Mbak Jum Wo Ai Ni

Mbak Jum Wo Ai Ni
Bab 16


__ADS_3

Erick menuntut pelan sang istri, begitu pula Dylan. Sementara di belakang mereka, Michi dan Matthew sama-sama mendorong kereta bayi.


Mereka baru saja pulang dari rumah sakit, ternyata Lee juga hamil kehamilan Lee hanya berjarak dua bulan dari Juminten. Bayi Lee lahir prematur di usia tujuh bulan, ia terpaksa operasi caesar karena kehabisan air ketuban. Sementara Juminten dia melahirkan secara normal.


Max yang baru saja meletakkan mobil di garasi segera menyusul langkah keluarganya. Max kebagian membawa perlengkapan yang mereka bawa pulang dari rumah sakit.


Dylan meminta Erick untuk tinggal di rumah besar Li, Erick dan Lee tidak punya saudara lain begitu pula Dylan. Jadi kenapa mereka tidak tinggal bersama? Setidaknya akan ada teman begadang untuk menjadi para bayi kembar.


Lee pun sangat setuju, terlebih ia orang tua baru. Dia ingin belajar dari Juminten yang lebih senior dalam hal peranakan.


"Aduh gemes banget sih bayi -bayi!" Seru Michi Seraya mencolek satu persatu pipi keponakannya yang tertidur.


"Huaaaaa ....!!" Excel menangis keras, karena merasa terganggu oleh sang bibi.


Sementara saudara kembarnya, Erika cuek saja. Ia juga tidak terganggu dengan tangisan Excel. Lain halnya dengan Erika Mely dan Moza ikut menangis mendengar suara Excel.


"Michi!" Pekik kedua pasangan itu.


Gadis yang baru saja masuk kuliah itu langsung mengambil langkah seribu. Dylan memperkerjakan empat pengasuh sekaligus, jadi masing-masing bayi akan mendapatkan satu pengasuh. Tentu saja ia memilih orang-orang yang kompeten dan berpengalaman. Mereka adalah perawat di rumah sakit yang biasa bekerja di kebidanan.


.


.


.


.


Minggu berganti bulan, kini ke empat bayi itu sudah berusia dua tahun, mereka sangat lucu sekaligus bikin gemes. Bukan hanya mereka yang tumbuh, tetapi juga triplex. Mereka kini sudah kuliah semester genap, Matthew memilih kuliah di negeri Formosa sementara Michi dan Max kuliah di universitas ternama di Surabaya.


Max tak ingin meninggalkan tanah kelahirannya, walaupun banyak sekali tawaran kuliah di luar negeri karena prestasi Max saat SMA.

__ADS_1


Angin kencang disertai rintikan hujan deras, menyapu kota Surabaya malam ini. Dahan pohon meliuk-liuk mengikuti hembusan angin, dedaunan saling bergesekan dengan cabang dan ranting menimbulkan suara gemerisik yang menambah rasa mencekam malam itu.


Seorang pria berkendara dengan kecepatan sedang, sesekali ia mengusap bagian penutup helm yang basah oleh hujan. Ia biarkan tubuhnya basah kuyup, kepalang tanggung sampai rumah nanti tinggal mandi saja.


Max Li, pria yang baru menginjak dua puluh tahun itu sedang menuju rumah yang dulu ditempati orang tuanya saat mereka baru menikah. Setelah kedua neneknya semakin tua mereka memutuskan untuk pindah ke rumah besar Li, untuk menjaga mereka.


Rumah itu hanya di huni Nurul dan sang suami. Mereka membersihkan dan menjaga rumah itu. Malam ini dia ingin ketenangan, sebuah malam yang tenang dari tangis dan jerit para bocil. Meskipun kamar Max peredam suara. Namun, itu tak serta merta menghilangkan dia dari keusilan mereka. Apalagi ady Michi yang memimpin.


Lampu sepeda motor Max tak sengaja menyorot sesosok manusia yang duduk meringkuk menahan dinginnya air hujan,ia meringkuk diantara kotak sampah dan pohon yang ada di luar pagar rumah Dylan.


