
Benda pipih berbalut casing lusuh berwarna biru dengan layar retak, berbunyi dengan keras mendendangkan lagu bollywood. Juminten mengulurkan tangannya tanpa membuka mata, meraih ponsel itu kemudian menggeser untuk mematikan alarm.
"Sssh .... dingin," mulut mungil Juminten mendesis, merasa dingin yang menyergap tubuh polosnya. Tangan Juminten meraba-raba mencari keberadaan selimut.
Bukan selimut yang ia temukan, melainkan sesuatu yang keras tapi tidak sekeras batu, sedikit empuk, hangat dan berat di area perutnya. Juminten mencubit-cubit benda itu, untuk memastikannya.
"Ehmmm ...." sebuah erangan kecil terdengar dekat di telinga Juminten.
Mata lentik wanita itu membeliak, menatap wajah tampan dan rupawan sang suami yang terlelap di sampingnya. Juminten menunduk, terlihatlah tubuh polos keduanya yang saling menempel.
"Aaaaa ....!" jeritan Juminten melengking, menendang gendang telinga sang suami. Hingga memaksa mata sipit itu terbuka.
"Apa sih!" Dylan mengusap telinganya yang berdengung hebat.
Plak
Juminten mendaratkan telapak tangannya dengan keras di pipi Dylan, dengan sekuat tenaga ia mendorong tubuh polos kekar nan menggoda itu. Juminten bergegas memungut daster dan pengaman yang tercecer di lantai, secepat kilat ia berlari ke kamar meski area v nya terasa nyeri.
Dylan menatap punggung Juminten yang berlalu dengan bingung, pria yang masih setengah sadar itu menggaruk kepalanya yang gatal.
"Ngapain lari sih, dasar Cumi nggak jelas."
Dylan menggeliat, tubuhnya terasa pegal. Mungkin akibat meringkuk berdua bersama Juminten di sofa.
"Astaga!" Mata Dylan terbelalak saat berdiri dan melihat pisang ambon gondal-gandul tanpa pengaman.
Pantas saja Juminten lari tunggang langgang, rupanya si pisang berdiri tegak reaksi alami di pagi hari.
Dylan duduk termenung di ruang kerjanya, dokumen yang bertumpuk-tumpuk ia biarkan begitu saja. Tak ada niatan sama sekali untuk menyentuhnya.
Pria sipit itu masih terbayang kejadian semalam, malam pertama yang ia lewati bersama sang istri. Pagi tadi Juminten seperti sengaja menghindarinya, meski begitu Juminten masih menyiapkan baju dan sarapan seperti biasa.
Aku sudah melakukan itu dengannya, Aagh... bagaimana aku menjelaskan ini pada Jessy?! celaka, bagaimana kalau dia hamil?
Dylan menarik-narik rambutnya frustasi.
Raka yang baru masuk ke ruangan itu mengerutkan keningnya heran. Tak biasanya si Tuan sipit melamun seperti itu.
"Ada yang bisa saya bantu Tuan?" Raka meletakkan dokumen di atas tumpukan lain yang telah menggunung.
"Tidak ada, lakukan saja perkejaanmu sendiri." Dylan mengambil satu dokumen kemudian dan mulai memeriksanya.
"Anda benar, Dina mulai mengambil cuti hamil, jadi perkejaan saya lebih banyak sekarang."
"Sebentar lagi ada rapat dengan Tuan El, Tuan," imbuh Raka.
__ADS_1
"Hem."
"Saya permisi, jangan terlalu banyak melamun Tuan. Pamali," ucap Raka dengan menyeringai, sebelum meninggal ruangan itu.
Raka dan Dylan mengantarkan kepergian El, sampai keluar kantor.
"Jo, jangan lupa untuk membeli apa yang dipesan Karin!" tegas Eldric pada asistennya.
"Tentu Tuan," sahut Jo cepat.
"Anda sepertinya sangat menyayangi istri Anda Tuan," Raka berkata dengan hati-hati.
"Tentu saja, Aku sangat mencintainya. Apalagi sekarang dia sedang hamil anak kedua kami, dia wanita yang hebat."
"Selamat atas kehamilan istri Anda Tuan," ucap Raka dengan tulus.
Eldric hanya menanggapi dengan senyuman. El melirik Dylan yang sedari tadi lebih banyak diam, seperti ada sesuatu yang dipikirkan pemuda itu.
