Mbak Jum Wo Ai Ni

Mbak Jum Wo Ai Ni
Bab 20


__ADS_3

Max yang tadinya mencari ketenangan di rumah ini, menghindari ke empat bocil super aktif, malah menemukan masalah yang tidak bisa jika ia biarkan begitu saja. Arumi, gadis itu memang bukan siapa-siapa dalam hidupnya, tak ada rugi bagi Max jika membiarkan gadis itu pergi dari rumahnya.


Namun, sebagai manusia tentunya kita punya rasa empati terhadap sesama, apalagi Max mampu untuk melakukan sesuatu. Pria sipit itu kini sedang memikirkan sesuatu, buku tebal ditangan Max hanya ia gunakan sebagai penghias saja. Raga Max Memang di sana tapi tidak dengan pikirannya.


Benda pipih milik pria sipit itu menjerit keras, membuat lamunan Max buyar ketika. Tangan kekar itu mengulur membaik ponsel yang tergeletak di sofa.


"Assalamualaikum, Mi ada apa?"


"Waallaikumsalam, Max kamu bisa pulang sebentar nggak, jagain adek-adek ?" Juminten menjawab pertanyaan anaknya dengan balik bertanya.


"Jagain mereka? Emang suster kemana? Michi?" Cerca Max dengan heran, karena tidak biasanya Juminten minta tolong perkara bocil pada anak pertamanya itu.


Dia tahu kalau Max tidak suka rusuhnya mereka, apalagi kalau sudah bergabung dan jadi power range. Bisa gedek Max dibuatkannya.


"Lha Michi kan lagi KKN di Banyuwangi, berangkat kemarin malem. Ini suster yani pulang ayahnya meninggal, kamu bisa pulang kan? Mami mau ke agensi untuk minta suster baru, Mami mau pilih sendiri di sana," ujar Juminten panjang lebar.


Max dia sejenak, tiba-tiba saja terbersit sebuah ide.


"Max, halo kamu masih di sana kan?"


"Masih, kok Mi. Mami kayaknya nggak usah pergi deh, Max ada temen yang mungkin bisa jadi suster buat si kembar."


"Temen? Kamu yakin?"


"Yakin, seratus persen. Mami tunggu aja ya." Tanpa menunggu jawaban, Max langsung menutup teleponnya.


Dengan langkah lebar, ia berjalan menuju dapur. Arumi sedang membantu Nurul menyiapkan makan malam, derap langkah Max membuat Arumi yang tengah menumis bumbu menoleh.


"Kakak butuh sesuatu?" Tanya Arumi sambil mematikan kompor.


"Bu Nurul kemana?" Max balik bertanya, meskipun hanya untuk basa-basi.


"Bu Nurul lagi nganterin kopi buat suaminya, kalau Kakak mau apa-apa aku bisa kok, Kak Max mau apa ? Makan, minum?"

__ADS_1


"Aku nggak butuh itu," sela Max cepat.


Max menarik tangan Arumi, memaksa gadis itu mengikuti langkahnya. Dengan memperhatikan sekitar, Max melangkah menuju kamarnya. Arumi merasa heran dengan apa yang dilakukan Max, ia langsung menghentikan langkah berusaha melepaskan tangan Max yang memegangnya dengan erat.


"Kak Max mau apa!?" Tanya Arumi lantang,ia menarik paksa tangannya hingga terlepas dari Max.


Arumi menatap nyalang pada pria yang ada didepannya, Max menoleh ia memicingkan mata melihat wajah Arumi yang terlihat marah. Trauma akan kejadian yang pernah menimpanya, membuat Arumi lebih waspada pada siapapun. Termasuk Max, meskipun pria itu sudah menolongnya.


Max menepuk jidatnya, ia seperti tahu kemampuan arah pemikiran Arumi. Padahal tak sedikitpun ia berpikir kesana, Max hanya ingin bicara dengan Arumi empat mata.


"Kakak mau ngomong sesuatu sama kamu Rum, kamu pikir aku mau apa ," ujar Max menjelaskan.


"Ngomongnya aja disini, nggak usah ke kamar segala!"


"Kamar?" Max melihat sekeliling, ternyata mereka memang sudah ada di depan kamar yang Arumi tempati.


