Mbak Jum Wo Ai Ni

Mbak Jum Wo Ai Ni
Bab 22


__ADS_3

Kembali ke Arumi dan Max. Kita tinggalkan Michi yang sedang berusaha semedi.


Setelah anak-anak di ambil suster dan di ajak bermain di ruangan yang sudah di sediakan. Max mengajak Arumi untuk bicara dengan Juminten, Maminya baru saja selesai membuatkan camilan untuk para balita itu.


"Mami, ini teman yang Max ceritakan," ujar Max kemudian mencium tangan sang Ibu dengan takzim, ia kemudian menghenyakkan bokongnya di samping Juminten.


Juminten tersenyum ramah, ia kemudian mempersilahkan Arumi untuk duduk di sofa yang berhadapan dengannya. Arumi mengangguk dengan gugup, perlahan ia mulai duduk, rasanya.


"Santai saja nggak perlu gugup seperti itu, Tante nggak gigit kok," canda Juminten agar gadis dihadapannya itu tidak terlalu tegang.


Arumi hanya tersenyum menanggapi candaan Juminten.


"Kamu yakin mau jadi baby sitter di sini? Kelihatan kamu masih muda, masih sekolah ya? Kamu tahu betapa aktifnya adik dan kakak Max?" Cerca Juminten dengan serius.


Ia sempat mengira kalau teman yang dikatakan Max adalah gadis seusia anaknya itu. Sedangkan gadis yang Max bawa pulang sepertinya masih sangat muda. Ada setitik keraguan pada hati Juminten.


"Kakak Max, Nyonya?" Ulang Arumi.


Juminten mengangguk." Iya Kakak, Excel dan Erika adalah anak dari kakak suamiku, Mely dan Moza baru adiknya Max. Anakku ada lima Max dan kedua adiknya, mereka kembar tiga lalu Mely dan Moza.


Arumi manggut-manggut, mendengar penjelasan Juminten yang panjang lebar.


"Saya mau Nyonya," jawab Arumi mantap, tak ada keraguan dalam sorot matanya, Juminten tersenyum mengangguk.


"Lalu bagaimana sekolahmu Nak, kau masih sekolah kan? Dan apa kau sudah minta izin keluargamu untuk berkerja di sini?" Tanya Juminten penuh selidik, Arumi yang di tanya seperti itu pun gelagapan, bingung untuk menjawabnya.


Max yang menyadari itu langsung pasang badan.

__ADS_1


"Dia lagi ambil cuti sekolah Mi, lebih tepatnya sih berhenti karena kendala biaya, itulah kenapa Max mau dia kerja di sini," ujar Max menjelaskan, tentu saja Juminten bisa menangkap maksud Max yang berkata dia ingin Arumi berkerja di sini.


Itu berarti Juminten harus dan tidak boleh menolak Arumi apapun alasannya, Juminten melirik Max dengan dahi mengkerut. Baru kali ini Max menunjukkan keinginannya kepada seorang wanita, Max hanya memutar matanya melihat Juminten yang memberikan dia lirikan yang menuntut penjelasan darinya.


"Jadi gimana Mi, bolehkan Arumi saja yang jadi baby sitter?" Tanya Max yang sudah tidak tegang melihat Arumi yang gelisah karena gugup.


"Gimana ya?" Juminten pura-pura berpikir sambil melihat Arumi dari atas kebawah, Arumi semakin gelisah.


Arumi tak ada jalan lain untuknya saat ini, dia juga tidak ingin kembali ke rumah yang berubah seperti neraka itu. Biarlah dia tak menyelesaikan sekolahnya, Arumi berpikir jika dia bisa bekerja di sini dan menghidupi adik dan neneknya itu sudah cukup. Dia akan mengajak Bayu dan Nek Marni pergi agar laki-laki bejat itu tak menganggu kehidupan mereka, perduli setan dengan sang ibu yang sudah berubah seratus delapan puluh derajat sejak kenal Wito.


