Mbak Jum Wo Ai Ni

Mbak Jum Wo Ai Ni
Bab 40


__ADS_3

Max berjalan cepat menuju ruang dosen, entah apa gerangan yang terjadi hingga dia di panggil saat kelas sedang berlangsung.


Tok


Tok


Tok


"Masuk!"sahut seorang laki-laki paruh baya dari dalam.


Max pun membuka pintu perlahan, mata sipit Max terbuka lebar, melihat seorang wanita yang tengah duduk di ruang itu. Wanita itu tersenyum lebar melihat wajah tampan Max.


"Duduklah, ada sesuatu yang ingin saya bicarakan," ujar Daus.


"Baik Pak," sahut Max.


Pemuda tampan itu berjalan mendekat, menarik kursi dan mendudukkan dirinya. Ia berusaha mengacuhkan Mila yang terus menatap dirinya.


"Begini Max, saya minta kamu untuk memberikan bimbingan khusus pada Mila. Bapak minta tolong, kamu sebaik asisten saya seharusnya mengerti. Saya tidak ingin ada satupun anak di kelas saya yang mendapatkan nilai dibawah rata-rata," ujar laki-laki itu dengan penuh penekanan.


Mila menyeringai, rencananya kali ini pasti akan berhasil. Sudah seminggu lebih Max acuh pada Mila, lebih acuh dari sebelumnya. Mila yakin semua ini karena gadis yang Max ajak ke kampus waktu itu, jika Mila bisa menghabiskan waktu berdua dengan Max. Mila yakin Max akan lebih memilih dia dari pada gadis cupu yang Max ajak waktu itu, dari segi fisik Mila menang banyak.


Ukuran cup dada dan lingkar pinggang Mila sangat sempurna bagi seorang wanita, paras cantik dan makeup yang mendukung juga menjadi alasan Mila selalu menjadi role model di kampus. Selama ini belum ada laki-laki yang menolak saat Mila mendekati mereka, hanya Max. Laki-laki bermata sipit itu seolah enggan bahkan untuk sekedar meliriknya saja, hal itu yang membuat Mila terobsesi untuk menunduk Max.


"Maaf Pak, tapi sepertinya saya tidak bisa melakukan itu," jawab Max dengan tenang.


Senyum di bibir Mila memudar, alisnya berkerut. Mila melirik sang Dosen, memberikan sebuah isyarat yang segera di angguki oleh laki-laki itu.


"Kenapa?"


Belum sempat Max menjawab, Daus sudah membuka mulutnya lebih dulu. "Aku tidak mau tau, kau harus memberi Mila bimbingan belajar selama seminggu, aku tidak ingin mendengar alasan apapun titik. Sekarang kalian berdua keluar!"


Max tak bisa membantah lagi, ia mendelik tajam pada Mila sebelum bangkit dari tempat ia duduk.


"Saya permisi dulu Pak," pamit Max sebelum berjalan keluar.


Mila mengikuti langkah pria tampan itu, dia berusaha menyembunyikan rona bahagia atas keberhasilan rencananya.


"Maaf ya Max, aku jadi ngerepotin kamu," ucap Mila saat mereka sudah ada diluar ruangan Dosen.

__ADS_1


"Hem," jawab Max acuh.


Ia tidak peduli dengan wanita yang sedang berusaha menarik perhatiannya. Dalam benak Max sekarang hanya ada Arumi, apa Arumi akan cemburu jika Max berdekatan dengan gadis lain? Bagaimana reaksinya nanti?


"Max ... Max tunggu!" Seru Mila, nafasnya tersengal karena mengejar langkah lebar Max.


Pria tampan itu berhenti, ia menoleh dan memberikan tatapan dingin pada wanita yang memakai dress warna merah itu.


"Kapan kita mulai bimbingan belajar nya?" Tanya Mila dengan nafas tersengal-sengal.


"Terserah."


"Bagaimana kalau besok? Dirumah ku?"


Alis Max menyatu.


"Kenapa harus di rumah mu?" Tanya Max dengan dingin dan mata yang begitu mengintimidasi.


"Aku, aku tidak boleh keluar setelah pulang kuliah. Mama Papa ku ketat banget, maaf. Tapi bukannya malah enak di rumah kan, nggak bising aku bisa lebih fokus belajarnya," kilah Mila merayu.


Max diam sejenak." Baiklah, atur saja waktunya. Besok kita mulai bimbingan belajar."


Max tidak perduli lagi, ia segera mengayunkan kaki menuju ruang kelas.


