ia benar-benar takut melihat Max yang kesakitan seperti itu, bayangan dimana Neneknya meregang nyawa membuat dia nyaris berhenti berhenti bernafas.


Melihat wajah Arumi yang sudah menunduk dengan mata yang berkabut, Max merasa bersalah. Ia pun segera merengkuh tubuh sang pujaan hati dalam pelukannya.


"Maaf-maaf, aku hanya bercanda."


"Iya maaf. Aku janji nggak akan gitu lagi, maaf ya Sayang." Max mengusap lembut rambut Arumi yang tergerai.


Arumi menarik dirinya, menatap Max dengan mata yang sudah basah dengan air mata. Dengan lembut Max mengusap pipi Arumi dengan ujung jempol, rasanya sungguh tidak tega melihat Arumi bersedih seperti ini.


"Janji jangan gitu lagi, Arumi beneran takut Kak. Arumi nggak mau kehilangan seseorang yang Arumi sayangi lagi, Arum sudah kehilangan Ayah, Nenek, Arumi nggak mau kehilangan Kakak. Lebih baik Arumi yang lebih dulu mati daripada Kakak."


"Sssst .... Udah ya udah. Nggak akan ada yang mati, kamu nggak boleh ngomong kayak gitu. Maafin aku udah bikin kamu takut, nangisnya udah ya Sayang. Jelek lho kalau nangis gini, tuh bedaknya luntur," tutur Mau berusaha untuk menghibur Arumi.


"Mana ada, Arumi nggak pake bedak apa-apa kok!"


"Iya cantik kamu alami, seperti cinta kita," gombal Max lagi.


"Kak Max iish!" Pekik Arumi, di cubitnya perut Max dengan keras.


"Aduh, sakit Sayang."

__ADS_1


"Biarin, Kak Max ngeselin banget sih," ujar Arumi sambil tersenyum malu-malu.


"Nah gitu dong senyum, permaisuriku nggak boleh nangis lagi."


"Hem," sahut Arumi singkat.


Setelah selesai beristirahat mereka pun berjalan-jalan hutan Pinus yang menjadi salah satu tempat wisata di sana, tidak terlalu banyak orang. Rata-rata para pelancong yang datang sedang mengikuti acara kenduri durian di lapangan.


Tangan Max tak pernah lepas dari Arumi, seolah gadis itu akan hilang jika tangan mereka terpisah. Meskipun sudah resmi pacaran, Max selalu menjaga diri agar tidak melakukan sesuatu yang diluar batas. Juminten selalu mewanti-wanti dirinya agar tidak sampai kebablasan, dan Max pun tak berencana untuk melakukan hal seperti itu.


"Kak."


"Hem."


"Apa sih yang bikin Kakak cinta sama Arumi?" Arumi memutar tubuh, di berjalan mundur didepan Max, agar bisa melihat wajah kekasih hatinya.


"Hem apa ya? Wajahmu, tubuhmu, rambutmu, hatimu, hangat mu,manja mu, bawel mu, semua tentangmu. Itu yang bikin aku jatuh cinta."


Jawaban Max sukses membuat Arumi berbunga-bunga, seperti ribuan kupu-kupu sedang menari dalam perut gadis itu. Rasa hangat menjalar di pipinya, membuat rona merah di kedua sisi wajah Arumi.


"Sekarang giliranmu, apa yang membuat kamu cinta sama aku?"


Belum sempat menjawab pertanyaan Max, Arumi terpeleset. Hampir ia jatuh jika Max tidak segera menarik tubuh Arumi.


"Hati-hati," ujar Max mengingatkan.


Arumi hanya mengangguk, jantungnya berpacu cepat. Arumi yang masih membeku dalam pelukan Max, bisa mendengar detak jantung Max yang sama cepat dengan miliknya, begitu keras seolah kedua jantung itu saling bersahutan.


"Kau dengar itu Arumi, dia berdetak cepat karena mu," bisik Max di telinga kekasih tercintanya.


Arumi mendongak menatap Max yang juga sedang menatapnya dengan penuh cinta. Arumi menarik tangan Max, meletakkan jemari kekar itu di dada sebelah kirinya.


"Dia pun sama, dia berdetak hanya untukmu."


Kening mereka menyatu, dengan mata terpejam kedua insan itu menikmati debaran jantung yang berdetak untuk cinta yang tumbuh diantara mereka. Semilir angin yang membelai ranting pohon pinus, sinar matahari yang dengan hangatnya menyapa bumi, menjadi saksi dua anak manusia yang sedang merekam tiap gerak jantung yang berdetak atas nama cinta.

__ADS_1


__ADS_2