Mbak Jum Wo Ai Ni

Mbak Jum Wo Ai Ni
Bab 31


__ADS_3

Wito menampakkan senyuman palsunya, mendekat dan melingkarkan tangan di bahu Nurma.


'Ah ... Dasar sialan, kalau begini mana bisa aku bergerak bebas, tapi sudahlah bagaimanapun Nurma masih bisa menghasilkan uang untukku meskipun ga banyak.'


Selama ini Nurma memang selalu mengirim uang pada Wito dalam jumlah yang cukup banyak, padahal dia masih dalam masa potong gaji. Semua itu adalah hasil curiannya, perkejaan Nurma sebagai care take


"Jadi Mas nggak marah?" Tanya Nurma sekali lagi.


"Nggak dong, tadi aku cuma khawatir sama kamu Nur. Mas malah seneng kamu pulang, Mas kangen sama kamu Nur," ujar Wito sambil mencolek dagu wanita itu.


Mendengar ucapan Wito membuat Nurma tersenyum, ia sangat mencintai cinta pertamanya itu hingga buta dengan semua hal buruk yang pria itu lakukan. Bahkan dengan bodoh, Nurma akan mengiyakan permintaan dan perintah Wito.


Wito dan Nurma memang tinggal di satu kampung saat mereka kecil sampai akhir Nurma ikut ibunya karena orang tuanya bercerai. Waktu mempertemukan mereka lagi saat Nurma berkerja di pabrik, sedang Wito tukang ojek yang biasa mangkal di sekitar pabriknya.


Cinta lama mulai bersemi kembali di hati Nurma, setiap hari mendapatkan perhatian dari Wito. Termakan oleh madu dan manisnya janji pria bermulut buaya, Nurma jatuh ke pelukan Wito dengan mudah.


Wito mengiring Nurma ke kamar mereka, sudah lama ia tidak merasakan hangatnya ranjang bersama seorang wanita. Wito terpaksa tidak lagi mampir ke warung pangkon karena tidak punya cukup uang untuk jajan, dan tugas dari Karto yang harus dia selesaikan. Membuat Wito tak bisa berleha-leha seperti biasa.


Kini ada Nurma, lumayan lah daripada tidak ada tempat untuk membuang ******. Kedua manusia itu kini saling bertaut, menuntaskan hasrat yang cukup lama mereka tahan.


Asap rokok mengepul dari mulut tebal, laki-laki yang baru saja selesai menjamah istrinya itu kini duduk bersandar di ranjang dengan hanya memakai kolor saja.


"Mas, apa Arumi sudah ketemu?" Tanya Nurma yang baru masuk ke kamar, ia baru selesai membersihkan diri setelah bergumul dengan suaminya itu.


Wito mengangkat bahunya acuh, menyedot rokok dan kembali meniupkan asap dari mulutnya.


"Anakmu itu sudah jadi lont*, jadi peliharaan laki-laki kaya," jawab Wito.


Nurma terkejut, matanya membeliak lebar. Tangan yang menyisir rambutnya yang basah terhenti, menoleh menatap dengan mulut menganga pada sang suami. Wito hanya tersenyum miring, menyesap ujung batang rokok yang tinggal separuh.


"Anak preman jadi L*nte, cih anak dan bapak sama bobroknya," sahut Nurma sambil mengepalkan tangannya.


Wito bangkit dari ranjang, berjalan mendekat dan memeluk Nurma dari belakang. "Kamu tidak kaget Nur?"


"Hanya sedikit terkejut, aku kira dia akan menyelesaikan sekolahnya lebih dulu, ternyata dia sudah gatel duluan. Dasar anak nggak tahu diri. Munafik, dia sendiri yang merengek minta sekolah, eh .. belum lulus malah jual diri," Ujar wanita itu sambil memoles wajah dengan bedak padat.


Wito menyeringai puas, seperti diduganya Nurma tidak akan terlalu terpengaruh dengan kabar Arumi. Gadis itu adalah anak yang tidak disukai oleh Nurma, Wito tidak tahu alasannya yang pasti cara Nurma memperlakukan Arumi dan Bayu sangat berbeda.


Wito menyeringai Tipis, hampir tak kentara.

__ADS_1


"Nur, sebenarnya aku punya sedikit masalah," Wito berkata dengan wajah yang ia buat memelas, meletakkan dagunya di aty bahu Nurma yang terbuka.


"Masalah apa Mas?" Nurma mengerutkan keningnya, menatap serius pada pantulan bayangan sang suami di cermin.


"Aku butuh uang 50 juta."


"Li-lima puluh juta!" Pekik Nurma dengan wajah tegang, ia terkejut dengan nominal yang baru saja Wito ucapkan.


"Buat apa Mas?" Kali ini Nurma menoleh, menatap mata Wito.


