Mbak Jum Wo Ai Ni

Mbak Jum Wo Ai Ni
Bab 9


__ADS_3

Seminggu kemudian telah berlalu dari hari pengambilan sampel darah untuk tes DNA yang dilakukan Erick dan Dylan. Kini keduanya sama-sama menunggu hasil lab ditemani istri masing-masing.


Harap-harap cemas akan hasil yang keluar. Benarkah mereka bersaudara? Atau hanya orang yang kebetulan mirip, bagaimana jika benar? Apa yang akan Dylan lakukan setelah ini. Dylan juga sangat menanti jawaban atas pertanyaannya selama ini. Kenapa ia sampai berada di panti asuhan? Erick berjanji akan menceritakan tentang itu setelah hasil tes keluar.


Seorang pria yang sudah berumur masuk kedalam ruangan dimana Dylan dan Erick menunggu. Ia tersenyum, bergegas menuju meja kerjanya. Empat pasang mata itu terus memperhatikan amplop coklat yang ada ditangan dokter bernama Wahid itu.


"Maaf membuat Anda semua lama menunggu, baiklah saya akan membacakan hasil lab tes DNA yang kita lakukan." Pria itu membuka amplop coklat yang ia bawa.


Detak jantung Erick dan Dylan berdetak kencang, saling bersahutan. Tangan kedua pria itu menggenggam erat tangan pasangan masing-masing.


"Hasilnya positif, 99% menunjukkan kemiripan antara satu sama lain. Kalian memang bersaudara," ucap dokter Wahid. Ia kemudian memberikan secarik kertas laporan lab pada Dylan dan saudaranya.


Erick menatap nanar pada secarik kertas yang ia pegang, air bening mendesak keluar tanpa permisi. Lee menepuk pelan bahu sang suami, Erick menoleh.


"Akhirnya aku menemukan dia Lee," lirih Erick, Lee mengangguk. Ia bisa merasakan bagaimana perasaan Erick saat ini.


Lee memeluk tubuh sang suami yang tengah menangis, Dylan dan Juminten pun sama. Menatap Erick dengan haru, dalam hati Dylan pun bercampur aduk antara bahagia dan entahlah. Semuanya terjadi dengan begitu cepat, tanpa ia duga sama sekali. Dylan tak pernah berharap bertemu dengan orang tua atau saudara, ia sudah sangat bersyukur dengan apa yang ia punya saat ini.


Setelah Erick cukup tenang, dua pasang suami istri itu pergi ke sebuah warung lesehan yang menyajikan penyetan sesuai dengan permintaan suami yang sedang mengidam itu.


"Kita benar-benar saudara, kau adalah adikku Edwin," ujar Erick.


"Adik? Jadi kau keluar lebih dulu ya?" Tanya Dylan dengan tenang, ia terlihat lebih santai tak lagi seperti saat mereka bertemu.


Selama seminggu ini Dylan telah banyak berfikir, sang istri pun juga mengingatkan Dylan untuk tidak berprasangka buruk terlebih dahulu.


"Ya sebenarnya hanya lebih tua lima menit," jawab Erick sambil terkekeh.


Keduanya berada dalam satu meja, sedangkan kedua istri mereka sedang membeli sesuatu ke minimarket terdekat. Warung itu cukup nyaman dengan beberapa gazebo terpisah, hingga membuat Erick lebih nyaman untuk menceritakan masa lalu mereka.


"Kenapa Ai lama sekali? Beli apa sih dia?" Tanya Dylan pada dirinya sendiri.


"Mungkin istri kita ingin memberikan waktu untukku bercerita," sahut Erick.


Dylan mendesah pasrah, laki-laki bermata sipit itu sudah sangat rindu pada jantung hatinya.


"Cepatlah, ceritakan semua agar istriku cepat kembali. Aku sudah rindu setengah mati."


"Oke, Tuan bucin. Aku akan segera menceritakan masa lalu kita," tutur Erick.


Waktu itu kita sekeluarga sedang berlibur di pantai, itu pertama kali bagi kita berlibur bersama. Ayah orang yang sangat sibuk, dia baru sekali berada di rumah. Dan kau juga sakit-sakitan waktu itu, tubuhmu lebih ringkih daripada aku.


Flashback on.


Dua anak kecil berusia tiga tahun, bermain di tepi pantai. Membangun istana pasir bersama, keduanya tampak begitu gembira.


Memakai kaos berwarna putih dengan motif garis biru melintang tanpa lengan, keduanya terlihat begitu asik bermain, walaupun matahari begitu terik. Sang ibu mengawasi buah hatinya dengan duduk di bawah naungan payung besar.

__ADS_1


"Edwin, Erick sini minum dulu!" Teriak wanita cantik itu.


Kedua anak kecil itu berlari, berlomba sampai ke sang ibu.


"Aku duyu!"


"Aku yang dulu!"


"Hati-hati jangan lari!" Pekik sang ibu memperingatkan.


Namun, mereka tidak mendengarkan. Mereka terus berlari, sesekali keduanya saling mendorong.


Brugh.


Erick kecil terjatuh. Namun, dia segera bangkit. Ia hanya meringis sakit, tanpa mengeluh apapun.


"Elik sakit?" Tanya Edwin yang masih cadel. Ia berhenti berlari, kemudian menghampiri saudara kembarnya itu.


"Nggak sakit, aku kuat. Aku kan kakak," kilah Erick, meskipun lututnya berdarah.


Edwin pun manggut-manggut mendengar jawaban saudaranya. Edwin kecil mengulurkan tangannya, membantu sang kakak berdiri. Kedua anak itu berjalan sambil bergandengan tangan menghampiri wanita yang mereka panggil ibu.


