Mbak Jum Wo Ai Ni

Mbak Jum Wo Ai Ni
Fobia


__ADS_3

Perasaan Dylan gelisah. Matanya terus memperhatikan kresek hitam yang akan di buka Juminten, gerakan wanita itu seperti slow motion di mata Dylan.


"Aku tadi seneng banget pas lihat ini!"


Sret


Ikatan simpul pada Kresek hitam itu terbuka, mata Dylan terbelalak melihat isi di dalamnya. Apalagi saat mahluk itu bergerak seolah akan melompat ke arah pria bermata sipit itu.


Dylan jatuh terduduk, keringat dingin mengucur deras membasahi tubuhnya.


"Kamu kenapa?" Juminten berdiri hendak membantu sang suami, apalagi wajah Dylan terlihat sangat pucat membuat Juminten khawatir.


Mata Dylan semakin memelotot, saat Juminten mendekat dengan kresek hitam yang masih ia tenteng. Selangkah Juminten mendekat, Dylan ngesot dua langkah mundur.


"Hey kamu kenapa, sih?!" Juminten mempercepat langkahnya mendekati Dylan yang semakin menjauh.


Keadaan kresek yang terbuka lebar, memudahkan mahluk bertubuh licin itu melompat keluar.


"Huaaa!"


Laki-laki bertubuh atletis dengan tinggi badan seratus delapan puluh centimeter, berteriak sambil lari terbirit-birit saat melihat mahluk berkumis itu menggelepar setelah berhasil keluar dari kresek.


Juminten hanya bisa melongo, melihat sosok pria tampan dan rupawan itu lari dengan kencang, seolah di kejar anjing liar.


Setelah di rasa aman, Dylan berhenti berlari. Ia mencoba mengatur nafasnya yang tersengal-sengal, bulu kuduknya masih berdiri, ia bergidik ngeri bercampur geli saat mengingat mahluk tadi.


"Wanita itu sudah gila ya, apa dia nggak tau aku paling anti sama gituan," gerutu Dylan sambil memegang dadanya.


Setelah merapikan kembali belanjaannya, Juminten memutuskan untuk menyusul Dylan. Wanita itu berjalan ke arah, pria itu berlari. Dari kejauhan Juminten nisa melihat pria sipit itu sedang duduk di trotoar dengan kaki yang diluruskan.


"Hey Tuan, ngapain duduk di sini?"

__ADS_1


Dylan mendongakkan kepalanya, melihat sang pemilik suara yang sudah berkacak pinggang dihadapannya. Mata sipit itu agak sedikit terbuka, niatnya ingin memelototi Juminten. Namun, karena sipitnya. Mata Dylan hanya terlihat sedikit melebar saja.


Dylan bangkit dari duduknya, telunjuk tangannya menegang kearah wajah Juminten.


"Kau, untuk apa kau membeli barang seperti itu," geram Dylan dengan wajah masam.


"Barang? barang apa? perasaan aku belanja barang normal semua, selain kebutuhan untuk bikin cilok aku hanya belanja untuk masak saja," jawab Juminten santai.


"Apa ada yang salah dengan belanjaan ku?" tanya Juminten dengan muka polosnya.


Dylan diam, dia berpikir kalau Juminten belum menyadari kalau dia mempunyai fobia pada mahluk itu. Dylan menurunkan telunjuknya, jika memang benar Juminten tidak menyadarinya, Dylan bisa lega.


Dia tidak ingin Juminten tahu kelemahannya, selama ini memang hanya Mayleen dan keluarga dekat saja yang tahu fobia Dylan itu.


"Lain kali kalau mau belanja, tanya dulu aku mau makan apa.Biar nggak salah beli," ujar Dylan ketus.


"Ya Tuan Muda, udah siang nih pulang yuk. Aku masih harus bikin cilok pesanan orang." Juminten melangkah kearah parkiran tanpa menunggu Jawa dari Dylan.


Dengan ragu Dylan mengikuti langkah Juminten, sebenarnya dia tidak ingin melihat mahluk itu lagi. Tetapi di sisi lain ia juga tidak tahu jalan jika pulang sendiri, apalagi Dylan lupa tidak membawa dompet.


