
Senyum Juminten terus tersungging, tangannya menggenggam erat tangan sang ibu yang duduk di sampingnya. Mirna duduk ditengah diapit Juminten dan Mayleen, dia akhirnya mau untuk pindah kerumah besar setelah Mayleen membujuk. Ana diminta untuk mengurus rumah Mirna, dan Mayleen tetap mengajinya.
Raut wajah bahagia tak bisa Juminten sembunyikan. Hari ini Mayleen benar-tidaknya bahagia, ia diajak untuk menjenguk Dimas dilapas, membawakan keponakan gantengnya itu begitu banyak makanan untuk dibagi bersama teman-teman satu selnya.
Wanita dengan mata sebening embun itu sungguh bersyukur mempunyai mertua seperti Mayleen, begitu perhatian. Tidak seperti mertua yang sering diceritakan oleh orang lain.
"Gimana seneng nggak sekarang serumah sama ibu lagi," ujar Mayleen dengan senyum bahagia melihat Mirna dan Juminten.
"Semua ini karena Mama, terima kasih Jum tidak tahu harus berbuat apa untuk membalas semua kebaikan Mama." Juminten mengeratkan genggaman tangan pada Mirna, mata bening Juminten menatap mata sayu nan teduh Mirna.
"Hus simpan terima kasihmu itu, kau adalah anakku.Tidak perlu membalas apapun!" tegas Mayleen. Namun, dengan nada yang lembut.
Juminten mengangguk dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Tanpa melepaskan tangan Mirna Juminten meraih tangan sang mertua, menatap dengan lekat wajah wanita yang menolak tua itu.
"Terima kasih Ma," ucap Juminten lagi dengan sepenuh hati.
Ketika wanita berbeda usia itu tampak begitu bahagia. Parman pun turut tersenyum melihat kebahagiaan sang Majikan, sudah lama ia tidak melihat Mayleen sebahagia ini.
Di kantor.
Dylan kembali dari acara makan es krim dadakan dengan kekasih cantiknya. Langkahnya begitu tergesa-gesa menyusuri lorong tempat para karyawan bekerja. Raut wajah lelaki sipit itu terlihat sangat cemas, ia bahkan tidak menghiraukan karyawan yang menyapa.
Brak.
Pintu ruang rapat dibuka dengan kasar, Dylan melenggang masuk menghampiri Raka yang sedang membereskan berkas-berkas rapat.
"Tuan." Raka menunduk hormat saat melihat Dylan.
"Hem."
Dylan menghempaskan tubuhnya begitu saja di kursi. Mata sipit itu terpejam, jari telunjuk dan jempol pria itu mengurut kening yang terasa pusing.
Begitu mendapat laporan kalau Tuan El pergi tanpa memberikan kejelasan tentang kerjasama mereka, Dylan langsung kembali ke kantor. Tentu saja Jessica merajuk karena dia belum merasa puas, menghabiskan uang pria sipit itu.
"Bagaimana bisa seperti ini? bukankah semua sudah siap. Dan Tuan El itu tinggal menandatanganinya saja," gerutu Dylan tanpa membuka matanya.
Raka hanya diam. Haruskah dia jujur kalau semua ini terjadi karena ulah Tuannya sendiri, yang lebih mementingkan pacar matrenya dari pada klien penting mereka.
"Kenapa kau diam Ka?!" tanya Dylan dengan nada sedikit meninggi.
__ADS_1
Raka tersenyum tipis.
"Tuan lebih tau alasan semua ini," jawab sang asisten dengan santai.
Kening Dylan mengerut, mata sipit pria itu terbuka, menatap tajam pada lawan bicaranya.
"Apa maksudmu?"
"Saya tidak bermaksud apa-apa Tuan, tapi coba Anda pikirkan lagi. Jika saja Anda sendiri yang menemui Tuan Eldric, mungkin kerja sama kita dengan mereka sudah terjadi."
"Kau menyalahkan aku!" tangan Dylan mengepal geram, pria sipit itu menatap tajam Raka.
Raka tidak menundukkan pandangannya, ia menatap Dylan dengan tenang.
"Sebagai bawahan Anda, tentu saya tidak berani Tuan. Tapi sebagai teman, aku mengingatkanmu, ada kalanya kita harus mendahulukan sesuatu yang benar-benar penting. Sebelum semua terlambat dan menyesal." ucap Raka dengan sopan.
