Mbak Jum Wo Ai Ni

Mbak Jum Wo Ai Ni
Kanda


__ADS_3

"Pacaran ya," ulang Dylan dengan tersenyum tipis.


Vespa matic berwarna kuning itu pun mulai menjauh dari tempat ramai. Juminten melingkarkan tangannya di pinggang sang suami. Dylan melajukan motor dengan pelan, menikmati indahnya Surabaya malam ini. Sesekali ia mengecup punggung tangan wanita yang ia cintai.


Keduanya terlihat begitu bahagia. Juminten menyandarkan kepalanya di punggung sang suami, menikmati parfum yang menjadi candunya. Tanpa Dylan tau semenjak hamil dia selalu memeluk baju sang suami yang belum dicuci.


"Kapan Ai tahu kalau hamil?"


Dylan mengusap perut Juminten dengan lembut, terasa lebih menonjol memang. Pria sipit itu memeluk tubuh mungil sang istri dari belakang, dengan tak henti mencium punggung Juminten yang terbuka.


"Saat aku dirawat di puskesmas waktu itu, jawab Juminten dengan setengah mengantuk.


"Jadi Ai bohong, waktu bilang asam lambung kumat sama mentruasi?" Dylan membalikkan tubuh Juminten hingga mereka saling berhadapan.


"Ya nggak juga sih, kalau masalah asam lambung memang iya," jawab Juminten santai sambil memamerkan giginya yang putih.


"Kamu tuh ya .... untung aja aku cinta, coba kalau nggak." Dylan mencubit gemas hidung Juminten yang lumayan mancung.


Juminten mendekat, meringsek dalam pelukan hangat Dylan. "Soal kram perut aku juga nggak bohong, kata dokter sih itu kemungkinan terjadi karena aku stress."


Hati Dylan terasa ngilu mendengar ucapan sang istri. Jelas saja Juminten stres, Dylan sudah berkata begitu kasar padanya.


"Maafin aku ya Ai, aku janji mulai saat ini aku akan menjagamu dan anak-anak kita kelak," ucapan sambil menciumi rambut sang istri.


"Iya." Juminten menempelkan kepala di dada Dylan. Dia bisa dengan jelas mendengar detak jantung suaminya itu.


"Kalau menurut bidan, usianya baru menginjak lima minggu kalau dihitung dari terakhir aku menstruasi, ternyata udah lama ya dia ada akunya aja yang nggak sadar. Kemarin di puskesmas aku juga nggak sempat USG, soalnya dokter yang biasa USG lagi izin."


Dylan mendengarkan cerita Juminten sambil mengusap lembut rambut hitam yang tergerai, sesekali ia menciumnya dengan penuh kasih.


"Nanti kita USG ya, Ai. Sekarang kamu istirahat."


Juminten mengangguk kecil, perlahan matanya terpejam. Menyelami dunia mimpi.


Melewati malam yang indah membuat Dylan bersemangat, ia bangun lebih pagi dari sang istri, menyiapkan sarapan meskipun hanya roti dan selai. Ia juga sudah menelpon Raka, kalau dia akan kekantor agak siang, hari ini dia akan mengantar Juminten melakukan USG pertama kali.


"Selamat pagi istriku," bisik Dylan dengan lembut.


Juminten menggeliat, mata lentiknya mulai mengerjap.

__ADS_1


"Astaghfirullah!"


Juminten melihat penampakan sang suami. Dylan berjongkok di sisi ranjang, wajahnya berhadapan langsung dengan Juminten.


"Kamu ngapain sih?" Nyawa Juminten langsung terkumpul saking terkejutnya.


"Biar kamu seneng." Dylan kembali berpose, bibir seksinya mengerucut dengan beberapa stiker bentuk hati yang menempel di wajahnya.



"Udah ah, geli liat kamu kayak gini." Juminten menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya, terpampang pemandangan yang indah untuk Dylan.


Pria yang memakai kaos putih itu menelan salivanya. Kaki jenjang Juminten satu persatu turun dari ranjang menyentuh lantai, sangat mulus bagai singkong yang baru saja dikupas. Juminten duduk ditepi ranjang, menarik tangannya keatas dengan senyum manis. Semua itu bagai gerakan slow motion yang terlihat sangat menganggu, sampai celana Dylan terasa sesak.


"Ai!" pekik Dylan.


