Mbak Jum Wo Ai Ni

Mbak Jum Wo Ai Ni
Gagal


__ADS_3

Bagi Jessica Dylan tak lebih dari ATM berjalan, dengan bonus wajah tampan yang bisa ia pamerkan. Jessica dulu bukanlah siapa-siapa saat bertemu Dylan dia hanya model biasa, yang kemudian mulai melambung namanya saat kenal dengan pria sipit itu.


Dengan menjadi polos dan lugu ia membuat Dylan jatuh hati padanya. Hingga pria itu bersedia membantu apapun untuk mewujudkan impian sang kekasih.


Jessica menggandeng tangan Dylan, menuntunnya untuk duduk di sofa yang ada di sana. Setelah keduanya duduk, Jesicca menyandarkan kepala dengan manja di bahu Dylan.


"Apa ini?" tanya Jessica saat melihat sebuah cincin berwarna silver melingkar di jari manis Dylan.


"Ini, ehm ... ehmm...," Dylan gelagapan, dia tidak yakin untuk mengatakan kalau dia sudah menikah secara agama dengan Juminten.


"Kenapa am em, katakan cincin apa ini!? Jangan katakan kalau kau sudah menikah dengan wanita kampung itu!" hardiknya dengan marah.


Jesicca menatap Dylan dengan marah, ia bangkit dan berdiri berkacak pinggang. Dylan mengambil nafas dalam, sepertinya ia memang harus jujur.


"Kemarin Mama minta kami untuk langsung menikah secara agama," jawab Dylan lirih.


"Kenapa kau mau! kau bahkan tidak memberitahuku terlebih dahulu, kau anggap aku ini apa, heh!? Meskipun aku mengizinkan kalian menikah, tapi nggak gini caranya. Atau jangan-jangan kamu suka beneran sama gadis kampung itu!" tatapan mata Jessica, menyorot tajam dengan penuh selidik.


"Kamu tuh ngomong apa sih Sayang? Mana mungkin aku suka sama Dia. Semua ini karena keinginan Mama, kamu juga tahu itu kan." Dylan meraih tangan Jessica, menggenggam jemari lentik itu dengan erat.


"Tapi tetep aja aku nggak suka," rengek Jesicca.


Dylan bangkit dari duduknya, kedua tangan kekar pria itu memeluk erat tubuh Jessica yang sedang merajuk.


"Aku sudah bertanya sebelumnya padamu, apa kau yakin dengan rencana ini. Aku tidak ingin kau terluka." Dylan mengusap lembut rambut coklat Jesicca.


Jessica menyeringai, dia tau Dylan sangat mencintainya.


"Ya, Maaf. Aku hanya sedikit cemburu, tapi kamu beneran kan nggak suka sama Dia?" Jessica sedikit menarik wajahnya menjauh, agar bisa menatap Dylan dengan wajah yang ia buat sendu.


"Nggak lah, aku udah punya kamu." Dylan membingkai wajah Jessica dengan kedua tangan besarnya.


Senyum lebar melengkung di bibir yang berpoles lipstik merah terang itu.


"Sayang aku haus," rengek Jesicca dengan manja.

__ADS_1


"Kau ingin minum apa? aku akan menyuruh orang di pantry untuk membawanya ke sini."


"Emh ... aku nggak mau di sini, aku mau es krim di tempat biasa."


Dylan melirik sekilas jam tangan malah yang melingkar di pergelangan tangannya. Sebenarnya lagi akan ada meeting dengan klien dari Jakarta.


"Nanti aja ya, aku sebentar lagi ada meeting."


Jessica memberengut kesal, dia membalikkan tubuhnya membelakangi Dylan.


"Bilang aja nggak mau, pake alasan meeting segala!" ujar Jessica dengan ketus.


Dylan memeluk Jesicca dari belakang, tetapi Jesicca menepis tangan Dylan dengan kasar.


"Sayang tolong mengerti, dia salah satu klien penting. Aku nggak bisa ninggalin rapat ini," ujar Dylan dengan lembut. Ia mencoba memberikan pengertian pada kekasihnya itu.


"Kamu berubah, kau selalu mengutamakan aku. Tapi sekarang, untuk segelas es krim saja kamu nggak mau nemenin aku," Jessica berucap dengan sendu, mata bening itu berubah memerah dengan air yang sudah mengenang.


