
Sudah tiga hari Jessy tidak mengangkat telepon dari Dylan. Ia bahkan menghindari saat Dylan datang ke tempat kerjanya.
"Sudahlah Bro, kau sebaiknya biarkan Jessica sendiri dulu. Tidak mudah bagi wanita seperti Jessy untuk semua ini, di tolak mentah-mentah oleh calon mertua dan bahkan kau tidak langsung mengejarnya saat Jessy meninggalkan restoran. Ck ...ck... sadis." Arnold menggeleng dengan.
Dylan mengusap wajahnya kasar, dia mendesis kesal. Laki-laki merasa frustasi karena Jessy terus mengabaikannya.
"Tapi aku harus mengatakan sesuatu padanya, please. Kau bisakan, membantu membujuknya," ujar Dylan mengiba.
Arnold mengusap dagu dengan telunjuknya. "Apa yang aku dapat sebagai imbalannya?"
"Apapun, asalkan kau bisa membujuk Jessy."
"Ok, besok datang saja ke danau biru. Jessica ada pemotretan di sana," ucap Arnold, laki-laki berambut cokelat itu mengangkat cangkir kopi kemudian menyesapnya perlahan.
"Apa tidak bisa hari ini, aku tidak punya banyak waktu."
"Mau atau nggak terserah kamu, yang penting aku sudah kasih jalan. Kau juga tau bagaimana susahnya membujuk Jessy kalau lagi ngambek," sahut Arnold santai. Tubuh Dylan melemas mendengar ucapan Arnold.
Jessy memang bukan jenis wanita yang mudah bujuk, Arnold sebagai managernya lebih tahu dari siapapun. Dylan juga tahu hal itu dengan baik, Arnold menatap lucu pada Dylan. Laki-laki itu sungguh tersihir oleh pesona Jessica, dia bisa memberikan apapun untuk kekasihnya itu.
"Dah lah, nggak usah lemes gitu. Datang saja besok, jangan sampai terlambat. Jangan lupa membawa sesuatu agar Jessy terkesan, aku ingat beberapa hari yang lalu dia sempat memperhatikan sebuah kalung berwarna merah Tiffany."
Dylan ngambil nafas dalam, rencananya untuk bertemu dengan sang pujaan hati harus tertunda. Padahal ia ingin menjelaskan semua yang terjadi agar Jessy tidak salah paham, Dylan melakukan ini semata-mata demi mamanya tidak lebih. Ia akan menyingkirkan Juminten disaat yang tepat.
"Ok, kalau begitu aku pergi dulu. Jangan lupa pesanku, dan tentu saja janjimu," ucap Arnold, pria itu bangkit lalu menepuk pundak Dylan sebelum pergi meninggalkannya.
"Jangan khawatir, aku tidak mungkin lupa," jawab Dylan lesu.
Arnold melangkah keluar dengan senyum yang tak putus ia sunggingkan di bibir. Dylan terus menetap Arnold yang menyebrang jalan dan kemudian masuk ke sebuah gedung yang berseberangan dengan kafe tempat Dylan duduk.
Seorang fotografer profesional sibuk mengatur sorot kameranya, memilih sudut terbaik untuk mengambil foto dari model yang sedang berpose dihadapannya.
__ADS_1
"Ya Bagus, ok sekali lagi!" seru sang fotografer.
Sang model pun menganti posenya beberapa kali. Sang fotografer tampak puas melihat hasil jepretannya di kamera.
"Ok, selasai."
"Terima kasih," ucap Jessica. Ia mengibaskan tangannya di dekat leher, sambil berjalan ke arah ruang ruang istirahat yang disediakan untuknya.
Wanita cantik itu menghempaskan tubuh di sebelah, Arnold. Sang manager, Arnold memberikan air lemon es tanpa gula pada Jessica.
"Bagaimana lancar?" tanya Jessica setelah puas menikmati minumannya.
"Hmm ... seperti biasa. Apa kali ini kau tidak terlalu keterlaluan, dia terlihat sangat stress. Aku merasa kasihan pada pria malang itu," Arnold menyalakan vape miliknya, menyesap dengan dalam kemudian mengepulkan asap putih dari mulutnya.
"Kasihan, biar saja. Apa kau pikir aku tidak malu diperlakukan seperti itu? Bayangkan saja, Mamanya lebih memilih gadis kampung daripada aku. Menjengkelkan," keluh Jesicca.
"Itu keinginan Mamanya, bukan Dylan kan? jangan terlalu keras padanya Jessy, you still need Him," tegur Arnold.
