
Arumi hening sejenak, ia meraup oksigen sebanyak yang ia bisa. Wajah polos Arumi masih menatap lurus ke depan.
"Ibuku saja tidak percaya dengan apa yang sudah laki-laki itu lakukan. Bagaimana aku bisa membuat orang lain percaya, mungkin Kakak sekarang juga seperti Ibu ku. Menganggap apa yang aku katakan hanya kebohongan untuk mencari perhatian," ujarnya sambil menatap jauh.
Max terdiam, ia menatap gadis yang duduk disampingnya. Arumi tak lagi terlihat seperti gadis yang kemarin ia temukan meringkuk di bawah guyuran air hujan. Arumi terlihat tegar, tapi Ia bisa melihat guratan kemarahan di wajahnya.
"Aku bukan orang seperti itu, Rum. Entah kau percaya atau tidak, tapi aku ingin menolong mu."
Arumi seketika menoleh, menatap wajah pria yang tengah memperhatikannya. Tak ada keraguan di mata bening milik Max, Arumi tersenyum miring melihatnya.
"Apa kau yakin Kak, aku sudah sangat bersyukur Kakak tidak mengusirku dari rumah Kakak. Aku tidak ingin membuat Kak Max dalam masalah karena aku."
"Hem baiklah, kalau kau memang tidak percaya padaku. Lagi pula aku memang hanya orang asing yang tidak sengaja bertemu denganmu," sahut Max, pria itu membenarkan posisi duduknya, mengambil ponsel dan pura-pura sibuk dengan benda pipih itu.
Arumi mengigit bibir bawahnya, ia merasa tidak enak pada Max. Pria sipit itu memang baru di kenalnya, tetapi Max sudah begitu baik , dia juga berlaku sangat sopan sebagai seorang laki-laki.
Nurul sudah menceritakan tentang semalam pada Arumi, bagaimana Max panik dan khawatir dengan keadaan nya. Ia bahkan ikut membantu menjaga Arumi semalam, jika max bukan pria baik-baik entah apa yang akan terjadi pada Arumi sekarang.
"Bukan seperti itu maksud Arumi Kak, maaf," ujarnya lirih.
Max tersenyum tipis, hampir tak kentara.
"Kenapa kau minta maaf? Kamu nggak salah kok." Max masih terus memperhatikan ponselnya.
"Kak Max mau dengar cerita nggak?"
Max mengehentikan jarinya yang men-scroll sembarang di layar ponsel.
"Cerita apa?"
Arumi tersenyum sebelum ia memulai ceritanya.
"Ada sebuah keluarga kecil, mereka tinggal di sebuah rumah sederhana. Keluarga itu terdiri dari empat orang, ayah yang berkerja sebagai buruh pabrik dan sang ibu di rumah mengurus kedua anak mereka. Canda dan tawa selalu menggema di rumah itu," ujar Arumi.
__ADS_1
Max bisa melihat kebahagiaan yang terpancar dari sorot mata Arumi.
"Tapi semua itu berubah saat si kepala rumah tangga mengalami kecelakaan kerja di pabrik, sang istri mulai mengeluhkan kondisi ekonomi mereka, dia pun memutuskan untuk berkerja. Saat itulah, perlahan tawa mulai hilang. Sang ibu berubah kasar, singkat kata si Ayah meninggal dunia dan si ibu menikah lagi meskipun masa idah belum usai. Ibu lebih percaya pria yang baru saja ia nikahi ketimbang anak-anaknya, miris ya,"
"Dimana Ibu dan adikmu sekarang?" Tanya Max, ia paham Arumi sedang menceritakan tentang kisah dirinya sendiri.
"Ibu, dia pergi jadi TKW sejak 6 bulan yang lalu. Sebenarnya aku dan Bayu ikut nenek, tapi aku di suruh ke rumah pria bejat itu dengan alasan bantu bersih-bersih rumah, heh alasan klise. Sejak awal aku tau dia bukan orang baik-baik Kak! Tapi kenapa, kenapa ibu nggak percaya sama aku!?" Suara Arumi bergetar karena amarah, Max bisa melihat tangan Arumi yang mengepal kuat.
