Mbak Jum Wo Ai Ni

Mbak Jum Wo Ai Ni
Kukang


__ADS_3

Nurul sedang sibuk menyiapkan makan malam di dapur, sementara Juminten menikmati siaran berita sambil mengunyah ubi rebus. Wanita yang bisanya suka sibuk di dapur itu kini jarang sekali ke sana. Alih-alih memasak Juminten lebih suka menghabiskan waktunya untuk bersantai.


Wanita manis itu sedang meng-cosplay dirinya menjadi kukang yang super malas, bahkan untuk sekedar mandi saja Juminten harus di suruh oleh Dylan.


Pemirsa seperti yang Anda lihat, beberapa bus ini telah membawa karyawan keluar dari pabrik disaat jam kerja. Apakah mereka semua di PHK, seperti kabar yang beredar? sayangnya, semua tidak ada yang menjawab saat kami mengajukan pertanyaan mengenai hal itu.


"Itukan Pabrik tempat produksi perusahaan Dylan," gumam Juminten dengan mulut yang penuh dengan ubi.


Mata lentik bermanik hitam itu menyipit, memperhatikan sang reporter yang tengah mewawancarai seorang karyawan yang bekerja di pabrik itu. Namun, karyawan itu tidak mau mau menjawab pertanyaan yang diajukan si reporter, dia hanya menjawab tidak tahu.


"Apa terjadi sesuatu dengan perusahaan Dylan?" Juminten bertanya pada dirinya sendiri.


Mata Juminten terbelalak saat melihat sang suami yang berada dalam tayangan televisi. Bukan tentang sesuatu yang baik, suami Juminten baru saja keluar dari mobil, dia terlihat berlari ke kantor karena diburu oleh para wartawan yang terus bertanya tentang isu kebangkrutan perusahaannya.


"Kamu lagi ngapain?" suara bariton membuat Juminten menoleh.


Dylan, pria itu sudah pulang dari kantor dengan keadaan yang lusuh, wajah tampannya terlihat sangat letih. Seperti baru macul dari sawah, cuma bedanya dia bersih dan tidak bawa cangkul pulang.


"Lagi liat kamu ditivi," jawab Juminten dengan mulut penuh ubi. Ia kembali memalingkan wajah ke arah televisi.


Dylan tersenyum kecut melihat rekaman dirinya yang di kejar wartawan tadi pagi.


"Jangan lupa mandi!" teriak Dylan sambil berlalu.


"Ogah males!" jawab Juminten dengan teriakan pula.


"Bau Cumi, aku nggak mau kasurku bau penguk karena kamu!"


"Aku juga nggak mau tidur sama kamu!"


"Mandi!"


"Ogah!"


"Dasar Cumi!"


"Dasar Dodol!"


Nurul hanya bisa menggelengkan melihat kedua majikannya yang saling berteriak, padahal jarak mereka tidak terlalu jauh.

__ADS_1


Suasana rumah itu memang cukup ramai beberapa hari ini, lebih tepatnya sekitar seminggu ini. Juminten menjadi wanita super malas untuk mengurus dirinya sendiri.


Dylan yang notabenenya suka bersih selalu adu mulut dengan sang istri kala malam menjelang, dan sepertinya malam ini juga akan sama. Karena sampai saat ini Juminten belum beranjak dari depan televisi.


Dylan membaringkan tubuhnya di samping Juminten. Malam ini perang tidak terjadi karena Juminten sudah bersedia membersihkan diri.


"Tumben udah bersih," sindir Dylan, dengan tangan yang merambat, merengkuh pinggang sang istri.


"Di paksa Mbak Nurul, di mandiin sama dia tadi," ketus Juminten tanpa menoleh.


"Hem ... Bagus deh kalau begitu, akan aku naikan gaji Nurul kalau bisa bikin kamu mandi teratur. Lagian kamu aneh banget sih, mandi aja pake di paksa segala?"


Dylan menyibakkan rambut sang istri, lalu meletakkan dagunya di bahu Juminten.


"Kamu sudah liat berita?" tanya Dylan.


"Sudah."


"Terus menurut kamu gimana?"


"Gimanapun apanya?"


"Ya, kamu gimana?"