"Apa istri Anda juga sedang hamil?" tanya Eldric dengan tatapan penuh selidik.
"Tidak, eh .... maksudnya saya tidak tahu," jawab Dylan dengan gelagapan.
"Hahaha ... sepertinya Anda masih harus berjuang keras," sindir Eldric. Dylan tersenyum kaku.
"Wah kucing kamu hamil ya selamat ya," ujar seorang wanita pada wanita lainnya.
Dylan mempercepat langkahnya.
"Istri gua hamil Bro!"
"Wah, selamat ya. Semoga istri gua ketularan hamil."
Langkah Dylan semakin cepat, bahkan seperti setengah berlari. Raka sampai terheran dengan tingkah bos mudanya itu.
Brak
Dylan membuka pintu ruangannya dengan keras.
"Kenapa semua orang ngomongin hamil, hamil, hamil, nggak ada kata lain apa!?" wajah pria itu terlihat sangat frustasi.
Raka menautkan alisnya, melihat Dylan. "Saya rasa hanya Tuan El saja yang membahas tentang kehamilan istrinya Tuan."
Dylan mendelik tajam pada Raka, pria itu hanya mengangkat bahunya. Raka memang tidak begitu memperhatikan apa yang dibicarakan para karyawan tadi.
"Ka, ciri-ciri orang hamil tuh gimana sih?" tanya Dylan tiba-tiba.
__ADS_1
"Ciri-cirinya ya, setahu saya mual, pusing, muntah, lemah dan biasanya ibu hamil terlihat pucat," jawab Raka sambil mengetuk-ngetuk dagu dengan ujung telunjukku. Pria itu mengingat bagaimana kakak perempuannya saat hamil muda.
Aku harus mengeceknya sekarang.
"Aku pulang sekarang, ada hal penting yang harus aku lakukan." Dylan melangkah cepat, melesat keluar dari ruangan itu.
Rumah.
Setelah ngebut di jalanan kota, Pria sipit itu akhirnya sampai dirumahnya. Dylan segera mencari keberadaan Juminten, tetapi wanita itu tidak ada di kamar atau di dapur.
"Kemana sih dia?!" Dylan berkacak pinggang, ia merasa kesal karena tak menemukan Juminten.
"Cumi! kamu di mana?!" teriak Dylan. Ya, sedari tadi Dylan hanya mencari tanpa memanggil istrinya itu.
"Apa ... Aku di ruang tengah!" sahut Juminten dengan berteriak juga.
Mendengar suara Juminten, langkah Dylan langsung mengayun ke tempat sang istri berada. Mata sipit Dylan memicing, melihat Juminten yang sedang sibuk menggosok sofa dengan sehelai kain basah.
"Ngapain kamu?"
Juminten menoleh tanpa menjawab, tangannya yang sempat berhenti bergerak lagi, menggosok satu bagian sofa dengan lebih keras. Dylan mendekat, matanya melebar melihat noda merah yang berusaha di bersihkan sang istri. Itu adalah darah keperawanan milik Juminten.
"Ehem ... udah nggak usah si bersihin, kita panggil tukang bersihin sofa aja, nggak akan ilang kalau cuma di lap seperti itu."
Mulut Juminten semakin mengerucut, memanggil orang. Muka Juminten mau taruh dimana, membiarkan orang membersihkan noda darah ini.
"Ehem ..." Dylan berdehem lagi.
"Kamu keselek kodok ya, eham ehem," ketus Juminten tanpa menoleh.
"Aku belum sempat makan kodok Cumi."
"Oh," sahut Juminten malas. Wanita cantik itu merasa marah pada Dylan yang pergi kerja tanpa kata. Apalagi setelah mereka melakukan hal itu.
"Cumi apa kamu -
Juminten berdiri, dengan secepat kilat wanita itu melangkah pergi. Dylan yang awalnya ingin bertanya, memutuskan untuk mengikuti Juminten.
Wanita itu ternyata ke kamar mandi, untuk mengeluarkan isi perutnya.
"Cumi kamu kenapa?" tanya Dylan di ambang pintu.
Juminten tidak menjawab, hanya suaranya saja yang terdengar sedang muntah. Tak lama wanita itu keluar dari kamar mandi, wajahnya pucat dan terlihat lemah. Juminten menyenderkan tubuhnya di pintu kamar mandi.
"Cumi, ka-kamu hamil!"
__ADS_1