
"Cumi, ka-kamu hamil!"
Pletak
Dylan mendapatkan sebuah sentil keras di keningnya.
"Hamil gundulmu! kau bikin anak gampang. Aku masuk angin, Dodol," ketus Juminten, wanita itu melangkah melewati Dylan yang masih meringis mengusap bekas sentilan Juminten.
Wanita manis dengan tinggi tidak semampai itu melangkah ke dapur, menuangkan air panas setelah mengeprek jahe dan memasukannya ke gelas.
"Kamu yakin di perut kamu itu angin bukan janin?" cerca Dylan, mata sipitnya memindai Juminten dengan penuh selidik.
Juminten memutar matanya jengah, dia tidak habis pikir kalau suami sipitnya punya pemikiran yang aneh.
"Cumi, jawab jangan diem kayak gitu," desak Dylan.
"Ya jelas anginlah, wong habis anu kita tidur nggak pake apa-apa. Mana AC nyala kenceng lagi," jawab Juminten lirih di akhir kalimatnya.
"Kamu bilang apa? ya keras napa kalau ngomong." Dylan mengikuti Juminten yang beranjak ke wastafel untuk mencuci gelas kotor, bekas wedang jahe.
Juminten meletakkan gelas kaca dengan keras hingga membuat Dylan terjingkat, wanita itu menoleh menatap tajam pada sang suami.
"Aku cuma masuk angin, ini semua gara-gara kamu tau nggak!" bentak Juminten.
"Yakin bukan bayi, bibitku premium lho Jum. Apalagi kemarin perdana dia keluar kantong, masak nggak ada yang nyangkut. Kan aku nembaknya lebih dari sekali," kekeh Dylan.
"Astaga, kamu ternyata mesum juga kalau ngomong. Aku udah bilang ini cuma angin, lagian ya baru aja tadi malem kamu nembak bibit. Nggak mungkin langsung hamil, mau seberapa premium pun bibit kamu itu."
"O, gitu ya. Jadi nanamnya harus berkali-kali?"
" Iya kali, dan aku nggak mungkin hamil. Aku udah minum pil KB tadi," Juminten berbohong dia hanya ingin melihat reaksi sang suami.
Mata Dylan melebar, wajahnya yang tadi begitu menggebu kini berubah sendu. Guratan kecewa terlihat jelas di sana.
"Yah, kok kamu minum itu sih. Nggak sayang apa sama calon anak kita, sapa tau dia jadi dokter, insinyur, atau bahkan jadi presiden. Malah kamu basmi sebelum berkembang."
Juminten tertawa dalam hatinya, ia senang dengan respon yang Dylan tunjukkan. Ini berarti rumah tangga mereka masih bisa di selamatkan, ada harapan untuk mereka membangun rumah tangga yang utuh.
__ADS_1
"Kenapa kamu bilang seperti itu? kalau aku beneran hamil gimana coba? apa kamu mau tanggung jawab? sementara tanggal perceraian kita saja sudah terencana." Juminten menarik kursi lalu mengenyakkan bokongnya di sana. Dylan pun sama, laki-laki duduk bersampingan dengan sang istri.
"Ya mau lah, masak aku nggak mau tanggung jawab sama bibit yang aku tanam sendiri. Kalau masalah perceraian, kita bisa omongin lagi kalau anak itu sudah lahir," jawab Dylan tanpa menatap sang istri.
Juminten memalingkan wajahnya, dia kira Dylan akan membatalkan perjanjian mereka, dan tidak jadi bercerai. Tapi ternyata, semua itu masih jauh, bahkan setelah mereka melakukan hubungan intim.
"Cumi, kamu nggak marah sama aku?"
Dylan menoleh, begitu pula Juminten ia memalingkan wajahnya hingga keduanya saling bertatapan.
"Marah, soal apa?"
"Soal kemarin malem, maaf aku benar-benar tidak bisa menahan diri." Mata sipit Dylan fokus menyelami jernihnya mata sang istri, begitu teduh dan hangat.
"Marah sih, tapi aku bisa apa. Kamu suamiku, kamu berhak atas diriku. Pernikahan kita sah di mata hukum dan agama, nggak ada alasan untuk aku menolaknya yang ada aku malah dosa kalau nolak."
"Hem, begitu ya." Dylan tersenyum tipis, Juminten begitu menghargai pernikahan mereka.
