
"Eh Pak Brian," sapa seorang wanita yang merupakan dosen di sana.
'Pak?'
Wajah Michi seketika memucat. Brian menoleh, memberikan senyum sopan kepada wanita cantik yang menyapanya.
"Apa ada masalah dengan dia Pak?" Tanya Siska, salah satu tenaga pengajar di universitas itu.
"Tidak, dia hanya membantu saya. Silakan Anda pergi lebih dulu, sepertinya Anda sibuk," usir Brian dengan halus.
"Tidak, saya tidak sibuk. Saya punya banyak waktu untuk menemani Anda," jawab Siska dengan senyum manis, ia menyibakkan rambut ikal yang tergerai.
"Tapi saya sibuk, permisi." Brian segera menarik tangan Michi yang masih terpaku dalam keterkejutannya.
Siska berdecih, menghentakkan kakinya pergi melangkah ke kantor. Sementara Michi mengikuti langkah Brian dengan tatapan kosong, otaknya masih mencerna apa yang baru saja terjadi.
"Oi, sadar." Brian menjentikkan jari didepan wajah Michi.
"Eh ... Iya Pak!" Michi yang baru saja tersadar dari lamunan menyahuti Brian dengan gelagapan.
Ia menolehkan kepalanya memindai sekitar, kedua alis Michi bertaut heran.
'Kenapa di sini? Bukannya tadi di parkiran.'
"Apa jaket ku sudah selesai kau cuci?" Tanya Brian tiba-tiba.
"Jaket? Jaket apa?" Tanya Michi dengan wajah keheranan.
"Apa kau amnesia, atau otakmu terlalu kecil untuk mengingat kejadian kemarin." Brian menekan kening Michi dengan keras.
"Jaket apa? Aku belum pernah ketemu kamu, dari mana aku bisa punya jaket mu. Bukan aku yang amnesia tapi kau yang mengada-ada," cibir Michi, dia lupa jika pria muda nan tampan yang ada di hadapannya baru saja dipanggil Pak oleh salah satu dosennya.
"Kau yang menabrak ku, kau yang melepas jaketku dengan paksa, dan kau bilang aku yang mengada-ada," ujar Brian.
Mata Michi melebar, kilasan memori baru saja melintas di benak gadis itu. Jaket dengan lengan berwarna hijau dengan merek yang cukup terkenal, sedang berada di laundry langganan keluarganya.
Michi menarik kedua sudut bibirnya, hingga membuat sebuah senyuman paksa.
"Jadi ...."
"Ya, dimana jaket itu sekarang?!" Brian melangkah maju, Michi mundur perlahan hingga dia punggungnya membentur tembok.
"Kenapa diam? Apa kau mendadak bisu?"
"Jaketnya masih di laundry, nanti sore baru di antar ke rumah," jawab Michi sambil menelan ludahnya, tatapan mata yang begitu dingin dan mengintimidasi membuat Michi tak berkutik.
Pria berambut sedikit panjang itu tersenyum, senyum yang lebih mirip dengan seringai. Ia memajukan wajahnya, membuat Michi semakin gugup.
"Tunggu aku setelah kelas hari ini selesai, jangan mencoba untuk kabur," Brian berkata dengan dingin, Michi bahkan hanya sanggup menganggukkan kepalanya untuk menjawab.
Brian menarik diri, dan pergi meninggalkan Michi begitu saja. Gadis bermata sipit itu mengacak-acak rambutnya frustasi, bagaimana bisa dia bersikap seperti tadi, dan kenapa juga harus laki-laki itu yang ia tabrak tanpa sengaja tempo hari.
__ADS_1
"Kenapa serba kebetulan gini si," keluh Michi sambil berjalan gontai.
Sepasang mata menatap Michi dengan nyalang, tangannya mengepal marah.
Kelas akan dimulai, Michi sudah duduk teman baiknya Tanti.
"Chi kerumahnya Kanaya yuk, dah lama nggak ke sana," ajak Tanti sambil memainkan rambut panjangnya yang ikal.
"Nggak bisa, ada hal penting yang mau gue kerjain Tan," Jawab Michi dengan malas, kedua tangannya selonjoran di meja dengan kepala yang juga tergeletak lemah.
"Lu kenapa si Chi? Masih patah hati soal Yudha. Udah lupakan saja laki-laki itu, kan masih banyak cogan di sini, pilih aja satu. Mereka pasti mau kok, asal kamu nggak galak-galak amat." Tanti membenarkan make-upnya yang tidak berantakan.
