
Tangan Dylan begitu cepat menyendok kan makanan ke mulutnya. Ya, disadari Dylan atau tidak, ia selalu menikmati masakan Juminten dengan lahap, ini bahkan sudah piringnya yang kedua.
Mayleen tersenyum, melihat Dylan yang makan dengan begitu lahap.
"Gimana, enak nggak?" Dylan hanya menjawab pertanyaan sang Mama dengan anggukan dan jempol yang ia acungkan. Mulutnya terlalu penuh untuk bicara.
Juminten menarik kursi yang ada di sebelah Mayleen, Tetapi tangannya segera dicegah oleh sang mertua. Mayleen memberikan kode agar Juminten duduk di samping Dylan, meski enggan. Wanita cantik itu pun menuruti keinginan sang mertua.
Juminten berjalan memutar, lalu menarik kursi di samping Dylan yang sedang fokus memakai udang asam manis.
"Udangnya Mama enak banget," puji Dylan setelah berhasil menelan makanannya.
"Kalau suka, minta sama istrimu untuk memasaknya lagi," sahut Mayleen santai.
"Uhuk!"
Melihat Dylan yang tersedak. Juminten yang baru saja duduk buru-buru menyodorkan segelas air untuk sang suami, Dylan menerima gelas lalu meneguknya hingga tandas.
Juminten menepuk-nepuk pelan punggung Dylan, agar merasa nyaman. Raut wajah bahagia terpancar dari Mayleen, melihat kedekatan kedua sejoli palsu itu.
"Pelan-pelan, tidak perlu terkejut seperti itu Tuan muda," ucap Juminten berbisik di ujung kalimatnya.
Dylan mendelik tajam, Juminten hanya tersenyum menanggapi tatapan mata Dylan yang begitu tajam.
"Resepsi kalian dipercepat ya. Lagipula semua sudah siap ini, gaun pengantin juga sudah selesai," ucapan Mayleen itu sukses membuat Dylan dan Juminten tersedak berjamaah.
"Duh, kalian ini kompak banget. Sampai keselek aja barengan kayak gitu," sindir Mayleen yang di tanggapi mata jengah oleh Dylan.
"Mama nggak bisa gitu dong, tiba-tiba merubah rencana!" protes Dylan. Menikah dengan Juminten secara agama saja sudah membuat Dylan pusing dengan rajukan Jessica, dan sekarang resepsi pernikahan malah akan dipercepat.
"Kenapa nggak boleh, terserah Mama dong. Lagi pula menantu kesayangan Mama nggak keberatan, iya kan Jum?"
Juminten yang diperhatikan oleh Mayleen dan Dylan merasa bingung, di satu sisi ia tidak menginginkan pernikahan ini. Namun disisi lain ia tidak bisa menolak keinginan Mayleen.
Gadis manis dengan tahi lalat itu pun tersenyum dengan hambar, tanpa berucap sedikitpun. Melihat Juminten tersenyum Mayleen merasa senang, itu artinya gadis itu setuju dengan rencananya. Sementara Dylan, pria sipit itu menatap wajah ayu itu dengan sebal
__ADS_1
"Kenapa kau tidak menolak keinginan Mama?!" Dylan melepaskan dasi dengan kasar lalu membuangnya begitu saja ke lantai. Setelah selesai makan siang, Dylan memutuskan untuk tidak kembali ke kantor.
Juminten menghela nafasnya, memungut dasi dan jas yang menyusul terlempar ke lantai. Gadis itu berjalan kemudian berdiri didepan Dylan yang sudah duduk di sofa yang ada di kamar itu.
"Aku sudah pernah bilang, aku tidak bisa menolak keinginan Mama!" tegas Juminten.
"Aku tidak memintamu menolak Mama, hanya saja ...." ucapan Dylan menggantung begitu saja, saat sadat kalau kedua mata Juminten sudah menatapnya dengan nyalang.
"Sudahlah, kau juga pasti senang dengan semua ini. Sebentar lagi semua orang akan tahu kalau kau menantu keluarga Li, dan kau akan lebih bebas mengunakan nama besar keluarga kami," sindir Dylan, satu sudut bibirnya terangkat dengan tangan yang terlipat di dada.
