
" Beneran kita mau masuk?" Tanya Matthew ragu.
Michi mengangguk pasti, tanpa menoleh pada adiknya. " Gue udah bawa ini, pasti berhasil."
Matthew mengangguk. Keduanya mengambil nafas dalam, sebelum membuka pintu ruangan itu.
Kriet
Matthew mendorong pintu perlahan, ruangan besar itu mulai terbuka. Hening, sangat hening. Bahkan Matthew dan Michi bisa mendengar deru nafas mereka sendiri. Kedua kakak beradik itu menoleh, menatap satu sama lain dan mengangguk.
Tek
Tek
Tek
Mereka melangkah bersisian, perlahan mendekat ke arah sebuah meja yang terbuat dari kayu jati pilihan.
Tek
Tek
Sesosok pria duduk sambil setengah menunduk, membelakangi mereka.
Tek
Tek
Teketek ....keteketek ...!
"Kalian, bisa diem nggak!" Sosok itu menoleh, menatap Michi dan Matthew yang berdiri di belakangnya sambil memainkan lato-lato.
Bukan diam Michi dan Matthew semakin memainkan benda bulat itu, menimbulkan bunyi berisik yang sangat menganggu konsentrasi Max.
"Ok, ok aku kasih waktu sepuluh menit!" Seru Max.
Matthew dan Michi, tos tanpa ekspresi. Keduanya menghentikan benda yang berayun-ayun di tangan mereka. Kemudian duduk di samping Max.
"Gitu dong Kak, masak harus di paksa dulu sih. Kan aku belum manja-manja sama Kakak, udah hampir seminggu lho. Kan Chi-chi kangen," ujar Michi sambil bergelayut manja di lengan Max.
"Ih ... Jijay," sahut Matthew, sambil bergidik geli melihat kelakuan Michi.
Max menghela nafas panjang, ia melepaskan kacamata yang sedari tadi nangkring di hidungnya yang mancung. Max sangat berbeda dengan kedua adiknya, ia lebih menyukai ketenangan dan sering menghabiskan waktu di perpustakaan keluarga yang ada di rumah. Apalagi menghadapi olimpiade seperti saat ini, jangan harap bisa bertemu Max selain di meja makan.
"Udah cepet, waktu kalian tinggal lima menit," ujar Max.
Michi pun mulai menceritakan tentang Erick yang ingin bertemu dengan sang Papi, Max pun mendengar cerita sang adik dengan serius.
"Gitu Kak, menurut Kakak gimana? Kasih tau Mami nggak? Apa langsung bawa dia ke sini?"
__ADS_1
"Kalau dia telepon lagi kamu angkat, berikan pada Mami biar dia ngomong langsung. Tapi sebelum itu kamu cerita dulu ke Mami, hubungi juga Miss Lee itu. Pastikan kalau Tuan Erick nggak ngadi- gadi kalau dia bapaknya Miss Lee. Papi lagi sakit kan, mending jangan di kasih tau dulu, biar Mami yang mutusin gimana enaknya nanti," tutur Max yang di angguki oleh kedua adiknya.
"Gitu ya Kak?"
"Iya Chi-chi, sekarang kalian keluar. Time up, udah aku kasih bonus dua menit juga lho." Max menarik kerah belakang baju yang adik-adiknya pakai, dengan mudahnya ia menyeret Matthew dan Michi sampai ke luar ruangan.
"Tapi Kak, Michi masih kangen," rengek Michi.
Max hanya tersenyum tipis, kemudian menutup pintu dan menguncinya dari dalam.
"Kak aku kenalin cewek cantik, ayo main sama Michi dulu," rengek Michi sambil mengetuk pelan pintu perpustakaan.
"Eh, kenapa Lo nggak pernah nawarin gue kayak gitu?" Tanya Matthew tidak terima.
"Males," jawab Michi sambil melewati Matthew begitu saja.
"Ayolah, Chi. Gue udah bosen jomblo nih, pengen di punya ayang," pinta Matthew, mengekor di belakang kakaknya.
"Wani Piro," ujar Michi sambil menutup pintu kamar.
"Hu ... Pelit Lo, dasar maniak duda!" Teriak Matthew, kemudian berlalu kembali ke kamarnya.
.
.
.
.
.
Ia berjalan menuju meja meja, tempat laki-laki bermata sipit itu melamun.
"Dia tidak mengangkat telepon Daddy, padahal Daddy sudah meneleponnya berkali-kali," keluh Erick.
