
Jino sudah mulai beraktivitas seperti biasanya. Walau mual dan muntah tetap ia rasakan pada pagi hari.
Sejak Melati positif hamil, Jino tambah manja dan tak mau jauh darinya. Setiap hari Melati datang buat membawa bekal buat makan siangnya.
Jino tak akan ada selera makan jika tak ada Melati di sampingnya (manja bangetkan).
Melati langsung menuju ruang kerja Jino dengan tangan kanan menggandeng Rendra dan tangan kiri menenteng bekal.
Melati masuk setelah terlebih dahulu mengetuk pintu. Jino berdiri dari tempat ia duduk dan langsung menggendong Rendra.
"Sayang papi nih... ganteng banget" ujar Jino mengecup berulang kali kedua pipi sang putra.
"Papi... geli" ucap Rendra menjauhkan wajah Jino.
Jino membawa Rendra duduk di sofa diikuti Melati. Jino lalu menghubungi sekretarisnya melalui interkom agar ia jangan diganggu karena ingin bersama istri dan anaknya.
Jino memakan bekal yang dibawa Melati dengan lahapnya.
"Mas, nanti malam jadi ke acara pesta ulang tahun agensi Raka"
"Tentu saja, Mel. Apa kamu mau beli pakaian dulu"
"Nggak usah, mas. Pakaian pestaku masih banyak. Yang abang belikan masih ada yang belum dipakai "
"Kapan abang kemari lagi, Mel"
"Kata abang sih minggu depan"
"Terkadang mas cemburu juga melihat kamu manja dengan abang"
"Kenapa cemburu, mas. Abang itu saudara kandungku"
"Habis abang terlalu manjain kamu. Kalau udah ada abang, kamu selalu cuekin mas. Rendra juga gitu, kalau udah sama unclenya. Papinya nggak dipikirin lagi. Asyik aja bermain sama uncle"
"Rendrakan lama tinggal bersama abang, wajar ia akrab dan sayang sama abang. Mas tuh ada ada aja. Dengar sama abang mas ngomong gitu, diceramahin mau"
"Mas udah kenyang kamu ceramihin tiap malam"
"Ya... itu beda. Masnya aja yang kelewat mesum masa maunya nyosor melulu"
"Papi.... bunda.. mesum apa " tanya Rendra
"Mesum itu sejenis gedung tempat penyimpanan benda benda bersejarah" ucap Jino dengan senyum
"Mas... itu museum "
"Hanya beda tipis, Mel... "
Melati melayangkan tinjunya kelengan Jino. Melati tak baru tau jika sebenarnya Jino tak sedingin sikap yang biasa ia tampakan.
__ADS_1
Jino akan tampak dingin dan berwibawa jika berhadapan dengan orang lain, dengan Melati sikapnya berubah drastis. Ia manja dan konyol.
Setelah makan siang, Melati menidurkan Rendra di kamar yang ada diruangan itu. Melati yang mengantuk juga ikutan terlelap .
Melati terbangun ketika merasakan geli di lehernya. Ia melihat Jino yang sedang mengecup, menghisap dan menggigit kecil lehernya meninggalkan banyak jejak kepemilikan.
Jino membuka bagian atas kancing baju Melati hingga menampakkan d*danya yang terbuka.
Jino berpindah bermain di area itu. Terdengar des*h*n Melati membuat Jino makin intens bermain dipuncaknya.
"Mas... ada Rendra " ucap Melati serak. Tak dipungkirinya mungkin karena hamil hormon ditubuhnya juga meningkat membuat Melati juga sering berg*ir*h.
"Kita main kilat aja ya... mas udah nggak tahan. Adik mas udah meronta minta masuk kesarangnya"
"Nanti malam aja mas... "
"Nanti malam kalau pengin lagi... "
"Mas... aku lagi hamil muda loh, nggak boleh terlalu sering"
"Kan hanya pelan pelan, sayang"
Tanpa minta persetujuan dari Melati, Jino melepaskan seluruh kain yang melekat ditubuhnya. Setelah itu ia juga menemukan baju Melati.
Jino melakukan pemanasan sebentar sebelum akhirnya memulai ke inti. Ia melakukan dengan sangat berhati hati. Takut menyakiti Melati maupun calon bayi mereka.
