Mbak Jum Wo Ai Ni

Mbak Jum Wo Ai Ni
Wo ai Ni, season 2


__ADS_3

Hai ...


Hai....


Wo Ai Ni, hadir lagi. semoga ga bosen dan enjoy reading 🥰🥰🥰 jangan lupa like, coment kalau hadiah mah seikhlasnya 🙏🙏🤣😅.


Brugh.


"Maaf ... maafkan saya Om," ujar wanita berseragam putih abu-abu itu.


"Apa kau tidak punya mata Hah!" Hardik pria paruh baya itu, sambil mengibaskan kuah seblak yang mengotori baju mahalnya.


"Punya kok O-."


"Papi, ... Huh bikin kaget aja." Gadis itu menepuk dadanya pelan, ia yang semula menunduk dan tidak tahu yang ia tabraknya adalah papanya sendiri.


Pria sipit itu memicingkan mata, ia memang punya seorang putri. Tetapi bukan gadis ini.


"Siapa yang kau panggil Papi? Tanya pria itu dengan tatapan matanya yang tajam.


Michi mengerutkan keningnya, pria yang ada di hadapannya itu jelas-jelas sang Papi, wajah dan postur tubuh sama. Hanya model rambut saja yang berbeda, rambut pria itu terlihat berbeda dan terlihat lebih serius.


"Papi lupa ya sama anak sendiri. Ckckck ... Papi kebangetan, makanya mami sering ngomel.


"Apa-."


"Udah Papi, nggak usah main tebak-tebakan nggak lucu lagi. Kita pulang yuk, nanti Mami marah lho," Michi menyela ucapan laki-laki itu begitu saja.


Di tariknya lengan pria paruh baya itu, laki-laki itu terlihat pasrah. Ia tidak ingin menarik perhatian di kawasan sekolah seperti ini.


Michi yang yakin kalau yang ia tarik lengannya adalah ayah kandungnya.


"Ayolah Pi, cepetan. Katanya Papi mau beli hadiah buat Mami."


Gadis cantik itu menarik paksa pria itu. Setelah beberapa saat berjalan, Michi tiba-tiba menghentikan langkahnya. Gadis bermata sipit itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling mencari mobil yang biasa Dylan pakai.


"Mobil Papi mana?" Tanya Michi dengan heran.


"Nona, saya bukan Papi mu. Jadi tolong lepasin tanganmu dariku!" Tukas Sang pria sambil mengibaskan lengannya dengan kuat hingga tangan Michi terlepas.


"Papi aneh banget sih! Michi laporin Mami kalau Papi jahat sama Michi!" Pekik gadis itu kesal.


"Terserah! Aku tidak perduli!" Ujar laki-laki paruh baya itu, kemudian menjauh dari Michi.

__ADS_1


Michi manyun sambil melipat kedua tangannya kesal. Gadis itu menatap punggung papinya yang berlalu begitu saja meninggalkan dia seorang diri.


"Apa sih maksudnya papi? Bilang aku bukan Papi mu, lha kalau dia bukan Papi ku. Aku ini anaknya sapa? Monyet? Wong muka mirip gini kok masih nggak mau ngaku, dasar Papi. Liat aja ntar, sampai rumah aku laporin Mami, biar kapok," Michi menggerutu sambil terus berjalan.


Kesal, tentu gadis itu rasakan. Ia sengaja menunggu papinya datang menjemput. Michi sengaja tidak membawa sepeda motor yang biasa ia pakai, ia juga menolak tawaran Kanaya untuk pulang bareng. Sekolah juga sudah sepi, sebagai besar murid sudah pulang.


Michi pun akhirnya memutuskan untuk pergi ke sekolah kakaknya untuk nebeng pulang. Beruntung bagi Michi, sekolah Mattew dan Max hanya di pisahkan sebuah lahan kosong, yang sebentar lagi akan di bangun sebuah kafe.


" Mat !" Teriak Michi saat melihat adiknya baru keluar gerbang dengan menaiki motor sport berwarna merah itu.


Seketika Matthew berhenti mendengar teriak Michi yang tembus, terdengar walaupun ia memakai helm. Michi segera berlari menghampiri Adiknya itu.


"Buset kenceng amat suara Lo, kayak lagi mau manggil kang bakso," ujar Matthew setelah melepaskan helmnya.


"Kalau nggak kenceng Lo nggak denger dong, lagian gue kan udah bilang mau pulang bareng."


