Mbak Jum Wo Ai Ni

Mbak Jum Wo Ai Ni
Bukan


__ADS_3

"Jadi kenapa kau dirawat? tanya Dylan sambil berusaha membantu Juminten melipat baju, yang ia buat berantakan karena mencari kolor.


"Asam lambungku naik, ditambah kram perut karena mau menstruasi," jawabnya masih dengan nada ketus.


"Asam lambung, menstruasi? Jadi bukan karena hamil ya?" Dylan mendadak lesu mendengar jawaban Juminten.


"Aku kan udah bilang, aku KB jadi nggak mungkin hamil. Sebentar lagi juga bakalan cerai, ngapain pake hamil segala. Bikin ribet tau nggak!" Juminten mengibaskan selimut, sebelum melipatnya dengan rapi.


Dylan menghela nafasnya, ia letakkan baju yang semula akan ia lipat. Pria sipit itu berjalan mendekati Juminten, menarik tangan pucat itu dengan lembut. Kemudian mendudukkannya di sofa, Dylan bersimpuh memegangi tangan Juminten.


Wanita berambut hitam itu, menautkan alisnya melihat Dylan dengan heran. Pria itu berlaku sangat aneh, sejak menjemputnya tadi.


"Aku sudah memikirkan ini semalam, sebenarnya aku sudah lama aku pengen ngomong ini sama kamu. Tapi karena bodoh aku jadi lupa."


"Syukur kamu sudah sadar kalau bodoh," ujar Juminten sambil menaikkan satu alisnya.


"Iya, aku memang bodoh mengabaikan wanita sebaik kamu."


Dylan mengeratkan genggaman tangannya, menatap netra sebening embun pagi dengan serius.


"Kita nggak usah cerai ya. Kita mulai semuanya dari awal, aku minta maaf jika selama ini sering menyakiti kamu, sering cuekin kamu. Aku janji aku akan berusaha untuk menjadi suami yang baik buat kamu, kamu mau kan, Cumi?"


"Hahaha ....! kamu kamu kesambet setan mana Dy? kenapa jadi ngaco begini?"


"Sadar Dy, sadar." Juminten menepuk-nepuk pipi suaminya, Dylan meringis karena tangan Juminten menyentuh bagian yang lebam.


"Aku serius!" tegas Dylan.


"Serius ya, bukan Srimulat?" Juminten menarik tangannya, ia bangkit dan melangkah meninggalkan Dylan.


Pria sipit itu pun bangkit, ia tahu tidak mudah bagi Juminten untuk percaya padanya. Setelah semua yang dia lakukan.


"Kamu jangan khawatir, aku nggak akan ngadu ke Mama soal pertengkaran kita kemarin, aku juga nggak mau bikin Mama sama Ibu sedih gara-gara aku."


Dylan mengerutkan keningnya, jadi Juminten mengira kalau dia sedang merayu agar Juminten tidak melaporkan kejadian kemarin pada Mayleen.

__ADS_1


"Bukan seperti itu, aku tidak perduli jika kamu memberi tahu Mama soal kemarin. Aku benar-benar serius tentang pernikahan kita," ujar Dylan dengan lantang.


Juminten melihat kearah Dylan sejenak, tersenyum tipis dengan kepala yang ia gelengkan.


"Sudah cukup bohongnya Dy, ntar dosamu tambah banyak lho," sahut Juminten dengan mimik wajah lucu, ia tak sedikitpun menganggap serius omongan Dylan.


"Astaga Cumi! aku musti gimana lagi biar kamu percaya?" Dylan mengusap wajahnya dengan frustasi


"Ya nggak gimana-gimana," jawab Juminten acuh.


Dylan menghela nafasnya, sepertinya tidak akan mudah membuat sang istri percaya padanya.


Matahari mulai merangkak naik, menggantikan bulan yang telah tenggelam di sisi lain bumi. Mata lentik Juminten mengerjap menyesuaikan cahaya yang menerobos masuk melalui celah gorden yang baru saja Dylan buka.


"Selamat pagi istriku!" Dylan berdiri di samping ranjang dengan senyum lebar.


"Pagi," jawab Juminten dengan suara serak khas orang bangun tidur.


Juminten menggeliatkan tubuhnya, perlahan dia mulai mendudukkan dirinya. Melihat itu dengan sigap Dylan membantu.


"Apaan sih kamu Dy? aku bisa sendiri. Lagian ngapain kamu masuk kamar aku?" Juminten memilih untuk tidur dikamar yang sebelumnya ia tempati.


