
Juminten mematutkan dirinya di cermin besar yang ada di kamar hotel, ia pangling dengan dirinya sendiri. Ia tak menyangka jika ia bisa secantik ini.
"Anda sangat cantik Nyonya," puji MUA yang membantunya berias.
"Ah ... Masa sih Mbak," sahutnya dengan tersipu.
"Mba bisa tolong ambilkan ponsel saya." Juminten menunjuk benda pipih yang ada di meja rias, wanita berambut pirang itu mengangguk.
Ia mengambil ponsel berwarna hitam yang baru yang sudah usang dan retak layarnya.
"Ini Nyonya."
"Terima kasih," Juminten menerima ponsel
dengan tersenyum manis.
Juminten mengarahkan kamera ponselnya
ke cermin, ia mengambil gambar pantulan dirinya di sana.
Wanita cantik itu melangkah pelan tapi pasti, melangkah dengan anggun. Jantungnya berdegup kencang, tangan Juminten basah dengan keringat. Ia merasa sangat gugup saat ini.
Setelah melewati pintu besar yang terbuka, Dylan mengulurkan tangannya menyambut sang istri dengan senyum manis. Juminten tersenyum kaku, tangan meremas kuat jemari Dylan.
"Tersenyumlah, jangan seperti bebek kesetrum begini. Kaku," ejek Dylan lirih Dylan tanpa menatap pasangannya.
Juminten mendelik tajam pada Dylan yang mengejeknya, bibir ranum gadis itu mengerucut seperti corong. Ia melingkarkan tangannya di lengan Dylan dengan kesal. Mereka melangkah beriringan, tampak sangat serasi.
Seorang pianis memainkan lagu pernikahan, mengiringi langkah dua sejoli menuju singgasana cinta mereka. Semua tamu berdiri, sibuk mengambil foto. Mereka tak ingin melewatkan momen besar ini begitu saja.
Tatapan Dylan terhenti, sepasang mata sembab menatapnya dengan senyum getir.
"Jessica," gumam Dylan. Juminten tak mendengar Dylan bergumam karena terlalu gugup.
Mata sipitnya, terpaku. Jessica, kekasihnya itu menatap Dylan dengan begitu menyedihkan.
__ADS_1
Tangan Juminten berkeringat, tanpa ia sadari. Wanita yang masih gadis itu mencengkeram kuat lengan sang suami, Dylan bisa merasakan kegugupan Juminten. Namun, ia tidak perduli. Sebab Dylan sendiri masih gundah gulana, hatinya tak menentu saat matanya tak sengaja bersitatap dengan Jessica. Ya, kekasihnya itu hadir bersama managernya Arthur, berdiri diantara para tamu, menatap Dylan dengan penuh kesedihan.
Dengan riasan wajah yang dibuat pucat, Jessica sengaja ingin menarik simpati Dylan. Dan itu berhasil, Dylan merasa sangat khawatir dengan keadaan Jessica, apalagi beberapa hari terakhir, wanita itu tidak bisa dihubungi.
Raja dan Ratu sehari itu terus berjalan, walaupun pikiran mereka tidak ada di tempat itu. Sampai di singgasana, Dylan tidak membantu Juminten untuk duduk.
"Kamu kenapa Dy, jangan membuat Mama Malu. Ada banyak tamu penting di sini," Mayleen berbisik pada Dylan.
Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu, menyadari raut wajah Dylan yang berubah dan langsung mendekatinya.
"Mama tenang saja, semua akan berjalan seperti keinginan Mama," sahut Dylan yang terdengar dingin.
Mayleen hanya bisa menghela nafasnya, dia tahu ini pasti berat bagi Dylan. Untuk menjalani pernikahan tanpa cinta seperti ini, tetapi Mayleen yakin inilah yang terbaik.
Acara berlangsung dengan baik, satu persatu tamu undangan pun menyalami kedua mempelai untuk mengucapkan selamat.
Hingga tiba giliran seorang wanita cantik, yang tak lain adalah Jessica. Dengan senyum yang ia paksakan, Jessica mengulurkan tangannya menyalami Juminten.
"Selamat atas pernikahanmu." Jessica mendekatkan wajahnya pada sisi wajah mempelai wanita.
"Ingat kau hanya menantu sementara, Dylan hanya milikku," bisik Jessica.
