
Aku kan cuma nanya, nggak usah ngegas juka kali jawabnya."
Juminten mendengus kesal, ia melanjutkan langkahnya kembali. Wanita bertubuh mungil itu mengambil kantong kresek yang berisi martabak telur, kemudian bergegas masuk ke kamar.
Tangan Dylan terulur ingin mencegah. Namun, langkah Juminten lebih cepat, pintu kamar pun ia tutup dengan sedikit kasar.
"Hah ... sial, Kenapa di bawa masuk sih martabaknya,ck." Dylan menggaruk kepala dengan kedua tangannya.
Lambungnya mulai meronta mau di isi. Meskipun tidak suka dengan martabak telur, tetapi di saat seperti ini, ia bisa makan apa saja untuk mengisi perut. Sejak acara lamaran yang mendadak akad tadi dia memang belum mengisi perut dengan karbohidrat. Dia hanya meminum air putih saja.
Apalagi acara makan malam dengan Jessica pun gagal, alhasil Dylan pulang dengan perut kosong. Dia tidak sempat makan karena takut Mayleen akan semakin marah, kalau dia terlambat pulang.
Dengan langkah gontai, laki-laki berkulit putih itu berjalan ke ruang tengah, di atas meja hanya ada teko berisi air putih. Apa iya, Dylan harus mengisi perut dengan air lagi.
"Apa benar-benar tidak ada makanan di sini?"
Dylan menengok ke kanan-kiri, tatapannya tertuju pada lemari es yang berdiri kokoh di samping meja. Mata sipitnya berbinar, di dalam sana pasti ada banyak makanan. Dengan senang 45 ia pun membuka pintu lemari es itu. Pria itu berjongkok di depan lemari es yang terbuka, tangan
Dugaan Dylan salah, tidak ada makanan siap makan. Hanya ada sayuran dan beberapa potong ayam mentah. Lagi-lagi Dylan harus kecewa.
"Masak nggak ada sisa kue sama sekali sih, perasaan tadi ada banyak kue yang di suguhkan saat acara?"
Dylan tidak tahu kalau Juminten dan Ana sudah membagikan sisa kue pada tetangga mereka. Pemilik mata sipit nan tampan itu, menutup lemari es dengan perasaan dongkol. Rasa lapar ini sudah tak tertahankan lagi, ia pun beranjak ke dapur. mungkin dia bisa menemukan sesuatu yang bisa di makan.
Setelah memeriksa beberapa panci kosong dengan hasil zonk. Dylan menemukan harta karun saat membuka tutup panci yang ada di meja, air liurnya hampir menetes saking pinginnya.
"Ngapain sih dia, rame banget." Juminten yang merasa terganggu dengan suara ramai dari arah dapur.
Gadis itu mengikat rambutnya asal, ia mengayunkan langkah cepat kearah dapur. Matanya terbelalak saat melihat sosok pria bertubuh tegap, yang nangkring diatas kursi dapur. Tangan pria itu tampak sibuk dengan garpu.
"Kamu ngapain?!"
Dylan terkejut, mendengar suara Juminten yang memekik keras, satu cilok tak berhasil tertelan dengan baik olehnya. Melihat itu, Juminten segera menghampiri Dylan dan menepuk-nepuk punggung pria itu.
__ADS_1
"Uhuk ...!" Cilok itu akhirnya bisa keluar dari tenggorokan Dylan.
"Makanya kalau mau makan apa-apa tuh izin dulu sama yang punya," sindir Juminten. Ia beranjak dari sisi Dylan mengambil segelas air kemudian memberikannya pada sang suami.
Dylan segera menenggak habis air yang di berikan Juminten.
"Astaghfirullah ... kamu tuh doyan apa lapar sih. Cilok sepanci penuh, hanya tinggal segini!" Juminten melihat cilok yang ia buat tadi, sekarang hanya tinggal separuhnya saja.
"Pelit banget sih, nanti aku bayar," ketus Dylan.
"Bukan masalah bayar atau nggaknya Tuan Muda. Ini tuh udah pesanan orang, kalau kayak gini gimana coba. Mana udah malem gini, kemana aku beli bahan buat bikinnya!" keluh Juminten dengan frustasi.
