Mbak Jum Wo Ai Ni

Mbak Jum Wo Ai Ni
Bab 32


__ADS_3

Aroma minyak kayu putih menggelitik indra penciuman Arumi, perlahan kelopak matanya terbuka. Bibir mungil gadis itu mendesis sembari memegangi kepala yang terasa berat.


"Kamu sudah sadar, syukurlah," ujar Max dengan bibir bergetar, memegang tangan tangan Arumi.


Max sungguh khawatir dengan keadaan Arumi, hatinya bergetar hebat melihat gadis itu terkulai lemas di atas brankar. Max datang dengan kecepatan super saat pihak rumah sakit memberi kabar tentang Mirna, Max sangat mencemaskan keadaan Arumi, terlebih saat pihak rumah sakit mengatakan kalau Arumi tidak sadarkan diri.


"Aku kenapa, Kak? Ssshh." Arumi hendak bangkit, tetapi Max menahannya.


"Berbaringlah, kau masih butuh istirahat. Apa kau mau minum sesuatu? Apa kau lapar? Apa kepala mu sakit?" Cerca Max dengan raut wajah cemas.


Arumi menggeleng pelan, sedetik kemudian pupil matanya melebar. "Nenek dimana Kak? Aku mau ketemu Nenek?!"


Sekilas bayangan baru saja melintas di ingatannya, dimana dokter mengatakan jika Mirna sudah tak lagi bernyawa.


"Tenang Rum, kamu tenang dulu."


"Nek Mar dimana Kak? Arum mau ketemu sama Nenek!" Arumi mulai meninggikan suaranya, histeris.


Max tak berkata apa-apa lagi, ia langsung mendekap erat Arumi yang sudah duduk. Arumi berteriak keras dalam pelukan Max, air matanya tumpah ruah seiring rasa sakit karena kehilangan.


Bayu berdiri mematung diambang pintu, melihat betapa rapuhnya Arumi saat ini. Mereka sudah kehilangan sang ayah dan ibu mereka juga lebih memilih suami baru dari pada anaknya. Sekarang Tuhan juga memanggil Mirna, kemana lagi mereka akan pergi? Tak ada tempat untuk mereka pulang.


Dengan langkah gontai Bayu berjalan mendekat.


"Mbak," panggilnya lirih.


Arumi yang masih menangis sesenggukan menoleh, menatap Bayu yang berwajah sembab berdiri di samping Max. Pria tampan itu melepaskan pelukannya dan sedikit bergeser, memberikan tempat untuk Bayu agar lebih dekat dengan Arumi.


Dua saudara itu saling memeluk, menguatkan satu sama lain dalam derai air mata tanpa kata. Hati Max ikut sakit melihat Arumi yang begitu rapuh seperti saat ini, ia berjanji dalam hatinya. Dia akan menjaga Arumi, tak akan membiarkan mata bening itu meneteskan air mata lagi.


"Aku hanya punya kamu sekarang Bay," ujar Arumi di sela tangisnya. Bayu mengangguk tanpa kata, tapi pergerakannya itu mewakilkan seluruh hatinya.


Tok

__ADS_1


Tok


"Permisi, jenazah sudah selesai di mandikan dan bisa di bawa pulang sekarang," lapor seorang suster.


"Baik Suster," sahut Max.


Setelah Bayu dan Arumi tenang, mereka pun pulang dengan mengunakan mobil jenazah. Di rumah Mirna sudah ramai tetangga yang datang, Max menyuruh Bayu untuk memberi kabar pada Pak RT tentang meninggalnya Mirna, Bayu juga memberi kabar pada Nurma. Tetapi Bayu tidak tahu jika Ibunya itu sudah berada di tanah air.


"Kalian yang kuat ya," ucap Juminten sambil memeluk Arumi dan Bayu secara bergantian. " Jangan pernah merasa sendiri, anggap kamu adalah keluarga kalian."


Juminten mengusap lembut pipi Bayu yang basah oleh air mata, Arumi mengangguk pelan. Ia merasa begitu beruntung, di tengah ujian kehidupan yang begitu kejamnya datang dan mencabik dirinya. Arumi di pertemukan dengan orang-orang yang begitu baik.


