
"Kak, aku kok takut ya," tutur Arumi sambut memilin ujung kemeja yang ia pakai, hatinya menggigil ketakutan.
Rasa malu mendekap diri Arumi, sadar betapa kotornya dia. Seorang wanita yang telah hilang mahkota karena direnggut paksa.
"Ada aku, jangan takut." Max menggenggam tangan Arumi.
Bagaikan sihir yang menghipnotisnya, Arumi mengangguk dan menurut saja saat Max membimbing dia duduk diboncengan sepeda motor yang akan mengantarkan mereka ke sekolah Arumi.
Dengan memakai masker yang menutupi sebagian wajahnya, Arumi datang ke sekolah untuk mengurus kepindahan sekolah. Walaupun rasanya enggan bagi Arumi untuk gadis cantik itu melanjutkan pendidikan, karena malu dan masalah ekonomi, tetapi Max yang tak pernah menyerah untuk membujuk membuat Arumi luluh.
Sinar matahari yang masih terasa hangat menemani perjalanan mereka, dua sejoli yang bukan kekasih itu berboncengan sepeda motor. Melaju di padatnya jalanan Surabaya pagi hari, Max sengaja berangkat agak pagi.
Kedua diam dan hanyut dalam pikiran masing-masing, jika Arumi merasa gugup dan takut. Berbeda dengan Max yang merasakan jantungnya jedag-jedug, ada sesuatu yang aneh yang Max rasakan saat berada di dekat Arumi. Rasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, meski berdekatan dengan gadis lain.
Max bahkan sengaja memelankan laju sepeda motornya, agar bisa lebih lama menghabiskan waktunya berdua bersama Arumi. Setelah cukup lama perjalanan akhirnya mereka sampai di tempat Arumi menuntut ilmu.
"Kak udah sampai." Arumi menepuk pundak pelan pundak Max saat mereka sudah akan sampai di depan gedung sekolah.
Max mengangguk, ia memasukkan motor dalam parkiran sekolah. Setelah Max turun, ia membantu Arumi turun dan membukakan helm yang gadis itu pakai.
"Ter-terima kasih, Kak," ucap Arumi tersipu, menadapat perlakuan manis dari Max.
Max hanya tersenyum, ia merapihkan rambut Arumi yang sedikit berantakan karena memakai helm. Wajah Arumi semakin memerah, saat punggung telunjuk Max menyentuh wajahnya.
__ADS_1
Max menatap lekat wajah ayu Arumi yang tersipu karena dia. Merasa gemas, ia mencubit pipi Arumi yang menurutnya lebih tirus dari pertama kali bertemu.
"Ayo."
Max mengandeng tangan Arumi, mengajaknya masuk ke dalam gedung bertingkat yang menjadi tujuan mereka. Arumi menurut meskipun ia takut, bahkan dia sengaja memakai masker agar tidak ada yang mengenali.
Meski belum ada seorang pun di sekolah itu tahu tentang kejadian naas yang menimpa dirinya. Terapi tetap saja Arumi merasa tidak nyaman bertemu dengan orang lain saat ini, ia takut bagaimana cara orang melihat dirinya. Seolah mereka semua tahu aib Arumi, dan menatap dia dengan jijik, padahal itu semua hanya ada dalam pikiran Arumi saja.
Sesampainya di ruang kepala sekolah, Max berusaha menjelaskan alasan kenapa Arumi pindah sekolah tanpa membeberkan sebab sebenarnya.
"Sebenarnya sayang kalau pindah sekarang, sebentar lagi kan sudah mau ujian," ujar wanita berkerudung, yang tak lain adalah kepala sekolah Arumi.
"Saya paham Bu, tapi seperti yang saya katakan tadi. Saya harap Ibu bisa mengerti," Max menyahuti ucapan wanita itu dengan sopan.
Wanita itu menoleh, melihat Arumi yang sedari tadi menunduk, sibuk memainkan jemarinya. Meskipun berat dengan berat hati, sang kepala sekolah melepaskan Arumi, karena Arumi salah satu siswi berprestasi.
"Iya Kak," jawab Arumi singkat.
Gadis itu masih terlihat takut, ia berjalan sambil melihat ujung kakinya sendiri, sesekali Arumi melihat sekitar memastikan tidak ada yang memperhatikan mereka. Sadar dengan keadaan Arumi, Max kembali menyatukan tangan mereka.
