
Dylan berjalan mengekor Juminten yang menganggap dia seolah tak ada, gadis yang masih perawan itu melewati sang suami begitu saja.
"Heh, kau tuli ya. Siapa laki-laki itu?!" dengan geram Dylan bertanya pada Juminten yang masih acuh.
"Jum!" Dylan menarik tangan Juminten dengan kasar, hingga tubuh wanita itu berbalik menghadap Dylan.
"Gitu dong, panggil nama orang kalau ngomong. Jangan ha he aja, aku kan punya nama," ujar Juminten dengan tenang, ia bahkan tersenyum manis pada sang suami yang sudah mengeluarkan tanduk.
"Sekarang jawab, siapa laki-laki itu?" Mata sipit Dylan menyorot tajam pada Juminten. Dia juga tidak tahu kenapa, tapi Dylan tidak suka melihat pria lain bernama istri kontraknya itu. Apalagi mereka terlihat sangat akrab.
"Dia Heru, teman sekolah aku. Kami nggak sengaja ketemu tadi, dia ganteng kan. Bisalah, aku pertimbangkan untuk jadi suami saat kita cerai nanti," ucap Juminten asal.
"Kau! berani kau berpikir seperti itu!"
"Kenapa? nggak bolehkah? kan kita udah ada rencana cerai, sudah di atas materai malah. Atau jangan-jangan kamu nggak mau ceraiin aku ya, sadar kalau aku ini imut, gemesin."
"Cih ... mimpi kamu." Dylan memundurkan wajahnya, karena Juminten terus mendekat.
"Atau kamu cemburu sama Heru?" Juminten memicingkan mata, menatap Dylan penuh selidik.
"Hahaha ... kau bilang apa cemburu? dari segi mana kau bosa bilang aku cemburu,"sahut Dylan cepat.
Juminten menarik tubuhnya menjauh dari sang suami. Dengan bibir yang sedikit manyun dan bahu yang terangkat. Juminten berjalan ke lemari pendingin, membuka dan mengambil sebotol air dingin.
"Kalau nggak cemburu, kenapa tanya-tanya." Tangan kecil Juminten membuka tutup botol plastik, kemudian meminum isinya dengan cepat.
"Ya, aku cuma nggak sampai ada orang yang lihat kamu dan pria itu lalu memberi tahu Mama, itu bisa merusak rencanaku," kilah Dylan.
__ADS_1
Bruusst
Air yang belum sempat tertelan Juminten, menyembur keluar karena mendengar ucapan Dylan. Lucu sekali laki-laki itu, apa dia tidak sadar dengan apa yang dia lakukan.
Dylan memejamkan matanya, wajah dan kaos yang ia pakai basah kuyup karena semburan Juminten.
"Wahahaha ... kamu lucu banget sih suamiku. Kenapa nggak ikut grup lawak aja, lumayan buat cadangan kalau nggak jadi CEO."
Dylan mengerutkan keningnya, melihat sang istri yang tertawa sambil memegangi perut. Namun, hanya sesaat saja. Raut wajah Juminten seketika berubah serius dan menatap Dylan dengan serius.
"Kamu takut aku membuat rencanamu gagal, lalu kau sendiri bagaimana? kau terus saja bertemu dan berkencan dengan kekasih mu tanpa tahu waktu dan tempat. Aku tahu itu bukan urusanku, tapi jika sampai semua tidak berjalan sesuai harapan mu, jangan salahkan orang lain. Cobalah untuk instrospeksi diri, Tuan muda. Permisi." Juminten berjalan melewati Dylan yang masih mematung, dengan sengaja wanita bertubuh mungil itu menabrak lengan Dylan.
Meskipun Juminten tidak tahu Dylan pergi kemana dan bertemu siapa hari ini. Namun, instingnya sebagai seorang wanita tidak mungkin salah. Apalagi Juminten bisa mencium parfum yang bukan milik suaminya.
Pria sipit itu tidak bisa menjawab, sebab apa yang Juminten katakan benar. Jessica bahkan sempat ke kantor, dan Mayleen pasti tahu tentang itu.
"Argh ... Gan!" umpat Dylan, tangannya mengepal meninju udara kosong di sekitar.