"Cantik konon, bau bantal iyalah. Pagi-pagi nggak usah ngegombal, ga ilok ( pamali)."


"Mana ada aku gombal, kamu aja yang nggak percaya sama aku," ucap Dylan sambil menunduk, dengan wajah yang ia buat sendu.


"Preketek, udah keluar sana aku mau mandi!" Juminten turun dari ranjang, ia menarik lengan Dylan dengan kuat.


"Mandi aja Yang, Kenapa aku harus keluar? aku suamimu lho!" kekeh Dylan.


Juminten melepaskan tangannya dari lengan Dylan, dengan wajah marah wanita itu berkacak pinggang sambil memelototi Dylan.


"Yang, Yang, palamu peyang. Cepat keluar!"


Tak ingin membuat Juminten marah, Dylan pun beranjak pergi.

__ADS_1


"Dasar Dodol cina, pagi-pagi udah bikin orang Ge-er. Tapi jangan terlena Juminten, dia kekasih orang, dia cuma baik-baikin kamu karena ada maunya," gumam Juminten pada dirinya sendiri.


Juminten sengaja menjaga jarak dari Dylan. Ucapan Dylan tempo hari menyadarkan dia akan posisi sebenarnya. Juminten hanya istri kontrak, tidak kurang tidak lebih. Mungkin sudah saatnya ia menyerah, untuk membuat Dylan jatuh cinta. Ada nama lain di hati pria sipit itu, dan mungkin selamanya Juminten tak akan mampu untuk menghapusnya.


Setelah merasa segar setelah membersihkan tubuhnya, Juminten bergegas turun. Ada setumpuk pekerjaan rumah tangga yang menunggu, sambil bersenandung kecil Juminten melangkah menapaki tangga.


Ya seberapa patah hati Juminten kemarin, dia masih tetap seorang ibu rumah tangga. Ia masih harus melakukan pekerjaan rumah, baju kotor tidak akan bersih dengan sendirinya, begitu pula piring, lantai semua harus ia kerjakan.


Sejak memutuskan untuk tidak menggunakan jasa asisten rumah tangga, Juminten harus melakukan semua itu sendiri. Dia tidak menyesal, toh ia biasa mengerjakan semua itu sebelum menikah.


"Lama banget sih Sayang, aku udah nungguin kamu." Juminten mengerutkan keningnya, melihat Dylan berdiri di bawah tangga, seolah sedang menunggunya.


Setelah Juminten menapak anak tangga terakhir, Dylan segera merangkul pundaknya. Membawanya berjalan ke meja makan.


"Kita sarapan bareng ya." Dylan menarik satu kursi, menekan bahu sang istri agar duduk di sana.


"Bubur ayam?" Juminten melihat semangkuk bubur yang masih mengepul hangat.


"Iya, suka nggak. Ini bagus lho buat lambung kamu," jawab Dylan dengan senyum manis.


"Terima kasih, lain kali nggak usah repot-repot. aku bisa bikin bubur sendiri kok."


Dylan tersenyum semakin lebar. Sengaja dia bangun lebih pagi, dan membeli sarapan untuk mereka berdua. Dia bahkan menyiapkan jus buah naga, yang kata mbah gogo bagus untuk penderita asam lambung.


"Tunggu yang, biar aku suapi." Dylan mengambil sendok yang hendak dipakai Juminten.


"Ayo buka mulutnya. Aaaa....!"


Juminten menahan sendok yang sudah berisi bubur dengan tangannya.


"Aku bisa sendiri, dan tolong jangan panggil aku Sayang atau Yang. Aku nggak suka!" tegas Juminten.


"Lalu kamu sukanya di panggil apa? bukannya panggilan mesra seperti itu bisa membuat hubungan suami-istri lebih manis?"


Juminten menghela nafas, ia mengambil sendok dari tangan Dylan kemudian meletakkannya di mangkuk.

__ADS_1


"Kita hanya pasangan kontrak, kamu sendiri kan yang bilang kemarin. Jadi nggak usah pake acara romantis -romantisan, kita jalani pernikahan ini seperti sebelumnya saja," tutur Juminten panjang lebar.


"Tapi aku serius dengan ucapanku kemarin, aku ingin pernikahan ini tetap bertahan. Kita mulai semuanya dari awal, aku tau aku salah, dan aku akan berusaha keras untuk memperbaikinya."


__ADS_2