"Kamu tenang dulu Rum, kita cari jalan untuk memberikan pelajaran pada pria itu," ujar Max penuh penekanan.
Arumi menatap Max dengan dahi yang berkerut, orang berada seperti Max, untuk apa membantunya? Bukankah orang kaya lebih cenderung tidak perduli pada orang lain? kebanyakan orang yang di temui Arumi seperti itu.
"Kenapa menatapku seperti itu? Apa kau masih tidak percaya?" Cerca Max, Arumi menggeleng pelan.
"Arumi percaya sama Kak Max, tapi Arum nggak pengen bikin Kakak repot," cicit gadis cantik itu.
"Tenang aja, nggak repot kok," sahut Max yang masih bisa mendengar suara lirih Arumi.
***
Sebuah mobil hitam berhenti dihalaman rumah sederhana, seorang pria langsung datang menyambut kedatangan orang yang baru saja turun dari mobil itu.
"Selamat datang Juragan, selamat datang ...Apa yang membuat Juragan mampir ke rumah kecil saya," laki-laki bicara sambil terbungkuk-bungkuk, antara hormat dan takut pada pria yang usianya hampir kepala tujuh.
Pria itu menatap sinis pada laki-laki yang membungkuk disampingnya itu.
"Jangan pura-pura bodoh! Dimana anak itu, atau ...."
Pria yang segera membungkuk itu di tendang dari belakang, hingga membuat dia jatuh tersungkur. Pria yang sudah berumur tadi, langsung menginjak kepala pria itu.
"Ampun Tuan, saya akan segera menemukannya. Beri saya waktu ... Ujarnya sambil meringis menahan sakit.
"Tiga hari, Aku beri kamu waktu tiga hari Wito, tidak lebih!"
__ADS_1
"Ba-baik Juragan."
Wito baru bisa bernafas lega saat rombongan Juragan Karto dan anak buahnya pergi menjauh dari pelataran rumah.
"Sial! Dimana gadis itu hilang. J4n####ok!" Umpat Wito sambil mengusap wajahnya kasar.
Wito harus mengembalikan semua hutang pada Juragan Karto jika dia tidak bisa membawa anak tirinya pulang. Judi dan main di warung pangkon, membuat Wito terlena hingga masuk kedalam jerat hutang.
Wito bangkit, ia duduk di lantai teras rumahnya sambil membersihkan kotoran yang menempel di kemejanya.
Ponsel Wito menjerit keras, ia segera mengambil dan melihat nama yang tertera di layar pipih itu. Wito semakin frustasi saat melihat nama istrinya yang sedang merantau menelpon, jelas ia akan bertanya tentang keberadaan anak gadisnya itu.
Dengan terpaksa Wito mengangkatnya, agar Nurma tidak curiga.
"Halo Nur, iya waallaikumsalm," sahut Wito saat telepon sudah tersambung.
"....."
"Kamu tanya soal Arum, anak nakal itu sejak kemarin malam tidak pulang! Pamitnya belajar ke rumah teman, tapi sekarang belum pulang. Mas yakin dia pergi sama teman cowok Nur, soalnya aku sempat memergoki dia telepon sama cowok," Wito mengarang cerita agar Nurma benci dengan anaknya.
Dengan begitu, Wito bisa menguasai penghasilan Nurma. setidaknya sampai Nurma tidak bisa lagi berkerja.
"....."
"Iya, Mas akan cari dia sampai ketemu, dia kan juga anakku Nur. Sudah jadi tanggung jawab ku," ujar Wito dengan seringainya.
'Lagi pula siapa yang akan membayar hutang ku kalau dia tidak pulang, Nurma sayang',gumam Witi dalam hati.
"...."
"Iya nur, terima kasih sudah percaya sama aku. Nanti aku akan kasih uangnya untuk Mak, kamu jangan khawatir. Hati-hati kerjanya, waallaikumsalm."
Senyum licik tersungging di bibir Wito.
__ADS_1