
"Jum, sini deh." Tangan Mayleen melambai pada menantu kesayangannya itu.
"Apa Ma?" Juminten mendekat kemudian duduk di samping Mayleen.
"Mama baru beli minyak wangi baru, kamu cobain." Mayleen mengeluarkan sebotol parfum berbentuk bulat.
Mayleen menyemprotkan cairan wangi itu di leher dan pergelangan tangan Juminten.
"Wanginya lembut ya Ma, Jum suka," ucapnya sambil mengendus pergelangan tangannya.
"Kalau kamu suka, buat kamu aja." Mayleen meletakkan botol bulat pipih itu di tangan Juminten.
Juminten menggeleng." Ini pasti malah Ma, nggak usah," tolak Juminten, mendorong kembali botol itu ke tangan Mayleen.
"Mama malah senang kok, pokoknya ini buat kamu. Tapi satu pesan Mama, parfum ini cuma kamu pake kalau lagi sama suami kamu ya, inget pesen Mama ini." Mayleen mendorong botol itu pada Juminten, untungnya hanya botol kalau orang mungkin sudah sesak di dorong-dorong.
"Tapi Ma -"
"Udah, no tapi. Ini pokoknya buat kamu, tapi janji jangan pake ini kalau nggak sama Dylan!" ujar Mayleen dengan wajah tegas.
"Baiklah Ma." Juminten mengangguk dengan senyum manis, sebenarnya dia sangat suka dengan parfum itu. Hanya saja dia sungkan untuk menerima, karena harga minyak wangi itu pasti nggak kaleng-kaleng.
"Ya sudah, Mama pamit pulang dulu." Mayleen bangkit dari sofa empuk yang ia duduki.
"Lho Mama nggak jadi nginep?"
"Nggak, Mama lupa kalau besok jadwal Arisan Mama. Nurul Mama pinjem ya, buat bantuin acara arisan Mama besok."
"Iya Ma," sahut Juminten cepat.
Juminten pun kembali masuk, setelah mengantarkan Mertua dan asisten rumah tangganya. Wanita dengan rambut panjang yang terikat kebelakang itu, bersenandung kecil mengambil segelas susu di dapur kemudian mengantarnya ke kamar Dylan.
Dylan yang sedang duduk bersila di sofa, dengan laptop yang ada dipangkuanya, menoleh saat mendengar suara derit pintu yang terbuka.
"Mau apa?" tanya Dylan dengan tatapan yang kembali lurus ke layar laptop.
__ADS_1
"Mau duit," jawab Juminten asal, wanita itu melangkah mendekat pada sang suami.
"Nggak ada duit cas, ke ATM aja."
Juminten mengenyakkan bokongnya di sebelah Dylan. Aroma harum menggelitik hidung Dylan, saat Juminten mencondongkan tubuh kearahnya.
"Lagi ngerjain apa sih?" tanya Juminten kepo, tanpa sadar ia mendesakkan dirinya pada sang suami, karena ingin melihat laptop Dylan.
Pria sipit itu memejamkan matanya, menikmati keharuman yang begitu membuainya.
"Dy, ini apa sih? Lagi belajar matematika yak." Juminten kembali menarik dirinya menjauh, dia memang tidak memanggil Mas saat mereka sedang berdua.
Dylan pun mengikuti kemana Juminten bergerak. Seolah tidak ingin kehilangan wangi yang begitu memikatnya.
"Eh, mau apa kamu?" Juminten mendorong tubuh Dylan menjauh.
"Nggak mau apa-apa, cuma capek aja pengen nyender," jawab Dylan sekenanya, saat ketahuan hampir mencium leher Juminten.
"Nih, minum susu biar nggak capek. Abis itu istirahat, aku mau ke kamar dulu. Nurul ikut ke rumah Mama, jadi aku bebas. Nggak harus tidur di sofa ini lagi," ucap Juminten dengan wajah berbinar.
Dylan menerima segelas susu yang dilangsungkan sang istri, dan menenggak habis.
Deg.
Ada gelayar aneh yang Juminten rasakan, sesuatu yang berbeda hingga membuatnya menelan ludah.
"Iy-Iya. Aku pergi dulu." Juminten segera bangkit dan berjalan cepat keluar dari kamar Dylan.