"Oh ... sekarang kau dalam mode temanku," sindir Dylan. Raka hanya tersenyum.
Raka dan Dylan memang teman satu kampus. Raka kuliah bisa kuliah di luar negeri karena beasiswa yang ia peroleh. Dylan sangat menyukai sifat Raka yang suka bekerja keras.
"Aku hanya ingin mengingatkan mu, saja. Ada kalanya yang terlihat baik tidak selalu baik, dan yang buruk mungkin itu yang terbaik untuk kita. Maaf Tuan ini sudah waktunya jam makan siang karyawan, saya permisi." Raka mengayunkan langkah meninggalkan ruangan itu setelah melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Pria tampan itu mendesah kesal, ia marah pada dirinya sendiri. Tetapi Dylan juga tidak tega melihat sang kekasih merajuk, sampai menangis seperti itu.
Dengan malas ia bangkit dari duduknya, dia tidak bisa terus seperti ini. Dylan harus meyakinkan Eldric, dan meminta maaf pada pria itu. Kesalahannya hari ini cukup menjadi pelajaran untuk Dylan. Dengan gontai laki-laki berkulit putih itu melangkah pergi ke ruangannya.
Pria dengan mata kecil itu menarik dasinya dengan kasar, benda itu terasa mencekik di saat seperti ini. Dengan kasar ia menghempaskan tubuh lelahnya di sofa yang ada di ruangan itu.
Ponsel Dylan menjerit keras, dengan cepat ia segera menggeser logo hijau.
"Halo Ma."
"Halo, Dy. Kamu kenapa? suaramu kok lesu gitu?"
"Nggak apa-apa Ma, lagi capek aja. Mama ada apa telepon?"
"Memangnya kenapa? Mama nggak boleh telepon kamu?!"
"Bukan begitu, Ma. Tapi..."
__ADS_1
"Tapi apa!? sudahlah Mama lagi males ngomelin kamu." Mendengar ucapan sang Mama Dylan menggaruk kepala yang tidak gatal
"Kamu udah makan belum?"
"Belum Ma,"jawab Dylan lesu. Dia memang belum sempat makan apapun saat bersama Jessica, apalagi sekarang dia sedang memikirkan masalah kantor, tambah hilanglah nafsu makannya.
"Ok, bagus." Kening Dylan berkerut dengan alis yang menyatu. Anaknya belum makan kok dibilang bagus.
"Jangan makan sampai menantu Mama sampai di kantor!"
"Apa!!" Dylan langsung berdiri saking terkenalnya.
"Kenapa kau teriak?"
"Menantu Mama mau ke kantor?"
"Iya, kenapa nggak boleh?"
Dylan menggeleng cepat, dia tidak ingin wanita itu berada di kantor. Dylan memang setuju menikah dengan Juminten, tetapi bukan berarti dia mau Juminten masuk dalam kehidupannya.
"Dylan pulang sekarang Ma, aku makan di rumah saja."
"Lho, Jum sudah siap-siap mau ke sana."
"Jangan! Eh ... Maksudnya Dylan nggak mau menantu Mama yang cantik itu capek, jadi biar Dylan aja yang pulang, ok!"
"Baiklah kalau begitu, Mama tunggu ya."
"Baik Ma."
Dylan melangkah lebar keluar dari ruangannya.
🌞🌞🌞🌞
Jessica tersenyum lebar, penuh kemenangan. Ia yakin hari ini ia akan mendapatkan hadiah, dari sang kekasih, karena telah berhasil menjalankan misi.
Wanita dengan warna rambut yang tak lagi alami itu, berjalan dengan penuh percaya diri ke halaman parkir. Tanpa Dylan ketahui, Jessica sudah memarkirkan mobilnya di sana sebelum mereka datang.
"Hem ... Ini sudah sesuai rencana, aku yakin dia pasti akan senang," Ujarnya, penuh percaya diri.
__ADS_1
Di ambilnya kaca mata dalam tas merek kremes kebanggaan, setelah kaca mata hitam itu nangkring di hidung mancung hasil operasi plastik itu. Jessica mulai menyalakan mesin mobil, dan menjalankannya menjauh dari sana.