Mbak Jum Wo Ai Ni

Mbak Jum Wo Ai Ni
Bab 44


__ADS_3

Dengan memakai pakaian santai, masker dan topi untuk menyamarkan diri, Max masuk ke kantor sang Papi. Bukan tanpa alasan Max melakukan itu, ia tidak ingin menjadi pusat perhatian seperti sebelum-sebelumnya.


Anak-anak Dylan sangat jarang ke kantor, bukan karena tidak ingin. Tetapi mereka selalu menjadi pusat perhatian di sana, Max kadang merasa risih dengan orang-orang yang berusaha untuk mencari perhatiannya.


"Tuan Max!"


"Sssst! Jangan keras-keras!" Max meletakkan telunjuk didepan maskernya.


Pria itu sedikit menunduk sambil memegangi ujung topi, ia tidak ingin karyawan lain tahu dia ada di sana. Raka tersenyum, mengangguk canggung sambil mengangguk tengkuk leher yang tidak gatal.


"Maaf-maaf." Max mengangguk.


"Ada apa Tuan kemari? Apa mencari Tuan Dylan?" Lagi-lagi Max hanya mengangguk.


"Apa Papi ada diruang nya? Apa dia sibuk?"


Raka menggeleng." Tuan baru selesai rapat, sekarang dia sedang memeriksa beberapa berkas di kantornya."


"Ok, makasih."


"Sama-sama Tuan."


Max menepuk pundak Raka dua kali, sedikit menarik ujung topi agar lebih menutup wajah tampannya. Max melanjutkan langkah ke kantor sang ayah.


Tok


Tok


"Masuk," sahut Dylan setelah mendengar suara ketukan pintu.


"Apa aku Papi sibuk?" Tanya Max sambil melangkah masuk, pria itu mengambil nafas dalam setelah melepaskan masker yang menutupi sebagian wajahnya.


"Max? Angin apa yang membawamu datang kemari?" Dylan menutup berkas yang hendak ia periksa.


Pria paruh baya itu bangkit bekerja ke arah Max yang sudah duduk bersantai di sofa yang ada di sana.


"Aku ingin menanyakan sesuatu," jawab Max dengan helaan nafas panjang.


Dahi Dylan mengkerut melihat ekspresi wajah sang putra yang tak biasa. Seperti ada seperti ada beban berat yang ada di pundaknya.


"Katakan?"


"Apa menurut Papi aku bisa menikah?"


"Pertanyaan macam apa itu Max. Hahahaha .... Tentu saja bisa, kau normal kan Nak?"

__ADS_1


"Tentu saja!" Tukas Max cepat, wajahnya menunjukkan raut wajah tidak suka.


Tawa Dylan semakin menggema, pria paruh baya itu sampai memegang perutnya yang terasa kaku.


"Ayo lah Tuan Dylan, anakmu ini sedang serius." Max mennyungar rambut yang mulai tumbuh panjang kebelakang.


"Ok, ok. Sorry. Memangnya kau mau menikah dengan siapa? Arumi?" Tanya Dylan setelah berhasil menguasai diri.


Max mengangguk pasti. Dylan terdiam, selama ini dia memang sudah curiga dengan kedekatan Max dan gadis yang ada di rumahnya itu.


"Apa kau yakin Max? Pernikahan bukan untuk sesaat saja. Kalian masih muda, perjalananmu dan Arumi masih panjang."


"Aku yakin tentang itu, aku tahu apa yang Papi pikirkan. Aku benar-benar mencintai Arumi, aku ingin memiliki dia, menjaga dan selalu membuat dia bahagia. Seperti yang Papi lakukan untuk Mami, aku ingin menjalani hidupku seperti itu dengan Arumi, dan Papi benar perjalanan kami memang masih panjang. Dan aku rasa sebuah pernikahan tidak akan menghambat perjalanan kami, pernikahan justru akan membuat perjalanan hidupku lebih sempurna," Max bertutur dengan tatapan penuh percaya diri, ia seolah bisa melihat kehidupan yang akan ia jalani setelah pernikahan.


"Jika itu sudah menjadi keputusan mu, Papi hanya bisa mendukungnya. Secara finansial Papi tahu kau sudah mampu memberikan kehidupan yang layak untuk Arumi."


"Apa kau sudah meminta izin pada walinya?" Kali ini Dylan bertanya dengan serius.


Lagi-lagi Max menghela nafas panjang." Papi tau sendiri, ayahnya sudah meninggal, ibu dan laki-laki bajingan itu entah hilang kemana setelah menjual rumah nenek Arumi."