Pria sipit itu langsung menerkam mangsanya, bagai singa kelaparan. Juminten hanya bisa pasrah, pagi hari sarapan pisang ambon saos vanilla milik Dylan.


Karena sibuk bergelut mereka kesiangan sampai di rumah sakit. Setelah daftar ulang, Juminten pun langsung ke unit Obgyn.


Wanita berambut panjang itu terbaring di ranjang. Seorang suster menyikap kaos yang dipakai Juminten dan sedikit menurunkan celana kain hingga di bawah pusar. Ia kemudian mengoleskan gel dan meratakannya, Dylan duduk manis disamping Juminten dengan tangan yang tak lepas bertaut dengan jemari lentik sang istri.


"Iya Dok," jawab Juminten sambil mengangguk.


Doktor itu tersenyum, ia mulai menempel alat diperut Juminten, sedikit menekan dan menggerakkan ke kanan-kiri.


"Sudah kelihatan ya. Wah ini ada tiga, selamat Nyonya Anda langsung dapay tiga sekaligus di kehamilan pertama," jelas sang Dokter, sambil menunjuk ke arah layar yang ada di atas, mengarah kepada pasien. Hingga memudahkan Juminten dan Dylan melihat.


"Tiga Dok!" pekik Juminten dan suami secara bersamaan.


Dokter itu mengangguk dengan mata yang membulat. Juminten ndan Dylan saling menatap, hal yang sungguh sangat mengejutkan bagi keduanya.


"Tapi untuk memastikannya lagi, kita lakukan USG lagi saat usia janinnya sudah 12 minggu. Sekarang, anggap saja kalau ini hanya dugaan saya saja," ujar dokter itu menjelaskan.


Meskipun sudah terlihat kantong janin yang terlihat lebih besar dari ukuran normal, dan ada tiga titik embrio. Tapi Dokter masih harus melakukan pemeriksaan lagi saat usia kandungan lebih tua.


Setelah selesai melakukan USG dan mengambil vitamin. Keduanya pulang dengan raut wajah bahagia.


"Ai mau makan sesuatu nggak?" tanya Dylan sambil melirik sekilas pada sang istri yang duduk disampingnya.

__ADS_1


"Pengen masakan Mama," jawab Juminten sambil mengusap perutnya yang sedikit membesar.


"Ok kita kerumah Mama sekarang, sekalian kasih tau Mama kabar baik ini."


"Tapi Kanda, kata Dokter tadi kan belum pasti. Nunggu umur dua belas minggu baru bisa jelas," ujar Juminten.


Dylan tersenyum lebar mendengar panggilan "Kanda" dari sang istri. Ia memang meminta Juminten untuk memanggilnya dengan panggilan sayang, seperti dia yang memanggil Juminten dengan "Ai".


"Ya nggak apa-apa Ai, kita bilang aja kamu hamil. Jangan bilang dulu kalau kembar banyak."


"Gitu ya Kanda."


"Iya."


Mobil merah itu pun melaju pelan, menyusuri Surabaya yang mulai padat.


Mereka pun akhirnya sampai di rumah besar Li. Dylan segera turun dan membuka pintu untuk Juminten.


"Hati-hati Ai," ucap Dylan sambil memapah Juminten seperti orang sakit.


"Kanda, aku ini hamil bukan sakit. Aku masih bisa jalan dengan baik kok!" protes Juminten.


"Iya Ai, aku tau kamu nggak sakit. Tapi perut kamu ada baby cumi yang harus dijaga dengan baik."


"Mereka aman Kanda, nggak usah khawatir gitu."


Dylan tak menggubris ucapan Juminten, ia tetap mengapit sang istri mengajaknya berjalan dengan sangat hati-hati.


Dylan menghentikan langkahnya, untuk mengambil ponsel yang menjerit minta diangkat.


"Halo, ada apa Ka?"


"Tuan apa bisa ke kantor sekarang? Tuan El ingin bertemu dengan Anda."


"Apa? kenapa mendadak sekali. Baiklah aku akan segera ke kantor." Dylan segera menutup teleponnya.


"Ai-."


"Kanda ke kantor aja, aku nggak apa-apa kok," potong Juminten cepat.

__ADS_1


"Makasih Ai, kamu memang istri terbaik sedunia." Dylan mengecup kening Juminten kemudian turun ke bibirnya yang tipis.


__ADS_2