
Matahari belum menyapa, langit masih tampak gelap, saat suara Muazin sayup-sayup terdengar. Juminten sudah rapi, setelah merawat sang ibu seperti biasanya. Gadis itu pergi kerumah Budhenya untuk pamit pergi.
"Assalamualaikum Budhe!" seru Juminten setelah mengetuk pintu rumah Ana.
"Wa'alaikumsalam." Seorang wanita paruh baya membuka pintu rumah.
"Ada apa Jum?" tanya Ana sambil membenarkan tali mukenah yang ia pakai.
"Maaf ganggu, Budhe. Jum, mau ke pasar sebentar, Jum nitip Ibu ya."
"Ke pasar? sama siapa? apa mau aku bangunin Pakde mu, biar diantar."
"Mboten usah Budhe."
[ "Tidak usah Budhe." ]
"Lha awakmu nang pasar ambe sopo, Jum? arep gae sepeda ontel ta?"
[ "Lha kamu mau ke pasar sama siapa, Jum? mau pake sepeda onthel?" ]
"Di anter Dylan Budhe," jawab Juminten dengan raut wajah yang sumringah.
"Dylan! suami kamu?" Ana mengerutkan keningnya, Kedua alis wanita itu sampai bersatu menjadi segaris saking herannya.
"Iya, lha Dylan sapa lagi kalau bukan suami Juminten. Jum, pulang dulu nggeh, makasih Budhe. Assalamualaikum!" seru Juminten, ia segera mengayunkan tubuhnya meninggalkan rumah Ana sebelum wanita paruh baya itu sempat menjawab salamnya.
Wanita berperawakan kecil itu melangkah dengan cepat. Takutnya Dylan melarikan diri, dan mangkir dari janjinya semalam.
"Assalamualaikum," ucap Jum saat masuk ke dalam rumah.
"Wa'alaikumsalam, dari mana kamu? pagi-pagi udah kelayapan. Bikinin aku kopi!" Dylan menatap tajam Juminten dengan tangan yang terlipat di dada.
"Dari rumah Budhe, minta tolong liatin ibu , sementara kita ke pasar nanti!" Juminten menjawab dengan senyum yang ia paksakan.
"O ... Eh apa katamu tadi? kita ke pasar?" ulang Dylan.
"Iya kita." Juminten melewati Dylan yang berdiri di tengah jalan antara ruang tamu dan tengah.
"Kenapa kita, bukan kamu saja?"
Dylan mengekor dibelakang Juminten yang berjalan kearah dapur. Mendengar ucapan Dylan, Juminten memutar matanya jengah. Entah pura-pura lupa atau sengaja lupa.
Masih dengan diam, Juminten mengambil panci kecil, mengisinya dengan air dan kemudian menaruhnya diatas kompor yang ia nyalakan.
__ADS_1
"Hey, denger nggak aku tanya apa?" Dylan masih saja terus mengekor pergerakan Juminten.
"Hei! kamu denger nggak sih? kenapa kita? aku nggak mau ikut kamu ke pasar!?"
Masih diam.
"Hei, kalau ditanya tuh jawab!" sentak Dylan.
Juminten meletakkan gelas kaca yang baru diambilnya dengan kasar, hingga menimbulkan bunyi yang keras. Dylan menelan salivanya, saat wanita itu menatap tajam padanya.
"Aku punya nama bukan Hei, dan ingat. Aku nggak ngajak kamu ke pasar, aku perintahkan kamu untuk nganterin aku ke pasar, paham!"
"Kamu memerintah aku, memang siapa kamu berani kasih aku perintah!?"
Satu sudut bibir Juminten, tangan lentiknya terlipat di dada. Dengan senyum mengejek dia mendongak menatap Dylan. Tinggi badan mereka yang berbeda jauh, membuat Juminten terpaksa mengangkat kepala untuk melihat Dylan
"Kau lupa atau pura-pura amnesia. Semalam jadi maling dan sekarang sudah lupa hukumannya, enak sekali jadi Anda. Kalau mau seenak jidatmu berbuat, bukan di sini tempatnya dan buka aku orang yang bisa kau perlakukan seperti itu, paham!"
Bunyi air yang sudah mendidih, membuat Juminten berpaling. Dengan cekatan ia mematikan kompor, meracik kopi hitam dan gula dalam gelas. Wangi kopi hitam semerbak memenuhi dapur saat air panas melarutkannya.