Rahang Juminten mengeras, Dylan terus saja menyinggung soal perkara yang sama sekali tidak Juminten lakukan. Namun, Juminten mencoba bersabar, wanita mungil itu mengambil nafas dalam-dalam untuk meredam emosinya.
"Ah ...ya, bukan nama besar yang kau incar tapi, uang iyakan! orang seperti kalian pasti hanya memikirkan itu, matre."
Bruk
Juminten melemparkan jas dan dasi kearah Dylan dengan kasar. Ia benar-benar sudah diambang batas kesabarannya. Dylan pun dengan gelagapan menerima lemparan itu.
"Iya aku memang matre, gila harta! Gila kehormatan! Kenapa keberatan?" Kini Juminten melipat tangannya.
"Kau-
"Jangan melihatku seperti itu, ingat kau hanya seorang menantu di sini." Pria sipit itu berdiri, jari telunjuknya menegang kearah Juminten.
"Dan jangan kira, aku takut karena aku hanya menantu!" sergah gadis itu, ia sudah begitu gerah dengan sikap Dylan.
Rahang kedua mengerang dengan mata yang saling melotot, tanpa ada kata yang terucap.
"Taruh baju kotormu di keranjang. Aku bukan pembantu." Juminten melangkah kearah pintu menjauh dari Dylan.
"Oh ... satu hal lagi, aku belum menerima hak ku hari ini. Dan ini sudah lewat dari jam yang kita janjikan, ingat untuk konsekuensinya!"
Brak.
Juminten menutup pintu kamar dengan kasar. Tak memperdulikan Dylan yang berteriak memanggilnya dengan marah.
__ADS_1
.
.
.
.
.
Seminggu kemudian. Resepsi pernikahan dilaksanakan lebih cepat dari rencana awal, Dylan hanya bisa pasrah tanpa bisa membantah.
Sepasang suami istri memakai baju merah pernikahan, tampak sedang bersimpuh di hadapan kedua Ibu mereka. Tangan sang pengantin pria terulur untuk menyerahkan secawan kecil teh pada sang mertua, begitu pula sebaliknya pengantin wanita memberikan teh pada Mama mertuanya.
Sebuah ruangan khusus di sediakan khusus untuk ritual teh ini. Sebuah ruangan di dekorasi ala ruang makan Chinese tempo dulu.
Acara ini bermakna untuk menghormati orang tua dan para tetua lain yang ada dalam keluarga, sebagai bentuk rasa terima kasih telah merawat dan membesarkan mereka. Juga sebagai simbol menyambut datangnya anggota keluarga baru dikedua keluarga itu.
"Semoga pernikahan kalian langgeng dan bahagia, dan lekas memberikan Mama cucu," ucap Mayleen setelah meneguk teh miliknya.
Juminten hanya membalas ucapan sang mertua dengan senyum simpul manis miliknya, sementara itu Dylan hanya mendapatkan usapan sayang dari Mirna, karena memang wanita itu belum begitu bisa berucap.
Mayleen mencium kedua pipi sang menantu dengan sayang. Juminten bangkit dari tempat ia bersimpuh dengan bantuan sang suami, gaun panjang yang ia pakai membuatnya kesulitan berdiri. Apalagi di tambah dengan sepatu tradisional yang mereka kenakan.
Mayleen mengulurkan amplop merah, sebagai tanda kasih sayang.
"Terima kasih Ma, semoga doa Mama untuk kami di ijabah Allah."
"Amin!" sahut semua orang yang ada di sana, tak terkecuali pria yang menikahi dirinya, walaupun dengan tidak ikhlas.
Upacara "Tea Pai" itu berlangsung dengan baik. Setelah memberikan teh untuk Mayleen dan Mirna, mereka juga memberikan teh untuk Ana dan sang suami. Setelah Paman dan Bibi Dylan yang juga hadir, awalnya mereka terkejut saat mendengar kabar pernikahan Dylan yang cukup mendadak.
Mereka pun langsung terbang dari negeri Formosa setelah Mayleen memberi tahu.
Setelah ritual teh dan sesi foto-foto selesai, Dylan dan Juminten segera mengganti baju mereka. Untuk acara selanjutnya, gaun merah yang semula melekat ditubuh mungil Juminten, kini berganti dengan gaun besar berwarna putih yang berpadu dengan warna keperakan.
__ADS_1
Gambar hanya pemanis 🤣🤣