"Lah kapan Lo bilangnya? Motor lo mana? Kagak bawa motor Lo?" Cerca Matthew, Michi tak berniat menjawab semua pertanyaan sang adik, ia naik begitu saja ke atas motor Matthew.


"Bukannya jawab, main nangkring aja Lo, Chi."


"Cerewet Lo, kayak emak-emak komplek. Dah, jalan yuk, panas nih. Gue traktir seblak gimana?" Tanya Michi sambil memukul pundak Matthew.


"Ogah gue, kalau cendol mau."


"Es campur!"


"Mie judes!"


"Pake es degan!"


"Deal!


"Oke, siap. Kak Max sekalian nggak?" Tanya Michi menutup perdebatan.


"Lagi di panggil kepala sekolah sama, masalah olimpiade matematika itu lho," jawab Matthew sambil memakai helm, Michi pun manggut-manggut mengerti. Diantara mereka bertiga Max memang paling encer otaknya.


Motor sport itu pun mulai melaju menjauh dari gedung sekolah khusus laki-laki itu. Michi memeluk erat tubuh Matthew, pria sipit itu hanya bisa mendesah pasrah dengan kelakuan Kakak perempuan yang beda lima menit itu.


'Matiin pasaran gue aja Lo, Chi,' gumam Matthew dalam hati.


Banyak yang mengira kalau Michi adalah pacar Matthew atau kadang-kadang Max. Dia bertingkah sangat manja dan nempel pada dua saudara laki-lakinya itu.


Bukannya keberatan dengan sikap manja saudara perempuannya. Namun, Matthew jadi susah menjadi susah untuk mencari pacar. Sedangkan Max dia malah senang, karena dengan begitu ia bisa menghindari cewek-cewek yang mengejarnya.

__ADS_1


Motor sport itu melambat, berhenti di depan sebuah kedai sederhana. Michi segera turun dari motor adiknya.


"Mba mie judes 2, satu level mertua satu level tetangga," pesan Michi pada sang penunggu kedai.


"Baik Kak, minumnya kak?"


"Es degan, gelas jumbo," jawab Michi.


"Silahkan duduk dulu Kak," Mbak-mbak penunggu kedai, mempersilahkan Michi dengan sopan.


Max yang belum melepaskan helmnya, ikut masuk dan duduk di samping Michi.


"Helm mu tuh."


"Hehehehe ...iya," sahut Matthew dalam helm sambil menyengir kuda.


Dengan gerakan slow motion, Matthew melepaskan helm dari kepalanya. Michi yang melihat itu hanya memutar matanya jengah. Beberapa pengunjung warung dan penjaga warung melihat dan terpesona dengan gerakan Matthew, ditambah lagi pria tampan itu menyunggar rambutnya kebelakang. Menurut pengelihatan Matthew sih begitu, padahal aslinya mah hehehe.


"Wes ... Tebar pesonanya." Michi menyenggol sang adik.


"Ck ... Elo ah, sapa tau kan nyantol mau jadi pacarku," ketus Matthew sambil meletakkan helm di sisinya.


"Ih enak jomblo tau, mau ngapa-ngapain mah bebas."


"Eleh ngomong aja nggak laku," tukas Matthew.


"Eh, enak aja nggak laku. Ngantri tau," sahut Michi tak mau kalah.


"Ngantri sembako, mana buktinya kalau ngantri. Gandeng satu kek, biar nggak ngerepotin gue terus." Matthew mencomot satu bakwan sayur lalu memakannya dengan satu suap.


"Sorry gue bukan truk."


"Jiah ...sa ae Lo kaleng kerupuk!"


"Iya dong, Kentongan pos ronda."


Keduanya tergelak, tertawa bersama. Pengunjung yang sedang menikmati makanan mereka, ikut menggelengkan kepala mendengar perdebatan tak berbobot kakak beradik itu.


Tak berapa lama, makanan yang mereka pesan siap. Matthew dan Michi melahap mie super pedas dengan cepat. Michi sampai keselek, mendengar Matthew yang misuh-misuh saking pedasnya level mie yang Michi pesankan untuknya.


Dua gelas es degan raib dalam sekali tenggak oleh Matthew.


"Awas Lo Chi, gue bakal bales dendam!" Sungut Matthew dengan keringat bercampur ingus bening karena kepedesan.

__ADS_1


"Aih ... Tuan muda Li, kenapa pendendam sekali. Massa cowok takut cabe," goda Michi sambil mencolek dagu adiknya, Matthew menepis tangan Michi dengan kasar.


__ADS_2