Mbak Jum Wo Ai Ni

Mbak Jum Wo Ai Ni
Bab 7


__ADS_3

Hari itu Lee dan Erick benar-benar mengesahkan pernikahan mereka, secara agama maupun secara hukum.


Hari beranjak sore saat mereka pulang ke rumah, keduanya berjalan bersisian dengan genggaman tangan yang tak pernah lepas. Seolah Lee akan pergi menjauh jika Erick melepaskan tangannya.


"Apa Daddy sudah menelepon Michi lagi?" Tanya Lee sambil menghidangkan kopi hitam tanpa gula untuk sang suami.


"Hem." Erick memperlihatkan layar ponsel yang sedang menelpon nomor Michi.


Lee manggut-manggut kemudian duduk di samping sang suami, bergelayut manja di lengan kekar itu.


No. 7


.


.


"Mami! Mami!" Teriak Michi mencari keberadaan sang Ibu.


"Mami di dapur!"


Mendengar suara Juminten, Michi menghentikan langkah yang hendak ke kamar utama. Ia berlari turun dari tangga, melesat secepat mungkin untuk sampai dimana Juminten sedang menyiapkan makan malam.


"Mi, orang itu sudah telepon!" Pekik Michi, ia memberikan ponselnya yang masih berdering.


Juminten mencuci tangan di wastafel, kemudian mengelapnya kering sebelum menerima benda pipih milik Michi.


"Ehem halo, selamat sore. Dengan siapa saya bicara?"


Tanya Juminten saat ia sudah menggeser logo hijau di layar ponsel Michi.


" ...."


"Saya Maminya Michi. Michi sudah bercerita tentang Anda."


"....."


"Anda bisa datang malam ini jika mau, suami saya sudah lebih baik sekarang. Kita bisa sekalian makan malam."


"...."


"Baik, saya tunggu," ucap Juminten sebelum menutup teleponnya.

__ADS_1


Michi hanya memperhatikan percakapan Juminten dengan orang asing itu.


"Mami ngundang dia makan malam?" Tanya Michi dengan alis yang menyatu.


Juminten mengangguk, ia menyerahkan ponsel Michi kembali. Kemudian kembali mengaduk masakannya.


"Tapi kan kita belum kenal sama dia Mi, kalau dia orang jahat gimana?"


"Kita nggak boleh berprasangka buruk sama orang lain, Sayang. Lagipula, kalau dia orang jahat, dia nggak akan minta izin dulu. Susah-susah pake nelpon nunggu kamu minta persetujuan Mami, dia bisa saja mengikuti kamu sejak dari sekolah tadi. Dia juga mau ngajakin, Miss Lee kemari kok," jawab Juminten panjang lebar sambil terus mengaduk rendang daging di wajan.


Michi manggut-manggut mendengar jawaban sang Mama. Maminya benar, tetapi tetap saja pria itu sangat aneh bagi Michi. Bukannya memang ada tujuh orang yang mirip dengan kita di dunia ini. Lalu kenapa orang itu ingin sekali bertemu dengan papinya.


Malam yang ditunggu pun tiba.


"Nyonya, ada tamu. Mukanya mirip sama Tuan," lapor sang asisten rumah tangga.


"Suruh mereka masuk Bu," sahut Juminten sambil menata makanan di meja.


"Sudah Nyonya, mereka ada di ruang tamu sekarang, Nyonya awas ketuker. Soalnya Mirip banget, saya saja sampai kaget tadi."


Juminten mengangguk sambil tersenyum tipis, wanita yang tengah hamil muda itu pun melangkah ke rumah tamu.


Erick dan sang istri yang tengah menunggu, langsung berdiri saat melihat nyonya rumah datang menghampiri mereka. Juminten sempat tertegun, benar apa yang diceritakan Michi, laki-laki yang bernama Erick dan suaminya memang bagai pinang dibelah kapak. Pantas saja Michi pernah mengira dia adalah papinya.


"Selamat malam, saya Erick Huang dan ini istri saya Lee," ujar Erick memperkenalkan diri dan juga sang istri.


"Juminten, istri dari Dylan Li." Juminten menjabat tangan kedua orang itu secara bergantian.


"Kita langsung ke meja makan saja, nanti kita akan ngobrol setelah makan," ajak Juminten dengan ramah, ia melangkah terlebih dahulu setelah kedua tamunya mengangguk.


