
Malam yang cukup panjang bagi pengantin yang masih terhitung baru itu, baru tiga bulan mereka mengarungi bahtera rumah tangga.
Juminten masih meringkuk dalam selimut, sementara suaminya sudah rapi dan siap untuk pergi bekerja.
"kamu nggak bangun?" tanya Dylan sambil merapikan dasinya, pria itu menatap gumpalan selimut yang berisi wanita tanpa baju.
"Ehm ... males, masih ngantuk," jawab Juminten lirih dengan suara serak.
"Terserahlah, aku kerja dulu! jangan lupa mandi," ujar Dylan sambil melangkah keluar dari kamar.
"Iya! bawel," sahut Juminten kesal.
Setelah Dylan keluar dari kamar Juminten berusaha mengumpulkan kesadarannya. Ia tidak bisa lagi tidur setelah pergi, padahal dia masih sangat tidur. Tetapi percuma karena tidak ada lagi Dylan di sana.
Wanita itu bangkit, perlahan ia menurunkan satu persatu kakinya yang polos, tak hanya kaki. Tubuh Juminten juga polos tanpa benang, ia biarkan selimut yang menutupi tubuh polosnya melorot begitu saja.
Ia berjalan dengan gontai ke kamar mandi, meskipun sangat malas rasanya untuk mandi. Tetapi rasa lengket setelah berada peluh bersama sang suami, membuat Juminten merasa tidak nyaman.
"Mbak, apa bener ya berita soal perusahaan Dylan?" tanya Juminten sebelum menyuap lontong balap ke mulutnya.
Tangan Nurul yang tadinya mengelap meja terhenti, ia menoleh pada majikan mudanya yang sedang menikmati sarapan kesiangan itu.
"Sepertinya sih bener Non, soalnya kemarin saya nggak sengaja denger Tuan Muda waktu teleponan. Tuan marah-marah sama orang di teleponnya, katanya Tuan rugi besar gara-gara orang itu. Yang saya dengar sih begitu Non," jawab Nurul panjang lebar.
Juminten manggut-manggut mendengar jawaban Nurul. Ia pun kembali menikmati lontong balapnya. Nurul melihat Nona mudanya dengan heran, tak ada sedikitpun raut khawatir di wajah cantiknya setelah mendengar jawabannya.
"Kenapa Mba Nurul lihat saya kayak gitu?"
"Eh, enggak Non. Saya cuma mau tanya, siang nanti mau di masakin apa?" kilah Nurul cepat.
Juminten hanya tersenyum, ia meletakkan sendoknya di atas piring yang telah kosong. Wanita itu bangkit dan berjalan kearah Nurul.
"Nggak usah Bu, sebentar lagi saya mau keluar. Mungkin pulangnya agak sore jadi nanti siang nggak makan di rumah," jawab Juminten sambil berjalan melewati Nurul.
__ADS_1
"Lha Nyonya mau kemana?"
"Ketemu temen, Mbak. Ya sudah saya mau siap-siap dulu."
Nurul menatap punggung Juminten yang sedang menaiki tangga, meskipun tidak terlihat cemas. Tapi wanita itu terlihat berbeda, seperti sedang memikirkan sesuatu. Nurul yang bertugas sebagai mata-mata Mayleen, segera melaporkan suasana rumah itu saat ini.
Birunya langit sudah hampir tertelan sempurna oleh kegelapan, Dylan baru saja sampai dan memarkir mobilnya dalam garasi. Pria bermata sipit itu baru saja turun dari mobil, saat sang istri masuk saat Juminten datang.
"Dari mana kamu?!" tanya Dylan dengan ketus.
"Dari ketemuan sama temen," jawab Juminten santai, ia melenggang begitu saja.
Dylan yang merasa geram menarik tangan Juminten Juminten dengan kuat, hingga wanita itu berbalik dan berhadapan dengannya.
"Ingat, kamu masih istriku kamu mau kemana, ketemu siapa sama, harus ada izin dariku, paham!" Dylan berkata dengan suara yang ditinggikan.
Juminten menatap bingung pada wajah lelah lelakinya, ia mengambil nafas dalam kemudian menghembuskan perlahan. Mencoba untuk tidak ikut emosi.
