
Juminten mengigit bibir bawahnya cemas, sesekali ia mengusap perutnya yang masih rata. Firasat Dylan benar, Juminten hamil. Umur kandungannya baru menginjak empat minggu.
"Bagaimana ini bagaimana aku harus menjelaskannya pada anak-anak?" gumamnya lirih.
Antara cemas dan malu, cemas kalau anak-anaknya yang sudah besar dan remaja itu tidak mau menerima keadaan adik yang umurnya akan terlampau sangat jauh dengan mereka. Mungkin saja mereka akan malu sudah besar tapi masih mempunyai adik bayi.
Juminten menghela nafasnya panjang. Mata lentik wanita paruh baya itu menatap jauh. Sebenarnya Juminten masih muda, ia mengandung anak-anaknya di usia dua puluh satu tahun. Hanya saja kehamilan di usianya yang hampir menginjak kepala empat mempunyai risiko tersendiri, bagi ibu maupun bayinya.
"Ai kenapa melamun?" Tegur seorang laki-laki yang sangat Juminten kenal wanita itu pun menoleh mengulas senyum kaku pada sang suami.
Dylan tahu apa yang sedang istri cantiknya itu khawatirkan. Namun, menurut Dylan Juminten terlalu berlebihan. Anak-anak mereka sangat baik, dan mempunyai pribadi yang baik pula. Dylan yakin mereka akan bisa menerima kehamilan Juminten dengan suka cita.
"Ngapain ngelamun kayak gitu sih Ai? udah nggak usah dipikirin toh kamu hamil juga ada suaminya, " ujar Dylan merasa bersalah sedikitpun.
Juminten mendengus kesal, ia melangkah mendahului sang suami.
"Yang nggak tahu aku punya suami itu sapa," ketus Juminten sambil menambah kecepatan langkahnya.
"Lha terus?" Tanya sang suami yang mengekor di belakangnya, sambil menenteng plastik kecil, yang berisikan vitamin untuk Juminten dan pereda mual untuk Dylan.
"Aku tuh bingung Kanda, malu sama anak-anak. Aku bingung gimana ngomongnya, ngejelasin ke mereka."
Dylan mendahului langkah sang istri, kemudian berhenti tepat di depannya. Juminten pun menghentikan langkah karena dihalangi Dylan.
"Ya tinggal ngomong aja kok repot Ai!"
"Astaga, kalau nggak cinta udah aku timbuk pakai kunci inggris lho kamu beneran," tutur Juminten sang sudah sangat gemas paga suami sipitnya itu.
"Ya jangan dong Ai, Nanti ilang dong gantengnya nanti kamu punya yang unyu-unyu lagi," sahut Dylan cepat.
Juminten memutar bola matanya jengah. " Dah yuk pulang panas."
"Siap ratuku." Dylan merangkul pundak sang istri.
"Ai pengen makan apa? Sekalian kita beli nanti di jalan," ujar Dylan sambil mengecup mesra pucuk rambut sang istri.
Mereka berdua berjalan bersisian dengan mesra, tangan Dylan tak pernah lepas dari sang istri. Entah itu merangkul pundak atau mengandeng tangannya, membuat siapa saja akan iri melihat kemesraan mereka.
"Aku, apa Kanda yang pengen?" Tanya Juminten balik, yang hanya di jawab dengan cengiran oleh Dylan.
__ADS_1
Sepertinya kehamilan kali ini tak akan jauh berbeda dengan saat Juminten hamil kembar tiga kemarin. Dylan akan mengalami morning sickness dan pria sipit itu juga yang merasakan ngidam.
"Bakso gledek sama rujak yang super pedes enak kali ya Ai," ujar Dylan sambil membayangkan kedua kuliner itu.
"Ingat lambung, udah tua, Nggak usah yang pedes-pedes," ujar Juminten sambil masuk ke mobil yang pintunya sudah di buka oleh sang suami.
"Enggak apa-apa kan Ai, sekali ini aja," tutur Dylan memelas dengan tangan yang ia takupkan di dada.
Juminten menghela nafas panjang, kemudian mengangguk kecil. Dylan melonjak kegirangan setelah mendapatkan persetujuan dari sang istri.
Kuda besi beroda empat itupun mulai melaju meninggalkan pelataran parkir rumah sakit. Membawa kedua penumpangnya, ke tempat di yang mereka inginkan.
Sementara itu di rumah besar Li. Michi sang gadis dari kembar tiga itu sedang duduk melamun di kamarnya. Ia memikirkan Tuan Erick, orang yang sangat mirip dengan Papi Michi.
