
"Gimana, beres?" tanya Dylan sambil mengusap tengkuk lehernya yang terasa berat.
"Ya bisa dibilang beres, tapi belum sepenuhnya bersih Bos," jawab Raka dengan santai.
Dylan mengerutkan keningnya, menatap sang asisten yang tengah duduk bersantai bersama di ruangannya.
"Maksudnya?"
Raka mengangkat bahunya, meletakkan cangkir kopi yang baru ia tandaskan.
"Mungkin dia masih akan mencari mu, saya rasa dia tidak akan menyerah. Anda menyuruh saya untuk menarik semua fasilitas yang Anda berikan, sedangkan dia hidup hanya dengan itu, dia bergantung sepenuhnya pada Anda Tuan Dylan," jawab Raka dengan nada menyindir.
"Hah, sudahlah aku tidak perduli dengan wanita itu. Ada hal yang lebih penting dari itu," Tukas Dylan.
"Kau tau istriku sangat aneh, aku membeli tas dan beberapa perhiasan untuknya, tapi wanita itu malah marah-marah," keluh Dylan.
Beberapa hari terakhir Dylan kerap memberikan hadiah untuk Juminten, selain setangkai bunga mawar yang menjadi kewajibannya sejak mereka menikah.
Raka mengangkat satu alisnya, kemudian tertawa melihat wajah Dylan yang terlihat frustasi.
"Apa kau mau aku pecat! bukannya kasih solusi malah ketawa."
"Maaf-maaf." Raka mengusap air yang mengenang disudut matanya.
"Anda terlalu lucu. Anda menganggap semua wanita sama matrenya seperti mantan Anda itu, Nyonya Muda berbeda jauh dengan dia. Nyonya wanita sederhana yang tida memandang harta tapi hati dan niat Anda."
Dylan sebenarnya tidak suka mendengar Raka yang memuji istrinya, tapi apa yang di ucapkan laki-laki itu benar. Dia selalu membelikan tas, perhiasan, dan barang branded lainnya jika ingin meluluhkan hati Jessica. Dylan pikir semua wanita akan menyukai hal-hal seperti itu.
"Hati dan niatku jelas, aku mencintainya dan berniat untuk membahagiakan Juminten. Apa ada yang salah?"
Raka memutar matanya jengah, Dylan memang masih awam soal kehidupan manusia sederhana sekelas dia dan Juminten. Raka bisa memakluminya, karena memang Dylan belum pernah hidup susah. Kehidupan selalu terjamin dengan segala sesuatu yang terbaik.
"Mau saran dari saya."
"Apa?"
Raka menggeser tubuhnya mendekat, membisikkan sesuatu yang membuat senyum Dylan mengembang.
"Apa kau yakin, istriku akan menyukainya?"
"100 persen," jawab Raka mantap.
__ADS_1
"Oke, jika ini berhasil. Bonus mu bulan ini akan aku naikan dua kali lipat!"
Raka menyeringai, dia menggosokkan kedua tangannya dengan senang.
Senja mulai menyapa, semburat jingga mewarnai langit Surabaya. Dylan sengaja pulang lebih awal hari ini, pria itu tidak sabar untuk melakukan saran dari Raka. Sambil bersiul bahagia, Dylan melajukan mobilnya.
Sesampainya di rumah, Dylan langsung bergegas turun. Aroma masakan istri tercintanya, tercium saat Dylan memasuki rumah.
"Masak apa? kelihatannya enak banget." Dylan melingkarkan tangannya di pinggang ramping Juminten.
"Astaga Dy, bikin kaget aja kamu! Masuk rumah itu salam dulu kek, bukan nyelonong masuk gitu aja!" sentak Juminten kesal.
"Iya ... iya Maaf. Assalamualaikum istriku," ujarnya dengan ditutup ciuman di pipi Juminten.
"Wa'alaikumsalam, tumben jam segini udah pulang?" tanya Juminten dengan nada yang lebih lembut.
"Pengen ngajak kamu makam malam di luar," jawab Dylan sambil bermanja-manja di bahu sang istri.
"Lha kok dadakan gini sih, aku udah masak lho. Terus ini gimana kalau kita makan di luar," keluh Juminten, dengan kesal ia menyikut perut dylan kesal.
Namun, pria itu tak bergeming dan makin mempererat tangannya.
"Aku baru kepikiran tadi, kita simpan buat besok bisa? atau kita kasih ke pak satpam di depan. Nggak apa-apa kan?"