Rahang Max mengeras mengingat pria yang menjadi sumber petaka bagi Arumi. Dia bersumpah akan memberi orang itu pelajaran yang setimpal jika bertemu dengannya.


"Masih ada Bayu kan? Dia saudara satu-satunya yang Arumi punya. Meskipun masih muda, tapi Bayu adalah walinya. Kau bisa pergi ke pondok pesantren milik Paman kecilmu untuk menemuinya."


"Papi benar, aku akan ke sana besok."


Max memutar matanya jengah, tetapi dalam hati dia membenarkan ucapan Dylan. Mungkin dia juga akan sebucin itu dengan Arumi jika kelak mereka menikah. Sekarang saja dia sudah rindu dengan Arumi, jika bisa dia tidak ingin membiarkan sang kekasih itu jauh darinya.


"Iya," jawab Max setengah menyindir.


Setelah berkonsultasi dengan Papinya, Max pulang lewat jalan belakang. Dia pulang saat jam makan siang, untuk menghindari hal yang tidak di inginkan. max lebih memilih untuk menghindar. Hati pria sipit itu merasa lega, mendapatkan restu dari sang Papi. Dengan begini Max lebih mantap melanjutkan langkah rencana pernikahannya dengan Arumi.


.


.


.


.


.


"Kak Arumi nggak ikut ya," rengek Arumi. Max menggeleng cepat.


Mereka berdua sedang dalam perjalanan menuju rumah Mila, Max mengajak Arumi untuk menemaninya ke rumah Mila, dia takut apa yang di katakan Michi menjadi kenyataan. Max belum berpengalaman dalam hal wanita, lebih baik mencegah kebengekan karena ngambek sebelum itu benar-benar terjadi.

__ADS_1


Stt


Max meletakkan telunjuk didepan bibirnya sendiri. Ia tidak ingin lagi mendengar bantahan dari Arumi.


"Kak please, Arumi pulang aja ya. Aku nggak mau ganggu Kakak di sana," bujuk Arumi.


"Kita udah separuh jalan Sayang nggak mungkin buat putar balik."


Arumi berdecak kesal, tangannya terlipat sempurna di dada terlihat sangat menggemaskan dengan mulut mengembung.


"Kalau begitu aku turun di sini saja Kak."


Max menggelengkan kepalanya cepat.


"Kak Max," rengek Arumi lagi.


"Arumi."


"Ayolah Kak, jangan seperti ini."


"Ayolah, Sayang. Please." Max melirik sekilas dengan wajah ia buat memelas.


Siapa yang tidak luluh dengan cara Max membujuk seperti itu.


"Aku memang nggak pernah menang sama Kakak," sahut Arumi yang akhirnya pasrah.


Max tersenyum penuh kemenangan, tangannya terulur mengacak-acak rambut Arumi dengan gemas.


"Makasih, Sayang. I love you."


"Love you too," jawab Arumi dengan malu-malu.


Mobil sedan berwarna merah itupun melaju membawa mereka hingga ke sebuah rumah besar bernuansa keemasan.


Kuda besi yang Max tumpangi berhenti di pelataran rumah mewah itu, Arumi mengedarkan pandangan sebelum turun dari mobil. Kedua tangan wanita itu, meremas sabuk pengaman yang masih melilit tubuhnya.


"Ayo turun," ajak Max pada sang kekasih yang terlihat bimbang.


"Hem iya," sahut Arumi dengan senyuman kaku.


Dalam hati Arumi merasa kecil, teman Max tinggal di rumah mewah yang sama besarnya dengan rumah keluarga Li. Seharusnya gadis dari kalangan seperti ini yang menjadi pasangan Max, bukan wanita biasa yang sudah ternoda seperti dia. Arumi tersenyum kecut menertawakan dirinya sendiri.


Sebuah kecupan hangat di pelipis kiri, membuyarkan lamunan Arumi.


"Jangan berpikir aneh-aneh, Sayang." Max mengandeng tangan Arumi, menatap wajah sang kekasih dengan penuh cinta.

__ADS_1


Arumi tersenyum lebar, ia mengangguk kecil pada Max. Ada perasaan hangat yang Arumi rasakan tiap kali Max melihatnya seperti itu.


Mila yang melihat Max datang dengan wanita lain merasa kesal, padahal dia sudah menyiapkan sesuatu yang sangat khusus untuk Max.


__ADS_2