Gadis itu tersenyum, ia duduk dengan bermanja pada lengan kekar wali tunggalnya itu. Erick menoleh, matanya memicing melihat sang putri yang berdandan dengan cukup seksi.
"Apa kau mau pergi?" Tanya Erick penuh selidik.
"Ya, ulang tahun salah satu teman kuliahku Dad," sahut Lee.
"Bajumu terlalu terbuka, cepat ganti! Atau Daddy tidak akan mengizinkanmu pergi!" Tegas Erick pada putri semata wayangnya itu.
Lee berdecak kesal kemudian berdiri.
"Aku sudah besar Dad, kau tidak boleh terus mengekang ku," ketus Lee kemudian pergi menjauh.
Sebenarnya Lee sendiri juga tidak terlalu nyaman memakai pakaian ketat dan terbuka seperti ini, tetapi ini Lee lakukan semata-mata untuk mencapai tujuannya.
__ADS_1
"Lee buka pintunya!" Teriak Erick di depan pintu sang putri.
"Nggak!"
"Buka sebentar, kita bicara baik-baik. Jangan seperti anak kecil!"
"Daddy tahu aku bukan anak kecil tapi Daddy selalu menganggap aku begitu!" Teriak Lee menyahuti sang ayah.
Erick tercenung, dia tidak bisa membantah ucapan Lee. Apa yang di katakan gadis kecilnya itu benar. Mendengar langkah kaki yang menjauh, Lee mengira kalau Erick sudah pergi dari depan pintu kamarnya.
Kriet
Lee membuka pintu kamar perlahan, tiba-tiba sebuah tangan kekar memegang daun pintu dengan erat. Pria itu mendorong pintu dengan kasar dan memaksa masuk.
"Daddy!" Pekik Lee ketakutan, saat pria itu berhasil masuk ke kamarnya.
Erick menatap tajam pada gadis kecil yang kini sudah tumbuh besar itu, sosok yang dulu sangat imut kini menjelma sebagai seorang wanita cantik dengan tubuh yang sempurna, sangat indah.
Lee merasa takut, gadis itu menundukkan kepalanya tak berani menatap mata.
"Kenapa kau ingin sekali membuatku marah Lee?" Tanya Erick dengan nada tegas.
Lee terjingkat ia masih menunduk sambil memilih renda gaun yang ia pakai, dia tidak ingin membuat Daddy-nya marah. Ia hanya ingin Erick melihat dia sebagai seorang wanita dewasa, bukan selalu menganggap Lee sebagai anak kecil.
"Kenapa diam!" Sentak Erick.
Air mata wanita itu meleleh, baru kali ini Erick berkata kasar seperti itu padanya. Sadar kalau ia sudah membuat gadis kecilnya bersedih, Erick melangkah mendekat hendak memberikan pelukan untuk menenangkannya.
Namun, Lee segera memberingsut mundur. Seolah tahu apa yang akan dilakukan oleh pria itu, Erick mengerutkan keningnya. Dia merasa heran dengan sikap Lee yang tidak seperti biasanya.
"Apa kau sakit? Lee?" Tanya Erick khawatir.
Lee menggeleng, wanita itu masih menangis tanpa suara.
"Lalu kenapa kau menangis?" Erick melangkah maju. Namun, lagi-lagi Lee bergerak menghindar.
"Jangan menghindar Lee, katakan kenapa kau menangis? Maaf jika Daddy bicara terlalu kasar padamu," ucap Erick dengan tulus.
"Semua karena Daddy, ini salah Daddy!" Teriak Lee pada akhirnya, wanita itu menumpahkan semua apa yang selama ini tersimpan dalam relung hati yang paling jauh.
Matanya memerah, menatap nyalang pada Erick. Pria itu tertegun melihat wajah Lee yang begitu marah. Namun, ada kesedihan dan cinta yang teramat dalam dari sorot matanya.
"Kau selalu membawa wanita ke rumah ini, apa kau tau?"
"Di sini."
Lee memukul dadanya dengan keras, sampai menimbulkan bunyi.
"Sakit Dad, sakit banget," lirih Lee.
__ADS_1
"Kau suka kan dengan wanita dengan pakaian seperti ini, karena itu kau memakainya, tapi kau malah memarahiku. Apa salahnya aku berpakaian seperti ini, aku hanya ingin kau melihatku. Hanya aku, aku mencintaimu Daddy," ujarnya lirih di ujung kalimat, dengan sedikit tersendat karena tangisannya yang sudah sesegukan.
Erick masih diam membeku di tempat ia berdiri, laki-laki itu melihat gadis kecilnya menangis, memegangi dadanya yang terasa sesak.