Dylan membalikkan tubuh Jessica hingga mereka berhadapan.


"Aku tidak memintamu untuk membatalkan meeting ini, kau bisa bisa menyuruh Raka mewakilimu seperti biasanya."


Dylan menggeleng pelan.


"Kali ini tidak bisa, dia klien yang istimewa. Aku harus menemuinya sendiri."


Jessica merasa sangat kecewa. Dia segera menepis kasar tangan Dylan yang hendak menyentuh pipinya.


"Sudahlah, kau memang sudah nggak Sayang sama aku." Jessica mengusap kasar air mata yang meleleh di pipi.


Wanita itu melangkah lebar hendak meninggalkan Dylan. Namun, langkah Jessica terhenti, karena pria itu mencekal lengannya. Dylan menarik tangan Jessica dengan lembut, agar dia kembali mendekat.


"Sayang, jangan seperti ini. Kita akan pergi setelah aku selesai meeting, Ok. Kita akan pergi kemanapun kau mau," Dylan terus berusaha membujuk Jessica, dia paling tidak bisa melihat kekasihnya menangis seperti ini.


"Kamu nggak perlu repot-repot, lagi pula aku juga bukan siapa-siapa kamu. Aku nggak lebih dari seorang penganggu. Lagi pula kau pria beristri sekarang." Jessica menghentakkan tangannya, berusaha melepaskan tangan Dylan.

__ADS_1


"Kenapa kau berkata seperti itu, hem?" Jesicca membuang mukanya, enggak untuk menatap mata sipit yang menatapnya dengan penuh kasih.


Dylan menghela nafas panjang.


"Ok, kita pergi sekarang. Aku akan menyuruh Raka mewakili ku." Jesicca menoleh, menatap Dylan dengan mata melebar.


"Benarkah?"


"Tentu, kau tau aku paling nggak bisa lihat kamu seperti ini." Jessica tersenyum kecil, ia segera bergelayut manja dilengan Dylan.


Kedua sejoli itupun, melangkah keluar. Dylan segera menghubungi Raka untuk mewakilinya untuk meeting bersama klien mereka. Meskipun berat Raka mengiyakan perintah sang Tuan, Raka tidak habis pikir kenapa Dylan bisa begitu saja menuruti keinginan Jessica.


Padahal klien ini sangat sulit untuk dihadapi, dia sangat perfeksionis dalam segala hal.


Jessica mengirimkan pesan pada seseorang, sebuah senyum mengembang di bibirnya yang merah merekah.


Mobil yang membawa dua sejoli itu menjauh dari kantor Dylan. Yang di inginkan oleh Jesicca bukanlah es krim sembarangan, melainkan es krim vanilla premium yang dilapisi lembaran emas Dan itu hanya bisa diperoleh di tempat khusus.


Seorang pria berambut cokelat, menatap tajam pada Raka.


"Di mana Tuanmu?"


"Maaf Tuan Eldric, Tuan Dylan ada keperluan mendesak," kilah Raka.


Eldric tersenyum miring, pria bermata belo bangkit dari duduknya, tanpa banyak berkata pria itu melangkah pergi. Raka terkejut melihat itu. Ia pun bangkit hendak mengejar Eldric, kerja sama ini tidak boleh sampai gagal.


"Jo."


"Baik Tuan." Jo segera maju selangkah, menghadang Raka yang akan mengejar Eldric.


"Tolong, aku ingin bicara dengan Tuan Eldric," ujar Raka memohon.


Sudut bibir Jo terangkat, ia kemudian mengisyaratkan agar Raka kembali duduk. Meski ragu, Raka akhirnya menuruti keinginan Jo. Jo pun duduk di tempat yang Tuannya.


"Tuan masih meninggalkan aku di sini untuk bicara dengan mu, itu berarti masih ada satu kesempatan untuk Tuanmu. Jangan sia-siakan itu." Jo merapikan jasnya kemudian bangkit dan pergi.

__ADS_1


Raka hanya bisa menghela nafas dalam, tangannya mengepal kuat hingga buku-bukunya memutih, kesepakatan hari gagal karena wanita ular itu. Meskipun ia hanya pegawai, akan tetapi ia sangat memikirkan masa depan perusahaan. Untungnya, Eldric masih memberikan kesempatan bagi mereka. Dan mereka tidak boleh sampai gagal lagi.


__ADS_2