Mbak Jum Wo Ai Ni

Mbak Jum Wo Ai Ni
percepatan rencana


__ADS_3

"Dimas," panggil Juminten.


Remaja yang semula menelungkupkan wajahnya di meja itupun seketika mendongak.


"Mbak, Mbak maafin Dimas Mbak .... Maafin Dimas." Dimas bangkit dari duduknya, dia langsung memeluk erat tubuh Juminten.


"Sudah, semua sudah terjadi." Juminten mengambil nafas dalam sebelum melanjutkan ucapannya.


Ia mengusap lembut rambut Dimas yang lepek, iba dan tidak tega sebenarnya, melihat kondisi Dimas sekarang. Mata remaja itu tampak sembab dan begitu ketakutan. Baru beberapa jam saja Dimas ada di kantor polisi, tapi keadaannya sudah membuat Juminten tidak tega.


"Sudah ya kamu tenang dulu." Juminten melepaskan pelukan Dimas.


"Ini Pak Wisnu, dia adalah pengacara yang akan bantuin kamu. Sekarang kamu ceritakan semua sama Pak Wisnu."


"Wisnu," ucap Wisnu mengenalkan diri dengan tangan terulur pada Dimas.


"Dimas." Tangan Dimas yang dingin menjabat tangan Wisnu.


Ketiganya pun kemudian duduk di tempat yang sudah dia disediakan. Juminten duduk di samping Dimas, sedangkan Wisnu duduk berhadapan dengan mereka.


"Sekarang ceritakan semuanya, jangan ada yang kamu tutupi. Agar saya bisa membantu kamu," ujar Wisnu yang dijawab anggukan kecil Dimas.


Dimas pun mulai bercerita tentang perkerjaannya, dia sama sekali tidak tahu jika yang ia antarkan selama ini adalah barang haram. Dimas hanya tahu, kalau paket-paket itu berisi boneka porselin buatan tangan yang sangat mudah pecah, ia tidak tahu kalau ada narkoba yang di selundupkan didalam boneka itu.


Remaja berusia lima belas tahun itu menceritakan detail ceritanya, berapa dia diupah, siapa yang mengajak dan menemani Dimas mengirimkan paket. Sampai pengiriman terakhir malam ini, di mana Dimas tertangkap oleh polisi, saat razia.


Wisnu mendengarkan cerita Dimas dengan seksama, dan mencatat beberapa poin penting. Dari cerita Dimas, Wisnu bisa menyimpulkan kalau Dimas hanya korban.


"Baik, saya sudah mengerti. Sementara kamu harus sabar dulu, saya berjanji akan segera membebaskan mu," ucap Wisnu.


"Iya, Pak." Dimas menunduk, marah dan takut itu yang Dimas rasakan sekarang.


Juminten memeluk Dimas dari samping, mengusap lengan Adam.


"Kamu harus kuat, kita sama-sama berjuang. Hem."Juminten memberikan sebuah senyuman untuk menyemangati keponakannya itu.


"Maafin Dimas ya Mbak," lirih Dimas lagi, ia sungguh menyesali semuanya.


"Mbak percaya sama kamu Dim, kita pasti akan melewati ini." Dimas mengangkat lemah.

__ADS_1


Wisnu mengamati Juminten, wanita itu sangat baik dan pengertian. Dia merangkul dan memberikan semangat pada jiwa remaja Dimas yang rapuh, sungguh hal yang luar biasa. Remaja seperti seperti Dimas, membutuhkan dukungan moral yang lebih, dan Juminten memberikannya.


"Dim, Mbak harus pulang sekarang. Besok pasti Mbak ke sini lagi."


"Mbak, apa Ibu tau aku di sini?" Juminten menggeleng.


"Nggak, Dim. Mbak belum cerita sama Ibu, untuk sementara kita rahasiakan dulu ya. Kamu baik-baik di sini, jangan lupa sholat. Mbak pulang. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam." Dimas mencium tangan Juminten.


"Semangat Dimas." Wisnu menepuk pelan bahu remaja itu.


"Iya, Pak."


Dimas kembali di nawa petugas ke sel sementara, Juminten tersenyum sambil melambaikan tangan. Dengan sekuat tenaga ia menahan wajahnya agar tidak memperlihatkan kesedihan.


Juminten lebih banyak diam diperjalanan mereka kembali ke rumah sakit, otaknya sangat penuh. Memikirkan banyak hal yang terjadi dalam satu hari ini.