Max menghentikan sepeda motor di depan gerbang. Kemudian membuka kunci dengan kunci cadangan yang dia bawa.


"Ck ..." Max merasa ia harus menyapa orang yang meringkuk tak jauh dari gerbang rumah.


Max pun melangkah ke samping kotak sampah yang terbuat dari semen. Pria tampan itu terkejut saat mendapati seorang gadis yang masih memakai seragam sekolah, duduk meringkuk memeluk lututnya sendiri. Tadinya Max mengira dia adalah tuna wisma, tetapi dilihat dari penampilan gadis itu Max bisa menyimpulkan kalau dia berasal dari keluarga yang cukup berada.


"Hey apa kau mau masuk?" Tangan Max menepuk pundak gadis itu pelan.


"Hey ...tenang! Aku hanya bertanya apa kau mau berteduh di rumah ku, hujan semakin deras. Kau bisa mati kedinginan di sini," ujar Max.


Tangan gadis itu terhenti, ia menoleh. Mata sembab nya melihat Max dengan teliti. Max terkejut melihat luka lebam di wajah gadis itu, masih ada darah yang mengalir dari sudut bibirnya. Temaramnya lampu jalan membuat Maz tak bisa melihat dengan jelas, seberapa parah lukanya.


Antara yakin dan tidak gadis itu mengulurkan tangannya hendak meraih tangan Max. Dia memang butuh tempat untuk berlindung, belum sempat tangan mereka saling menyentuh. Gadis itu sudah terkulai lemah.


Max yang panik langsung menunduk dan mengendong gadis asing itu. Dia tidak mungkin membiarkan seorang manusia mati begitu saja didepan matanya.


"Bu, Bu Nurul!" Teriak Max memanggil si asisten rumah tangga.


Max sedikit kebingungan untuk memutar handel pintu sambil menggendong tubuh seseorang seperti ini.Karena yang dipanggil tak kunjung datang, Max memutuskan untuk meletakkan gadis itu dilantai, setelah pintu berhasil terbuka, Max membawa si gadis masuk ke dalam kamar yang biasa ia pakai istirahat


Tenyata tak hanya wajahnya yang lebam, tubuh wanita itu juga penuh luka. Luka-luka itu berjajar di sepanjang lengan dan betis. Tampak juga beberapa bekas sudutan rokok.

__ADS_1


"Duh, masak aku yang gantiin baju." Max menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Dengan terpaksa Max pergi kebelakang, ke kamar yang Nurul dan suaminya pakai. Meskipun di belakang, kamar mereka tak kalah bagus dengan kamar utama.


Tok


Tok


Tok


" Bu, Bu Nurul!" Panggil Max setelah beberapa kali mengetuk pintu.


Nurul pun bangun dan segera membuka pintu, ia kenal dengan suara yang memanggilnya.


"Den Max kapan datang? Apa ada yang bisa Ibu bantu?" Tanya Nurul penuh selidik.


Max memang sering datang, tetapi remaja itu hampir tidak pernah mengetuk kamarnya.


"Saya jawabnya nanti ya Bu, sekarang tolong Ibu Nurul ke kamar saya, tolong bawa baju ganti buat perempuan," sahut Max cepat.


"Heh? Hem ... Iya Den, saya ambil dulu baju gantinya." Max mengangguk.


Meskipun merasa aneh dengan permintaan majikannya. Nurul memilih bungkam. Setelah mengambil daster yang baru ia beli kemarin, Nurul mengikuti langkah Max ke kamar yang ada di lantai dua.


Nurul terkejut saat melihat seorang gadis berseragam SMA terbaring di ranjang, tubuhnya basah kuyup dan penuh luka.


"Ini siapa Den? Kenapa luka-luka begini?" Cerca Nurul, menatap tak tegas pada gadis yang bertubuh kecil.


"Emh ... Nanti saja saya jelasin, saya mandi. Bu Nurul tolong bantu ganti baju dia ya."


"Iya Den."

__ADS_1


Max pergi ke kamar lain untuk menganti pakaiannya yang basah. Tak terbayangkan jika tidak ada Bu Nurul, bagaimana Max akan mengganti baju gadis itu.


__ADS_2