Mbak Jum Wo Ai Ni

Mbak Jum Wo Ai Ni
Sendiri


__ADS_3

Juminten menghempaskan tubuhnya, di atas kasur kapuk yang sudah tak lagi empuk. Setelah selesai mandi dan membersihkan semua makeup yang melekat di wajah, Juminten menemui Mirna lagi. Berharap sang Ibu mau memberi Jawa atas pertanyaannya. Namun, Mirna tetap diam, ia hanya menatap Juminten dengan mata yang berlinang air mata. Merasa tidak tega, Juminten memutuskan untuk tidak lagi mendesak Mirna.


"Ya Allah, apa sebetulnya rencana -Mu?" Juminten membalikkan tubuhnya, terlentang dengan tangan terbuka.


Masalah seolah tiada henti, masuk ke dalam hidupnya. Belum selesai masalah Dimas, dia harus menghadapi perjanjian pernikahan yang begitu rumit, sekarang dia harus memikirkan siapa pemilik nama yang menjadi nasabnya.


Otak Juminten serasa mau meledak memikirkan semua ini. Wanita cantik itu meraih satu bantal lalu memeluknya. Penat, hanya itu yang ia rasakan sekarang. Perlahan mata Juminten mulai terpejam, seiring kantuk yang membelai mata lentiknya.


Mata Juminten mendadak terbuka, mendengar suara derit pintu yang didorong dari luar.


"Kamar mandi kamu rendah banget sih atapnya! bikin orang sakit," gerutu Dylan sambil menggosok-gosok keningnya yang merah, karena kepentok bilah-bilah bambu yang menjadi penahan genting.


Saat mandi Dylan harus beberapa kali kepentok, karena tinggi tubuhnya yabg tidak sepadan dengan atap kamar mandi. Apalagi saat akan keluar dia kejedot tembok yang ada diatas pintu kamar mandi, ia lupa merunduk saat akan keluar.


"Kau! apa yang kau lakukan disini?!" Juminten langsung bangkit dari rebahan, ia terkejut melihat Dylan yang masuk begitu saja ke dalam kamarnya.


Dylan mengerutkan keningnya, ia menatap Juminten dengan heran.


"Apa yang aku lakukan di sini? masih nanya. Terus kalau nggak di sini aku dimana? di dapur? atau ruang tamu?"


"Mau kemana, itu terserah kamu, yang penting nggak di sini!" usir Juminten.


Dylan melangkah mendekati Juminten. Juminten mengeratkan pelukannya pada bantal, ia menelan saliva dengan kasar.


"Ka-kau mau apa?" tanyanya dengan gugup.


Dylan menyeringai, ia terus mendekat. Kini jarak mereka hanya sejengkal saja. Juminten bahkan bisa merasakan hembusan nafas Dylan.


"Kita kan pengantin baru, mau apa sudah pasti kau mengerti kan," jawab Dylan lembut namun penuh penekanan.

__ADS_1


Mata Juminten membulat sempurna, dengan susah payahnya ia menelan saliva yang terasa lebih keras dari kerupuk yang kurang matang, bikin keseret.


"Nggak usah aneh-aneh ya, kita cuma nikah kontrak!" bentak Juminten, menutupi kegugupannya. Apalagi jantung Juminten yang sudah mau melompat keluar, saking kerasnya berdetak.


"Nikah kontrak, tapi tetap sah kan."


Wajah Juminten pias, benar apa yang dikatakan Dylan. Mereka menikah di hadapan penghulu dan para saksi, hanya tinggal ke KUA dan mengurus buku nikah maka mereka sudah sah secara hukum dan agama.


"Hahaha ...! kau pikir aku mau apa, lihat wajahmu," Dylan tertawa terbahak-bahak melihat Juminten yang seperti orang ketakutan itu.


"Aku cuma mau ngambil ini, dasar Cumi." Dylan menegakkan kembali tubuhnya, sambil melambaikan kaos dan celana pendek yang ia ambil dari belakang Juminten.


"He ...he ..he ...,"Juminten tertawa dengan kaku.


"Aku mau keluar, nggak usah nunggu aku pulang. Aku akan kembali besok pagi," pamit Dylan, pria itu kemudian keluar dari kamar tanpa menunggu jawaban dari sang istri.


Juminten hanya bisa menghela nafas, menatap kepergian Dylan dibalik pintu. Ini malam pertama mereka, tetapi ia sudah ditinggal sendirian oleh sang suami.


