
Mayleen tersenyum lebar sambil menatap layar ponselnya. Ia sangat bersemangat menjalankan misi gendong cucu ini, obat perangsang yang dicampur kedalam minuman mereka ditambah parfum pembangkit gairah laki-laki, pasti kedua anak muda itu tidak akan tahan untuk tidak melakukan anu.
"Nyonya kenapa? kelihatan lagi seneng banget?" tanya Wati, asisten rumah tangga sekaligus istri Parman.
"Ya pasti seneng dong, sebentar lagi aku dan Mirna bakalan gendong cucu. Iya kan Mir." ujarnya sambil melirik ke arah besan yang duduk tak jauh darinya.
Sebulan kemudian.
Dylan tak pernah absen minta jatah pada istrinya dan Juminten pun tak pernah menolak, karena itu memang sudah menjadi hak sang suami. Hanya saja saat mereka diberi jampe-jampe, keduanya akan lebih aktif saat bermain.
Malam menyapa, wanita dengan tahi lalat itu mulai merebahkan diri di sofa. Malam ini dia ingin sendiri, badannya remuk redam setelah permainan Dylan kemarin malam.
"Kenapa kamu tidur disitu, Cumi?" tanya Dylan yang baru saja keluar dari kamar mandi, pria itu berkacak pinggang disamping Juminten.
"Pengen aja." Juminten memutar tubuh memunggungi sang suami.
"Nggak boleh, kamu harus tidur di sana, sama aku!" tegas pria sipit itu sambil menunjuk ranjang besar mereka.
Sejak mereka menghabiskan malam bersama di ruang tengah, Dylan meminta Juminten untuk tidur seranjang dengan dia. Yang berakhir dengan penyatuan peluh keduanya.
"Ogah ah, aku di sini aja. Pengen istirahat. Capek," keluhnya sembari mempererat selimut.
Dylan mengerutkan dahinya, istirahat. Apa tidur bersamanya tidak termasuk istirahat?
"Kalau capek kan lebih enak tidur di ranjang empuk kita, tidur di sofa kayak gitu ntar tambah capek. Tuh kan, ini keras lho." Dylan menekan sofa disamping Juminten, pria itu berbicara dengan lembut tidak seperti biasanya.
Juminten menahan tawa mendengar ucapan Dylan.
"Nggak ah, lebih nyaman di sini. Bebas," sahut Juminten tanpa berpaling. Dylan memberengut kesal.
Tanpa banyak bicara lagi, pria yang memakai kaos warna putih dan celana pendek itu langsung mengangkat tubuh sang istri.
"Hey ngapain kamu! turunin nggak!" pekik Juminten.
Dylan tak menjawab, ia terus berjalan kemudian menghempaskan tubuh mungil Juminten diatas ranjang.
"Kasar banget sih!" bentak Juminten.
"Diem, tidur!" bentak Dylan tak kalah keras.
__ADS_1
Mulut Juminten manyun lima centi, ia memutar tubuhnya menghadap jendela. Dylan yang melihat itu hanya bisa mendesah panjang, ya dia memang terlalu kasar. Tangan besarnya melingkar di pinggang ramping yang terbalut gaun tidur berwarna hitam, menarik wanita itu agar lebih dekat padanya.
Juminten tidak memberontak karena itu adalah hal yang percuma. Kekuatannya tak sebanding dengan sang suami, meskipun kesal, ia biarkan Dylan mendekap erat tubuhnya.
"Inget poin lima," sindir Juminten.
"Hem," sahut Dylan singkat seolah tak perduli. Entahlah, dia hanya merasa nyaman seperti ini.
"Dy, apa yang kau inginkan dari pernikahan ini?" tanya Juminten dengan nada serius.
"Maksudmu?"
Juminten meraup banyak oksigen sebelum mulai bicara. " Kita sama-sama tau kau punya seseorang yang kamu cintai, kamu bahkan rela membohongi Mama demi dia."
Juminten tersenyum kecut, kala mengingat bagaimana Dylan dan Jessica memintanya untuk menandatangani kontrak perjanjian waktu itu.