Cukup selama ini Arumi bertahan di sana, sebenarnya dia sudah tenang hidup bersama dengan nek Marni dan Bayu adiknya. Dulu saat awal pernikahan Wito dan Nurma, Arumi merasa tidak nyaman karena Bapak tirinya itu terus saja memerhatikan dia dengan tatapan tidak senonoh, dan selalu mencari kesempatan untuk menyentuh tubuh Arumi, dia sering bertindak kurang ajar. Dengan sengaja ia meremas payudara, atau pantat Arumi saat ada kesempatan.


Dan tiap kali ia mengadu pada Ibunya, Nurma malah mengatakan kalau Arumi hanya mengada-ada dan mengatakan kalau Arumi yang sengaja menggoda suaminya, Arumi dimarahi habis-habisan tanpa bisa membela diri. Nurma lebih percaya suami baru ketimbang darah dagingnya sendiri.


"Mi," panggil Max sedikit manja, jurus yang jarang sekali ia gunakan kecuali untuk keadaan darurat, misalnya seperti sekarang.


Arumi dan Max saling melempar pandang, kemudian menatap Juminten dalam waktu bersamaan dengan tatapan penuh tanya.


"Kau harus meneruskan sekolahmu, jadi sepulang sekolah kau baru mengasuh si kembar."


"Nyonya kenapa An-,"


Juminten mengangkat tangan, mengisyaratkan Arumi untuk tidak melanjutkan ucapannya. Juminten kemudian memanggil asisten rumah tangganya untuk mengantarkan Arumi ke kamar yang dulu dipakai suster Yani. Yani sepenuhnya mengundurkan diri, dia ingin menghabiskan waktu bersama ibunya yang sudah tak lagi muda.


"Ada yang ingin kau katakan Max?" Kini Juminten bertanya tanpa menoleh pada anaknya, suaranya terdengar lembut tetapi sangat dingin.


Max menelan ludahnya, memperhatikan sang Mami yang sedang menyesap teh yang masih menguarkan kepulan asap tipis.

__ADS_1


"Arumi temanku Mi," ujar Max membuka pembicaraan.


"Dari?"


"Dari dulu," jawab Max asal.


"Kau tahu bukan itu yang Mami maksud." Juminten menoleh menatap tajam pada anak pertamanya.


Max menunduk, ia tahu kemana arah pertanyaan Juminten. Max kira Maminya tidak akan mengintrogasi dirinya seperti ini, bodohnya dia juga tidak bertanya rumah Arumi, jika dia mengarang Juminten akan tahu.


"Max kau tahu Mami tidak suka memaksa," Juminten berkata dengan dingin, Max mengerti arti dari ucapan sang ibu.


Max mengambil nafas dalam sebelum menceritakan kisah sebenarnya tentang Arumi. Juminten tak terburu-buru dengan seksama ia mendengar apa yang di katakan Max, ia cukup terkejut saat mengetahui kalau Arumi adalah korban rudapaksa oleh Ayah tirinya.


"Begitulah Mi, Max ingin membantu dia tapi Max tidak bisa begitu saja membuat laporan ke polisi tanpa persetujuan Arumi," Max menghela nafas berat, sambil menyandarkan tubuhnya di sofa.


"Mami akan bicara dengan Arumi, tapi ada satu hal yang mami mau tanyakan, apa kau menyukai gadis itu atau cuma kasihan?"


"Apaan sih Mi? Nggak kali ini Max nggak mau jawab, itu privasiku," ketus Max kemudian bangkit. Namun, ucapan Juminten membuat dia berhenti sesaat.


"Jika kau menyukai dia mami nggak keberatan, tapi jika hanya sekedar rasa belas kasih mami sarankan kau untuk menjauhi dia, jangan memberikan harapan pada Arumi. Paham!" Tegas Juminten.


"Ayolah Mi, aku cuma mau menolong dia nggak lebih." Max pun keluar meninggalkan Juminten.


Arumi


merapatkan tubuhnya ke tembok, ada senyum getir yang tersinggung di bibirnya yang luka.

__ADS_1


__ADS_2