'Sebenarnya apa tujuan Tuan Erick itu, ingin bertemu dengan Papi? begitu penasaran kah dia dengan Pap? atau ada masalah yang di belakang itu?'
Seribu pertanyaan berkutat dalam otak Michi.
Duor!
"Copot ...copot ...!" Michi sontak terkejut saat sepasang tangan mendorongnya dari belakang.
"Sewot amat, Lo ngelamun apa sih sampe nggak fokus kayak gitu. Gue tuh nyelametin Lo tau nggak, nggak terima kasih malah di ketusin," sahut Matthew sengaja menggoda.
"Nyelamatin pala Lo peyang, nyelametin nyelameti dari apa tokek!"
"Pintu kamar Lo kebuka kayak gitu, nggak takut apa ada maling masuk nanti diterkam baru nyahok Lo," ujar Matthew sambil menunjuk pintu kamar Michi yang terbuka lebar, sejurus kemudian ia meraih setoples permen coklat yang ada di meja Michi.
Michi melirik pintu kamar sekilas, dengan malas. " Sengaja kok, sapa tau ada duda nyasar.
"Gila Lo banyak perjaka, ngapain cari yang duda."
"Lo nggak tahu sih duda tuh, lebih matang, lebih mantap, lebih menggoda, pokoknya paket komplit!"
Matthew menggelengkan kepalanya, mendengar jawaban sang kakak lima menit yang begitu menggebu. Entahlah, sejak dulu Kakaknya itu memang suka pada laki-laki yang lebih tua.
"Terserah Lo deh Chi. Tapi ngomong-ngomong, ngapain Lo ngelamun sampai nggak denger aku masuk. Kayaknya berat banget masalah Lo, apa seberat lemak paha Lo, Chi?" Tanya Matthew sambil mengunyah permen milik Michi.
"Ngomong apa Lo barusan? Mau ini." Michi mengepalkan tangan dan mengarahkannya pada Matthew, pria dengan mulut penuh coklat itu menyengir sambil mengacungkan telunjuk dan jari tengah tanda damai.
__ADS_1
"Gue tadi ketemu sama orang yang mirip sama Papi, yang gue ceritain kemarin itu," ucap Michi memulai cerita.
"Terus, lu nyangka itu Papi lagi?" Tanya Matthew dengan santai.
"Enggak, kan gue udah tahu Papi sakit."
"Lah terus?"
"Dia nyamperin gue, dia tanya emang dia sama papi beneran mirip banget. Gue jawab iya, kan emang mereka mirip. Malah kayak pinang dibelah kapal, cuma beda arah sisiran rambut doang." Matthew manggut-manggut mendengar cerita Michi, dengan seksama.
"Apa dia bilang alasannya kenapa pengen ketemu sama Papi?" Tanya Matthew yang di jawab gelengan pelan oleh Michi.
Matthew diam sejenak, mencoba mencerna apa yang baru saja di katakan oleh Michi. Tentu saja dengan mulut yang berhenti mengunyah.
"Pengen ngajak Papi ikut reality show kali dia," celetuk Matthew tiba-tiba.
"Ah masa, tapi kayaknya nggak deh Mat."
"Siapa tahu," sahut Matthew sambil mengangkat bahunya.
"Dia maksa banget pengen ketemu Papi, tapi gue bilang Papi lagi sakit, jadi gue bilang mau ngomong dulu sama Papi dan Mami. Apalagi aku juga nggak kenal dia kan, meskipun dia ngaku kalau dia tuh bapaknya Miss Lee guru baru gue. Tuh, dia nelpon gue, sampe sepuluh kali, nggak gue angkat," ucap Michi sambil melirik ponsel yang ia atur Mode silent.
"Gila niat bener tuh orang, ntar coba deh tanyain sama Mami,atau ...."
"Atau apa?"
"Kita tanya Max," usul Matthew.
"Bener kita tanya Kak Max aja, gimana enak. Otak dia kan encer nggak sengkle kayak kita."
"Ye, kita Elo aja kali, Chi. Kebanyakan duda."
"Mending kebanyakan duda, dari pada otaknya Jomblo. Sad doang isinya," Sindir Michi tak mau kalah.
"Awas Lo, Chi!" Seru Matthew pada Michi yang telah lari menjauh.
"Mat Jomblo!" Pekik Michi sambil tergelak.
Sebenarnya Matthew sempat marah dan tidak suka namanya di panggil Mat saja. Bisa di kira Mamat, Somat, jika orang lain mendengar, padahal namanya begitu keren, Matthew. Tetapi dasar Michi, mau Matthew marah sampe kayang juga dia tidak akan mengganti panggilan untuk adik kesayangannya itu.
__ADS_1