
Hari demi hari berlalu, Juminten menjalankan tugasnya sebagai istri dengan baik. Memasak, mencuci, membersihkan rumah dan menyiapkan semua keperluan Dylan. Tapi tidak untuk keperluan di ranjang, hehe.
Pagi ini seperti biasanya, Juminten bangun pukul empat pagi. Melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslimah, kemudian dilanjutkan masak memasak di dapur.
"Ok siap!" serunya bersemangat. Juminten menghidupkan bluetooth diponselnya, alunan lagu bollywood menggema di seluruh dapur.
Wanita cantik itu memakai celemek, bersiap untuk bertempur dengan wajah dan kawan-kawan.
"Argh ... Dasar Cumi, pagi-pagi udah berisik!" Dylan menutupi telinga dengan bantal berharap bisa meredam lagu bollywood yang di stel dengan volume besar.
"Berisik woi matiin!" teriak Dylan dari dalam kamar.
Merasa kesal karena tidak bisa melanjutkan tidurnya, Dylan akhirnya memutuskan untuk bangun. Masih jam lima pagi, pria sipit itu mengambil jaket dan celana training dari lemari. Mulutnya terus komat - kamit mengucapkan jampi-jampi untuk istri bawelnya.
Tanpa mencuci muka, pria tampan itu keluar kamar. Dengan cepat ia menuruni tangga, dan berjalan menuju dapur.
"Berisik, Cumi." Dylan mendorong kepala Juminten dari belakang.
Ia terkejut, mulut mungil Juminten mendesis saat tangan mulusnya berciuman dengan wajah yang sedang nangkring di api yang membara.
"Apaan sih! Ngagetin aja."
"Kamu tuh, pagi-pagi udah berisik. Ganggu orang tidur tau nggak." Dylan menenggak air dingin yang baru ia ambil dari kulkas.
"Baguslah, kamu jadi bangun pagi," sahut Juminten acuh, ia kembali mengaduk nasi goreng spesial buatannya.
"Aku olahraga dulu," pamit Dylan.
"Hem, kembali sebelum waktu sarapan," ucap Juminten tanpa menoleh.
Setelah selesai memasak, Juminten segera membersihkan diri. Wanita itu terlihat cantik walaupun hanya memakai celana training dan kaos berwarna hitam.
Langkah Juminten mengayun ringan, mendekati pintu kamar yang ada di sebelahnya.
Tok
Tok
Tok
Juminten mengetuk pintu kamar Dylan. Ia pun memutuskan untuk masuk, dengan ragu ia memutar handle pintu berwarna coklat itu.
"Hem ... Dia belum kembali rupanya," gumam Juminten, saat melihat keadaan kamar yang kosong melompong.
Apalagi tempat tidur juga masih dalam keadaan berantakan, biasanya ia akan membereskan kamar Dylan saat pria itu pergi bekerja. Namun, hari ini Juminten berinisiatif melakukannya lebih awal.
Dengan cekatan wanita mungil itu menata dan membereskan ranjang Dylan. Setelah ia mengambil baju kerja lalu meletakkannya di atas ranjang yang telah rapi.
"Beres." Juminten bangga, nasi goreng dan telur mata sapi dan kopi sang suami siap tersaji di meja makan.
Gadis cantik itu mengerutkan keningnya, saat mendengar bel rumah berbunyi.
"Siapa yang datang? nggak mungkin Dylan kan?" gumamnya sambil melangkah ke depan.
Tangan lentiknya terulur memutar handle pintu besar didepannya.
__ADS_1
"Mama!" pekik Juminten terkejut.
Wanita paruh baya yang menolak tua itu tersenyum. " Assalamualaikum Sayang.
"Eh ... Wa'alaikumsalam Ma, maaf," Juminten tersenyum kikuk, ia sampai tak mengucapkan salam saking terkejutnya.
"Masuk Ma." Mayleen mengangguk. Juminten mundur dua langkah agar sang mertua dan seorang wanita yang ada di belakang Mayleen bisa masuk.
"Mama mau minum apa? atau Mama mau sekali sarapan bareng."
"Lho kamu belum sarapan?" Juminten menggeleng.
"Mas Dylan masih belum pulang joging Ma." Mayleen manggut-manggut mendengar jawaban si menantu.
"Oia Jum, kenalin ini Nurul."
Wanita itu tersenyum ramah, menyambut tangan Juminten yang terulur hendak menyalaminya.
"Juminten Bu."
"Saya Nurul Nyonya." Wanita itu sedikit mengangguk kecil.
"Jangan panggil Nyonya, Bu. Panggil Juminten saja," ucap Juminten sungkan, ia kemudian melepaskan tangannya.