"Kita kasih ke pak satpam saja daripada mubazir. Aku siapkan air buat kamu mandi." Juminten beranjak dari dapur dengan Dylan yang terus mengandeng tangannya.
"Mandiin," rengek Dylan.
"Mandi sendiri, udah gede juga! Aku juga mau siap-siap."
"Hem," gumam Dylan dengan menunduk.
"Pake baju biasa aja, yang penting kamu nyaman," pesan sebelum masuk ke kamar mandi.
"Celana dan kaos?" tanyanya dengan dahi berkerut.
"Iya istriku, senyaman kamu." Dylan mengedipkan mata manja.
Dylan sudah siap dengan baju serba hitam dan tas selempang kecil, sementara Juminten memakai kaos putih yang dirangkap dengan jaket berwarna pink.
"Kok pake itu sih, bisa ganti pake celana panjang nggak?"
__ADS_1
Dylan terkejut, saat melihat sang istri memakai rok berbahan jeans yang lumayan pendek.
"Kenapa? nggak cantik ya?" tanya Juminten balik dengan wajah yang ditekuk masam.
"Bukan, nggak begitu. Kamu cantik pake apa aja, tapi aku nggak mau kamu masuk angin. Aku mau pinjem motor kamu, buat kita jalan-jalan," jawab Dylan cepat.
"Pake motor? kamu yakin?" Dylan mengangguk mantap.
Juminten pun akhirnya berganti dengan celana jeans, agar lebih mudah saat dibonceng.
Semilir angin malam yang dingin, tak menyurutkan semangat orang-orang untuk menikmati kota Surabaya. Tak terkecuali Juminten dan Dylan, motor yang mereka tumpangi melaju cukup kencang. Membuat hawa dingin semakin terasa, Juminten mengeratkan pelukannya, membuat Dylan tersenyum penuh kemenangan.
Setelah cukup lama berkendara, mereka pun sampai di sebuah pusat jajanan malam. Dylan segera memarkir motornya, mereka berdua berjalan dengan tangan yang saling bertaut.
Juminten tanpa berbinar, melihat banyaknya jenis jajanan yang dijual di sana.
Dylan sedikit menunduk, menyamakan tingginya dengan sang istri. "Kamu pengen makan apa?"
"Aku bingung, banyak banget pilihannya," jawab Juminten dengan senang, ia tak menyangka Dylan akan membawanya ke tempat seperti ini.
"Beli apapun yang kamu mau."
Juminten menoleh, menatap Dylan dengan wajah bahagia.
"Boleh?" Dylan mengangguk dengan senyum.
"Makasih." Juminten mengecup pipi sang suami, sebelum menghampiri lapak yang menjual kentang ulir.
Wanita itu begitu antusias membeli semua makanan yang menurut dia enak, atau aneh. Dylan hanya mengekor di belakang, membayar dan membawa jajanan yang sudah dibeli. Untung saja Raka mengingatkan Dylan untuk membawa uang cash. Jika tidak mungkin dia akan kebingungan untuk membayar, Dylan bukan tipe orang yang suka membawa uang cash.
Setelah puas berbelanja, mereka pun memilih duduk di tikar yang sengaja di sediakan di sana. Kentang ulir, batagor, telur gulung, pentol bakar, es boba, baby crab, roti bakar dan beberapa makanan lagi yang Dylan tidak tahu namanya. Juminten membuka batagor dan mulai memakannya.
"Enak?" tanya Dylan.
Juminten hanya mengangguk karena mulutnya sangat penuh. Dylan tersenyum melihat Juminten yang terlihat begitu senang. Dylan mengambil roti bakar dan mulai memakannya, pria itu melihat sekeliling.
Banyak orang yang datang ke sana, bersama pasangan atau keluarga. Mata Dylan tertuju pada sepasang suami istri muda dengan anaknya yang masih balita, mereka duduk tak jauh dari tempat Dylan.
Balita melihat kearah Dylan, pria sipit itu melambaikan tangan sambil tersenyum. Gadis itu tertawa memperlihatkan giginya.
"Lucu banget ya," celetuk Dylan.
__ADS_1
Juminten melihat kearah Dylan melihat, ia pun tersenyum.
" Nggak usah iri. Tujuh bulan lagi, kamu punya sendiri kok." Dylan sontak menoleh mendengar ucapan Juminten.