Setelah mencapai pelepasan dan klimaksnya, Jino menjatuhkan tubuhnya kesamping. Ia mengecup dahi Melati.
Ciuman itu yang awalnya hanya sekedar mengecup akhirnya menuntut lebih. Mereka saling ******* dan membelit lidah.
Setelah cukup lama, Jino melepaskan pagutan. Ia mengusap bibir Melati yang tampak bengkak karena ulahnya.
"Bunda tampak seksi jika bibirnya bengkak gitu" ucap Jino sambil tersenyum.
"Mas... kalau cium pasti sampai bengkak"
"Habis bibirmu ini udah menjadi candu mas saat ini"
Melati menenggelamkan kepkepalanya di dada bidang Jino. Tak lama ia kembali tertidur.
Jino bangun dan masuk ke kamar mandi membersihkan tubuhnya. Setelah berpakaian rapi barulah ia membangunkan Melati.
Ia meminta Melati mandi, sebelum Rendra terbangun.
Sore harinya setelah Rendra bangun, Melati dan Jino kembali kekediaman mereka.
......................
Sehabis magrib, Melati dan Jino bersiap siap untuk menghadiri pesta ulang tahun agensi Raka. Mama tak mau ikut. Ia lebih memilih dirumah menemani Rendra. Mama juga melarang Rendra dibawa agar putranya itu tak kecapean.
__ADS_1
Jino yang telah siap berpakaian menunggu Melati diruang tamu.
Sambil bermain dengan Rendra, Jino menunggu Melati berdandan. Melati keluar setelah setengah jam Jino menunggu.
Jino memandangi Melati yang keluar dari kamar dengan gaun pesta berwarna hitam yang cukup seksi. Memperlihatkan bahunya yang terbuka.
Jino berdiri dan mendekati Melati dengan bibir yang cemberut.
"Apa nggak ada pakaian selain ini, sayang"
"Emang kenana pakaianku ini. Jelek... " tanya Melati
"Bukan jelek, sayang. Tapi kamu tampak sangat seksi. Aku tak mau tubuh indahnya ini dipandangi pria lain"
"Mas ini ada ada aja...aku kira kenapa. Mana ada seksi, biasa aja aku rasa pakaian ini"
"Sayang... mas tunggu ya. Sekarang ganti bajunya. Mas nggak mau nanti cemburu melihat pria lain melirik ke kamu "
"Kalau gitu mas aja yang pergi. Capek aku ganti ganti baju" ucap Melati ngambek dan memilih duduk dekat Rendra.
"Baiklah, sayang. Nggak apa pakai gaun ini. Tapi kamu nggak boleh jauh dari mas"
"Mas... wanita cantik dan seksi itu banyak. Aku ini nggak termasuk. Mas nggak usah takut. Seharusnya aku yang harus cemburu... mas itu ganteng, mapan lagi. Pasti banyak wanita yang ingin menarik perhatian mas" lirih Melati.
"Sayang, coba kamu ulangi lagi ucapannya"
"Ucapan yang mana"
"Yang tadi... "
"Aku kan udah banyak ngomong, mas. Jadi ucapan yang mana. Aku nggak ingat"
"Kamu cemburu jika ada wanita yang melirik, mas. Senang banget dengarnya... "
"Jadi pergi apa nggak nih" ucap Melati mengalihkan pembicaraan.
"Iya sayang... "
Melati mengecup dahi dan pipi Rendra sebelum pergi. Jino juga begitu. Ia menggendong Rendra ke kamar sebelum mereka pamit dengan mama.
Jino mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia dan Melati tak tau jika pesta yang akan diadakan Raka selain untuk merayakan pesta ulang tahun agensinya, Raka akan mengadakan acara pertunangannya dengan Kimberley.
Ia akhirnya memutuskan menerima Kimberley. Dengan seiringnya waktu Raka yakin akan bisa mengembalikan rasa cintanya. Bukankah dulu mereka pernah saling mencintai.
Keluarga juga semua mendukung hubungannya dengan Kimberley. Raka juga tau jika Kimberley masih sangat mencintainya. Bukankah dicintai itu lebih baik dari pada mencintai.
__ADS_1
******************
Terima kasih