Mbak Jum Wo Ai Ni

Mbak Jum Wo Ai Ni
Meleset


__ADS_3

"Gimana kamu suka di sini?" tanya Heru sambil tersenyum manis khas dirinya.


"Suka banget, makasih ya."


"Nggak usah sungkan, ngomong aja sama aku kalau kamu butuh sesuatu, atau kamu mau menerima tawaran aku tempo hari? itu masih berlalu lho," ucap Heru dengan mimik wajah yang serius.


"Makasih banget Her, tapi ini aja udah cukup buat aku. Aku makasih banget udah mau bantu aku," ucap Juminten sambil menyatukan kedua tangannya.


"Apa sih, Cum cum woles aja, santai. Ya udah ya aku tinggal dulu ya."


"Iya, sekali lagi terima kasih."


Heru mengangguk kecil dengan senyum manis. Namun, senyum manisnya pudar saat ia berbalik, pria dengan lesung di pipinya itu masih berharap pada Juminten. Tapi ia harus menelan pil pahit, mengetahui kalau pujaan hatinya telah bersuami.


Heru masih belum bisa move on dari cinta pertamanya itu, begitu besar cinta Heru pada cum cum manis. Dia bahkan bertekad untuk menata hidup menjadi seorang yang sukses agar bisa membahagiakan Juminten.


Heru berjuang keras setelah lulus SMA hingga dia bisa membuka sebuah bisnis kecil, semua itu demi sebuah nama yang tersemat di hati Heru, Juminten.


Dialah yang menyemangati Heru untuk tetap menjalani hidup. Di masa krisis hidupnya Heru pernah ingin mengakhiri hidup, karena ayah dan ibu Heru selalu menganggapnya beban.


"Kalau kamu pergi aku sama siapa? Jangan pergi, ingat ada aku yang butuh kamu."


Sebenarnya Juminten kecil mengucapkan itu, karena dia tidak punya teman nyolong jambu jika Heru pindah rumah. Namun, bagi Heru kata-kata itu begitu berarti, ia merasa seseorang masih butuh akan kehadirannya di dunia ini.


"Hah Juminten, kemana aku cari penggantimu," desah Heru, menghisap rokok yang baru saja ia nyalakan.


Menghembuskan udara yang bercampur dengan asap nikotin, laki-laki itu menatap jauh, kearah pepohonan tak jauh dari tempat ia berdiri.


Cinta yang begitu ia dambakan, cinta yang ia simpan, pupus begitu saja. Heru tersenyum getir, menertawakan kisah cintanya.


"Setidaknya aku bisa ikut menjagamu, walaupun aku tidak bisa memilikimu," gumam Heru pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Heru membuang rokok yang masih tersisa panjang, menginjaknya kemudian kembali masuk. Masih banyak hal yang harus ia kerjakan.


Di tempat lain.


Dylan baru saja menyelesaikan pertemuan dengan salah satu investor. Meski kabar buruk tentang perusahaan Dylan sedang gencar diberitakan. Namun, itu sama sekali tidak menurunkan minat investor untuk menanamkan modalnya.


Mereka paham dan tau pasti Dylan bisa mengatasi masalah dalam perusahaan sesegera mungkin. Apabila Dylan adalah anak tunggal Dawei Li, orang yang mampu mendirikan perusahaannya sendiri di usia yang masih sangat muda, sepak terjang laki-laki berdarah Tionghoa itu tak bisa di anggap remeh di dunia bisnis.


"Gimana, tebakan mu ternyata meleset. Jessica masih anteng jadi pacarku. Sedangkan si Cumi hem, pagi sore aku cuma di kasih makan tahu sama tempe," ucap Dylan pada asistennya yang sedang fokus menyetir.


Raka melihat sekilas pada Dylan dengan senyum mengejek.


"Anda masih mengajaknya jalan-jalan, makan di restoran dan masih mengunakan mobil mewah. Fasilitas yang Anda berikan untuk wanita itu juga masih lengkap, tak ada satupun yang Anda kurangi. Coba Anda bertukar tempat dengan saya, mungkin ceritanya akan sedikit lain."


