
Brugh
Brugh
"Egh ...," Wito mengerang kesakitan, dia tendangan mendarat di perutnya.
Wito duduk bersimpuh dengan dua tangan terentang, dipegang oleh dua orang anak buah Pak Karto. Pria yang sudah berusia lebih dari setengah abad itu menatap nyalang pada Wito yang sudah babak belur.
"Kesabaran ku sudah habis! Mau sampai kapan kau membuang waktuku!" Bentak Karto.
Wito berusaha mengangkat wajahnya, melihat kearah Karto dengan matanya yang pedih karena darah yang masuk dari luka di pelipis matanya.
"A-Amp-pun Ju-juragan,be-beri saya waktu," Wito memohon pada Karto dengan terbata karena mulutnya yang terasa sakit.
"Ciuh!"
"Waktu? Mau berapa lama heh?! Ingat Wito, hutangmu sudah menggunung. Aku bisa saja melenyapkan nyawa recehmu." Karto menginjak paha Wito setelah meludahi muka laki-laki yang sudah babak belur itu.
Karto yang sudah tertarik dengan Arumi saat melihat gadis itu begitu geram, ia ingin segera menikmati tubuh Arumi yang molek. Jika ia bisa melenyapkan nyawa Wito yang tak ada apa-apanya bagi Karto.
Wito menelan ludah yang sudah bercampur darah, terasa asin. Tubuh yang sudah sakit, gemetar mendengar ancaman Karto.
"Seminggu! Tidak lebih, jika tidak kau tahu sendiri akibatnya," ancam Karto dengan penuh penekanan.
Karto memberi kode agar anak buahnya melepaskan Wito dan meninggalkan pria yang sudah babak belur, bersimbah darah.
"Agh ... ! Lihat saja apa yang aku lakukan jika aku menemukanmu Arum, cuh." Wito meludah ke samping, cairan saliva itu sudah bercampur darah.
Wito berusaha bangkit, dengan tangan yang bertumpu pada tanah. Ia Berusaha untuk seimbang, sebelum mulai melangkah. Dia tidak ingin mati konyol, secepatnya dia harus menemukan Arumi. Tapi dimana gadis itu bersembunyi, Wito bahkan sudah pergi ke sekolah tetapi ia tidak menemukan jejak gadis itu.
Ponsel Wito menjerit keras, pria yang baru selesai membasuh tubuhnya itu melihat malas pada benda pipih yang tergeletak di meja. Nama Nurma, sang istri terpampang jelas di sana, rasanya enggan untuk mengangkat telepon ATM berjalannya itu.
"Halo Nur, ada apa?" Wito bertanya dengan nada ketus.
".... "
"Aku nggak tau! Aku lagi ngurusin anak kurang ajar itu, sampai sekarang di belum pulang!"
__ADS_1
"......"
"Siapa lagi kalau bukan Arumi! Udah kamu kerja saja yang tenang, biar aku yang ngurus semua di sini!"
Wito langsung melemparkan ponselnya ke ranjang, pria itu menarik rambutnya frustasi. Belum selesai masalah Karto, sekarang Nurma menayangkan perihal Marni yang masuk rumah sakit.
"Sial! Dasar orang-orang kampung, orang sakit aja dibikin status. Nurma jadi ngomel sama aku, jancok tenan,' geram Wito mennyungar rambutnya kasar.
.
.
.
Malam mulai merangkak naik, gulungan awan masih tebal menyelimuti langit. Udara terasa pengap dan panas, tetapi di kamar rawat Marni terasa sejuk karena pendingin udara yang terpasang di sana.
Marni telah menjalani operasi, sekarang dia terbaring istirahat. Arumi seolah tak lelah menjaga sang Nenek, ia menyiapkan semua kebutuhan Marni. Bayu sudah terlelap, mungkin dia lelah setelah hari yang cukup berat.
Sementara bagi Arumi, malam adalah momok yang begitu menakutkan. Setiap malam mimpi yang sama selalu menghantui Arumi, kejadian malam dimana kehormatannya direnggut paksa, bagaimana dia di siksa sebelum terpaksa memuaskan hasrat laki-laki biadab yang ia sebut ayah.
Tangan Arumi mengepal kuat, rahangnya mengeras dengan mata penuh amarah dan benci, menyorot tajam ke luar jendela.
Tepukan lembut di bahunya membuyarkan Arumi dari ingatan kelam malam itu. Arumi menoleh, wajah tampan dengan senyum manis yang meneduhkan melihat kearahnya.
"Belum ngantuk Kak," kilah Arumi.
