Mbak Jum Wo Ai Ni

Mbak Jum Wo Ai Ni
Bab 24


__ADS_3

Setelah berpamitan pada Juminten Max membawa Arumi ke alamat yang telah Arumi berikan. Guugle maps menuntun jalan mereka,


"Masih jauh kah?" Tanya Max basa-basi, dia sebenarnya bisa melihat sisa jarak tempuh di ponselnya saja.


"Belok kanan sekitar sepuluh kilometer lagi Kak," sahut Arumi setelah memperhatikan sekeliling.


Mereka sampai di sebuah pertigaan setelah melewati jalan kota, Max pun berbelok ke kanan, sesuai ucapan Arumi.


"Katanya tadi nggak tau jalan,lha ini apa?" Sindir Max, dengan senyuman manis khas andalannya.


"Kalau jalan kota yang satu arah kayak tadi, Arumi nggak tau Kak. Kalau sudah sampai di pertigaan terminal tadi ya Arumi tahu," sahutnya.


Max hanya mengangguk saja, cukup lama mereka menyusuri jalan ini. Sampai Arumi mengarahkan Max untuk membelokkan mobilnya ke kiri, kemudian ke kanan lagi dan mereka memasuki jalan kecil yang hanya muat untuk satu mobil. Masih banyak kebun kosong di daerah itu, terasa begitu sejuk karena pepohonan yang masih rapat tubuh di antara rumah-rumah penduduk.


"Sudah sampai Kak!" Pekik Arumi senang.


"Yang mana?"


"Iya pagar bambu di depan," sahut Arumi bersemangat.


Max melambatkan laju mobilnya, hingga mereka berhenti di sebuah rumah bilik bambu yang sederhana. Tampak asri dengan beberapa bunga yang tumbuh di halaman rumah itu.


Arumi turun terlebih dahulu, ia melangkah mendahului Max.


"Assalamualaikum, Mak!" Ucap Arumi sedang sedikit meninggikan suaranya.


"Mak, ini Arumi. Assalamualaikum!" Ulang Arumi dengan nada yang lebih tinggi.


Berulang kali Arumi mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Namun, tak ada seorangpun yang menyahut.


"Mungkin Nenek kamu keluar Rum,"ujar Max yang mengintip dari jendela depan, ruang tamu tampak lenggang dan gelap.


Seorang wanita memakai daster berjalan tergesa-gesa, setengah berlari ke arah Arumi.


"Rum, Arum!" Panggilnya lantang.


Arumi menoleh, wanita itu sudah ada di dekat Arumi dengan nada tersengal. Ia menunduk, menumpukkan tangan pada kedua lutut untuk mengatur nafas.

__ADS_1


"Apa apa Bu RT?" Tanya Arumi dengan sopan, ia juga merasa heran dengan istri dari kepala rukun tetangga yang menghampirinya dengan tergesa-gesa.


"Anu Rum, Mbok Marni sekarang di rumah sakit, suami saya dan pak Mus yang mengantarkan dia ke sana," jawab wanita itu setelah mengatur nafas.


Tubuh Arumi limbung, hampir saja ia jatuh jika Max tidak sigap menangkapnya. Kaki Arumi seolah tak bertulang, inikah yang membuat Arumi gelisah tanpa sebab.


"Ayo ke rumah saya dulu Rum," sahut Bu RT yang khawatir dengan keadaan Arumi, gadis itu terlihat pucat saking terkejutnya.


"Nggak usah Bu, saya baik-baik saja."


"Ibu itu benar, kamu sebaiknya istirahat dulu," bujuk Max, yang langsung di sambut gelengan oleh Arumi.


Netra beningnya mulai berkabut, terasa panas, perlahan air asin bergulir saling berdesakan. Berlomba untuk keluar dari lubang kecil di sudut mata Arumi. Rasa sesal meremas kuat hatinya, kenapa dia tidak datang lebih awal.


"Aku mau liat Nenek kak," lirih, kepala Arumi bersandar di dada bidang Max. Kaki Arumi tak kuasa menahan beban tubuhnya sediri.


"Tapi Ru, -"


"Kak aku mohon." Arumi mendongak, menatap Max dengan tatapan memohon, tentu saja Max merasa tidak tega untuk mengatakan tidak pada gadis itu.


Dengan berat hati Max mengiyakan permintaan Arumi. Setelah Bu RT memberi tahu rumah sakit tempat Mirna di rawat, Arumi dan Max bergegas pergi ke sana.


"Bayu!" Pekik Arumi saat melihat adiknya sedang duduk sambil menangis didepan UGD.


"Mbak Arumi!"


