
"Tujuh bulan, maksudnya?" Pandangan Dylan turun ke perut Juminten yang masih tampak rata, tak ada perubahan sama sekali.
Juminten mengangkat bahunya, dengan santai dia menguyah tanpa berniat menjawab rasa penasaran Dylan.
"Cumi, maksudnya apa? jangan buat suami kece mu ini penasaran," rengekannya sambil menggoyangkan tubuh ke ke kanan-kiri, layaknya anak kecil.
"Gitu aja nggak ngerti, sebentar lagi kamu bakalan jadi bapak!"
"Beneran?"
"Au ah, kamu nanya terus. Ntar ga jadi nih jadi bapaknya," jawab Juminten sambil mencebik kesal.
"Eh jangan-jangan. Aku nggak tanya lagi." Dylan menarik sang istri dalam pelukannya, mengecup pucuk rambut beraroma lemon itu berkali-kali.
"Terima kasih Ai, makasih banyak. Aku seneng banget," ungkap Dylan penuh haru.
"Ai?" Juminten bertanya dengan dahi yang berkerut.
"Artinya cinta," jawab Dylan.
"Sama-sama." Juminten membenamkan wajahnya dalam pelukan hangat sang suami.
Ia yang awalnya ingin merahasiakan kehamilan, akhirnya memutuskan untuk memberi tahu Dylan. Perubahan sikap dan cara laki-laki itu memperlakukannya dengan baik dan sayang, membuat Juminten yakin ia telah berubah.
Juminten berbohong karena dia takut, Dylan bersikap baik hanya karena dia sedang mengandung anaknya. Dan jika mereka bercerai setelah Juminten melahirkan, bagaimana nasib anaknya nanti. Bagaimana jika Dylan tidak memperbolehkan dia bertemu dengan sang buah hati. Tapi sekarang semua ketakutan itu sirna, usaha Dylan yang begitu gigih untuk meluluhkan hatinya, meskipun sang suami tidak mengetahui adanya buah hati mereka membuat Juminten lega.
"Dy, udah ya lepas. Malu tau, banyak yang lihat."Juminten sedikit mendorong tubuh Dylan menjauh.
"Ngapain malu, kitakan suami istri," ucap pria sipit itu setelah melepas pelukannya.
"Nanti aja di rumah, sekarang kita makan dulu." Juminten mencubit gemas, suaminya yang sedang cemberut.
Raut wajah Dylan seketika bercahaya, glowing, seperti lampu LED baru beli. Bagaimana tidak bahagia, sejak kejadian dimana Dylan menurunkan Juminten di jalan. Sejak saat itu pula, mereka tidur terpisah.
Dylan bangkit dari duduknya, dengan wajah sumringah ia menghampiri orang-orang yang sedang duduk tak jauh dari mereka. Juminten memperhatikan sang suami dengan tersenyum lebar. Pria sipit itu terlihat mengeluarkan beberapa lembar merah dari tas selempang yang ia kenakan.
Mereka yang menerima uang dari Dylan terlihat begitu senang, Dylan pun sama. Setelah cukup berkeliaran, ia kembali duduk bersama istrinya.
"Suamiku hebat banget, makin sayang deh aku."
"Hehehehe suaminya siapa dulu. Sesekali kita berbagi kebahagiaan dengan sesama," ucap Dylan sambil mengusap kepala Juminten dengan sayang.
__ADS_1
Juminten tak bisa berkata apa-apa lagi, ia hanya mengangguk sambil tersenyum. Dylan sudah berubah, dia bukan lagi pria arogan yang dulu. Atau mungkin inilah Dylan yang sesungguhnya.
Mereka pun lanjut menikmati makanan yang sudah mereka beli. Di bawah pohon rindang beralaskan tikar, di temani semilir angin malam dan hiruk-pikuknya suasana pasar malam serta hidangan yang sederhana, tak ada yang istimewa. Namun, inilah malam yang tak akan pernah Dylan lupakan.
"Mau lanjut lagi kulinernya, Yang?" tanya Dylan, jajan yang mereka beli sudah ludes termakan.
Mendengar panggilan Sayang, membuat Juminten mengerucutkan bibirnya. Dylan yang menyadari, tersenyum. Ingin rasanya ia menggoda wanita yang telah mengandung buah hati mereka itu, tapi ia tidak ingin membuat Juminten marah.
"Marah ya?"
"Nggak," ketus Juminten.
Dah tau aku marah, pake nanya lagi. Dasar suami nggak peka.