Juminten, Michi bahkan Dylan turut hadir di sana, Arumi merasa mendapatkan keluarga baru. Hari sudah sangat larut saat proses pemakaman, untungnya para tukang gali kubur mau untuk melakukan pekerjaannya. Apalagi hujan deras yang sempat mengguyur membuat tanah menjadi lengket saat di gali, Max pun memberikan upah lebih sebagai tanda terima kasih.


Dylan dan Jun pamit pulang, sedang Max dan Michi memutuskan untuk menginap. Banyak tetangga terutama kaum pria yang begadang di rumah Almarhumah. Mereka tidak tega membiarkan Arumi dan Bayu sendirian.


"Kamu yang sabar ya, kalau butuh apa-apa kamu biasa ke rumah saya. Jangan sungkan," ucap Pak RT.


Hakiki yang menjabat sebagai ketua RT, menepuk bahu Bayu pelan, sebenarnya ada sesuatu yang ini Hakiki tanyakan. Namun ia merasa waktunya tidak tepat.


Bersandar di ranjang yang usang Michi mengusap lembut rambut Arumi. Gadis itu terlelap dipangkuan Michi setelah lelah menangis, jiwa raganya penat dan rapuh. Michi sendiri tak bisa membayangkan bagaimana jika ia kehilangan seseorang yang sangat ia sayangi seperti Arumi, Oma dan Neneknya meninggal saat Michi masih kecil. Jadi ia tidak begitu ingat saat itu.


Ponsel Arumi menyala, sebuah notifikasi dari aplikasi novel muncul di layarnya. Judul novel yang sering ia baca telah update, Michi pun lekas membuka kan membaca bab yang baru itu.


Sebuah cerita yang mengisahkan tentang cinta yang terpendam, terhalang oleh restu orang tua dari protagonis pria, tetapi Protagonis wanita begitu gigih untuk mempertahankan cinta mereka, meskipun berat.


[ 'Selamat malam Tuan putri.']


Michi mengerutkan keningnya, saat membaca pesan.


[ 'Pfft, tau dari mana aku seorang putri. Bagaimana kalau aku punya batang seperti mu.' ]


[ 'Astaga, vulgar sekali kau. Dari mana kau tau aku punya batang, bagaimana kalau aku lempengan bumi.']

__ADS_1


Michi menutup mulut menahan tawa, tak ingin menganggu tidur Arumi.


[ 'Firasat saja.']


[ 'Kalau begitu aku juga sama, firasat ku mengatakan kalau kau seorang gadis cantik, ceria, baik hati dan sedikit mesum.' ]


[ 'sok tau, tidur sana udah malem. Jangan saingan sama codot.' ]


[ 'Aku masih nulis mau bikin novel baru.' ]


[ 'Huh, Maruk amat. Satu aja belum tamat mau bikin lagi, selesaikan dulu yang itu baru bikin lagi.' ]


[ ' Hehehehe ... Iya, sengaja. Biar bisa cepet ngelamar kamu mawar berduri.' ]


[ 'Tai kucing!' ]


[ 'Lha kok tau kucing sih, kamu nggak punya pacar kan? Nggak ada yang marah kan?' ]


[ 'Au ah, ngomong ama tembok sono.' ]


Michi menutup chat mereka, wajahnya memanas saat membaca pesan singkat dari orang yang ia kenal sebagai penulis bernama rajungan biru itu. Mereka cukup lama mengenal di dunia pernovelan sebagai pembaca dan penulis. Tanpa saling bertukar nomer pribadi, mereka hanya berhubungan lewat chat di aplikasi novel berlogo biru itu.


Gadis bermata sipit itu mereka nyaman bercengkrama dengan rajungan biru, mereka saling tak tahu latar belakang masing-masing. Hanya tahu kau wanita dan aku laki-laki. Itupun hanya mengunakan firasat masing-masing.


.


.


.


.


Hari berganti, minggu bergulir, Arumi tinggal bersama Max di rumah besar. Sedangkan Bayu memilih mondok di pesantren milik Dimas. Mereka sudah tak punya lagi tempat tinggal. Rumah Mirna ternyata sudah dijual oleh Nurma, dan mereka tak tahu dimana wanita itu dan suami bobroknya itu bersembunyi.

__ADS_1


__ADS_2