"Terima kasih doanya, Semoga Anda lekas menemukan jodoh yang sepadan dengan Anda. Tidak baik jika mengharapkan sesuatu yang bukan milik kita," ucap Juminten lembut tetapi terdengar tegas, Dia memang memutuskan untuk membuat Dylan menjadi miliknya.
Raut wajah Jessica memerah menahan kesal. Namun secepat kilat, ia berusaha menguasai dirinya, iya melempar senyum tak ramah pada Juminten.
"Selamat ya Dy," ucap Jessica dengan sendu, matanya berkaca-kaca saat menyalami sang kekasih.
Dylan tak menjawab, ia terpaku melihat wajah sedih Jesicca. Ingin sekali rasanya ia merengkuh sang kekasih dalam pelukannya. Namun, keadaan tidak memungkinkan. Jessica melepaskan tangan Dylan dengan tidak rela.
Pesta pernikahan Dylan dan Juminten berlangsung meriah berbalut dengan semua kemegahan yang tersaji di sana.
Jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam, pesta telah usai. Kini kedua manusia berbeda kelamin itu ada di kamar hotel, Dylan tengah membersihkan diri, sementara Juminten sibuk melepaskan gaun dan tiara yang ia kenakan.
"Ck, angel e se, Cok!"
[ "Ck, susah banget sih, Cok!" ] Umpatan khas Surabaya itu keluar dari mulut mungil Juminten saking jengkelnya.
__ADS_1
Wanita bertubuh kurang tinggi itu tak bisa menuturkan resleting gaun yang ia pakai. Entah tangannya yang terlalu pendek, atau memang resleting yang macet.
Melihat Juminten yang terus mengumpat, dengan kedua tangannya yang menarik-narik sesuatu dipunggung membuat Dylan terheran. Ia pun memutuskan menghampiri sang istri.
"Kamu lagi ngapain? belajar jadi monyet?!" Dylan melipat kedua tangannya, menatap Juminten dengan tatapan meremehkan.
Juminten menatap tidak suka, pada bayangan Dylan yang terpantul di cermin.
"Kalau nggak mau bantu, diem. Nggak usah banyak omong," ketus Juminten, ia pun melanjutkan usahanya untuk membuka resleting gaun.
Entah kenapa Dylan merasa kasihan melihat Juminten yang kesusahan. Kakinya melangkah lebih dekat pada Juminten.
"Gini aja nggak bisa." Dylan menepis tangan Juminten, perlahan ia menurunkan resleting gaun Juminten.
Mata Juminten melebar, tubuhnya menegang. Ini adalah kali pertama ia sedekat ini dengan seorang laki-laki. Meskipun di rumah, ia sekamar dengan Dylan. Tetapi mereka selalu menjaga jarak.
Namun, sekarang. Juminten bahkan bisa merasakan tangan Dylan yang dingin yang tak sengaja bersentuhan dengan punggungnya yang polos.
"Cu-cukup, berhenti!" seru Juminten terbata, ada gelayar aneh yang ia rasakan.
Dylan terhenyak. Punggung mulus Juminten membuatnya tersepona, hingga tak sadar menurunkan resleting itu dengan slow motion. Ia bahkan hampir menurunkan resleting sampai ke pangkalnya. Gaun yang dikenakan Juminten mempunyai resleting yang panjang sampai pinggul, hal ini bertujuan untuk memudahkan sang pemakai melepaskannya.
"Ehem, kalau udah di bantu bilang terima kasih. Dasar nggak sopan," kilah Dylan menutupi kegugupannya.
"Iya, makasih ya suamiku," ucap Juminten dengan senyum khas iklan pasta gigi. Kedua tangan Juminten memeluk gaun bagian depan agar tidak melorot.
Dylan memalingkan wajahnya yang tersipu, ada.
"Ehem, cepet mandi sana. Bau!" titahnya tanpa menatap cermin, ia sengaja menghindari kontak mata dengan Juminten.
"Kamu juga cepat pake baju, ntar masuk angin lho burungnya."
"Kau-
Juminten tertawa cekikikan, ia bangkit dari duduknya. Dengan langkah seribu wanita manis itu melangkah ke kamar mandi.
Dylan melekukan bibirnya menatap punggung Juminten yang menghilang di kamar mandi.
__ADS_1
Dylan berkacak pinggang, melihat kearah burung cucak rowo yang masih tertutup handuk putih tanpa pengaman. Pria sipit itu menyengir sambil menggaruk rambutnya yang masih basah.