Arnold menghela nafasnya, jatuh cinta memang membingungkan. Makanya sampai saat ini Arnold belum ingin menjalani hubungan dengan siapapun, meskipun perkerjaannya selalu berhubungan dengan cewek-cewek cantik. Namun, belum terbersit dalam hatinya untuk jatuh cinta.
"Semua terserah padamu Jess, aku hanya memperingatkan saja. Aku sudah berjanji pada Dylan, kalau kau mau menemuinya besok. Jangan buat aku kecewa ok, kau bisa pulang. kau kosong malam ini." Arnold bangkit dari duduknya meninggalkan Jessica yang masih terlihat enggan untuk beranjak dari sofa.
Sementara itu di rumah sakit.
Mayleen mengunjungi calon besannya, dengan penuh semangat ia bercerita kalau
Dylan. Anaknya mau menikah dengan Juminten, dan lamaran mereka akan dilakukan beberapa hari lagi.
"Mir, akhirnya semua bisa terwujud. Aku senang sekali rasanya,aku harap kamu juga sama senangnya seperti aku." Mayleen menggenggam tangan Mirna dengan senyum, Mirna membalas ucapan Mayleen dengan anggukan kecil.
"Aku sudah sangat tidak sabar menunggu hari pernikahan mereka Mirna, aku sudah menyuruh Parman untuk menyiapkan semuanya. Kamu nggak usah mengkhawatirkan apapun, aku yang akan mengatur semuanya. Kamu cukup fokus sama kesehatan kamu, biar cepat sembuh, dan bisa menceritakan apa yang ingin aku dengar darimu," ucap Mayleen, sorot matanya berubah sangat serius. Lagi-lagi Mirna hanya bisa mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
Sebenarnya, banyak hal yang ingin Mirna ceritakan pada Mayleen. Namun, karena keterbatasannya Mirna tidak bisa melakukan itu, Mirna berjanji akan mengungkapkan segalanya pada Mayleen saat dia sudah bisa bicara.
Beberapa hari ini Mirna terus mengikuti terapi rutin, dari Dokter terbaik yang di pilih Mayleen. Ia sudah merasakan beberapa perubahan dalam dirinya, Mirna merasa optimis dia bisa sembuh.
Tentu saja semua itu memerlukan biaya yang tidak sedikit, apalagi Mayleen sudah memperkerjakan Ana untuk menjaga Kakak sepupunya itu. Mayleen sadar, meskipun Ana ikhlas menjaga Mirna tetapi kondisi ekonomi keluarganya juga tidak lebih baik dari Mirna. Ana berkerja sebagai buruh cuci dan setrika di rumah tetangga yang membutuhkan.
Maka dari itu Mayleen pun memutuskan agar Ana menjaga dan merawat Mirna, serta memberinya upah yang lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya.
"Maaf membuat Nyonya lama menunggu," ucap Ana yang baru saja selesai dari kamar mandi.
"Nggak apa-apa, kamu jangan panggil Nyonya dong. Panggil Mayleen saja, sebentar lagi kita jadi besan," celetuk Mayleen.
"Saya sungkan, Nyonya. Yang jadi besan Nyonya itu Mirna bukan saya, lagi pula saya berkerja untuk Nyonya," ujar Ana dengan sangat sopan.
"Keluarga Mirna keluarga ku juga, tidak usah terlalu sungkan begitu." Ana menanggapi dengan senyum kikuk.
Suara pintu yang didorong dari luar, membuat Ana dan Mayleen menoleh, seorang pria paruh baya masuk dan menghampiri mereka.
"Nyonya semua sudah siap kecuali untuk baju yang akan di kenakan Nona Juminten," Parman berucap lirih sambil mengusap tengkuknya.
"Kenapa?"
"Nyonya Vanya bilang, Nona Juminten harus fitting, agar lebih pas katanya."
Mayleen menghela nafas panjang, ia bermaksud memberikan kejutan pada Juminten dengan kebaya yang ia pesan dari desainer langganannya. Tapi kalau seperti ini, sepertinya Mayleen harus turun tangan sendiri.
"Antar aku pada Vanya, semuanya harus selesai besok, kita tidak punya banyak waktu."
"Mirna aku pergi dulu ya, Ana jaga dia dengan baik," imbuhnya sebelum bangkit dari kursi.
"Baik," jawab Ana sopan.
__ADS_1
Mayleen pun melangkah menjauh diikuti oleh Parman.