Arumi terhenyak, dia menoleh pada Max yang sedang tersenyum padanya.
"Ada aku," ucap Max pasti. Arumi sedikit mengangkat wajahnya yang tertunduk, sebuah senyuman dari Max bagai sinar mentari yang menghangatkan hatinya.
__ADS_1
Arumi pun tersenyum, mereka melanjutkan langkah dengan saling bergandengan tangan. Arumi tak lagi menundukkan kepalanya, ada Max yang di sana, ada dia yang akan selalu mendukung dan melindungi Arumi. Bagi gadis itu Max bukan sekedar seorang pria yang tanpa senagaja, pria itu bagaikan lentera yang akan selalu menerangi Arumi dari kegelapan.
Arumi mempererat tautan tangan mereka, Max menoleh melemparkan senyum manis untuk Arumi. Jika bisa jujur, Max merasa jantungnya sangat tidak sehat. Apalagi setelah melihat senyuman Arumi, ada rasa hangat yang mulai menjalari seluruh tubuhnya.
"Jadi peliharaan orang kayak kau rupanya, dasar Lon###. Cuih!" Wito meludah, membuang rokok yang masih separuh ia sedot.
Wito menyeringai licik, pria itu masih duduk di trotoar di seberang jalan sekolah Arumi. Pengintainya selama ini membuahkan hasil, ia melihat Arumi berboncengan ke keluar dari halaman parkir, ia bisa dengan jelas melihat wajah Arumi sebelum ia menutup kaca helm yang dia pakai. Gegas ia memakai masker dan helm berwarna hitam pekat, setelah Arumi dan pemuda itu melewatinya, Wito pun mulai memacu sepeda motor untuk membuntuti keduanya.
"Per*k sialan! Lihat saja, apa yang akan aku lakukan padamu," geram Wito, tangan hitamnya mencengkeram kuat setir sepeda motor yang ia tumpangi.
Melihat Arumi yang hidup dengan baik, bahkan mengenakan pakaian bagus membuat Wito marah. Anak tirinya itu bisa hidup berkecukupan dengan baik, sedangkan dia harus menerima bogem dan ancaman dari anak buah Karto.
Wito terus mengikuti sepeda motor yang Max dan Arumi tumpangi. Ia sengaja menjaga jarak dari sejoli itu, agar mereka tidak curiga.
"Kamu mau makan apa?" Tanya Max, dengan sedikit meninggikan suaranya karena mereka berdua mengenakan helm.
"Terserah Kakak, aja," jawab Arumi singkat.
Mendapatkan jawaban pasrah dari Arumi, Max memutuskan untuk untuk menghentikan sepeda motornya di rumah makan padang. Wito pun ikut berhenti, agak jauh dari mereka.
Michi menyandarkan tubuhnya di sofa yang ada di ruangan serba putih itu, seperti permintaan Max dia menemani Marni pagi ini. Marni baru saja selesai menerima suntikan obat dari dokter, sebenarnya dokter sudah menyarankan agar Marni di bawa pulang dan di rawat di rumah. Bukan rumah sakit tidak mau merawat lansia itu, tetapi harapan Marni untuk sembuh hanya beberapa persen saja menurut mereka.
Keadaan tubuh rentanya semakin menurun saat masa pemulihan pasca operasi, meskipun operasi berhasil dengan baik. Namun, kondisi pasien saat masa pemulihan juga penting, dan Marni tidak menunjukkan tanda-tanda kearah yang lebih baik.
__ADS_1
Namun, Max menolak saran dokter untuk membawa Marni pulang. Dia sudah berjanji pada Arumi untuk membantunya merawat sang Nenek, apapun hasilnya nanti. Setidaknya dia sudah berusaha, terlebih lagi Max merasa rumah sakit lebih aman daripada rumah Marni sekarang. Di sini ada suster dan penjaga keamanan yang melindungi Marni dan Bayu juga Arumi dari ayah tirinya.
Apalagi Marni dirawat di kamar VIP yang tidak semua orang memiliki akses ke sana, kecuali menunjukkan tanda pengenal yang diberikan rumah sakit pada keluarga yang menunggu pasien.