
Melihat Marni yang tertidur lelap, Michi pun membaca aplikasi novel untuk membaca novel favoritnya, sekedar menghalau rasa bosan karena sendiri di kamar itu. Bab demi bab ia baca, sesekali ia tersenyum sendiri bahkan ikut tersipu saat membaca novel romantis yang di tulis author favoritnya. Meskipun masih banyak kesalahan kata kadang juga nama tokoh yang tertukar, tetapi Michi tetap suka cerita yang author itu tulis.
"Rajungan biru, Hem ...nih orang cowok apa cewek sih? Foto profilnya kartun gini m, nggak jelas," gumam Michi dengan senyum.
Sudah beberapa novel karya si rajungan biru yang ia baca, tetapi belum pernah Michi menulis di kolom komentar, tetapi kali ini ceritanya sedikit lebih menarik dan karakter protagonis wanita mirip sekali dengannya.
'Semangat Kakak, ceritanya mirip seperti aku, mengesad soal cinta.' ketik Michi di kolom komentar dengan emoticon tersenyum tertawa lebar.
Tring.
Sebuah notifikasi masuk, ternyata si penulis itu langsung mengikuti Michi. Meski heran Michi pun mengikuti si rajungan biru itu.
[ "Hai Kak, selamat pagi. Terima kasih sudah mampir di novel saya, maaf jika kesalahan dalam penulisan di karya saya membuat Kakak tidak nyaman.' ]
[ 'Hehehee ... Iya sih banyak typo-nya. Tapi bagus kok ceritanya. Aku suka,eh by the way karakter wanitanya mirip banget sama aku. Emoticon ngakak tiga kali.' ]
[ ' Wah, kok bisa gitu ya. Apa jangan-jangan, kita jodoh ya.' ]
[ 'Hahahaha ... Mungkin, siapa tahu aja.' ]
Keduanya pun asik saling bertukar pesan singkat di aplikasi novel itu, sampai-sampai ia tidak sadar kalau Bayu masuk ke sana.
"Assalamualaikum, Kakak siapa?" Tanya Bayu dengan sopan.
"Eh ... Waallaikumsalam," sahut Michi sambil meletakkan ponselnya.
Michi tersenyum melihat remaja yang masih mengenakan seragam biru putih lengkap dengan tas ranselnya. Michi, bangkit dari duduknya mengulurkan tangan pada Bayu yang menatapnya dengan heran.
"Kamu pasti Bayu kan, aku Michi, adiknya Kak Max," ucap Michi dengan senyum ramah.
Bayu mengangguk kecil mengulurkan tangan menyambut tangan Michi.
"Kak Max sedang mengantarkan Arumi untuk mengurus kepindahan sekolah, jadi aku menunggu nenek mu di sini. Beliau tadi baru mendapat obat dari dokter, sekarang masih istirahat," Michi menjelaskan panjang lebar meskipun Bayu tidak bertanya.
"Iya Kak terima kasih, aku ganti baju dulu ya Kak." Setelah Michi mengangguk, Bayu pergi kemar mandi untuk mengganti seragamnya dengan pakaian rumahan.
__ADS_1
Keperluan Bayu dan Arumi sudah ada di kamar rawat itu dengan baik oleh Max. Tak selang berapa lama, Max dan Arumi datang membawa makan siang untuk mereka.
"Maaf ya Kak lama," ujar Arumi.
"Santai aja, aku nggak lagi sibuk kok. Dan panggil adik ipar saja, bukan Kakak," ucap Michi yang langsung membuat Max tersedak.
"Uhuk ... Uhuk...!"
Arumi terlihat panik, ia segera menepuk pelan punggung Max. "Pelan-pelan Kak."
"Cieee .... Pasangan baru," goda Michi yang langsung membuat Arumi tersipu dan menggeser duduknya menjauh dari Max.
Michi tergelak, saat Max meliriknya dengan tajam. Sementara Bayu, terlihat acuh dan hanya khusyuk pada nasi padang dengan lauk kikil sapi kesukaannya.
"L**te sialan, pantas saja aku cari kemana-mana nggak ketemu, jadi peliharaan orang kaya ternyata," gerutu Wito, dengan memacu sepeda motornya lebih kencang.
Setelah puas mengikuti Arumi dan laki-laki yang memboncengnya, Wito memutuskan untuk pulang. Kini Wito sudah tahu, dimana Arumi tinggal dan Mirna di rawat. Dalam perjalanan tadi kedua orang muda itu sempat mampir ke rumah besar yang Wito yakin, itu rumah pemuda yang membawa Arumi. Dia bisa melihat bagaimana satpam di depan rumah itu menyambut dengan hormat kedatangan mereka.