Dylan menatap punggung Juminten, sampai wanita itu menghilang di balik pintu. Wanita itu berbeda malam ini, ada sesuatu yang membuat Dylan ini dekat dengannya.
"Haduh, apa itu tadi?" Juminten memegangi dada. Jantungnya berdegup cepat, seolah ingin melompat dari tempatnya.
Padahal selama ini Juminten biasa saja, meskipun dia di cubit, di tepuk, di anu. Tak ada rasa aneh yang Juminten rasakan, kenapa malam ini begitu berbeda?
Juminten mendongakkan kepalanya, tubuh wanita itu menyender pada pintu kamar Dylan yang baru ia tutup.
__ADS_1
"Sadar Jum sadar!" Juminten menepuk-nepuk pipinya sendiri, saat sekelebatan angan adegan mesra terlintas di benaknya.
Juminten bergegas pergi ke dapur. Mengambil sebotol air dingin dalam kulkas, untuk mendinginkan diri.
"Waduh, udah mulai nih." Juminten mengusap bibir dengan punggung tangannya.
Drama Korea favoritnya sudah akan tayang, sebuah kisah fiksi romantis seekor putri duyung dan manusia ganteng.
Juminten mengenyakkan bokongnya di sofa ruang tengah, duduk bersila dengan sekantong kripik singkong. Layar datar berukuran 75 inch itu, mulai menayangkan drama yang Juminten tunggu-tunggu.
Tapi ada sesuatu yang tidak beres, malam ini terasa panas untuk Juminten. Berkali kali ia menelan saliva, wanita itu merasa gelisah. Nafasnya terasa berat dan memburu, ia sampai tidak fokus pada drama yang ia lihat.
Sama halnya dengan Juminten. Tubuh Dylan terbakar, laki-laki bermata sipit itu sampai harus menguyur tubuhnya di bawah air dingin. Matanya memerah dan terlihat sayu, seperti orang mabuk.
"Ini tidak berhasil," gumam Dylan dengan nafas yang tersengal-sengal.
Dylan mematikan shower, meraih handuk. kemudian melangkah keluar, dengan hanya memakai celana pendek ia pergi ke dapur. Berharap bisa sedikit mendinginkan tubuhnya dengan air dingin.
Langkah Dylan terhenti, saat mendengar suara televisi yang masih menyala. Ia pun memutar langkah ke ruang tengah.
Ada getaran aneh saya dua pasang mata yang sayu saling beradu, seperti gelombang elektromagnetik yang saling tarik menarik. Dylan melangkah pelan dan pasti kepada Juminten, begitu pula Juminten wanita itu bangkit dari duduknya, berjalan perlahan kearah sang suami ia tak perduli dengan nasib keripik singkong yang jatuh berceceran di lantai.
Kini keduanya hanya berjarak sejengkal. Dylan sedikit menunduk, menatap Juminten yang terlihat sangat menggoda dengan memakai daster rumahan tanpa lengan. Juminten pun tak kalah terhipnotis dengan roti sobek rasa anu yang tersaji di hadapannya.
Tanpa kata, tangan Dylan dengan lembut menyusup diantara leher sang istri. Juminten mendesis saat tangan dingin nan lembut itu menyentuh kulitnya.
"Dy- Emch."
Dylan mendaratkan sebuah ciuman, di belahan kenyal yang sedari tadi menggodanya. Ciuman Dylan semakin dalam, seiring desakan pisang ambon miliknya. Juminten pun memejamkan matanya, menikmati ciuman pertama mereka.
Tangan Dylan tak tinggal diam, dengan berani ia mulai menjelajah bukit dan lembah. Juminten tak kuasa menolak, bahkan tangan kecilnya mulai nakal membelai roti sobek milik Dylan.
"Di sini saja ya?" Dylan menyatukan kening mereka, setelah melepas pagutan bibirnya.
Juminten mengangguk, nafas keduanya semakin memburu. Dylan mengangkat tubuh Juminten dan membaringkan di sofa, ia kembali ******* bibir tipis sang istri. Dan dengan satu tarikan melepaskan daster yang dipakai Juminten.
__ADS_1
"Sa-sakit," Juminten menatap sayu pada Dylan yang baru saja menjebol gawang miliknya.
"Tahan ya." Juminten mengangguk kecil. Mengigit bibir bawahnya, menahan sensasi perih dan nikmat yang teramat mereka nikmati.