"Ah ... Sudahlah, kau memang selalu memihak pada Mama. Sesekali jadilah sekutuku!" sahut Dylan dengan nada tinggi, ia tidak suka saat mendengar Raka menyindir kekasihnya.


Raka kembali hanya tersenyum dengan menggelengkan kepalanya. "Kata cinta bisa membuat orang buta Tuan. Bisa membuat yang hitam jadi putih, yang busuk jadi wang."


"Heleh sok tau kamu. Pacaran aja nggak pernah kok ngomongin cinta."


Dylan tidak menjawab lagi, ia sudah jengah dengan sikap Raka akhir-akhir ini yang suka menjelekan Jessica.


Seminggu berlalu.


Berita terkait bangkrutnya Perusahaan Dylan semakin menjadi, bahkan diberitakan kalau beberapa aset keluarga Li dijual untuk menutupi hutang mereka.


Juminten sesekali mengusap punggungnya yang terasa nyeri. Mungkin karena efek berdiri seharian.


Heru yang menyadari itu, berjalan mendekati Juminten, menyodorkan sebotol air mineral untuk wanita terkasihnya. Juminten tersentak, ia pun menerima botol yang disodorkan Heru setelah meletakkan alat kerjanya.


"Kamu nggak harus kerja kayak gini," tutur Heru sambil menatap lamat-lamat wajah cinta pertamanya itu.

__ADS_1


Peluh membasahi kening dan leher jenjangnya, wajahnya sedikit memerah karena harus berhadapan dengan panas tiap saat. Heru sungguh tidak tega melihat Juminten seperti ini.


"Ini juga udah bagus kok, daripada keliling jualan cilok kepanasan di jalan, hehehehe." Juminten terkekeh kecil mengingat masa dia berjuang untuk menghabiskan dagangannya di jalanan.


"Suami kamu beruntung banget dapet istri kayak kamu." Tangan Heru mengepal erat, menahan inginnya untuk berlabuh di pucuk kepala Juminten.


"Beruntung ya, entahlah. Mungkin dia tidak berpikir seperti itu," lirih Juminten menatap lurus dengan tatapan yang sulit diartikan.


Heru bisa menangkap sebuah kekecewaan yang coba Juminten tutupi, jika bisa ia ingin merengkuh Juminten dalam dekapannya. Meminta sang kekasih hati untuk tetap berada di sisinya. Namun, apa daya itu hanya angan-angan semata. Heru tidak ingin menjadi perusak rumah tangga orang, biarlah semua berjalan sesuai kehendak Tuhan.


Matahari bertengger gagah di langit Surabaya siang ini. Awan-awan kecil yang berarak, tak mampu menepis sinar yang amat tajam menghujam bumi.


Seorang wanita berambut merah berkacak pinggang dengan wajah yang memberengut kesal. Model yang menganggap dirinya terkenal itu marah, karena harus berdiri di tengah teriknya matahari.


"Jess ambilin aku obeng dong," pinta Dylan dengan tangan yang menengadah tanpa melihat Jessica. Pria sipit itu fokus pada mesin mobil lawas yang dipakainya.


"Nih." Dengan sedikit kasar Jesicca meletakkan obeng di tangan Dylan.


"Makasih."


"Hem," Jessica singkat.


Dylan memang membawa mobil lawas miliknya untuk jalan-jalan bersama Jessica. Ia merasa tertantang untuk membuktikan pada Raka, jika Jessica tidak seperti yang asistennya itu pikirkan.


Jessica akan bersedia untuk susah senang bersama, ia yakin wanita itu tulus mencintainya.


"Udah beres!" seru Dylan sambil menutup kap mesin mobilnya.


"Syukur deh, tapi nggak bakal mogok lagi kan?" tanya Jessica penuh selidik, ia tidak mau jika harus panas-panasan lagi, cukup sekali saja.


Panas seperti ini tidak baik untuk kulit operasi plastik Jessica, mukanya tampak memerah seperti kepiting rebus.

__ADS_1


"Iya Sayang, jangan marah lagi. Yuk kita masuk." Tangan Dylan terulur hendak mengandeng tangan Jessica, tapi seketika wanita itu memberingsut mundur.


"Cuci dulu tangannya kotor!" seru Jessica sambil menatap jijik pada tangan Dylan yang belepotan dengan oli.


__ADS_2