Arumi mempercepat langkah, menghampiri sang adik. Bayu bangkit, memeluk Kakaknya erat. Remaja itu sangat takut.


"Nenek kenapa Bay? Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Arumi dengan bibirnya yang bergetar.


Max hanya memperhatikan keduanya, ia tak ingin menganggu waktu Arumi dan Bayu.


"Wito Mbak, dia datang cari Mbak. Dia dorong Nenek sampai nabrak gedek ( bilik bambu)," jawab Bayu dengan amarah, setelah melepaskan pelukannya.


"Wi-wito?"


Bayu hanya menjawab dengan anggukan. Mendengar nama Wito darah Arumi mendidih, amarahnya kembali bergemuruh. Tangan Arumi mengepal erat, hingga melukai tangannya sendiri. Mengingat bagaimana bajingan itu memperlakukan dirinya.

__ADS_1


"Alhamdulillah kamu datang juga Rum!" Seru Musidin, di baru saja dari ruang Dokter untuk mendengarkan hasil pemeriksaan Mirna.


"Pak Mus, Pak Hakiki." Arumi menyalami kedua pria paruh baya itu dengan takzim, Max pun mengikuti apa yang dilakukan Arumi.


"Kamu bisa ikut bapak sebentar, dokter tadi cari keluar Mbok Marni. Ada yang mau disampaikan," ujar Pak RT.


Arumi mengangguk, dari raut wajah pria itu Arumi bisa melihat kalau ada sesuatu yang berat yang ingin beliau sampaikan. Pak RT melangkah dengan Arumi dibelakangnya, tanpa meminta Max mengikuti Arumi. Bahkan mungkin Arumi tak tahu jika Max berjalan di belakangnya.


"Permisi suster, ini ada keluarga Mbok Marni," ujar Pak RT pada suster yang bertugas di depan ruangan dokter.


"O iya Pak, mari silakan. Dokter sudah menunggu," sahut suster dengan ramah.


Mereka bertiga pun masuk keruangan serba putih itu, seorang dokter paruh baya dengan kaca mata yang nangkring di atas hidungnya yang mancung menyambut mereka.


"Ibu Marni mengalami Patah tulang pinggul, ini merupakan cedera yang serius, terutama bagi lansia. Jika tidak ditangani dengan cepat, kondisi ini berisiko menyebabkan gangguan aliran darah di sekitar paha. Patah tulang pinggul juga dapat membuat penderitanya tidak dapat bergerak. Bila pergerakan terhambat untuk waktu yang lama, penderita bisa mengalami penggumpalan darah, dan ini bisa menyebabkan lumpuh permanen, saya harus melakukan tindakan operasi," ujar sang dokter menjelaskan keadaan Marni dengan panjang lebar.


Bagai disambar petir saat hujan badai. Belum hilang rasa sakit yang Arumi rasakan karena Wito, sekarang karena pria itu juga Mirna harus seperti ini. Dan tentu saja Arumi yang harus memikirkan bagaimana kedepannya.


Arumi menunduk, meremas ujung bajunya. Dari mana dia akan mendapatkan biaya operasi yang tak mungkin sedikit, belum lagi proses penyembuhan yang pasti akan membutuhkan biaya dan waktu yang cukup lama.


Nurma, ibunya itu sudah tidak mungkin. Selama ini wanita itu tidak pernah aku dengan Marni yang notabennya mantan mertua.


"Lakukan yang terbaik untuk pasien, Dok."


Arumi sontak mengangkat wajahnya, menatap Max yang tersenyum padanya. Pak RT pun tak kalah terkejut, dia semakin penasaran dengan pria gagah yang belum pernah ia lihat sebelumnya.


"Baik, kalau begitu Anda bisa menyelesaikan masalah administrasi dulu."


"Baik,Dok. Terima kasih," jawab Max singkat.


"Sama-sama."


Mereka pun keluar dari ruang itu, Max bergegas pergi ke tempat administrasi. Arumi dan Bayu menemani Nenek mereka, orang yang selama ini selalu menyayangi mereka, Ibu dari Sutik ayah kandung Arumi dan Bayu. Sementara Musidin dan Pak RT sudah pamit pulang.


"Bagaimana keadaan Nenekmu?" Tanya Max yang baru saja masuk.


"Masih tidur Kak, mungkin efek obat pereda sakit," jawab Arumi sambil menatap lekat wajah renta yang terbaring lemah.

__ADS_1


Bayu pun sama, ia menatap Marni dengan sendu, tetapi tersimpan bara api yang menyala-nyala dalam remaja itu. Ia simpan rapat, hingga saatnya nanti dia bisa membalas dendam pada Wito.


__ADS_2