Mbak Jum Wo Ai Ni

Mbak Jum Wo Ai Ni
Tanda tangan


__ADS_3

Juminten menikmati makan siang yang terasa aneh baginya, pasta dengan saus carbonara. Begitu creamy dengan full keju. Sangat tidak familiar untuk lidah Juminten yang medok, rasanya lebih baim sambal terasi dengan petai dari pada makan mie dengan balutan saus putih itu. Bukan bermaksud menghina makanan, hanya saja lidah Juminten tidak terbiasa.


Apalagi ditambah dengan adegan romantis, sang calon suami dengan pacarnya. Iyacks, sungguh memuakkan.


"Maaf, aku tidak tahu kalau kau tidak terbiasa makan spaghetti," ucap Jessica, wajahnya terlihat bersalah melihat Juminten yang begitu memakan makan siangnya.


"Jangan, terlalu baik padanya Sayang. Kau tidak perlu minta maaf, orang udik sepertinya memang tidak akan pernah terbiasa dengan makanan seperti ini," ujar Dylan dengan menatap remeh pada Juminten.


"Honey, jangan seperti itu. Kasihan dia, bersikaplah baik padanya, bagaimanapun dia adalah calon istrimu."


"Dia hanya menjadi istriku karena keinginan Mama, Sayang. Sedangkan yang ada dalam hatiku hanya kamu." Dylan mengusap lembut tepi bibir Jessica dengan tisu, wajah wanita itu bersemu kemerahan.


Juminten memutar matanya jengah, melihat kemesraan mereka.


"Ehem ... Tuan dan Nona yang terhormat, apa bisa kita langsung pada inti acara. Saya yakin Anda berdua mengajak saya ke tempat mewah ini?" tanya Juminten dengan penuh penekanan. Sorot matanya tajam menatap dua orang yang juga menatapnya, tak ada rasa sungkan atau takut diraut wajah Juminten.


Entah ejekan, ataupun cemoohan yang akan ia dengar sebagai jawaban. Juminten sudah tidak perduli, dia sudah kebal dengan itu semua. Yang ia tahu, dia harus segera menyelesaikan urusan dengan dua orang sombong ini, agar bisa lekas menjenguk Dimas. Sebelum jam berkunjung habis.


"Wah ... Ternyata calon istrimu pintar juga, Sayang." ucap Jessica dengan bergelayut manja di lengan Dylan.


"Hemp ... dia buka pintar Hon, tapi licik," sindir Dylan, matanya menatap remeh pada Juminten yang acuh.


Sikap Juminten yang acuh membuat Dylan sedikit geram, tetapi dia tidak ambil pusing dengan itu. Jessica melepaskan tangannya, ia kemudian mengambil tas dan mengeluarkan secarik kertas dari dalamnya.


meletakkannya di atas meja, dan mendorongnya pelan pada Juminten.


"Baca dengan baik, lalu segera tanda tangani," ujarnya lembut. Namun, dengan raut wajah sinis.


Juminten menghela nafas, ia menyisihkan piring yang masih penuh dengan spaghetti itu kesamping. Gadis muda itu kemudian mengambil kertas yang diberikan Jessica dan membacanya dengan seksama. Sebenarnya ini bukanlah surat perjanjian pertama yang ia baca, sebelum ini Juminten juga menandatangani perjanjian dengan Mayleen. Masih dengan hal yang sama, masalah pernikahan Juminten dengan Dylan.


Terdapat lima poin yang di tulis di perjanjian itu. Juminten mengangkat kedua alisnya saat membaca poin kelima.

__ADS_1


"Pihak kedua harus menjaga jarak minimal dua meter dari pihak pertama, apa ini tidak terlalu aneh?"


"Mungkin terdengar aneh, tapi aku tidak bisa menahan cemburu. Jika harus melihat Dylan berdekatan dengan wanita lain," jawab Jessica dengan sendu.


Dylan, segera meraih tangan Jessica. Lalu menciumnya berkali-kali.


"Apa yang kau katakan Honey, aku hanya mencintaimu. Lagi pula apa kau pikir seleraku serendah itu," ucapnya sambil melirik sekilas pada Juminten.


"Tapi tetap saja dia seorang wanita," lirih Jessica, wajahnya menunduk dengan mata berkaca-kaca.


"Kalau begitu kita batalkan saja semua ini, aku tidak ingin melihatmu bersedih, Sayang." Dylan menakup wajah Jessica, sedikit mendongakkannya ke atas.