"Kamu tanya berita yang mana sih? aku liat banyak berita hari ini? Soal ular cobra masuk kolong kasur, atau begal motor tadi. Ah, aku tau kamu pasti mau tanya soal maling kutang yang digebukin warga kan. Itu kalau nggak salah tempatnya nggak jauh lho dari sini, serem ya-"


Dylan menutup mulut Juminten dengan tangan, agar sang istri berhenti nyerocos tidak jelas.


"Kenapa di tutup sih?! aku kan belum selesai ngomong!" protes Juminten, setelah berhasil melepaskan tangan Dylan.


"Astaga Cumi, aku tuh nggak perduli dengan ular cobra, begal motor, apalagi maling kutang!" teriak Dylan kesal, ia merasa tensi darahnya tiba-tiba naik sampai ubun-ubun.


"Lha terus?" tanya Juminten dengan wajah polos tanpa dosa.


Dylan mengambil nafas dalam.


"Berita tentang aku, tentang perusahaan ku," ujarnya lirih, dengan mata yang terlihat sayu.


"O, itu. Ya nggak tau, lha kamu gimana? kan kamu yang punya perusahaan," jawab Juminten santai seperti di pantai. Benar-benar diluar ekspektasi Dylan.

__ADS_1


"Kalau aku beneran bankrut gimana?" kali ini Dylan bertanya dengan serius, tatapannya mengunci mata Juminten.


"Ya nggak gimana-gimana."


"Beneran?"


"Iya bener, udah ah aku ngantuk." Juminten hendak kembali memalingkan tubuhnya membelakangi Dylan, tetapi di tahan oleh pria itu.


"Mau ngapain?" tanya Juminten dengan mata yang melotot, ada perasaan tidak enak melihat wajah Dylan yang dihiasi senyum lebar yang mencurigakan.


"Minta jatah lah!"


Setelah seminggu puasa karena Juminten kekeh tidak mandi dan memilih tidur dikamar sebelah, kini akhirnya si pisang ambon bisa ketemu sarungnya.


\*\*\*\*


Tiga hari sejak berita kebangkrutan perusahaan Dylan menjadi trending topik di media sosial, meski beritanya masih simpang-siur karena tak ada satupun orang yang mengiyakan, tapi tidak juga membantah.


Mereka seolah membiarkan para nitizen berspekulasi sesuka hati mereka, entah benar atau tidak. Namun, orang-orang sudah kadung percaya bahwa perusahaan raksasa yang dipimpin Dylan mulai runtuh.


Akhir minggu ini Dylan mengajak Jessica jalan-jalan, dan seperti biasa wanita itu akan memilih tempat yang tidak biasa. Tempat dimana dia bisa menghabiskan uang kekasih beristri nya itu.


"Honey, aku mau ini dong," rengekannya sambil bergelayut manja dilengan Dylan.


Sebuah tas merk Kremes keluar terbaru, menjadi incaran Jessica kali ini.


"Lain kali aja ya Sayang, perusahaan sedang butuh dana besar sekarang. Jadi aku tidak bisa sembarangan menghamburkan uang," tolak Dylan dengan halus, ia berharap kekasihnya itu bisa mengerti.


Meskipun Raka dan sang Mama sering mengatakan sesuatu yang buruk tentang Jessicca. Dylan tidak percaya begitu saja, meskipun ada setitik keraguan pada Jessica, tetapi Dylan masih percaya. Jessica tidak seperti yang mereka katakan.


"Apa kamu bilang!? sembarangan menghamburkan uang?!" Jessica melepaskan tangan, mendengus sebal.


"Jadi kamu pikir selama ini aku beli barang-barang itu nggak ada gunanya, begitu!" sentak Jessica dengan bersungut-sungut.


"Kamu tahu pekerjaanku itu apa. Model Dylan model! aku nggak bisa pake barang lebih dari sekali, bisa hancur reputasi ku kalau seperti itu!"


"Iya Sayang aku ngerti, tenanglah dulu ya. Aku akan beliin ini kalau keuangan perusahaan sudah pulih kembali," Dylan menggenggam tangan sang kekasih.


"Ya udah, kita pulang aja kalau begitu. Ngapain jalan-jalan kalau nggak beli apa-apa," ujarnya dengan nada ketus.

__ADS_1


"Ok, tapi sebelum pulang kita makan dulu ya," ajak Dylan, dijawab anggukan oleh Jessica.


Dylan tersenyum, firasatnya benar. Jessica bersedia untuk mengerti keadaannya sekarang. Dia juga tidak minta putus seperti kata Raka.


__ADS_2