"Lihat saja Max, kamu akan jatuh dalam pelukan seorang Mila," ujar gadis itu sambil menatap punggung Max yang berlalu didepannya.


Setelah selesai kuliah, Max langsung melajukan mobilnya ke sekolah Arumi. Dia setia mengantar jemput sang permaisuri, Max tidak mengizinkan Arumi untuk mengunakan kendaraan umum atau cara lainnya. Dia hanya boleh bersama Max, titik.


Max menunggu di luar mobil yang terparkir di depan pintu gerbang sekolah Arumi. Memakai kaos berwarna putih dan jeans panjang, style yang simpel. Namun, terlihat sangat sempurna untuk Max, apa lagi ditambah kacamata hitam yang nangkring di atas hidungnya yang mancung.


Max tersenyum lebar, kala melihat gadis dengan rambut yang di kuncir kuda berjalan cepat menghampirinya.


"Udah lama?" Tanya Arumi dengan rona bahagia.


"Aku rela menunggu permaisuri seumur hidupku," jawab Max sambil sedikit membungkuk.


"Ish, gombal. Makin hari makin pinter aja Kak Max menggombal, pasti banyak cewek yang klepek-klepek sama Kakak."


Max membuka pintu mobil untuk Arumi, menaruh tangan di atas kepala sang pujaan hati agar tak terhantuk mobil.

__ADS_1


"Sumpah, aku hanya ngomong gini sama kamu, Sayang," ucap Max sambil menutup pintu perlahan.


Arumi hanya mengangkat bahu acuh.


"Kamu nggak percaya banget sih Yang sama aku," ujar Max dengan raut wajah sedih saat dia sudah berada dalam mobil.


Arumi menakup kedua pipi Max, ia merasa sangat lucu dengan tingkah kekasihnya yang seperti anak kecil itu.


"Aku percaya kok Kak, jangan ngambek gitu dong. Nanti gantengnya ilang lho," tutur Arumi seraya melepaskan tangan.


Max kembali tersenyum, ia menahan tangan Arumi, mendaratkan ciuman hangat di sana. Max hanya berani mencium tangan dan ujung rambut Arumi saja, bukan karena tidak ingin merasakan manisnya bibir sang kekasih. Demi apapun, Max sangat ingin menciumnya lagi, seperti saat dimana ia mengungkapkan perasaan cinta malam itu.


Namun, Max menyadari satu hal. Hasrat laki-lakinya bangkit saat bibir mereka saling berpagut. Tentu saja itu hal yang sangat normal untuk pria seusianya, tetapi Max takut jika dia tidak bisa mengendalikan diri jika hal itu terjadi. Lebih baik mencegah, sebelum hal yang tidak diinginkan terjadi.


"Sayang, kamu ok nggak kalau aku deket sana cewek lain?" Tanya Max sambil terus fokus menyetir.


"Tergantung Kak, Kakak deket niatnya apa? tujuannya apa? Kalau untuk selingkuh, coba saja. Arumi pastikan Kakak nggak akan bisa lihat Arumi selama hidupmu, dan aku bakalan mengutuk Kak Max, jadi impoten selamanya!" Jawab Arumi dengan tegas dan berapi-api.


"Ish ngeri banget, Sayang."


"Biarin, biar kapok!"


Max tergelak, ia mengacak gemas rambut Arumi.


"Enggak kok Sayang, mana bisa aku selingkuh dari bidadari secantik kamu, kalau itu terjadi. Aku adalah manusia yang paling bodoh sejagat raya."


"Aku hanya di kasih tugas Dosen aku buat ngasih bimbingan belajar ke teman aku. Dia maunya tuh belajar di rumah." Arumi manggut-manggut mendengar jawaban sang kekasih.


"Ya nggak apa-apa Kak, kan tugas dari Dosen Kakak. Kenapa tanya aku?" Tanya Arumi dengan raut wajah bingung.


"Temenku itu cewek, Sayang." Max mencubit gemas hidung Arumi.


"Terus?"


"Astaga, Sayangku, Manis ku, Arumi. Kamu nggak cemburu? Kesel gitu minimal, aku mau berduaan lho ini, sama cewek lho bukan sama monyet."


Arumi tersenyum kecil, ia bersandar di bahu Max yang sedang menyetir mobil.


"Aku percaya sama Kakak, kak Max sayang kan sama aku. Jadi nggak mungkin Kakak melakukan sesuatu yang bisa bikin aku sedih, kan Kakak sudah janji."

__ADS_1


__ADS_2