Jessica menggeleng cepat.


"Tidak! kau harus tetap menikah dengannya. Aku tidak ingin Mama Mayleen marah padamu."


Juminten menopang dagu dengan kedua tangan yang bertumpu pada meja. Lumayan dia bisa menonton drama life dihadapannya, meskipun sedikit lebay dan membosankan. Kedua manusia itu saling berpelukan, membuat Juminten semakin jengah.


"Kita harus sabar, suatu saat nanti. Aku yakin Mama akan menerimaku."


"Ehem, bisa kita fokus ke sini dulu." Juminten menunjuk surat perjanjian yang di berikan Jessica padanya.


Jessica dan Dylan menoleh secara bersamaan. Kekasih Dylan itu mengangguk kecil, sementara Dylan menatap kesal pada Juminten karena menggangu saat romantisnya.


"Aku sama sekali tidak keberatan dengan semua yang kalian tulis di sini, hanya saja untuk poin yang kelima. Apa itu tidak akan membuat Nyonya Mayleen curiga? sementara di poin kedua kalian mengharuskan aku merahasiakan kontak perjanjian ini?" tanya Juminten dengan jengah.


Dylan berpikir sejenak. Benar apa yang dikatakan wanita itu, tidak mungkin mereka bersandiwara menjadi suami istri dengan jarak dua meter. Mamanya pasti akan curiga melihat keadaan yang begitu ganjil itu.


"Poin kelima berlaku saat kita tidak bersama Mama. Tidak apa-apa kan, Sayang?" Dylan bertanya pada kekasihnya yang sedang berwajah masam itu.


Jessica mendesis kesal. Namun, ia berusaha tenang.

__ADS_1


"Nggak apa-apa kok, aku ngerti," jawabnya sambil menunduk.


"Hey jangan sedih gitu dong, aku nggak tega lihatnya." Dylan menyentuh dagu Jessica dengan ujung telunjuk, dan sedikit mengarahkannya ke atas agar wajah mereka bisa bersitatap.


Juminten benar-benar dianggap sebagai obat nyamuk di ruang itu, tetapi dia harus bersabar. Apapun yang Dylan lakukan dia harus bersabar, ini adalah salah satu dari poin kontrak yang ia tanda tangani dengan Mayleen.


Nyonya besar itu seolah tahu apa ada di pikiran anaknya, tentu tidak mudah bagi Dylan untuk melepaskan jalinan kasih yang sudah dua tahun ia jalani. Namun, Mayleen keinginan Mayleen untuk menjadikan Juminten menantunya tidak bisa di ganggu gugat apapun alasannya.


Juminten sendiri juga heran, kenapa Nyonya besar itu menginginkan dia. Bukankah Jessica lebih sempurna? jika memang Mirna pernah berbuat jasa pada Mayleen, sepertinya ini juga terlalu berlebihan. Mayleen sudah cukup membantu dengan membiayai pengobatan Mirna, juga masalah Dimas.


"Heh! cepat tanda tangan, malah ngelamun!" bentak Dylan.


"Iya ...iya ...." Juminten mengambil bolpoin dan membubuhkan tanda tangan di atas materai yang tertempel di surat itu.


Jessica tersenyum penuh kemenangan melihatnya, dengan begini dia tidak khawatir akan kehilangan Dylan. Wanita cantik itu bangkit dari duduknya, ia mengambil surat itu dan menatap dengan rasa puas.


"Honey, simpan ini baik-baik, jangan sampai Mama tahu. Aku takut akan menyalakan kamu nanti." Jessica menyodorkan surat itu pada Dylan.


"Tenang, Sayang. Semua akan seperti yang kita rencanakan."


Juminten hanya diam, menatap dengan malas dua sejoli yang kelewat mesra itu.


"Kalau tidak ada hal lain lagi, boleh saya pulang?"


"Tentu, kau bisa naik taksi kan. Ini ongkosnya." Dylan mengeluarkan beberapa lembar uang dan melemparkannya pada Juminten.


"Ya, tentu saja terima kasih." Juminten mengambil uang itu kemudian segera keluar dari sana.


"Sayang, jangan terlalu kasar sama dia. Kasian tau."


"Untuk apa merasa kasihan padanya, dia itu hanya orang materialistis. Kamu jangan seperti ini, kamu selalu saja baik pada semua orang. Tidak semua orang bisa seperti mu, Jessy."

__ADS_1


__ADS_2