Mbak Jum Wo Ai Ni

Mbak Jum Wo Ai Ni
Bab 35


__ADS_3

"Kalau aku?"


"Hah? Apa?" Arumi yang terkejut langsung mengangkat kepala, menatap Max dengan mata yang melebar dan mulut yang terbuka. Terlihat sangat imut dimata Max.


"Apa kau suka padaku Arumi?" ulang Max dengan tatapan penuh harap pada Arumi.


Pria tampan bermata sipit itu sangat gugup, ada rasa takut yang menyusup di hatinya. Takut jika sang pujaan hati menolak cintanya, ini adalah pertama kali bagi Max mengungkapkan perasaan pada seorang gadis, dia yang begitu dingin dan selalu menjaga jarak dengan lawan jenis. Tak kuasa menolak pesona seorang Arumi yang menghipnotis, bukan karena wajah cantik gadis itu. Arumi tak lebih cantik dari gadis-gadis yang berusaha mendekati dia di kampus, tetapi di mata Max Arumi bagai titisan dewi yang turun dari langit, lembut bagaikan kapas dan hangat seperti mentari pagi.


Nafas Max tercekat, seolah oksigen tak ingin masuk ke paru-paru pria itu, berbanding terbalik dengan jantung yang hiperaktif seolah ingin melompat keluar dari tempatnya. Angin yang berhembus semilir malam ini terasa begitu menusuk menyumbang rasa gelisah yang membuat dadanya sakit.


"Su-suka Kak," jawab Arumi tergagap, jantungnya berpacu terlalu cepat sampai rasanya melompat dari tempatnya. Gadis itu langsung menunduk menyembunyikan rona merah di wajah ayunya.


Max tersenyum lebar, terasa begitu lega, seolah batu besar baru saja dia angkat dari dadanya. Max bangkit dari duduknya. Berjalan mendekat ke disia Arumi, gadis itu bisa melihat untuk ujung sepatu Max yang sekarang berdiri di sisinya.


Mata Arumi melebar saat Max bersimpuh, bertumpu pada satu lutut yang di tekuk menyentuh tanah. Arumi langsung memutar duduknya menghadap Max, dengan ketakutan ia melemparkan pandangan ke sekeliling.


"Apa yang Kakak lakukan?!" Pekik Arumi terkejut, dia terus melihat kesana-kemari memastikan tidak ada orang yang melihat.


Satu tangan kekar Max menggenggam erat tangan Arumi yang takut tanpa beralasan. Sedang tangan satunya lagi merogoh saku, mengeluarkan panda kecil berwarna merah.


"Arumi Nadya, maukah kau menjadi kekasih ku?"


Seketika Arumi menegang, ia yang masih menatap ke arah lain langsung menoleh. Menatap mata teduh yang sedang menatapnya dengan lekat. Gadis yang baru mulai menata hidupnya kembali itu menautkan kedua alis.


Heran, ragu, takut, bimbang, semua rasa itu bercampur aduk dalam diri Arumi. Semua ini terasa begitu tidak nyata, ini hanya mimpi. Ya hanya dalam mimpi semua ini bisa terjadi, siapa dia. Hanya seorang gadis yang sudah kehilangan kehormatan dan numpang hidup di rumah orang kaya, tidak mungkin Max ingin menjadikan Arumi kekasih. Dia terlalu tidak pantas untuk itu.


"Apa maksud Kak Max, kak tolong berdirilah. Bagaimana kalau ada yang melihat Kakak berlutut seperti ini, nanti mereka salah paham," Arumi menatap Max dengan memelas, jelas terlihat rasa takut yang teramat diraut wajahnya.


"Salah paham apa? Kenapa harus salah paham?"

__ADS_1


"Ayolah Kak berdiri, aku mohon!" Bukan menjawab pertanyaan Max, Arumi justru berdiri dan menarik tangan laki-laki yang sedang bersimpuh dihadapannya.


Max tak beranjak sedikit pun walau Arumi mengerahkan seluruh tenaga. Laki-laki itu hanya diam, dan memandang heran pada Arumi. Bukankah seharusnya ini ada adalah momen romantis mereka, bukan malah adu tarik seperti ini. Lelah, akhirnya Arumi menyerah, ia menggeser kursi yang ia duduki dan ikut bersimpuh di depan Max.


"Kenapa kau ikut bersimpuh di sini?" Max menyimpan kembali panda merah ke dalam saku.


"Ya habisnya Kak Max nggak mau berdiri," jawab Arumi dengan bibirnya yang manyun.


"Ah ... Sakit!" Pekik Arumi, ketika Max mencubit gemas hidung Arumi yang minimalis.