Tak hanya sampai di sana, Wito juga mengikuti keduanya sampai di rumah salah satu rumah sakit terbesar di Surabaya, walaupun beberapa kali ia sempat akan kepergok karena terlalu dekat. Sampai saat kedua orang yang ia ikuti masuk ke area yang hanya orang tertentu yang boleh masuk dan berlalu lalang di sana, Wito memutuskan untuk pulang.
Wito cepat melepaskan helem butut, setelah memarkirkan sepeda motor butut milik salah satu teman yang ia pinjam. Wito mengerutkan keningnya, melihat gembok pintu yang masih utuh.
Wito masuk kedalam, mendengar suara gemericik air dari dapur. Pria itu terkejut melihat seorang wanita yang berdiri memunggunginya, wanita itu terlihat sedang memasak sesuatu.
"Nurma?"
Wanita berambut pendek itu menoleh, ia tersenyum pada Wito yang melebarkan mata melihatnya.
"Kamu sudah pulang Mas?" Nurma menghampiri Wito kemudian menyalami tangan laki-laki yang masih terheran-heran itu.
"Kamu kenapa bisa ada di sini?"
Nurma tidak menjawab, ia menoleh kembali melihat air yang sedang ia jerang di atas kompor. Dengan cekatan ia meracik bubuk kopi dan gula dalam dua cangkir bening. Sementara Wito masih berdiri mematung, melihat istrinya.
Seketika aroma harum kopi mengepul memenuhi dapur, perlahan tangan Nurma menggerakkan sendok kecil dalam cangkir untuk melarutkan dua benda yang berlawanan rasa itu.
__ADS_1
"Duduk dulu Mas," ajak Nurma, ia memutar tubuh berjalan kearah meja kecil yang bisa mereka gunakan untuk makan saat Nurma masih di rumah.
Dalam diam, Wito menuruti ajak Nurma. Pria berkulit gelap dengan badan tegap dan wajah yang tegas itu menghenyakkan bokongnya di kursi kayu yang ada di sisi kanan meja.
"Bagaimana kau bisa pulang Nur? Katakan?" Tanya Wito penuh selidik.
Nurma menghela nafas berat, ia menyodorkan satu kopi yang ia buat mendekat ke arah sang suami.
"Mas darimana? Tadi waktu aku pulang rumahnya sepi banget Mas? Padahal aku pengen kasih kejutan, malah kamu nya nggak ada," cerocos Nurma, ia mengangkat gelas, meniup dua kali sebelum menyeruput kopi hitam itu.
"Jangan bertele-tele Nur, kenapa kamu pulang? Kontrak kamu masih lama Nur, masih dua tahun lebih! Apa jangan-jangan kamu bikin ulah di sana sampai di pulangin? Iya!" Tangan Wito mengepal mengebrak meja, hingga sebagian kopi miliknya tumpah.
Nurma menunduk takut, wajahnya pias. Ia sudah menduganya, Wito pasti akan marah, melihat kepulangan Nurma.
"Jangan diam Nur, jawab!"
Nurma terjingkat, hendak bangkit dan berlari dari amukan Wito. Namun terlambat, pria itu sudah berdiri menghadang didepannya.
"Mau kemana kamu Nur? jawab pertanyaan ku!" Hardik Wito.
"Ak-aku di pulangkan Mas," jawab Nurma takut-takut.
"Apa kamu bilang? Dipulangkan?" Wajah Wito mendekat, menatap tajam pada Nurma yang sudah ketakutan.
"Kenapa?"
"Aku ketahuan ambil uang Nenek yang aku jaga."
"Go**ok kamu, seharusnya kamu lebih hati-hati. Kalau sudah begini gimana heh?"
Wito mennyungar rambutnya kasar, kini Nurma sudah tak lagi bisa menghasilkan pundi-pundi uang yang menjanjikan.
"Ya nggak gimana-gimana Mas, sudah syukur aku dipulangkan nggak di penjara dulu di sana. Kan aku bisa cari kerja di sini, lagian aku ambil uang itukan untuk Mas juga." Nurma menarik tangan Wito dan bergelayut manja.
"Jangan marah ya Mas, Nurma janji bakalan cari kerja secepatnya," bujuk Nurma.
__ADS_1
"Huh, iya aku nggak marah cuma kaget," kilah Wito.