"Aku sudah mengirimkan pesan singkat padamu tadi pagi, apa kau tidak membacanya?"
"Coba cek dulu ponselmu. Ayo masuk, kamu pasti capek kan. Aku bikini kopi ya." Juminten meraih tangan Dylan, kemudian menariknya pelan.
Dylan pun menurut, mengikuti langkah sang istri.
"Duduklah. Aku akan ke dapur sebentar." Dylan mengangguk, ia mendaratkan bokong di sofa ruang tamu.
Juminten membawa kopi yang baru saja selesai ia buat, berharap minuman hitam itu bisa sedikit membuat Dylan merasa lebih baik. Ia tahu suaminya itu pasti lelah, setelah seharian bekerja.
"Ini kopi mu, aku mau mandi dulu. Gerah soalnya, nggak apa-apa kan aku tinggal?" Juminten meletakkan secangkir kopi yang masih mengepul diatas meja.
"Tumben ada niat mandi sendiri, udah sembuh kamu?" tanya Dylan balik dengan nada menyindir.
Bibir Juminten mengerucut, mendengar sindiran pedas dari pria sipit itu. Wanita mungil itu pun pergi menjauh dengan langkah yang sengaja di hentakan.
__ADS_1
"Cumi, aku baru buka ponsel. Maaf aku nggak baca pesan kamu, seharian ini aku mode silent soalnya!" seru Dylan pada sang istri yang belum melangkah jauh.
"Hem, nggak apa-apa." Juminten melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.
\*\*\*\*\*
Pagi kembali menyapa, waktunya untuk kembali beraktifitas. Juminten kembali berkutat di dapur, setelah melawan hawa malas dengan penuh perjuangan.
Dylan menarik satu kursi lalu mengenyakkan bokongnya. Dua alisnya menyatu melihat makanan yang tersaji dihadapannya.
"Cumi, apa nggak ada yang lain?" tanyanya pada sang istri yang baru saja datang dari dapur membawa sayur sop yang masih mengepul.
"Kenapa? ini enak kok. Masaknya mudah nggak pake lama," jawab Juminten sambil menyendokkan nasi putih untuk sang suami.
Dylan hanya bisa mendesah panjang, sudah sejak tiga hari yang lalu. Juminten hanya menyajikan tempe dan tahu goreng, hanya sayur beningnya saja yang berbeda. Bukannya Dylan tidak mau, tapi tidak harus tiap hari juga kan.
"Kalau kamu memang nggak mau masak, suruh saja si Nurul masuk kerja di sini lagi." Dylan menerima piring yang disodorkan Juminten, piring yang sudah berisikan nasi berserta teman-temannya.
Juminten dia tak menanggapi ucapan suaminya. Memang sejak ia bertemu dengan temannya di hari itu, Juminten memutuskan untuk memberhentikan Nurul untuk sementara. Biarlah dia yang melakukan pekerjaan rumah seperti dulu.
"Udah cepat habiskan makananmu, nanti telat kerjanya."
Setelah menyelesaikan sarapannya, Dylan segera bergegas pergi ke kantor karena ada pertemuan dengan klien penting pagi ini. Juminten pun bersiap pergi, menggunakan motor matik kado pernikahan dari sang mertua.
Tak ada lagi sopir atau asisten rumah tangga, rumah besar itu kembali hanya ada Dylan dan Juminten.
Tak perlu waktu lama bagi Juminten untuk sampai di tempat yang ia tuju, setelah memarkirkan motornya di area khusus. Wanita yang memakai celana jeans dan kaos berkerah warna merah itu berjalan cepat memasuki sebuah bangunan.
"Maaf ya, aku nunggu suamiku pergi kerja dulu soalnya," ucapnya pada seorang pria, yang tak lain adalah Heru.
"Nggak apa-apa, kamu nggak telat kok, cuma pas aja. Hehehehe ... masuk yuk." Juminten mengangguk kecil, ia mengikuti langkah Heru yang sudah mendahuluinya.
Mereka berhenti, kemudian sebuah ruangan yang cukup luas.
__ADS_1
"Gimana kamu suka di sini?" tanya Heru sambil tersenyum manis khas dirinya.
"Suka banget, makasih ya."