"Kamu tau nggak, kenapa aku melakukan semua ini. Ngajak kamu makan malam romantis dengan makanan favorit kamu, duduk bersimpuh seperti ini. Kamu tau kenapa?" Tanya Max sambil menggenggam kembali tangan Arumi.


Arumi menunduk. " Aku tahu Kak."


Lirih Arumi berucap, tetapi masih terdengar oleh Max. Pria itu tersenyum, jemari kekarnya menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik sang pujaan hati.


"Kalau tau kenapa,-"


Mata lentik Arumi terasa panas dan mulai berkabut. Tentu Arumi tahu kenapa Max melakukan ini semua, apalagi saat Max menanyakan apa Arumi mau menjadi kekasih laki-laki itu. Seperti gunung Semeru yang meletus, debaran hangat dan panas lava pijar menjalar ke seluruh syaraf tubuh gadis itu, meletup seperti ribuan kembang api yang menyala di langit malam, tapi semua itu hanya sekejap. Kewarasan Arumi menyadarkan siapa dia, dan siapa Max, mereka bagai langit dan bumi yang tak mungkin menyatu.


Arumi sadar siapa dia. Dia bukan orang yang pantas dan sepadan untuk Max, mati-matian Arumi berusaha untuk membunuh rasa yang mulai tumbuh karena sejak awal mereka bertemu. Bukan hal yang mudah bagi Arumi untuk melakukan hal itu, setiap hari harus menahan rasa nyeri memotong, memaksa cabang cinta dengan paksa. Berdarah, berusaha tersenyum dan bersikap biasa. Gadis manis itu selalu meyakinkan diri, jika perhatian Max padanya adalah cinta kasih seorang Kakak pada adik, tak lebih dari itu.


Kedua tangan Max menakup di kedua pipi Arum, sebuah kecupan hangat dan lembut mendarat di kening Arumi yang tertutup poni.


"Aku mencintaimu Arumi. Apa adanya kamu, aku mencintaimu. Apa kau bersedia untuk membalas rasa ini?"


Bukan kata yang menjawab pertanyaan Max, melainkan untaian kristal bening yang luruh membasahi bumi. Max menyatukan kening mereka, membiarkan Arumi menumpahkan rasa yang ada di hatinya.


"Kau jahat Kak, bagaimana aku bisa hidup setelah ini. Ak-aku berusaha untuk tidak menumbuhkan rasa itu, tapi kau malah mengatakannya dengan begitu mudah," ujar Arumi di sela tangisnya.

__ADS_1


Dengan telunjuknya Max sedikit mengangkat wajah Arumi yang sudah basah oleh air mata. Dengan lembut ia mengusap air asin itu.


"Kenapa kau tidak membiarkan rasa itu tumbuh? Apa karena aku tak pantas untuk memilikinya?"


Dengan cepat Arumi menggeleng. "Bagaimana bisa? Bukan seperti itu, kau terlalu sempurna untukku. Aku hanya seorang gadis biasa, aku tidak ingin berharap terlalu tinggi tentang kita. Kau begitu sempurna Kak, aku bukan gadis yang pantas untuk berjalan di sisimu."


Mata bening Max begitu lekat menatap Max, ada cinta yang begitu besar hingga membuat Arumi tenggelam.


"Aku yang memutuskan siapa yang pantas untukku, tidak ada wanita sesempurna dirimu untukku, Arumi," tukas Max cepat.


"Aku tidak pantas Kak, aku kotor," sahut Arumi sendu.


"Sini mana lihat." Max menyisipkan rambut Arumi ke belakang telinga, melihat wajah dan tubuh Arumi dengan seksama.


"Aku tidak melihat ada yang kotor, aku hanya melihat seorang gadis cantik yang sangat aku cintai," ujar Max dengan seulas senyuman.


Arumi memalingkan wajahnya, tak kuasa menahan mata Max yang penuh cinta.


"Dengar Arumi, aku tidak memaksamu untuk menerima cintaku, tapi aku akan mati,-"


Arumi menutup mulut Max dengan kedua tangannya. Max tersenyum di balik tangan Arumi, ia menurunkan jemari lentik itu perlahan.


"Jadi bagaimana apa aku diterima?" Tanya Max dengan sedikit menekuk lehernya kesamping.


Arumi mengangguk pelan.


"Di terima atau tidak?"


"Iya."

__ADS_1


Max tersenyum lebar, lekas ia memeluk erat tubuh Arumi. Menenggelamkan wajah cantik itu di dadanya yang bidang.


"Kenapa susah sekali untuk membuat mu berkata iya," keluh Max.


__ADS_2