"Hu'um," jawab Juminten singkat. Pandangan mereka saling mengunci, keduanya saling menikmati jendela hati yang tanpa Dylan sadari, ada getaran rasa yang mulai tumbuh di sana.
"Cumi."
"Lagi yuk."
"Apa? kau bilang apa?" Juminten menegakkan kepalanya, dengan alis bertaut ia menajamkan pandangannya.
"Eh ... nggak ada, aku cuma bilang apa kamu nggak ngerasain sesuatu yang aneh kemarin malam," jawab Dylan gelagapan. Pria sipit itu terlihat salah tingkah, menggaruk rambutnya yang tidak gatal sama sekali.
"Aneh ya, ya aku ngerasa gerah banget. Padahal suhu AC udah aku turunin, tapi masih aja panas," jawab Juminten kesal.
"Lha kok sama."
Dylan mencubit-cubit dagunya sendiri, ada yang tidak beres. Hasrat Dylan begitu menggebu kemarin malam, sampai ia tidak bisa menahan diri untuk tidak menyentuh Juminten. Padahal dengan Jessica Dylan bisa menahan dirinya untuk tidak terlalu jauh, meskipun mereka sudah saling meraba-raba.
Juminten pun tampak berpikir keras, jujur dia juga menikmati permainan Dylan kemarin. Tapi, Juminten juga sangat agresif, hingga dia malu sendiri telah bertingkah seperti cacing kepanasan di depan sang suami. Apa mungkin ini ulah mertuanya? Mereka tidak sadar kalau dalam susu yang mereka minum tadi malam, ada jampe - jampe dari Mama Mayleen.
"Kamu sadar nggak, kita sudah melanggar aturan di kontak yang dibuat kekasih kamu. Poin lima kita tidak boleh deket-deket, dan sekarang kamu malah udah makan aku," ujar Juminten dengan tertawa.
__ADS_1
Dylan terdiam, apa yang di katakan Juminten benar. Pria sipit itu harus segera mengambil sikap tegas, ya Dylan tidak bisa terus diam. Dia sudah memerawani anak orang, dan dia harus bertanggung jawab.
"Kamu mau makan apa?" Juminten bangkit, wanita itu berjalan ke arah lemari pendingin.
Dylan memperhatikan sang istri yang berjalan melewatinya, dia baru sadar kalau cara jalan Juminten sedikit mengangkang.
"Apa masih sakit?"
"Hem, kamu ngomong apa?" Juminten mengambil beberapa bahan untuk dimasaknya.
"Apa anu mu masih sakit?" ulang Dylan lagi. Ia masih ingat dengan jelas bagaimana Juminten mengigit bibir bawahnya, saat Dylan berhasil menjebol gawang.
"Anu apa sih? kalau tanya yang jelas dong," kali ini suara Juminten naik satu oktaf.
"V***** mu, apa benda itu masih sakit?!" tanya Dylan tak kalah kencang.
Juminten meletakkan ayam di meja dengan keras, telinganya terasa gatal mendengar pertanyaan Dylan.
"Iya V***** ku memang masih sakit, nyeri, nggak nyaman buat jalan. Kenapa mau mijitin?" Juminten berdiri di depan sang suami dengan dadanya yang membusung.
"Ya nggak sih, hehehe."
"He he he he, nyengir aja kamu. Udah cepat mandi sana, aku mau masak. Jangan rempong di sini," ujar Juminten sambil mengibaskan tangannya.
"Kamu lagi sakit, kita pesen online aja buat makan siang." Melihat wajah Juminten yang sedikit pucat, membuat Dylan merasa tidak tega. Apalagi dia bermain dengan cukup kasar kemarin.
"Heleh, masuk angin gini doang, kecil. Udah cepat mandi sana!" Juminten mendorong tubuh Dylan agar segera pergi ke kamar.
"Iya ... iya aku mandi, nggak usah dorong-dorong kayak gini."
Tanpa mereka sadari sepasang mata mengintai mereka.
[ "Nyonya besar, rencananya sukses. Tuan dan Nyonya Muda makin akrab" ]
Nurul yang baru saja datang di antar Parman, tak sengaja menangkap momen mesra majikan mudanya.
[ "Bagus, lanjutkan pemberian obat. Tiga hari sekali, biar aku cepet dapet cucu." ]
__ADS_1
[ "Siap Nyonya." ]