Wito melepaskan pelukannya, ia berganti dan duduk di tepi ranjang dengan lesu.


"Aku pinjam uang di rentenir untuk investasi, tapi temanku malah kabur membawa semua uangku hasil pinjaman dan uang yang kamu kirim untukku." Wito menunduk, terlihat sangat putus asa, kedua tangannya terjulur lemas seperti tak bertulang.


"Ya ampun Mas!" Nurma memekik frustasi, ia bangkit dari kursi kayu dan menghampiri suaminya.


"Sekarang gimana? Aku nggak punya uang sebanyak itu! Uang asuransi juga sudah habis, kamu kenapa bisa nekat kayak gitu sih, pake acara pinjam ke rentenir,"cerocos Nurma kesal.


"Aku ingin membantumu Nur, biar kita bisa usaha lain. Aku pikir tidak ada salahnya untuk menanam modal dari uang pinjaman, toh hasilnya nanti bisa untuk membayar pinjaman itu."


Nurma ikut terduduk lesu di samping sang suami, Wito mendekat, membisikkan sesuatu di telinga Nurma. Mata wanita itu melebar, menoleh menatap Wito dengan tak percaya.


"Takut apa? Kita cuma pinjam, lagi pula itu kan hak anak mu , hak mu juga," ujar Wito berusaha menyakinkan Nurma.


.


.


.


.


.


.


Hari berganti sudah dua minggu berlalu sejak Marni di operasi, keadaan lansia itu sungguh tidak stabil. Namun, Arumi dan Bayu tak putus asa, mereka selalu berdoa untuk kesembuhan Nenek mereka. Terlebih dorongan semangat dari Max membuat mereka tidak berhenti berharap.


Malam begitu dingin, air langit bercumbu dengan tanah yang basah. Begitu deras, membelai bersama angin membuat dahan pohon saling bertabrakan. Menambah riuh suasana malam ini.

__ADS_1


Arumi tak dapat memejamkan mata, makan malam ini hatinya begitu gelisah. Mirna mengalami sesak nafas, dada wanita tua itu tiba-tiba naik turun, nafasnya tersengal dengan wajah yang berubah pucat. Bayu pun sama, ia duduk di sebelah kanan Mirna, menggenggam erat tangan pucat yang sudah termakan usia itu.


"Mbak! Nenek!" Pekik Bayu saat melihat dahi Mirna yang mengerut seperti menahan sakit.


Arumi yang tadinya tertunduk sontak mengangkat wajah, dan menoleh ke mana mata Bayu melihat. Mata Mirna terbuka nafasnya kembali tersengal, genggaman tangan tua itu semakin merasa menggenggam tangan Bayu.


"Nek, Nenek kenapa?!"


"Dokter!"


"Dokter!"


Arumi berteriak minta tolong, panik membuatnya lupa jika ada tombol darurat yang bisa ia tekan. Wajah Marni semakin pucat, dadanya membusung kemudian kembali turun seiring nafas yang berat, mata sayu itu mendelik membuat Arumi semakin takut. Bayu menangis, menggenggam tangan Marni yang semakin dingin, Arumi berlari keluar.


"Dokter!"


"Suster!"


"Tolong!"


Dokter dan perawat yang berjaga yang baru saja memeriksa pasien VIP lain langsung berjalan cepat ke arah Arumi, gadis itu tampak kalut, ia menangis sambil terus berteriak minta tolong.


"Ada apa Mbak?!"


"Suster tolong, tolong Nenek saya!" Pekik Arumi dengan suara serak dan sengau.


"Baik-baik, mari kita ke sana," ujar si perawat, Arumi mengangguk.


Ketiganya bergegas masuk, sang Dokter langsung berlari kecil menghampiri ranjang pasien. Di saat itu pula Marni menghembuskan nafas terakhirnya, Dokter itu berusaha bersikap profesional. Ia memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan dan meletakkan telunjuk dibawah lubang hidung Marni.


Bayu dan Marni menatap sang Dokter dengan penuh harap, pria muda itu menghela nafas berat.


"Nenek kalian baru saja meninggal dunia, saya turut berdukacita," ujar sang Dokter.


"Tidak! Dokter bohong kan, nenek saya masih hidup!" Tukas Bayu tak terima, sang dokter hanya diam. Ia paham bagaimana terpukul dengan kejadian ini.


Kehilangan seseorang yang kita sayangi bukanlah hal mudah. Meski pun kita sudah berusaha menyiapkan hati, tetap saja akan terasa sakit.


Sementara Arumi, gadis itu menjerit tanpa suara. Tubuhnya mungilnya jatuh merosot dilantai, pandangan kabur sebelum akhirnya gelap. Samar ia bisa mendengar suara Dokter dan suster yang memanggil namanya.

__ADS_1


__ADS_2