"Erick jatuh? Lain kali hati-hati ya,"ucap wanita itu memperingatkan. Erick pun menjawabnya dengan anggukan kecil.


"Bersihkan dengan air, lalu tutup lukanya pake ini." Wanita itu memberi Erick sebotol air mineral dan sebuah plaster luka.


Sementara Erick mengurus dirinya sendiri, Edwin saudara kembarnya sedang duduk dipangkuan sang ibu sambil menikmati segarnya air kelapa muda. Erick sudah biasa, ibunya pernah berkata asik butuh perhatian lebih karena dia sering sakit, Erick seorang kakak dia harus mengalah pada adik.


Doktrin itu begitu meresap di ingatan Erick kecil, tak ada bantahan dari mulut kecilnya.


"Elik ... Elik ayo main petak umpet!" Seru Edwin sambil menarik tangan kakaknya yang baru saja selesai menempelkan plaster


"Aku minum dulu ya haus!"


"Main dulu, minumnya nanti, kelapanya udah aku abisin," ucap Edwin dengan senyuman tanpa dosa.


"Ibu mana?" Tanya Erick yang celingukan mencari ibu mereka yang tak lagi duduk di tikar.


"Ibu beli kelapa, Elik ayo main," rengek Edwin.


Karena Edwin memaksa akhirnya Erick pun setuju. Erick yang pertama jaga dan adiknya pergi bersembunyi.


"Satu ..dua ..lima .. tiga.. sepuluh, siap atau tidak aku datang!" Seru Erick mengakhiri hitungan yang tidak beraturan itu.


Ia mulai mencari keberadaan Edwin, adiknya itu memang sangat pandai dalam bersembunyi.


Bukannya bersembunyi Edwin kecil malah mengikuti kepiting yang pulang ke pantai, tak memperhatikan sekitar ia terus mengikuti jejak kepiting itu hingga masuk ke air.

__ADS_1


Ombak datang menggulung tubuh kecilnya, menyeret semakin dalam. Air laut masuk berdesakan memenuhi mulut dan hidung Edwin. Tangan mungilnya menggapai- gapai udara, berharap ada seseorang yang akan menariknya keluar.


"Edwin ...! Edwin ....!" Teriak Erick mencari keberadaan sang saudara kembar.


Samar ia bisa melihat tangan kecil Edwin, ikatan batin yang kuat mengatakan kalau itu adalah adiknya.


"Edwin ...! Edwin ...!" Teriak Erick di tepi pantai, membuat orang di sekitarnya memperhatikan.


Tak lama banyak orang datang, termasuk orang tua Erick. Namun terlambat, Edwin tak ditemukan. Erick terus ay disalahkan atas hilangnya Edwin oleh kedua orang tua mereka, ia juga tak membantah. Karena ia juga merasa bersalah.


Flash back off


"Semua orang mengira kau sudah meninggal, tapi tidak dengan ku. Aku yakin kau masih hidup. Jadi saat aku dewasa aku mulai mencari mu. Aku juga tidak tau bagaimana kau sampai di panti asuhan itu," tutur Erick menyudahi ceritanya.


Dylan alias Edwin hanya diam menyimak cerita sang Kakak. Ia tidak begitu mengingat kejadian itu, mungkin karena dia masih kecil. Dan alam bawah sadarnya menekan ingat buruk yang membuatnya takut.


Berbeda dengan Erick, meskipun ia masih kecil. Ia juga merasakan takut saat melihat tangan kecil Edwin yang menghilang di telan air laut. Namun, kedua orang tua yang terus menerus mengingatkan dia, dan menyalahkan Erick atas kejadian naas itu.


"Itu bukan salahmu Bro, kita masih sama-sama kecil waktu itu. Tidak ada seorang yang mau kejadian seperti itu menimpa mereka, mungkin ini memang takdir yang harus kita jalani. Maaf jika selama ini ayah dan ibu marah karena itu, maafkan mereka, maafkan dirimu sendiri, maafkan juga aku." Dylan menepuk pundak Erick yang duduk bersebrangan dengannya.


Erick tercenung, air matanya lolos begitu saja. Kata itu sudah lama sekali ingin ia dengar.


"Cengeng banget sih, Bini Lo hamil ya?" Goda Dylan.


Buru-buru Erick mengusap pipinya yang basah.


"Belum di Coblos, mana bisa hamil," jawabnya sambil mengambil tisu di meja.


"Belum di Coblos, emangnya kapan kalian nikah?" Tanya Dylan penuh selidik, ia menatap Erick sambil menyuapkan nasi dalam mulutnya sendiri.


"Ya pas aku pertama kali ke rumah kamu, dan malamnya langsung datang bulan. Belum selesai sampai sekarang, kau tau kepalaku rasanya sampai mau pecah!"


"Hahaha ... Aku paham, sangat paham!"


Keduanya tergelak bersama.


"Sekarang sudah jelas semua, mampirlah ke rumah kapanpun kau mau. Rumahku akan selalu terbuka untukmu," ujar Dylan dengan serius.


"Pasti, aku akan sering ke sana. Apa kau ada waktu? Aku ingin mengajakmu ke tempat ayah dan ibu."


Dylan diam sejenak.


"Sepertinya tidak dalam waktu dekat ini, istriku sedang hamil muda tidak boleh terlalu capek," jawab Dylan.


"Baiklah, beritahu saja kapan, aku akan pesankan tiket pesawat untuk kalian."


Dylan menjawab dengan anggukan.

__ADS_1


__ADS_2