Mata Arumi mengikuti kemana Max bergerak, pria itu berjalan menjauh meletakkan sesuatu yang ada dalam kresek putih dengan logo sebuah restoran. Ia mengeluarkan dua kotak dari dalamnya, lalu berjalan kembali ke arah Arumi.
"Kamu udah makan belum? Aku bawain kamu kwetiau goreng," ujar Max sambil duduk di samping Arumi, meletakkan sebuah
"Udah kok Kak." Max hanya tersenyum, ia membuka kotak miliknya, seketika aroma gurih manis menguar menggelitik indra penciuman Arumi.
Max melihat Arumi yang terus melihat makanan yang sedang ia aduk dengan sumpit bambu.
"Nih makan." Max meletakkan sekotak lagi Kwetiau yang ia bawa dipangkuan Arumi.
Dengan senyuman kaku Arumi membuka kotak itu, sebenarnya Arumi memang belum makan. Siang tadi Bayu memang membeli dua bungkus nasi Padang, Arumi menyuruh Bayu untuk menghabiskan semua, ia tak tega melihat Bayu yang masih belum kenyang setelah menghabiskan miliknya.
__ADS_1
Arumi tersenyum, dengan ragu ia mengambil sumpit membuka plastik yang membungkus benda panjang dari bambu itu. Arumi kebingungan meletakkan sumpit diantara jari-jarinya, entah kenapa Arumi tidak bisa memakai benda itu, padahal kelihatan sangat mudah.
Max tersenyum kecil melihat Arumi yang kerepotan menggunakan sumpit, wanita itu bahkan tidak bisa memasukkan potongan mie lebar dan lentur itu ke mulutnya. Makanan berbahan dasar tepung beras itu, selalu saja lolos dari jepitan sumpit Arumi.
"Bukan mulutmu," ucap Max, sambil mendekat Kwetiau miliknya ke bibir Arumi.
Arumi menoleh, ia menatap Max dengan mata yang seolah menolak.
"Buka, sekarang!" Perintah Max yang tak mungkin Arumi tolak, gadis itu pun menurut dan membuka lebar-lebar mulutnya.
Max tersenyum penuh kemenangan, ia pun mulai menyuapi Arumi bergantian dengan dirinya sendiri. Canggung, itulah yang di rasakan gadis cantik itu, karena ia belum pernah sedekat ini dengan laki-laki manapun.
"Enak?"
Arumi hanya mengangguk pelan, gadis itu meremas sumpit bambu yang ada dalam genggamannya. Sesekali Arumi membenarkan posisi duduknya, tampak salah tingkah.
Heh, terdengar munafik bukan. Belum pernah merasakan punya pacar tetapi sudah tidak perawan. Sungguh menggelikan, Arumi tersenyum kecut. Menertawakan dirinya sendiri.
"Kamu tau nggak kenapa orang China makan pake sumpit? Tanya Max tiba-tiba.
"Kenapa, Kak?" Tanya Arumi dengan dahi mengernyit heran.
"Karena mereka sipit, ha ..ha ..ha.. nggak lucu ya," lawak Max garing, Arumi tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya.
"Maaf ya, nggak bakat stand up komedi." Max menggaruk kepalanya yang mendadak jadi rumah kutu.
Niatnya untuk mencairkan suasana agar tidak canggung, tapi dasar Max yang dasarnya tidak bisa bercanda malam membuat suasana semakin aneh. Tetapi syukurlah, setidaknya Arumi tersenyum karena dia.
"Rum, apa rencana mu ?"
Max meletakkan sumpit setelah selesai suap-menyuap dengan Arumi. Tangan kekar itu terulur, mengambil dua es teh dalam gelas cup. Arumi menerima teh dari uluran tangan Max, menunduk melihat bayangan dirinya dari pantulan plastik yang menutupi cairan manis berwarna coklat terang itu.
"Yang pasti Arumi mau tetap berkerja di rumah Kakak, jika Nyonya masih mengizinkan. Masalah sekolah, Arumi mau berhenti saja. Arumi nggak bisa bergantung pada ibu," jawab Arumi, tangannya memutar sedotan searah jarum jam.
"Kakak nggak setuju kamu putus sekolah, kamu harus lanjutin sekolah kamu!" Tegas Max mengutarakan pendapatnya.
"Tapi Kak,"-
__ADS_1
"Nggak ada tapi, masalah biaya kamu aku yang akan menanggungnya!" Tegas Max menyorot tajam pada Arumi.
"Aku nggak mau jadi beban orang lagi Kak, Arumi sangat berterima kasih Kak Max dan Nyonya menerima Arum berkerja. Aku harus berjuang untuk Bayu dan Nenek, aku mohon biarkan aku memilih jalanku," ujarnya sambil menatap kedua orang yang paling ia sayang secara bergantian.