Mbak Jum Wo Ai Ni

Mbak Jum Wo Ai Ni
Cantik


__ADS_3

"Dim, doain semua lancar ya besok," ucap Juminten pada keponakan kesayangannya itu.


Juminten menyempatkan diri untuk menjenguk Dimas, walaupun sebentar. Ia tidak ingin Dimas merasa sendiri.


"Pasti Mbak Jum, Dimas akan selalu mendoakan Mbak dan Mbah uti," jawab remaja berpeci hitam itu. Ada raut wajah sedih yang tersirat di wajahnya.


Di saat yang penting seperti ini, Dimas tidak bisa ikut hadir di tengah-tengah keluarganya. Karena kecerobohan Dimas ia harus meringkuk dibalik jeruji besi.


Juminten, menggenggam tangan Dimas, seketika Dimas yang tadinya menunduk pun, mengangkat wajahnya. Juminten tersenyum manis, memberi semangat pada sang ponakan.


"Semangat ya, Mbak tahu ini tidak mudah buat kamu. Tapi yakinlah, dibalik semua ini pasti ada hikmah yang bisa kita ambil."


"Iya Mbak, maafin Dimas ya Mbak ... Maafin Dimas." tangan Dimas meremas jari Juminten, kata maaf terucap berbarengan dengan air mata yang meleleh di pipinya.


"Sudah ... Sudah, semuanya sudah terjadi. Mbak sudah maafin kamu sejak lama, hem."


Dimas mengangguk, suara tangis Dimas mulai melirih. Remaja itu sesegukan, merefleksikan beban yang masih menghimpit dadanya. Rasa bersalah pada Juminten dan Nenek yang selama ini telah membesarkannya, begitu membuat Dimas merasa sesak. Niatnya untuk berbakti malah menjadi bumerang yang menghancurkan nama baik keluarganya.


"Udah Dim, jangan cengeng. Nanti gantengmu ilang lho," goda Juminten.


"Opo se Mbak." Dimas tersenyum sambil mengusap pipinya yang basah.


Juminten dan Dimas memang sangat dekat sedari kecil, umur Juminten yang terpaut jauh dari kakaknya membuat ia terlihat seperti kakak Dimas.


Dimas lahir saat Juminten berumur lima tahun, nama Dimas pun Juminten yang mengusulkan. Meskipun sering diingatkan untuk memanggil Tante Juminten, Dimas tetap saja memanggil Juminten dengan sebutan Mbak.


Setelah Dimas lebih tenang, Juminten pun pamit pulang. Karena memang jam besuk yang juga sudah mau habis. Meskipun tidak lama, setidaknya Juminten bisa bertemu dengan Dimas. Karena besok dia pasti tidak akan bisa menjenguk Dimas.


.


.


.


Setelah semua ***** bengek yang terjadi. Akhirnya hari ini hari melamar Juminten tiba. Rumah sederhana Mirna dihias dengan bunga-bunga, di bentuk inisial J dan D. Terlihat sangat romantis, meskipun sederhana.


Juminten pun tak kalah cantik, dengan memakai kebaya biru muda dan rambut yang disanggul model, serta makeup yang dirias oleh profesional yang di datangkan oleh sang calon ibu mertua. Juminten terlihat ayu dan elegan.


__ADS_1


"Anda sangat cantik Nona," puji seorang wanita sambil menyapukan kuas blush on pada pipi Juminten.


Juminten hanya diam, ia tidak berani sembarangan bergerak. Ia takut gerakannya membantu si perias kesulitan.


"Ok, siap."


"Terima kasih," ucap Juminten.


"Sama-sama." Sang perias itu tersenyum, sambil merapikan alat makeup miliknya.


Juminten berdiri didepan cermin besar yang ada di lemarinya. Rasanya tak percaya melihat perubahan pada dirinya, ternyata dia juga bisa cantik jika dirias seperti ini.


Mirna masuk ke kamar Juminten mengunakan kursi roda yang di dorong oleh Ana.


"Masya Allah, ayune ponakan ku," puji Ana.


"Alah Budhe iki, isin aku." Pipi Juminten merona, tersipu malu.


Wanita berkebaya itu melangkah pelan mendekati ibunya, ia bersimpuh memegangi tangan Mirna. Mata tua itu berkaca-kaca, melihat putrinya yang sudah dewasa.