"Mungkin bagi kamu pernikahan ini hanya sebuah permainan yang akan berakhir dalam satu tahun. Tapi, tidak bagiku Dy. Pernikahan adalah hal yang suci. Sebuah janji yang kita buat dihadapan Allah dan di saksikan seluruh malaikat, dan aku sangat menghargai ikatan ini, itu sebabnya aku tidak menolak untuk melayani kamu karena pernikahan ini nyata adanya. Terlepas dari semua perjanjian itu, aku tetap istrimu dan kamu adalah suamiku," Tutur Juminten panjang lebar, malam ini dia merasa sedikit melow.
Dylan mendengarkan ucapan Juminten dengan seksama, tak ada niat untuk menyela. Karena apa yang diucapkan oleh istrinya itu benar. Dylan hanya mengeratkan pelukannya sebagai respon.
"Jika kamu hanya menganggap pernikahan ini hanya sebuah kontrak, sebaiknya kita hentikan ini. Jangan sampai kita terlalu jauh melakukannya, aku takut ada hati yang terluka," imbuh Juminten lagi dengan nada yang sedikit bergetar. Juminten tidak ingin jatuh terlalu dalam pada Dylan.
"Beri aku waktu untuk menjawab semua ini," bisiknya lembut.
Malam semakin merangkak naik, kedua insan itu tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Dylan semakin mengeratkan pelukannya, hingga membuat Juminten merasa sesak. Tetapi wanita itu tak bersuara, dia menikmati pelukan hangat itu, walaupun dia sadar semua ini hanya semu. Dylan bukan miliknya, raga ini memang sedang mendekap hangat, tapi Juminten tidak tahu hatinya.
Dylan lebih banyak melamun akhir-akhir ini, hal ini membuat Raka harus berkerja ekstra.
"Tuan, ini hasil rapat bulan ini." Raka meletakkan dokumen laporannya di atas meja.
"Hem," jawab Dylan singkat dengan tatapan kosong tak menentu.
Raka mengambil nafas dalam, keadaan ini tidak bisa di biarkan terus menerus.
"Apa ada sesuatu yang menganggu pikiran Anda Tuan?" tanya Raka hati-hati, bagaimana pun dia hanya seorang bawahan. Ia tidak mau di anggap lancang.
Dylan mendesah panjang, pria sipit itu menghempaskan punggungnya di sandaran kursi. Sedikit mendongak, menatap langit yang berukir naga berwarna putih.
"Aku dilema," ucapnya.
__ADS_1
Alis Raka menyatu, ia pun menarik kursi lalu mendudukinya.
"Dilema? maksud Anda?" tanya Raka dengan jiwa kepo yang membuncah.
Dylan pun menceritakan tentang kisahnya dari A sampai Z tentu saja dia tidak menceritakan perihal perjanjian antara, Juminten, Jessica dan dia. Jaga-jaga saja, bila Raka sampai tidak setia, dan melaporkannya pada Mayleen.
"Saya ada ide, ini mungkin bisa untuk menghilangkan rasa Dilema Anda. Dan saya yakin, Anda akan menemukan kebenaran dengan rencana ini," ujar Raka penuh percaya diri.
"Ide apa?" kali ini Dylan menatap pria itu dengan penuh harap.
Raka menyeringai, ia bangkit melangkah menghampiri Dylan.
"Eh ... mau apa kamu?! aku masih normal!" Dylan menatap nyalang pada Raka yang mendekatkan wajah padanya.
"Apa maksud Anda? saya hanya ingin membisikkan sesuatu."
"O, kirain."
Dylan mendekatkan telinganya, Raka pun mulai membisikkan sesuatu yang membuat Dylan manggut-manggut mendengarnya.
"Kau yakin ini akan berhasil?"
"100 persen Tuan, saya bisa menjaminnya," jawab Raka dengan penuh percaya diri.
"Baiklah, atur saja seperti yang kau katakan tadi."
"Baik, saya akan segera melaksanakannya." Raka tersenyum kecil, ia membungkuk kemudian melangkah keluar dari ruangan itu.
"Ka."
"Iya Tuan." Raka menghentikan langkahnya, kemudian menoleh.
"Apa kamu sadar, diruang ini hanya ada kita? untuk apa kau berbisik tadi?"
"Hehehe ... biar dapet feel-nya Tuan."
Dylan mengangkat alisnya, melihat Raka yang cengar-cengir. " Ya sudah, lanjutkan perkejaanmu sana!"
"Siap Tuan!"
__ADS_1
Raka tersenyum lebar. Ia merasa sangat senang Dylan menyetujui rencananya. Raka ingin menunjukkan sifat asli Jessica pada Dylan.