"Jum, Nurul akan berkerja di sini. Bantu-bantu kamu."
"Tapi Ma, di sini hanya ada aku sama Mas saja. Perkejaan rumah juga tidak begitu banyak."
"Lha kalau kamu tiba-tiba isi gimana?"
"Tapi Ma ...."
" Nggak ada tapi, pokok Nurul kerja di sini titik!" tegas Mayleen tak terbantahkan.
"Tapi Jum belum izin Mas Dylan," Juminten masih mencari celah untuk menolak Nurul berkerja di rumahnya.
Mendengar suara langkah kaki mendekat, ketiga wanita yang sedang duduk di ruang tamu serentak menoleh.
"Lha ini panjang umur!" seru Mayleen.
Dylan mengerutkan keningnya, Dengan cepat ia melangkah mendekati sang Mama, dan mencium punggung tangan wanita itu dengan takzim.
"Mama sudah lama datang?" tanya Dylan, seraya duduk di sebelah sang Istri.
"Baru aja."
"Ada apa Mama pagi-pagi ke sini?" Bisik Dylan pada sang istri.
"Tanya aja sendiri," jawab Juminten tak kalah lirih. Dylan berdecih kesal.
"Dy Mama mau ngomong."
"Iya Ma, ngomong aja," sahut laki-laki itu santai.
"Nurul akan berkerja di sini, nggak ada bantahan ya!" mata Mayleen menatap tajam pada putranya. Mulut Dylan yang semula tertutup, kembali menutup rapat.
__ADS_1
"Iya, terserah Mama," hanya itu yang bisa Dylan ucapkan. Juminten mendelik tajam pada sang suami.
"Bagus kalau begitu, Jum. Kamu siap-siap gih, Mama mau ajak kamu keluar sama Nurul,* titah Mayleen.
"Kemana Ma?"
"Udah kamu ikut aja."
"Kalau begitu sebentar ya Ma, Jum mau nyiapin sarapan buat Mas Dylan." Mayleen mengangguk.
Juminten tersenyum manis, tanpa banyak bicara wanita cantik itu menarik tangan sang suami. Dylan mengikuti langkah Juminten yang terus menariknya sampai ke ruang makan.
"Apa maksudmu mengiyakan Nurul untuk berkerja di sini?" tanya Juminten dengan marah.
"Nurul siapa?" tanya Dylan balik.
"Stt ... jangan keras-keras." Juminten melirik kearah ruang tamu, memastikan sang mertua tidak mendengar percakapan mereka.
"Wanita yang dibawa Mama itu namanya Nurul, dodol!"
"Mana aku ingat, nggak penting juga." Dylan menarik kursi lalu mendudukinya.
Juminten pun mengambil piring, lalu menyendokkan nasi goreng dengan satu telur mata sapi nangkring di atas nasi.
"Bisa runyam tau nggak kalau sampai ada orang lain di rumah ini selain kita," lirih Juminten dengan nada kesal.
"Memangnya kenapa?" tanya Dylan tanpa menoleh pada sang istri yang duduk di sebelahnya.
Juminten menjadi semakin gemas dengan sikap Dylan yang acuh tak acuh seperti ini.
"Hih ... kamu tuh ya! kalau Nurul kerja di sini, bisa-bisa pernikahan palsu kita terbongkar. Gimana kalau dia laporan sama Mama!?"
Uhuk ..
"Nih!" Juminten menyodorkan segelas air putih pada suaminya yang tersedak.
Dengan segera Dylan menenggak habis cairan bening itu.
"Aku nggak kepikiran itu, Cumi!" Dylan menepuk jidatnya.
"Heh ... dasar Dodol cina," ketus Juminten.
"Trus sekarang gimana?" Dylan mengacak-acak rambutnya frustasi, dia tidak berpikir sejauh itu. Ia hanya tidak ingin berdebat dengan sang Mama.
"Nggak tau, pikir aja sendiri. Orang kamu yang ngasih izin dia kerja di sini." Juminten menatap lurus dengan dagu yang bertopang pada satu tangannya.
Padahal Juminten sudah berusaha menolak keinginan Mayleen. Tapi Dylan malah dengan mudah mengiyakan begitu saja.
Dylan pun sama, keduanya sibuk memikirkan cara untuk membatalkan Nurul berkerja di rumah mereka.
"Ketentuan idenya?" Juminten melirik sekilas pada Dylan.
"Nggak."
"Hah ... Nggak ada cara lain, kita biarkan Nurul berkerja di sini seperti kemauan Mama," ujar Juminten lesu, Dylan pun mengangguk mengiyakan saja.
__ADS_1