"Hayo nggak baik lho, ngedumel dalam hati."
Juminten memalingkan wajahnya kearah lain. Dylan melingkarkan tangannya di bahu sang istri, meletakkan kepalanya di bahu sang istri.
"Maafin aku ya, aku beneran nggak bermaksud untuk menyamakan kamu sama wanita itu. Aku memang beneran sayang sama kamu, jadi aku manggil kamu sayang," Dylan menjelaskan panjang lebar, agar sang istri tidak salah paham.
"Tapi aku nggak suka," ujar Juminten dengan nada kesal tapi manja.
"Iya, maaf ya. Kalau gitu kita bikin panggilan baru gimana? sebenarnya lagi kita akan jadi orang tua, gimana kalau panggil Mami papi?" Juminten menggeleng.
"Nggak tau, mikirnya nanti aja boleh nggak? aku lapar," lirih Juminten dengan memegangi perutnya.
"Lapar?"
Juminten mengangguk. Dylan melirik bekas wadah makanan yang belum mereka buang, sebagai besar yang makan tadi adalah istrinya. Dan sekarang dia mengeluh lapar. Apa ini efek kehamilannya, jadi porsi makan Juminten pun bertambah?
"Iya, ayo. Kamu mau makan apa?"
"Em ... pengen mie ayam ceker."
"Oke."
Dylan segera bangkit, lalu membantu sang istri untuk berdiri. Keduanya berjalan bersisian, dengan tangan Dylan merangkul pundak istrinya. Dua sejoli itu menyusuri jalan yang penuh dengan manusia, mereka mencari jajanan yang menggoda sama seperti mereka.
"Kamu mau yang mana Sayang?" tanya seorang laki-laki pada pasangannya.
"Terserah Mas aja," jawab wanita itu lirih.
__ADS_1
Juminten mengerutkan keningnya, ia merasa familiar dengan suara sepasang kekasih yang sedang antri di depannya. Ia pun memberanikan diri untuk menepuk bahu si pria, pria itu pun menoleh.
"Heru!"
Pria dengan lesung pipi itu tersenyum, begitu pula dengan gadis yang ada disampingnya, ia terlihat malu pada rekan kerjanya, mantan lebih tepatnya.
"Lina, astaga! kalian pacaran?" tanya Juminten dengan wajah berbinar bahagia.
"Iya Cum," jawab Heru mantap, ia melingkarkan tangannya di pinggang sang kekasih.
"Wah kudu traktiran ini, selamat ya Lina. Semoga kalian bahagia, jangan lupa ngundang kalau mau nikah."
"Gimana Lin, pacaran ama Heru? Kapan kamu ditembak? ih aku kepo deh," goda Juminten.
Lina hanya menunduk menyembunyikan wajahnya yang kemerahan karena malu.
"Udah dong Cum, jangan goda Lina terus. Kamu kan tau lina anaknya gimana?"
"Iya-iya maaf," Juminten terkekeh kecil.
Berbeda dengan Juminten yang terlihat senang bisa bertemu sahabatnya. Dylan terlihat tegang, pria sipit itu dalam mode waspada. Meskipun Heru sudah punya pacar, tetap saja Dylan merasa tidak aman.
"Ya udah Ya Cum, aku sama Lina mau kesana dulu." Heru menunjuk bangku yang dibelakang rombong mie ayam.
"Iya, silahkan."
"Cumi, kita bungkus aja ya mie ayamnya."
Nggak enak Dy, ntar sampai rumah dingin."
Dylan hanya bisa menghela nafas, dan mengiyakan keinginan bumil cantik itu. Juminten tidak sadar jika sang suami sedang cemberut, bertemu dengan rival cintanya. Juminten memang belum tahu jika Heru menyimpan rasa cinta untuknya.
Setelah menghabiskan dua mangkok mie ayam ceker dan seporsi bakso. Akhirnya Juminten merasa kenyang. Heru dan Lina sudah selesai terlebih dahulu, dan melanjutkan jalan-jalan mereka.
Malam semakin larut, Dylan mengajak Juminten untuk pulang. Pria sipit itu menarik resleting jaket sang istri, kemudian memakaikan helm dengan hati-hati.
"Seharusnya kita pake mobilnya, kalau naik motor gini kena angin malam, nggak baik buat bumil," ucapnya sambil memakai helm.
"Nggak apa-apa kok, aku malah seneng tau. Kayak orang pacaran," ujar wanita manis itu sambil terkekeh.
Outfit ke pasar malam
__ADS_1