Juminten meletakkan kopi yang baru selesai ia buat di meja dapur, tak jauh dari tempat ia berdiri.
"Nikmati kopimu, setelah itu cuci muka. Aku nggak mau di anterin kalau tai mata itu masih ada!" Juminten berlalu meninggalkan dapur, ia pun harus mengganti daster yang ia pakai.
Dengan menyengir Dylan menggaruk rambutnya yang masih berantakan.
Setelah kopi Dylan habis, Juminten pun selesai bersiap dan berpamitan pada sang Ibu. Dua sejoli itu ke pasar mengunakan kuda besi berwarna kuning, hadiah dari Mayleen.
Juminten mengarahkan jalan, pada Dylan yang memboncengnya. Dengan arahan dari Juminten, Dylan mengemudikan sepeda motor milik Juminten itu. Awalnya Dylan menolak, dan hanya mau mengantar Juminten dengan mobil. Namun, setelah Juminten mengancam akan merajuk dan melaporkannya pada Mayleen. Dylan pun akhirnya terpaksa setuju.
"Masih jauh nggak nih?" tanya Dylan ketus.
"Nggak, tuh dah keliatan rame-rame," Jawab Juminten sambil menunjuk ke arah depan mereka.
Dylan pun menambah kecepatan motornya agar lekas sampai. Tetapi diluar dugaan, seekor kucing melintas, Dylan pun segera menarik rem secara bersamaan.
Tubuh Juminten menabrak punggung Dylan, dengan keras. Karena rem mendadak yang pria itu lakukan.
"Aduh!" pekik Juminten.
"Ati-ati dong, kalau jatuh gimana, heh?!"gerutu Juminten sambil mendorong kembali tubuhnya menjauh.
"Kamu nggak liat ada kucing tadi, kalau kita nabrak dia gimana?"
__ADS_1
"Tapi kalau kamu nggak nambah kecepatan kayak tadi, kamu kan nggak usah ngerem mendadak kayak gitu. Gimana kalau jatuh, kalau aku sampai meninggoy kan nggak lucu, masih gadis, cantik perawan lagi, masa mau out gitu aja."
"Aduh apa sih!" pekik Juminten, saat ujung telunjuk Dylan mendorong keningnya dengan keras.
"Berisik, jadi ke pasar nggak?"
"Iya-iya jadi." Juminten memanyunkan bibirnya kesal.
Dylan kembali menjalankan motor yang mereka tumpangi. Motor berwarna kuning itu berhenti diparkiran pasar yang sudah sangat padat dengan kendaraan.
"Kamu punya waktu 10 menit untuk belanja, kalau lebih aku tinggal!"
Mata Juminten membulat, ia menyerahkan helm dengan kasar pada suaminya itu.
"10 menit gundul mu, mana bisa belanja secepat itu," ujar Juminten dengan berkacak pinggang.
"1 jam."
"Aku bisa kering nunggu kamu satu jam. 20!"
"40"
"30 deal nggak pake nawar lagi!" tegas Dylan.
"Ok, 30 tapi kamu bantu aku bikin cilok nanti," ucap Juminten sambil melangkah pergi.
"Apa, dasar wanita gila. Masa aku bikin cilok, yang benar saja," gumam Dylan.
Tiga puluh menit berlalu, Juminten datang
dengan satu kresek besar belanjaan. Menghampiri Dylan yang kesemutan karena kelamaan menunggu.
"Lama banget sih," keluh Dylan.
"Lama apa, ini pas 30 menit tau." Juminten meletakkan kresek belanjaannya, dia kemudian mengeluarkan ponsel yang ia pasang timer.
Dylan hanya manggut-manggut, melihat itu.
"Eh ... tau nggak hari ini aku bakal masak enak!" seru Juminten dengan semangat.
"Masak enak? memangnya kamu mau masak apa?"
Juminten tersenyum, ia berjongkok membuka kresek merah. Dylan pun ikut berjongkok, ia penasaran dengan masakan enak yang akan di masak Juminten.
__ADS_1
"Tadi aku liat ini jadi aku beli, jarang banget lho ada yang sebesar ini. Biasanya tuh kecil-kecil." Tangan Juminten mengambil satu kresek hitam berukuran sedang, sesuatu didalamnya tanpak bergerak-gerak. Dylan menelan salivanya, perasaan pria itu sudah sangat tidak enak.