Mereka pun akhirnya kembali berboncengan pulang, sepanjang perjalanan Dylan hanya diam sesekali ia melirik kearah kresek merah besar yang Juminten letakkan diantara kedua kaki Dylan. Pikiran pria itu masih dihantui mahluk yang ada dalam kresek hitam.


Setelah beberapa saat berkendara mereka pun sampai di rumah Juminten, Dylan bergegas masuk. Ia harus segera mandi untuk menghilangkan rasa geli yang membuat ia merinding.


Juminten hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, menatap lucu pada Dylan yang telah berlalu. Wanita berparas ayu itu dengan santai membawa belanjaannya masuk ke dapur.


"Assalamualaikum, Bu," panggil Juminten. Ia membuka pintu kamar Mirna, untuk melihat keadaan sang Ibu.


Hening, tak ada seorangpun di sana. Begitu pula dengan kursi roda yang biasa Mirna gunakan setelah pulang dari rumah sakit.


"Mungkin di ajak Budhe jalan-jalan kali ya," gumam Juminten.

__ADS_1


Ia pun menutup kembali pintu kamar Mirna. Juminten melanjutkan langkahnya ke dapur, bersiap untuk mulai meracik cilok dagangannya. Namun, sesampainya ia di dapur, Juminten memutuskan untuk masak terlebih dahulu. Karena lambungnya sudah mulai meronta minta diisi.


Terdengar suara guyuran air di kamar mandi. Juminten tersenyum, setidaknya saat Dylan mandi dia tidak akan melihat Juminten yang akan mengeksekusi ikan lele yang tadi ia beli. Ya, suami sipitnya itu ternyata punya fobia pada ikan, Juminten belum jelas, Dylan fobia hanya pada ikan hidup atau ikan mati juga, atau hanya dengan ikan lele saja.


Entahlah, Juminten tidak tertarik untuk menanyakannya lebih jauh. Toh, Dylan juga hanya suami pura-pura. Yang penting Juminten tidak memperlihatkan lagi ikan hidup, pada suaminya itu.


Setelah selesai membersihkan ikan lele itu, Juminten kemudian menggoreng dan membumbuinya dengan bumbu kuning. Saat ikan lele yang telah berubah warna menjadi coklat, dan tenggelam dalam kuah santan kuning.


Dylan baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah. Aroma masakan Juminten menggelitik lambungnya yang hanya terisi kopi hitam pagi ini.


"Masak apa kamu?" tanya Dylan mendekat pada Juminten. Laki-laki jangkung itu berdiri di belakang Juminten yang sedang mengaduk masakan di wajan.


"Masak ikan lele kuah kuning," jawabnya singkat.


"Ikan lele," ulang Dylan, mata Dylan terus memperhatikan kuah kuning dengan aroma yang sangat mengiurkan lidah.


"Kamu mau nggak? ehm ... lebih tepatnya kamu bisa makan ikan nggak?" tanya Juminten hati-hati.


"Bisalah, masa makan ikan nggak bisa," celetuk Dylan.


Dylan memang hanya takut pada ikan yang masih hidup, terutama sejenis lele dan ikan patin. Saat melihat mahluk air itu menggelepar atau bergerak-gerak, itu membuat Dylan geli bercampur takut yang luar biasa. Jika ikan yang sudah mati, dia tidak terlalu takut hanya saja dia juga tidak akan mau menyentuhnya.


"Ok." Juminten mempertemukan ujung jempol dan telunjuknya hingga membentuk seperti huruf O.


"Yang enak masaknya, jangan asal. Inget nyenengin suami dapat pahala, lho," ucap Dylan asal, pria itu melangkahkan kakinya meninggalkan Juminten di dapur.


"Inggeh," jawab Juminten lirih.


Main rumah-rumahan seperti ini ternyata asik juga, dengan adanya Dylan di rumah ini. Keadaan jadi tidak terlalu sepi. Sebuah senyum mengembang di bibir mungil Juminten. Namun, hanya sesaat wajahnya kembali datar saat mengingat semua ini hanya sebuah sandiwara.


Juminten tidak boleh terlalu memakai hati, agar tidak sakit saat berpisah nanti. Wajah Juminten yang tadinya sumringah, kini berubah menjadi datar dengan senyum kecut tersungging disana.

__ADS_1


__ADS_2