Juminten menatap dalam netra yang tengah memandangnya dengan penuh kasih sayang. Juminten mencium lembut punggung tangan Mirna, merebahkan kepala diatas pangkuan sang ibu.


Tak ada kata, hanya air mata yang mewakili segala rasa. Ana pun tak kuasa menahan rasa harunya, melihat Juminten yang kini telah menjelma menjadi seorang wanita yang lebih dewasa, rasanya baru kemarin ini meneriaki Juminten untuk turun dari pohon mangga. Juminten kecil yang nakal, dan tomboy, dia suka sekali memanjat pohon dan bermain layangan dengan anak laki-laki dari pada main boneka.


Namun, sekarang anak kecil yang suka memakai celana pendek dan kaos oblong itu kini berubah. Dia sekarang memakai kebaya dengan kain jarik yang membuat Juminten terlihat ayu, nyaris sempurna.


Di ruang tamu sudah ramai orang yang datang, Saudara, tetangga, serta ketua RT setempat pun ikut hadir. Maklum saja, rumah Pak RT hanya berjarak dua rumah dari rumah Mirna.


Sebuah mobil berwarna silver berhenti tak jauh dari rumah Juminten, seorang wanita paruh baya bergegas turun setelah si sopir membuka pintu mobil. Mayleen melangkah cepat, ia begitu tidak sabar melihat calon menantunya.


"Hati-hati Nyonya!" seru Parman, ia khawatir majikannya itu jatuh. Mayleen tak memperdulikan Parman ia tetap saja berjalan cepat ke rumah Mirna.


Mayleen berjalan begitu tergopoh-gopoh, seolah tak ada hari esok untuk melihat Juminten. Seharusnya dia datang bersama Dylan. Namun, wanita itu begitu tidak sabar hingga memutuskan untuk pergi lebih dahulu.


Paman Juminten yang melihat kedatangan Mayleen pun segera menyambutnya.


"Nyonya kenapa tergesa-gesa seperti ini?" tanya Wawan heran, apalagi Mayleen hanya datang dengan supirnya saja.


"Dimana Juminten Wan? Saya pengen ketemu dia."

__ADS_1


"Di kamar Nyonya."


Mayleen langsung saja masuk mendorong tubuh Wawan yang menghalangi jalan masuk. Sebegitu sayangnya Mayleen pada Juminten, hingga ia begitu tidak sabar. Parman dan Wawan hanya bisa menggeleng melihat Mayleen.


"Sopo kui Cak?" tanya salah seorang tamu yang hadir.


[ "Siapa itu Mas?" tanya salah seorang tamu yang hadir.]


"Calon Morotuo ne Juminten," jawab Wawan.


[ "Calon mertuanya Juminten," jawab Wawan. ]


Pria itu menggeryitkan keningnya, menatap heran pada Wawan dan lelaki berpakaian rapi yang berdiri disampingnya.


"Lha, kok ga bareng anak e?"


[ "Lha kok nggak bareng sama anaknya?" ]


"Nyonya Mayleen sangat ingin bertemu dengan Juminten, makanya beliau datang lebih dulu. Tapi sebentar lagi rombongan Tuan muda akan datang Anda tidak perlu khawatir," kali ini Parman yang menjawab pertanyaan orang itu.


Pria itu pun manggut-manggut, mendengar jawaban Parman.


Mayleen segera masuk ke kamar Juminten, di sana sudah ada Mirna dan Ana yang menemani menantu kesayangannya itu.


"Cantik sekali menantu Mama!" seru Mayleen memuji.


Juminten yang sedang duduk ditepi ranjang


usang miliknya menoleh kearah pintu, senyuman manisnya mengembang melihat Mayleen berdiri di ambang pintu.


"Nyonya."


"Eh ... Nyonya lagi. Mama Jum, Mama," ujar Mayleen sambil melangkah pelan mendekati Juminten.


Ana yang tadinya duduk disamping Juminten, bergeser memberikan ruang untuk Mayleen.


"Lihat Mirna, anak gadis kita sudah dewasa. Maaf ya Mir, aku akan membawanya pulang ke rumahku sebentar lagi," ucap Mayleen pada Mirna, tangannya mengusap lembut bahu Mirna.


Wanita paruh baya yang duduk di kursi roda itu, tersenyum sambil mengangguk pelan. Tak ada raut tidak rela di wajah Mirna, yabg ada adalah kebahagiaan yang terpancar di sana.

__ADS_1


__ADS_2