Setelah selesai membuat cilok, Juminten membuat promosi di sosial media. Dan seperti biasa, cilok buatan Juminten selalu laris manis. Bahkan ada pesanan 40 porsi untuk acara reuni, tetapi sekarang cilok buatannya tidak bisa memenuhi kuota pesanan yang di terimanya.
"Ya aku lapar tau, salah sendiri nggak ada makanan. Aku makan ini deh," ucap Dylan tanpa rasa bersalah.
Juminten menatap tajam pada pria yang ada di sampingnya. Sedangkan yang di lihat hanya nyengir, memarkan jajaran giginya yang putih.
"Kau masih lapar?" tanya Juminten, kali ini dengan nada yang lebih lembut.
"Ya kalau ada makanan sih, mau makan lagi. Nggak kenyang makan ini," jawab Dylan dengan penuh harap.
Tak ada kata yang keluar dari mulut mungil Juminten, wanita itu kembali ke ruang tengah mengambil beberapa bahan makanan dari lemari pendingin, kemudian kembali ke dapur. Dengan cekatan Juminten mulai mencuci dan mengolah bahan yang ia bawa. Mata Dylan hanya mengekor kemana Juminten menggerakkan tubuhnya.
Untuk pertama kalinya, Dylan benar-benar memperhatikan Juminten. Wanita itu cukup cantik meskipun tanpa polesan make up. Dia sederhana, hanya memakai daster rumahan dan rambut yang ia ikat asal, beberapa anak rambut ia biarkan terurai membingkai wajahnya.
Rambutnya bergerak mengayun anggun, seiring tubuh Juminten bergerak. Dylan menopang dagu dengan tangan. Menikmati keindahan ciptaan Tuhan yang indah dengan segala kesederhanaannya.
"Kamu bisa makan pedes nggak?" tanya Juminten tanpa menoleh.
Merasa tidak ada jawaban, Juminten menoleh, alisnya bertaut mendapati Dylan yang sedang duduk melamun.
"Hoi ... ditanya malah melamun. Kamu bisa makan pedes nggak?!" tanya Juminten lagi, kali ini dengan suara yang sedikit lebih keras.
__ADS_1
"Eh .. bi-bisa," jawab Dylan gelagapan.
"Ok." Juminten pun melanjutkan memasak lagi.
Sementara Dylan meruntuki diri karena melamun melihat Juminten.
"Sadar Dy, dia hanya Juminten. Ngapain kamu liatin dia sampe kayak gitu, memalukan," gumam Dylan pelan.
Setelah lima belas menit berkutat dengan wajah, Juminten membawa dua mangkuk mie yang ia buat dengan bahan seadanya di kulkas. Juminten meletakkan semangkuk mie kuah, di hadapan Dylan.
Aroma harum yang membuat liur Dylan menetes, menguar memenuhi indra penciuman pria sipit itu.
"Apa ini?" tanya Dylan basa-basi.
Juminten tidak menjawab, mulut wanita itu sudah penuh dengan mie dan sawi yang baru saja masuk dalam mulutnya.
"Mie," jawab Juminten singkat, sebelum lanjut mengunyah.
Dylan pun mulai mengambil sedikit kuah, menyesap pelan kuah bening yang penuh dengan rasa. Pupil mata Dylan melebar, dengan penuh semangat ia segera memasukkan mie itu kedalam mulutnya.
Sesekali Dylan mencuri pandang pada Juminten, entahlah dia merasa Juminten memilih sesuatu yang membuatnya ingin terus melihat wajah polos itu.
Gadis manis, sederhana, juga pintar memasak. Tanpa sadar, senyum Dylan mengembang.
Juminten yang melihat Dylan senyum-senyum sendiri pun merasa aneh.
"Kalau sudah selesai, cuci mangkok sendiri ya. Aku mai istirahat." Juminten bangkit dari duduknya, setelah selesai makan.
"Kau menyuruhku mencuci piring?!"
"Iya, masak mau makan doang. Oh ... satu lagi jangan lupa bayar cilok yang kau makan, dan antar aku ke pasar besok jam 5 pagi. Sebagai hukuman sudah jadi maling cilokku."
"Sial kau, aku bukan maling cilok!"
__ADS_1