Michi, Matthew dan yang tertua Max sudah ada di meja makan, tinggal Dylan saja yang belum ada di sana. Laki-laki manja itu tidak akan kemanapun sebelum sang istri datang menjemput.


Matthew dan Max terus saja menatap Erick dengan heran, mereka terkejut melihat foto copy Dylan duduk di hadapan mereka.


"Papi mana? Belum turun?" Tanya Juminten pada ketiga anaknya


"Belum Mi, kayaknya Papi masih nggak sehat deh," sahut Michi yang tidak terkesima melihat Erick.


Juminten mendesah panjang. " Papi kamu nggak sakit, dia hanya manja."


"Mami panggil dulu, Tuan Erick, Miss Lee maaf saya tinggal sebentar," pamit Juminten.

__ADS_1


"Tentu Nyonya, silahkan," sahut Lee dengan senyuman.


Max yang sudah bisa menguasai diri dari keterkejutannya, tersenyum sopan pada kedua tamunya. Tapi tidak dengan Matthew, dia masih melongo dengan mulut terbuka lebar.


"Ehem, mulutnya tolong di kondisikan," ujar Michi sambil menyenggol lengan Matthew.


Si tampan pun gelagapan, ia cepat-cepat menutup mulutnya dan mengusap iler yang hampir saja menetes. Erick tersenyum melihat kelakuan remaja yang kemungkinan adalah keponakannya itu.


"Kanda, ada tamu lho. Malu ah kalau kayak gini," ucap Juminten sambil berusaha melepaskan kepala Dylan yang menempel di bahunya.


Tak hanya kepalanya yang bersandar, tangan Dylan juga membelit mesra pinggang Juminten.


"Biarin lah Ai, " sahut Dylan acuh.


Juminten pun hanya bisa pasrah menghadapi sikap super manja suaminya. Di yang hamil tapi Dylan yang manja, dia juga yang ngidam dan beruntung bagi Juminten, karena Dylan juga yang mengalami morning sickness.


"Jadi Om ini sebenarnya siapa? Kenapa Om begitu mirip sama Papi?" Tanya Matthew yang sudah cosplay jadi detektif Conan.


"Itulah sebabnya saya ingin bertemu dengan Papi kalian, saya ingin memastikan sesuatu," jawab Erick dengan pasti.


"Memastikan apa Om?" Tanya Michi yang ikut kepo.


Belum sempat Erick menjawab, Juminten sudah datang ke meja makan bersama Dylan yang nemplok kayak gurita.


Wajah Dylan memang tampak pucat, tapi sikapnya seperti itu tentu saja sangat berlebihan untuk orang yang sakit sekalipun.


Max berdiri, ia menarik kursi untuk Papi dan Maminya duduk.


"Terima kasih Max," ucap Juminten.


Laki-laki tampan itu hanya mengangguk, ia kemudian kembali ke tempat duduknya sendiri.


"Pi, ada tamu itu lho. Di sapa dulu," tegur Juminten pada suami.


Dengan malas Dylan mengangkat wajahnya, ia cukup terkejut melihat Erick. Erick pun sama, ia terus memperhatikan Dylan sejak laki-laki itu menuruni tangga bersama sang istri. Meski ia suy melihat foto keluarga dan pernikahan Dylan dan Juminten yang terpajang di beberapa sudut tembok. Namun, tetap saja berbeda rasanya jika melihat secara langsung.


"Ehm ... Silahkan di mulai makan malamnya, istri saya yang memasaknya sendiri. Saya harap Anda berdua menyukainya," ujar Dylan setelah bisa menguasai diri.


"Terima kasih Tuan, maaf jika kedatangan kami berdua merepotkan," ucap Lee, sembari tersenyum canggung.


"Tidak kok, saya memang biasa masak sendiri, silahkan," sahut Juminten.

__ADS_1


Makan malam pun terasa sangat hening, tak ramai seperti biasa. Hanya dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring. Semua tengelam dalam pikiran masing -masing.


Dylan pun harus menahan untuk tidak minta di suapi oleh sang istri, padahal dalam hati ia sangat menginginkan hal itu. Alhasil, Dylan makan dengan enggan, sesekali ia melirik pada sang istri dengan tatapan memelas.


__ADS_2