"Malam pertama, apa yang aku harapkan? Baguslah dia pergi, di sini juga tidak ada kamar untuk dia tidur, dia juga pasti nggak betah tinggal di rumah sederhana seperti ini," gumam Juminten sambil menatap genteng kamarnya.


Sebenarnya ada kamar kosong milik Dimas. Namun, tidak ada kasur untuk tidur, Juminten sudah membuang kasur itu karena dimakan tikus.


Juminten bangun, ia berjalan mendekati jendela. Letak kamar yang ada dibagian depan memudahkannya untuk melihat kearah teras. Suara deru mobil terdengar, mobil merah itu mulai berjalan meninggalkan rumah Juminten membawa pemiliknya pergi.


Gadis cantik yang mempunyai tahi lalat itu, menyandarkan tubuhnya di samping jendela. Pernikahan adalah impian bagi semua orang, menjalin hubungan yang suci dengan orang yang dicintai dan mencintai kita. Menghabiskan waktu bersama seumur hidup untuk menjalaninya. Namun, tidak dengan pernikahan Juminten.


Takdir sedang bercanda dengannya. Cinta, Juminten bahkan belum mengenal kata itu, waktunya ia habiskan untuk mencari rupiah dan mengurus keluarga. Fokus Juminten hanya pada ibu dan Dimas, kata cinta dan jalinan asmara jauh dari pemikirannya.


Saat semua ini datang, Juminten hanya bisa pasrah menerima tanpa bisa menolak atau sekedar mengutarakan pendapatnya. Ini hidupnya, tetapi Juminten tidak berhak bersuara. Menyesal, tidak juga.

__ADS_1


Wanita yang baru saja melepas masa lajangnya itu senang, Mirna bisa sembuh dengan bantuan dari Mayleen. Begitu juga dengan Dimas, meskipun tidak bisa bebas, tetapi setidaknya masa hukuman remaja itu bisa berkurang. Meski sebagai ganti, Juminten harus menggadaikan kebebasannya.


Juminten memejamkan matanya, menyedot oksigen yang terasa mulai menipis seiring malam yang semakin larut. Kantuk yang tadi ia rasakan juga tidak terasa lagi. Ia pun memutuskan untuk ke dapur dan membuat adonan cilok untuk dijual besok, bukan waktunya untuk meratapi nasib. Galau juga percuma, hidup harus tetap dijalani.


Dylan mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, membelah ramainya lalu lintas Surabaya. Tak ada rasa bersalah sedikitpun, meninggalkan sang istri di malam pertama mereka.


Malah sebaliknya, laki-laki itu bersiul dengan penuh semangat. Ia terlihat sangat senang, karena sebentar lagi akan bertemu dengan seseorang yang ia cintai. Siapa lagi kalau bukan Jesicca.


Setelah berkendara cukup lama, akhirnya Dylan menghentikan mobil di area parkir sebuah klub malam. Ia pun turun, dengan langkah lebar Dylan masuk ke tempat hiburan itu.


Suara dentuman musik, menyambut kedatangan Dylan. Pria bermata sipit itu mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan sang kekasih.


"Roy, hentikan! ponselku bunyi." Jessica mendorong kepala seorang laki-laki agar sedikit menjauh dari gunung kembarnya.


"Siapa sih, ganggu aja!" laki-laki berambut blonde itu, mendengus kesal. Baru saja mereka mulai bermain.


Jesicca tersenyum melihat wajah partnernya yang di tekuk masam. Ia segera meraih ponsel yang ada di meja.


"Halo Sayang."


"Halo, Jess. Kau dimana Babe? aku tidak bisa menemukanmu di sini?"


"Kau dimana?" tanya Jessica terkejut. Ia sontak bangkit, Roy yang melihat itu pun semakin tak suka.


Pria itu bangkit, dan menjauh dari Jesicca. Ia menyalakan rokok, untuk menghilangkan rasa tegang yang mulai terasa.


"Di klub XXX, bukankah kau tadi siang minta di jemput di sini?"


Jessica menepuk jidatnya, ia lupa sudah membuat janji dengan Dylan. Dia malah jalan dengan Roy ke salah satu villa milik Roy.

__ADS_1


"Aduh maaf, Sayang. Aku lupa, ada pemotretan mendadak, aku sekarang ada di Bandung. Maaf ya aku benar-benar lupa ngabarin kamu tadi, saking mendadaknya."


__ADS_2