"Tenanglah, semua akan baik-baik saja. Jangan terlalu khawatir, nanti kau bisa sakit," tutur Wisnu.


"Iya, Pak. Terima kasih," jawab Juminten dengan senyum senyum yang tulus di bibirnya.


"Aku merasa sangat tua dipanggil oleh mu."


"Cukup Wisnu saja."


"Hem, akan saya coba." Juminten kembali menatap keluar jendela.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Mayleen duduk di sofa ruang tengah di rumah besar miliknya, berhadapan dengan seorang pria muda, yang memasang wajah sangat serius.


"Katakan, Mama tidak banyak waktu." Mayleen meraih teh herbal hangat di meja, kemudian menyesapnya pelayanan.


"Malam ini aku ingin Mama bertemu dengan Jessy," ucap laki-laki itu dengan penuh harap.


"Untuk apa?" suara Mayleen terdengar dingin, sangat berbeda dengan dirinya yang biasa. Hangat dan penuh kelembutan.


"Ma, tolong. Sekali saja Mama harus bertemu dengan dia, Jessy gadis yang baik. Mama hanya perlu mengenalmu lebih dekat," ucap pria itu dengan memohon.


Mayleen menghela nafas berat, putranya yang malang. Laki-laki itu sungguh terobsesi dengan cinta pertama, hingga dia menutup mata pada kenyataan di sekelilingnya.


"Apa selama ini Mama belum cukup mengenal wanita itu, wajahnya sudah terpampang di majalah dan televisi. Sosial media sudah dipenuhi berita paling hangat dan up date, Mama harus mengenal yang mana lagi. Mama rasa itu sudah cukup," Mayleen bicara dengan tenang dan datar.


Laki-laki muda itu mengepalkan tangannya diatas paha, Mayleen selalu saja menolak untuk bertemu dengan kekasihnya. Sudah dua tahun dia menjalin hubungan dengan Jessy, dan Mamanya itu menentang keras hubungan mereka tanpa alasan yang jelas.


Mayleen hanya mengatakan Jessy bukan gadis yang tepat untuknya. Meskipun ia belum pernah bertemu dengan pacarnya itu.


Pria itu bangkit dari duduknya, ia sedikit menggesek meja menjauh dari Mayleen. Dengan langkah berat ia melangkah dan berdiri di depan sang Mama, dan menjatuhkan dirinya. Berlutut di depan Mayleen.


"Apa yang kau lakukan?!" tanya Mayleen dengan tegas. Ia menatap wajah putranya yang memelas dan putus asa dengan tidak suka.


Pria itu meraih tangan Mayleen, ia menggenggam erat jemari Mayleen, dan menciumnya. Ia menunduk, meletakkan keningnya di atas tangan Mayleen yang ia genggam.


"Ma, aku mohon kali ini saja. Mama lihat dia, kenali dia lebih dekat. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi membujuk Mama, bagaimana cara agar Mama bisa menerimanya. Aku mencintainya Ma, demi aku. Tolong sekali saja Mama bertemu dengannya," suara pria itu terdengar bergetar. Ia berharap sang Mama bisa luluh dengan apa yang dia lakukan.


"Baiklah, jika kau bersikeras. Tapi Mama akan membawa seseorang untuk bertemu denganmu."


Laki-laki itu mendongakkan wajahnya, matanya berbinar seketika mendengar ucapan Mayleen.


"Iya, Mama bisa membawa siapa pun. Asalkan Mama mau bertemu dengan Jessy," ucap Dylan dengan penuh semangat.


Senyum cerah tersungging di bibir laki-laki itu. Mayleen sungguh tidak mengerti dengan sikap putra semata wayangnya itu, sudah berkali-kali Mayleen mengingatkan hubungannya dengan Jessy tidak baik. Namun, apa yang ia katakan seolah hanya angin lalu yang berhembus di musim kemarau.


"Ini sudah siang cepat pergi ke kantor," titah Mayleen.


Laki-laki itu bangkit dari lantai, ia mengecup tangan dan pipi Mayleen. Dia sangat menyayangi Mamanya, tetapi dia juga tidak bisa melepaskan cintanya.

__ADS_1


"Terima kasih Ma, aku berangkat dulu." Dia pun melangkah meninggalkan ruangan itu dengan penuh semangat, ia sangat bahagia karena Mayleen akhirnya mau bertemu dengan sang kekasih.


Mayleen mengambil nafas dalam, ia harus mulai melakukan rencananya malam ini. Tidak bisa ditunda lagi.


__ADS_2