
Max yang hendak berangkat langsung di tarik lengannya oleh Arumi.
"Arumi mohon Kak," ujar gadis manis itu sambil menakupkan kedua tangannya.
Mata lentik yang sudah basah dan sembab menatap Max dengan memohon teramat sangat. Max bukan tidak ingin membiarkan gadis itu di sini, tetapi ia juga tidak ingin di tuduh menyembunyikan anak orang. Dia juga bingung harus bagaimana menjelaskan keberadaan gadis itu pada keluarga dan asisten rumah tangganya.
"Kalau begitu kasih tau Kakak, kamu sebenarnya kenapa nggak mau pulang? Kalau ada masalah, coba kamu bicara. Meskipun aku orang asing yang baru kamu kenal kemarin, mungkin saja aku bisa membantu mu." Arumi kembali menunduk, ia memegangi lengan Max dengan kuat.
Max yang mulai jengah dengan diamnya Arumi melepaskan tangan pucat yang memegangi lengannya. Ia pun melangkah sambil berucap. " Bersiaplah aku akan mengantar mu."
"Aku diperkosa ayah tiri ku!" Suara Arumi lantang menggema di sana mengehentikan langkah Max.
Pria tampan bermata sipit itu menoleh, Arumi kini tak lagi menunduk, ia terkejut dengan apa yang baru saja gadis itu ucapkan. Gadis itu menatap Max dengan nyalang, ada kemarahan yang teramat dari sorot matanya. Kedua tangan Arumi masih mencengkeram erat bagian samping bahu yang ia pakai, berusaha menahan gemetar yang menguasai dirinya.
Max kembali mendekat pada Arumi, menatapnya dengan penuh selidik berusaha menemukan kebohongan di sana. Namun, nihil. Mata sembab itu menatapnya dengan tajam.
"Jadi saya mohon Kak, jangan kembalikan aku ke neraka itu," pinta Arumi dengan memohon, sorot matanya tak lagi setajam tadi.
"Tunggu sebentar, jadi kemarin malam kau pergi dari rumah karena mau dilecehkan oleh ayah tiri mu?" Arumi menggeleng.
"Lalu?"
"Pria biadab itu mau menjualku pada orang lain, setelah merenggut kehormatan ku. Dia mau membawa orang lain ke rumah ...hiks ...." Arumi menunduk air matanya jatuh semakin deras.
Rasanya sungguh sesak mengingat kejadian terkelam dalam hidupnya. Jika saja kemari ia tak bisa kabur, sekarang Arumi mungkin tak ingin lagi ada di dunia ini, sekarang saja ia merasa kotor sangat kotor.
__ADS_1
Max tak bisa berkata apa-apa lagi, tangan kekarnya terulur dengan ragu mengusap lembut kepala Arumi. Bukannya tenang, gadis itu malah semakin menangis. Sejak Ayah kandungnya meninggal, tak ada lagi yang mengusap kepala Arumi seperti itu.
"Lho .. Neng Arumi kenapa nangis, hayo Den Max ngapain? Sampai Neng Arumi nangis kayak gitu? Kasian lho Den," cerocos Nurul yang muncul, setelah selesai menyelesaikan cucian kotor di belakang.
Max hanya tersenyum kaku, ia memutuskan untuk tidak menceritakan apa yang baru saja ia ketahui tentang Arumi. Max bukan tidak tahu bagaimana beratnya korban pemerkosaan mengakuinya, rasa malu, marah, khawatir dan takut dipandang rendah oleh orang.
"Nggak apa-apa Bu, Arumi hanya lagi cerita film sedih aja iya kan Rum,"kilah Max, ia tidak ingin gadis itu merasa tidak nyaman dengan keadaannya sekarang.
Arumi hanya mengangguk mengiyakan kebohongan Max, dalam hati ia merasa bersyukur karena Max tidak menceritakan yang sebenarnya. Nurul menatap muda-mudi itu secara bergantian, ia pun kemudian tersenyum simpul.
"Oalah Ibu kirain ada apa kok sampe nangis kayak gitu, berarti Neng Arumi ini hatinya lembut ya. Cerita aja sangat menghayati seperti itu sampe nangis, sampe lupa. Ini Ibu mau kasih tau, seragam Neng Arumi sudah kering, sudah Ibu bantu jahit juga bagian yang robek," cerocos Nurul, sambil memberikan serangan putih abu-abu yang sudah terlipat rapi.
