
Erick hanya menatap wajah sendu Lee yang tengah menangis, meraung meluapkan rasa sesak yang selama ini menghimpit dadanya. Rasa yang begitu lama ada, mengendap semakin tebal dan berat. Memenuhi tiap ruang di rongga hatinya, malam ini ia tidak bisa menahan rasa itu. Ia biarkan mengalir bersama air asin yang keluar dari celah di sudut mata.
Lee tak lagi berdiri, ia jatuh terduduk. Tubuhnya lemah, seorang jiwa tak lagi ada di sana. Erick perlahan melangkah mendekat, tangannya mengusap rambut Lee. Namun, segera di tepis kasar oleh wanita itu.
Erick tersenyum.
"Kau tahu apa konsekuensinya jika kau mengatakan kata itu Lee?" Tanya Erick dengan nada yang terdengar lebih lembut.
Lee yang masih tenggelam dalam rasa sedih dan patah hati, tak merespon apa yang di katakan Erick. Lebih tepatnya tidak perduli. Erick duduk di lantai dengan bertumpu pada satu kakinya yang ditekuk.
"Lee," panggil Erick lagi.
Lee masih bergeming, ia memalingkan wajahnya cepat saat Erick hendak mengusap pipi Lee yang basah.
"Kau wanita paling berani yang pernah aku kenal, Lee. Aku bahkan tidak punya cukup nyali untuk melakukan itu," ujar Erick dengan suaranya yang terdengar serak tertahan.
Erick mennakup wajah tirus Lee, agar wajah bermata sipit itu tidak berpaling, meski mata lentiknya masih enggan menatap mata Erick. Pria bermata sipit itu mempertemukan kening mereka, seru nafas hangat, menyapu wajah Lee.
Satu tangan Lee diangkatnya, Erick meletakkan tangan lembut itu di dada.
"Kau bisa merasakan itu Lee, jantung ini berdetak lebih tiap aku menyentuhmu."
Mata Lee terbelalak mendengar ucapan orang yang ia panggil Daddy, detak jantung Erick memang terasa lebih kencang dan cepat. Namun, wanita itu tidak mengerti dengan maksud Erick.
"Jangan membuat lelucon seperti itu Dad, aku nggak suka," tukas Lee ketus, ia tidak akan lagi termakan bujuk manis Erick.
Erick selalu menganggap Lee anak kecil, memanjakan dan menyayangi selayaknya seorang putri. Tetapi bukan itu yang Lee inginkan, ia ingin cinta kasih layaknya wanita dan laki-laki dewasa. Cinta yang menyatukan dua mahluk yang berbeda gender, layaknya Adam dan hawa. Bukan cinta seorang ayah pada putrinya, yang Lee inginkan cinta seorang pria dewasa yang mendekap erat dengan hangat dan penuh hasrat.
Erick memeluk tubuh yang tengah terisak itu, Lee meronta meminta untuk di lepaskan. Namun, tubuh kekar Erick membelitnya dengan kuat. Tenaga Lee sama sekali tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan laki-laki itu.
"Kau tau Lee, aku juga merasakan hal yang sama denganmu," ujar Erick setelah Lee cukup tenang dalam pelukannya.
"Cukup Dad! kau tak perlu berbohong untuk menghiburku," ucap Lee lirih di ujung kalimatnya.
Erick sedikit menjauhkan tubuhnya, merenggangkan tangan yang melingkar di tubuh mungil Lee.
__ADS_1
Cup
Sebuah kecupan lembut di bibirnya, berhasil membuat Lee tersingkap. Air matanya berhenti seketika.
"Apa ini cukup untuk membuktikannya?"
Lee menggeleng tanpa sadar, tatapannya masih kosong. Gadis manis itu masih sangat terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Erick menyeringai kecil, ia kembali menyatukan bibir mereka. Kali ini dengan bergerak lembut, bukan hanya menempel seperti tadi.
Lee terdiam, ia memejamkan matanya menikmati sentuhan lembut di bibirnya.
"Manis," ucap Eric sambil mengusap bibir Lee yang basah karena ulahnya.
"Kenapa Daddy mencium ku?" Tanya Lee dengan polosnya.
"Aku sudah bilang, aku juga mempunyai rasa yang sama untukmu. Di sini." Erick menyentuh dadanya mengunakan tangan Lee.
"Tapi-."
"Ssst." Erick meletakkan ujung telunjuk di bibir Lee yang mungil.