Tadinya Max hanya berpikir untuk meminta Arumi cepat mengganti baju, dan segera pergi ke rumah besar karena Juminten sudah menunggunya.


"Iya ..iya maaf, tapi sumpah aku nggak ada niat begitu, meskipun aku pria normal, tapi aku masih waras untuk saat ini." Max mengacungkan kedua jari dengan sungguh-sungguh.


"Arumi, aku mau ngajakin kamu pulang ke rumah -"


"Aku sudah bilang kan Kak, aku nggak mau pulang. Kalau Kakak nggak mau aku ada di sini, bilang aja. Arum bisa kok cari tempat tinggal lain, tapi aku nggak Sudi kembali ke tempat itu lagi!" tegas Arumi.


"Astaga Arumi Nadya, cewek paling galak yang pernah aku kenal. Dengerin dulu kalau orang ngomong, aku mau ngajakin kamu pulang ke rumah aku, rumah orang tua aku. Mami lagi butuh baby sitter dan aku mau kamu yang jadi baby sitter di sana. Maaf tapi, aku belum punya alasan yang tepat buat kamu menetap di sini, kalau kamu jadi baby sitter di sana aku nggak perlu pusing cari alasan sama Mami aku, paham!"


Arumi dia membeku mendengar apa yang baru saja Max ucapkan. Gadis yang sudah tak lagi perawan itu mengigit bibir bawahnya.


"Maaf Kak," lirihnya menatap Max dengan rasa bersalah.


Max menghela nafas panjang, ia melangkah mendekat Arumi yang masih diam.


"Nggak apa-apa, Kakak paham Kok." Max menepuk pelan pundak Arumi.

__ADS_1


"Bersiaplah, kita berangkat sekarang," titah Max, Arumi mengangguk cepat.


Arumi bergegas masuk ke kamarnya, mengganti baju yang ia pakai dengan baju yang baru dibelikan Bu Nurul saat belanja tadi. Max memang menyuruh Nurul untuk membelikan Arumi baju ganti berserta pengamanannya.


Setelah Arumi selesai bersiap mereka pun pergi ke rumah besar menggunakan sepeda motor, Arumi yang merasa canggung berusaha untuk tidak menyentuh Max. Walaupun mereka sempat bersentuhan tanpa sengaja, saat Max melewati polisi tidur. Tak butuh waktu lama untuk mereka sampai di rumah besar Li.


"Nanti kalau aku ngomong apa-apa, kamu iya in aja ya," ujar Max saat mereka ada di garasi.


"Maksudnya Kak?"


"Udah iyain aja pokoknya," jawab Max cepat.


Max pun melangkah lebar dengan Arumi mengekor di belakangnya. Riuh suara anak kecil menyambut kedatangan mereka, empat anak kecil saling berlarian kesana-kemari. Max hanya bisa menggeleng melihat tingkah mereka, berbeda dengan Max, Arumi malah tersenyum dan terlihat antusias.


Brugh


Seorang anak perempuan yang memakai baju warna merah berlari kearah Arumi, dan tanpa sengaja menabraknya.


"Eh ... adek nggak apa-apa?" Tanya Arumi yang langsung berjongkok menolong anak itu.


"Aku bukan adek Tante, aku Kakak, kakak Moza yang adek itu Mely," ujarnya sambil menunjuk pada seorang anak lain yang sangat mirip dengannya, bedanya hanya rambutnya di kepang satu.


"Kakak Moza curang, minta tolong Tante cantik!" Pekik Anak yang bernama Mely.


"Hey bocil. Mami mana?" Tanya Max pada kedua adiknya.


"Ckckck ... Kak tua tidak sopan, bertanya harus dengan sopan." Moza menggelengkan kepalanya sambil berkacak pinggang.


"Iya, nggak sopan, nggak sopan. Pantas aja nggak punya pacar," imbuh Mely yang bertingkah sama seperti kakaknya.


Arumi menutup mulutnya, berusaha menahan tawa melihat ekspresi Max yang di ejek oleh bocah usia dua tahun itu. Max melotot mendengar ucapan kedua adik bungsunya itu.


"Ini yah masih kecil nggak punya gigi udah bilang pacar-pacaran. Siapa yang mengajar?!"

__ADS_1


"Putri Michi!" Jawab keduanya serempak.


Max hanya bisa menggeleng sambil menepuk jidatnya.


__ADS_2