"Hais, mana ada gue patah hati. Nggak usah ngaco, gue cuma kurang makan seblak aja," kilah Michi, sebenarnya gadis itu masih memikirkannya tentang pria tampan diparkiran.
"Selamat pagi!" Seru seorang laki-laki tampan berkulit putih, matanya sipit dan sangat berkarisma.
Para penghuni kelas langsung membenarkan posisi duduk mereka sat laki-laki itu masuk dan menyapa.
"Pagi Pak!" Jawab semua hampir serempak.
"Saya dosen baru kalian, Kim Brian. Panggil saja Brian," ujarnya sambil menatap lurus pada semua orang yang hadir di kelas itu.
"Ada yang mau di tanyakan?"
"Umur berapa Pak? Kok keliatannya muda banget?"
"Bapak orang Korea?"
"Ig nya apa Pak?"
"Pak nanti kalau saya follow, Follback ya Pak!"
Dan berbagai pertanyaan nyeleh lain terlontar dari para mahasiswa, mereka semua takjub melihat ketampanan dosen baru mereka. Apalagi Brian terlihat sangat muda, mungkin saja umur mereka masih sepantaran.
Berbeda dengan teman sekelasnya, Michi justru terlihat gugup dengan berkeringat dingin. Mata elang Brian menatap Michi dengan tajam, seolah siap uny mengulitinya kapan saja, entah apa salah Michi. Ah, benar dia bahkan belum minta maaf setelah kejadian di parkiran tadi, tentu saja pria itu marah.
"Chi, dosen kita ganteng banget sih, kalau gini kan gue betah di kelas," ujar Tanti sambil menghentakkan kakinya gemas.
Michi tidak merespon, ia masih terpaku pada mata yang sedang menatapnya tajam.
"Sudah selesai bertanya nya?!" Tanya Brian dengan sedikit meninggikan suaranya.
Saat itu Brian memutus kontak mata dengan Michi, ia tersenyum sinis sambil berdiri memutar meja.
"Belum!" Jawab mereka serempak.
"Tahan dulu, kita kuis dadakan sekarang!"
Semua bersorak protes, tetapi itu tidak mempan. Brian memberikan lima pertanyaan untuk kuis pagi ini, cuma lima saja tetapi jawabannya cukup untuk membuat otak mereka berkerja sangat keras.
Pria dengan stelan jas berwarna coklat muda itu berdiri dengan satu tangan yang ia masukkan dalam saku, matanya begitu dingin menatap semua murid yang menunduk mengerjakan kuis. Sikap dingin dan kejamnya mematahkan hati semua murid yang sudah tertipu dengan ketampanan Brian.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
Di tempat lain Max baru saja keluar dari mobil, hari ini dia tidak ada kelas dan kebetulan Arumi juga pulang lebih cepat. Max ingin mengajak kekasihnya itu untuk menikah waktu bersama.
"Kak makasih ya, bajunya bagus aku suka," ujar Arumi dengan senyuman manisnya.
"Arumi mulai hari ini kau dilarang tersenyum," sahut Max tanpa menoleh. Ia fokus pada jalanan di depannya.
"Kenapa Kak?"
"Terlalu manis Sayang, aku takut diabetes." Max melirik sekilas pada Arumi yang tersipu karena gombalan Max.
"Jangan malu-malu begitu, kamu sengaja ya bikin aku pengen cium kamu."
"Apa sih Kak," tukas Arumi, wajahnya bertambah merah dan terasa panas.
Max terkekeh melihat Arumi yang tersipu dan salah tingkah seperti itu. Terlihat sangat menggemaskan.
Ponsel Max berdering, ia pun mengangkat panggilan yang masuk dengan mengunakan headset, dia bicara sambil sesekali melirik Arumi yang duduk di sampingnya.
"Baik Pak, saya akan ke kampus sekarang," ucap y sebelum mematikan ponselnya.
"Sayang, kita mampir ke kampus sebentar nggak apa-apa kan?" Tanya Max ragu.
"Nggak apa-apa kok Kak," Jawab Arumi singkat.
"Cobalah untuk memanggil aku dengan kata Sayang Arumi." Max mengacak gemas rambut Arumi.
"I-iya nanti Arumi coba."
Max tersenyum, ia pun mempercepat laju mobilnya.
Michi dan wajah juteknya.
Brian
__ADS_1