"Bagaimana dengan wanita-wanita yang Daddy bawa pulang? Siapa mereka?" Tanya Lee penuh selidik.
"Itu .. Hem."
"Ayolah, atau aku akan mogok bicara selama sebulan!" Ancam Lee, sambil membuang mukanya kesal.
"Uh ... Sayang,jangan gitu dong. Iya-iya aku akan jujur." Erick memeluk erat Lee yang mulai merajuk.
"Mereka sangat Daddy sewa, jujur saja aku merasa tidak tahan, fantasi padamu sangat liar untuk menjamah mu, aku berusaha untuk menahannya. But you know, aku laki-laki dewasa, aku Butuh sedikit pelampiasan," Erick bercerita dengan ragu. Ia takut gadis dalam pelukannya itu marah.
Dan benar saja. Lee mendorong tubuh Erick dengan sekuat tenaga, agar bisa terlepas dari pelukannya. Dengan mencebikkan bibirnya, Lee berjalan menjauh.
Erick hanya bisa mendesah pasrah, melihat punggung sang gadis yang berlalu dari balik pintu kamar. Pria tampan bermata sipit itu pun menyusul langkah Lee.
Ia tersenyum saat melihat Lee berada di dapur, sedang mengaduk coklat hangat yang aromanya menguar begitu harum, memenuhi ruangan itu.
__ADS_1
"Kau marah?" Tanya Erick yang sudah melingkarkan tangannya di pinggang Lee yang ramping.
"Sampai mana Daddy bermain dengan mereka?" Tanya Lee dengan ketus.
"Hanya oral," jawab Erick sambil menciumi leher jenjang Lee.
Sesuatu yang selama ini begitu ingin ia lakukan, tangannya pun tak tinggal diam. Mengusap lembut perut Lee , bergerak perlahan ke atas kemudian mulai memainkan benda kenyal yang ada di sana.
"Dad," lirih Lee yang mulai menikmati apa yang dilakukan oleh pria yang baru saja menerima cintanya.
"Aku selalu ingin melakukan ini padamu, Sayang," Nafas Erick terdengar berat saat mengatakan itu.
Lee membalikkan tubuhnya, kini kedua berhadapan. Erick mulai menyatukan bibir mereka dengan lembut, ciuman yang begitu menggebu turun menyusuri leher Lee, meninggalkan jejak merah. Membuat si empunya melenguh mesra.
Erick tersenyum kecil sambil merapikan pakaian Lee yang berantakan karena ulahnya. Nafas Lee tersengal, sungguh pengalaman yang luar biasa yang pernah ia alami.
"Bersiaplah, aku akan membawamu ke kantor agama sekarang juga," titah Erick.
"Kan-kantor Agama?!"
Erick mengangguk, ia sangat menyukai ekspresi wajah Lee yang tampak begitu terkejutnya.
"Ya, aku sudah bertanya padamu kan, apa kau tahu konsekuensinya jika kau mengatakan cintamu padaku, Sayang. Kau harus menjadi milikku seutuhnya, selamanya, bahkan jika ada kehidupan setelah kau harus tetap menjadi milikku, mengerti," ujar Erick lembut namun tegas dan penuh penekanan.
Lee hanya mengangguk, dengan raut wajah melongo yang begitu menggemaskan.
"Aku tidak bisa menyentuhmu lebih dari ini jika kita belum resmi, Liam akan menghajar ku. Jika aku bertemu dia di surga nanti," ucap Erick sambil terkekeh.
Liam Harrier, ayah kandung dari Lee. Sahabat Erick yang sudah wafat saat Lee berusia 14 tahun, Liam menitipkan Lee pada Erick. Agar sahabatnya itu merawat anaknya jika ia meninggal.
Liam seorang yatim piatu, ia pekerjaannya menuntut ia selalu dalam bahaya, sang istri yang juta tak punya sanak saudara meninggal saat melahirkan Lee.
"Cepat bersiap Lee, aku tidak bisa berpuasa lebih lama lagi!" Tegas, Erick setelah berteriak.
Teriak Erick membuat Lee tersadar dari lamunan, pria pujaan hatinya itu ternyata telah berjalan meninggalkan dapur. Lee menepuk-nepuk pipinya dengan keras, seperti mimpi. Baru tadi ia marahan dengan Erick, dan sekarang laki-laki itu mengajaknya menikah.
__ADS_1