"I-iya terima kasih Bu." Arumi menerima seragam sekolah miliknya dengan tangan gemetar, sekelebat bayangan kemarin malam terasa begitu nyata di pikiran gadis itu.
Arumi menggelengkan kepalanya cepat, mengusir bayangan itu. Nurul menepuk pundak Arumi, mengira gadis itu menggeleng karena sakit di kepalanya.
"En-enggak Bu, saya tidak apa-apa," jawab Arumi cepat, wajah pucatnya Arumi tak bisa menyembunyikan kegugupannya.
"Arum bisa ikut aku sebentar, Bu Nurul juga siap-siap hari ini saya mau ajak Ibu belanja. Soalnya mungkin saya akan tinggal di sini agak lama. Nanti langsung ke garasi ya Bu!"
"Siap Den."
Arumi hanya mengangguk, lalu mengikuti langkah Max. Langkah pria tampan terayun menuju garasi, ia sengaja menghindar dari Nurul karena banyak yang harus dia bicarakan dengan Arumi, gadis yang mengaku sebagai korban rudapaksa oleh Ayah tirinya.
"Tunggu di situ sebentar," ujar Max sambil membuka pintu mobilnya.
__ADS_1
Lagi-lagi Arumi hanya mengangguk, ia berdiri tak jauh dari mobil Max yang sedang dipanasi oleh si empunya. Mesin mobil Max biarkan menyala, ia kemudian kembali mendekat pada Arumi.
"Kita belum berkenalan sebelum, hai aku Max Li, panggil saja Max atau Kakak seperti kau memanggilku tadi," tutur Max sambil mengulurkan tangannya.
Arumi menatap Max sejenak, kemudian melihat tangan Max yang tergantung di udara, menanti sambutannya. Meski ragu, Arumi mengulurkan tangan menyambut tangan Max.
"Hai, saya Arumi Nadya. Kak Max, salam kenal," sahut Arumi dengan senyuman manis.
Max sempat tertegun sejenak, tetapi ia segera sadar saat Arumi melepaskan tangannya.
"Maaf," ucap Max, tak enak hati karena menyentuh tangan Arumi terlalu lama.
Arumi menunduk, ia tak begitu berani menatap mata Max lebih lama. Suasana menjadi canggung, hanya seru mesin mobil terdengar di garasi.
Tak lama kemudian, Nurul sudah menyusul mereka ke garasi. Tak ada perbincangan yang berarti, Max tak banyak bicara ia hanya fokus menyetir dengan sesekali melirik Arumi yang duduk di sampingnya. Gadis itu tampak asik mengobrol dengan Nurul yang duduk di bangku penumpang, tak seperti saat berdua dengan Max tadi. Dia lebih menjaga jarak, dan terlihat takut.
Sesampainya mereka di pusat perbelanjaan, Arumi menolak untuk turun. Bagaimana pun Max dan Nurul membujuknya, gadis itu tetap tak mau, dia terlihat sangat ketakutan. Akhirnya Max mengalah, dia meminta Nurul untuk belanja sendiri sementara dia menemani Arumi di mobil.
"Sebenarnya kamu kenapa sih?" Tanya Max saat mereka hanya berdua di mobil.
Arumi hanya menunduk dengan tangan yang memegang erat bajunya, Max hanya bisa menghela nafas melihat Arumi yang seperti itu. Ia pun memilih diam, Max sendiri juga bingung dengan keadaan ini.
Jika Arumi benar seorang korban pemerkosaan, bukankah sebaiknya dia membantu Arumi melaporkan ayah tirinya itu pada pihak berwajib.
"Apa kau mau melaporkan ayah tirimu kepada pihak yang berwajib?" Tanya Max ragu, dia takut Arumi tersinggung dengan pertanyaannya.
__ADS_1
Seulas senyum pahit tersungging di bibir Arumi yang terluka. " Kakak mau saya bagaimana? Melaporkan dia ke polisi, membuka kasus saja butuh uang Kak. Aku tidak punya itu, atau menjadikan keadaan ku sebagai korban ini viral biar semua orang tahu kalau aku ini barang bekas pakai orang. "