Bulan madu mereka tak sesuai harapan sama sekali, tidak bagi Juminten. Wanita itu berharap bisa lebih dekat sang Suami, tapi nyatanya Dylan malah sibuk dengan Jessica, wanita itu bahkan datang villa tempat mereka menginap.
Juminten pun tak bisa berbuat banyak, sedih sih tapi setidaknya kehadiran Heru bisa menghibur Juminten. Saat Dylan sibuk dengan kekasihnya itu, Juminten pun mengajak Heru jalan-jalan.
Lima hari berlalu, Juminten dan Dylan pulang ke Surabaya. Bulan madu mereka, berakhir lebih cepat dari rencana awal. Bukan Juminten yang mau pulang, tapi suami sipitnya itu.
Dylan selalu marah-marah tidak jelas, saat Juminten pulang jalan-jalan dengan Heru, padahal Juminten tidak pernah mempermasalahkan saat dia pergi dengan Jessica. Aneh.
Mereka tidak pulang ke rumah besar, Dylan meminta izin pada Mamanya untuk mandiri dan hidup terpisah dari sang Mama. kini Dylan dan Juminten menempati sebuah rumah milik Juminten. Sebuah rumah di perumahan elit Surabaya. Ya, itu adalah salah satu syarat dari Mayleen, mereka boleh tinggal sendiri asal tinggal di rumah yang ia belikan untuk menantu kesayangannya.
__ADS_1
"Mulai sekarang, ini kamar kamu. Aku ada di sebelah, anggap saja kamu kos di sini," ujar Dylan.
Tangan Juminten terlipat di dada, satu alisnya naik menatap Dylan dengan heran.
"Aku kos? bukan sebaliknya ya. Ini kan rumah aku, jadi kamu dong yang kos di sini suamiku."
"Ck ... ya ya terserah lah. Yang penting jangan campuri urusan ku, aku juga nggak perduli kamu mau ngapain!" tegas Dylan.
"Aku nggak perduli apa yang kamu lakukan di luar Tuan, tapi saat kamu ada di rumah ini. Kamu harus ikut aturanku," sahut Juminten tak ingin kalah.
"Apa maksudmu! jangan mentang-mentang ada Mama yang mendukung jadi kau mau berbuat seenaknya!" mata Dylan menyorot tajam pada Juminten. Wanita itu tampak santai, tak ada raut takut di wajahnya.
"Ya jelas dong, aku bebas ngelakuin apa aja di wilayah kekuasaan ku. Apalagi ada Mama mertua tersayang yang selalu mendukung aku," ucap Juminten membuat Dylan semakin geram.
"Dah ah ... aku ngantuk mau tidur." Juminten melenggang masuk ke kamar yang Dylan tunjukkan.
"Oia Tuan muda Sayang, aku belum menerima bungaku hari ini. Jangan lupa lagi ya," ujar Juminten sebelum menutup pintu kamarnya.
Saat menandatangani perjanjian dengan Dylan dan Jessica, Juminten mengajukan satu syarat. Dia ingin Dylan memberinya sekuntum mawar setiap hari selama mereka menikah, awalnya Jessica keberatan. Namun, akhirnya setuju dengan syarat Juminten.
Dylan mendengus kesal. Dengan langkah yang di hentakan laki-laki itu masuk ke kamarnya sendiri. Dylan merasa Juminten sudah mulai bertindak berlebihan.
Dia hanya menantu sementara, tetapi wanita itu sudah bersikap seperti nyonya besar, menyebalkan.
Setelah membersihkan tubuhnya, Juminten berbaring di ranjang empuk miliknya. Sendirian, menikah tapi masih tidur sendiri. Juminten tertawa, menertawakan dirinya sendiri.
"Hah ... semoga saja rencanaku berhasil," gumam wanita manis itu.
__ADS_1
Juminten bertekad untuk menyelamatkan pernikahannya. Membuat sang suami sipit, jatuh cinta. Pernikahan adalah sesuatu yang sakral bagi Juminten, ia ingin menikah sekali seumur hidupnya. Persetan dengan kontrak yang ia tanda tangani.
Biarlah sekarang ia mengikuti permainan Dylan dan Jessica. Juminten akan berusaha dengan caranya sendiri. Perlahan tapi pasti mata lentik itu mulai terpejam. Menyelami alam mimpi di siang hari.